Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 182.


__ADS_3

Di kediaman Aditama...


"Mas Rey, Mas, ayo bangun! Ini sudah siang loh Mas,"


Laura menepuk-nepuk pipi Reynold dengan pelan. Hari ini dia sengaja bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan pagi untuk pertama kali.


Dua bulan menikah, Reynold selalu mengurusi Laura dengan baik. Kini giliran Laura yang mengurus suaminya.


Meskipun belum sembuh total, tapi Laura sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Terlihat sedikit pincang tapi tak menyurutkan semangat Laura untuk belajar melayani suaminya.


Laura ingin menjadi istri yang sempurna meski sebenarnya dia tidak akan mungkin bisa sempurna. Dia hanya ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri, melayani semua kebutuhan Reynold tanpa terkecuali.


"Mas, ayo bangun! Aku sudah buatin nasi goreng buat Mas. Apa Mas tidak mau mencicipi masakan buatan ku?" imbuh Laura.


"Hmm... Mas mau mencicipi kamu saja, boleh kan?" Reynold merentangkan tangan dan mengapit tubuh kecil Laura lalu menggulingkannya di kasur. Reynold kemudian mengunci Laura di bawah tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di leher istrinya itu.


"Mas... Lepasin aku!" pinta Laura memelas sambil menggeliat, dia ingin membebaskan diri tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan.


"Mas... Geli," Laura terkekeh saat bibir Reynold bermain di lehernya.


"Tapi enak kan, sayang?" Reynold membuka mata dan mengangkat kepalanya. Dia menatap lama wajah Laura yang sudah bersemu merah.


"Mas..." Laura tersipu malu dibuatnya.


"Apa sayang? Mas di sini," goda Reynold sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan nakal pagi-pagi begini! Ayo bangun, mandi dulu!" desak Laura yang mulai kelihatan salah tingkah.


"Ini kan sudah bangun, sayang." sahut Reynold mengulum senyum.


"Iya, tapi maksud aku bukan... Mmph..."


Ucapan Laura tiba-tiba terhenti saat Reynold mengesap bibir ranum istrinya itu.


"Mas..." Laura membulatkan mata dengan sempurna.


"Iya sayang, kenapa lagi?" Semakin Laura terlihat salah tingkah semakin gemas pula Reynold dibuatnya.


"Sudah dong Mas, aku-"


"Huweeek..."


Laura menutup mulut, perutnya tiba-tiba mual saat mengendus aroma tak sedap yang berasal dari mulut Reynold. Wajar saja, bangun tidur sudah main nyosor seenaknya.


"Kenapa sayang?" Reynold mengerutkan keningnya.


"Mas bau, aku-"


"Huweeek..."

__ADS_1


Laura tak bisa menahan lagi, dia mendorong Reynold dengan kasar dan berlari ke kamar mandi.


"Laura..." pekik Reynold. Dia berhamburan dari kasur dan berlari menyusul Laura.


"Huweeek... Huweeek..."


Akhirnya semua isi perut Laura keluar tanpa bisa ditahan, penglihatannya tiba-tiba kabur dan kepalanya terasa pusing.


Reynold yang baru masuk ke kamar mandi langsung mengusap punggung Laura dan menepuknya pelan. "Keluarin saja biar enakan!"


"Pusing Mas, sepertinya aku masuk angin." keluh Laura sambil bertumpu pada wastafel.


Segera Reynold menyalakan kran dan membasuh wajah Laura, lalu mematikan kran dan menggendong istrinya memasuki kamar.


Setelah membaringkan Laura di kasur, Reynold berjalan ke meja rias dan mengambil minyak kayu putih lalu membaluri perut dan punggung Laura. Tak lupa Reynold memijat dahi Laura untuk meredakan masuk anginnya.


"Kamu istirahat saja di sini, Mas ke bawah sebentar!"


Setelah mengatakan itu, Reynold meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur. "Minah, tolong buatkan teh hangat ya!" pinta Reynold pada ART yang tengah berjibaku membersihkan dapur.


"Iya Tuan, tunggu sebentar!" Minah meninggalkan pekerjaannya dan dengan cepat membuatkan teh sesuai permintaan Reynold.


Lalu Reynold duduk di meja makan. Di sana sudah ada Aditama yang tengah menikmati sarapan pagi.


"Mana Laura? Kenapa tidak ikut turun?" tanya Aditama dengan mulut yang dipenuhi makanan.


"Di kamar Yah lagi istirahat. Laura kurang sehat, sepertinya masuk angin." jawab Reynold apa adanya. Lalu menyendok nasi goreng ke dalam piring.


