
Setibanya di lantai lima belas, Elkan mengajak Beno ke ruangannya. Elkan ingin membicarakan masalah pemotretan yang sudah dia rencanakan tempo hari.
Amit membukakan pintu. Setelah Elkan dan Beno masuk dan duduk di sofa, Amit ikut masuk dan menutup pintu lalu duduk di meja kerjanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Beno setelah menaruh dus yang dia bawa di atas meja.
Elkan menyandarkan punggungnya pada kepala sofa lalu melipat kakinya. "Malam ini kita akan segera mengadakan pemotretan untuk iklan produk terbaru ini, aku rasa lebih cepat lebih baik. Tolong bicarakan masalah ini pada Ferry, suruh dia ke rumah untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan!"
Beno mengerutkan keningnya. "Kenapa harus disuruh ke rumah? Bukankah biasanya pemotretan dilakukan di perusahaan? Apa Yuna akan mengerti jika kita membawa model ke rumah?"
Mendengar itu, Elkan langsung tertawa seakan meremehkan. "