"Tiba-tiba saja pusing barusan Yah, bahkan sampai muntah-muntah." jelas Reynold dengan santai.


"Muntah?" Lagi-lagi Aditama mengerutkan kening mendengar ucapan Reynold. "Apa Laura hamil?" imbuh Aditama.


"Hamil?" Kini giliran Reynold yang mengerutkan kening. "Ayah jangan bercanda, masa' Laura hamil sih? Tidak mungkin, Yah."


"Dasar anak bodoh! Kenapa tidak mungkin? Apa kamu tidak pernah menyentuh istrimu?" Aditama meninggikan suara.


"Apaan sih Yah? Pertanyaan aneh," Reynold berusaha mengelak dan bangkit dari duduknya. Apa iya Laura hamil? Kalau begitu...


Reynold buru-buru ke dapur mengambil nampan, lalu menaruh sepiring nasi goreng tadi di atasnya dan secangkir teh yang baru saja dibuatkan Minah.


"Reynold ke kamar dulu ya Yah," pamit Reynold sambil membawa nampan di tangannya.


"Bawa saja Laura ke dokter, siapa tau beneran hamil!" ucap Aditama.


"Iya Yah, lihat dulu sampai nanti siang. Siapa tau cuma masuk angin," sahut Reynold, lalu melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di kamar, Reynold menaruh nampan yang dia bawa di atas nakas lalu membantu Laura duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Makan dulu ya, biar Mas suapi!" ucap Reynold.

__ADS_1


"Mas saja yang makan, aku tidak selera!" tolak Laura.


"Loh, jangan gitu dong sayang! Makan sedikit biar tidak lemas." bujuk Reynold.


"Tapi aku benar-benar tidak selera Mas, eneg saja bawaannya." balas Laura.


"Apa kamu hamil?" Tiba-tiba saja Reynold menanyakan itu saat mengingat ucapan Aditama di bawah tadi.


"Hamil?" Laura menautkan alisnya. "Aku tidak tau Mas, kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa, Mas cuma nanya." jawab Reynold enteng.


Mendadak air muka Laura berubah keruh. Apa iya dia hamil? Dilihat dari raut wajah Reynold, sepertinya dia tidak bahagia menanyakan itu.


"Mas tidak suka ya kalau aku hamil?" Laura memberanikan diri untuk bertanya.


"Pertanyaan macam apa itu?" Reynold mengerutkan kening.


"Tidak apa-apa, cuma nanya doang." Laura membuang pandangannya ke arah lain dan menarik nafas dalam-dalam.


Melihat ekspresi Laura yang begitu, Reynold menjadi kebingungan. Entah apa yang sedang dipikirkan istrinya itu?


"Mas tenang saja, aku tidak akan mengandung anak Mas!" lirih Laura.


"Deg!"


Reynold tersentak kaget, jantungnya berdetak kencang dengan mata membulat sempurna.


"Laura... Apa yang kamu katakan? Apa kamu tidak bersedia mengandung anak Mas?" Reynold meninggikan suara saking syok nya mendengar ucapan Laura barusan.


"Entahlah, Mas sendiri tidak senang. Untuk apa aku-"


"Laura... Tolong jaga bicara mu!" potong Reynold dengan tatapan tajam seperti mata elang.


Laura terdiam sambil meremas jari-jarinya, lalu berbaring dengan posisi memunggungi Reynold.


Melihat itu, Reynold pun tersadar dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kemudian meraih pundak Laura dan mengusapnya pelan.


"Sayang, maafin Mas ya. Mas tidak bermaksud marahin kamu. Mas senang kalau kamu hamil, Mas juga ingin punya anak dari kamu. Kamu saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan,"


"Mas cuma tidak mau terlalu berharap, lagian pernikahan kita baru berjalan dua bulan. Tidak perlu terburu-buru, tapi kalau dikasih cepat Mas tidak akan menolak. Mas mau sayang, Mas mau." jelas Reynold.


"Benar?" lirih Laura.


"Iya sayang, Mas mau, sangat mau. Jangan marah lagi ya! Sekarang isi perutnya dulu, nanti siang kita ke dokter buat periksa!"


"Iya, tapi kalau aku tidak hamil gimana?" lirih Laura.


"Tidak masalah, hamil tidak hamil Mas tetap sayang kok sama kamu. Sudah ya, tidak usah mikirin itu dulu!"

__ADS_1


Reynold mengecup kening Laura dan membantunya duduk lalu menyuapinya makan. Meski hanya beberapa suap tapi cukuplah dari pada tidak sama sekali.


Bersambung...


__ADS_2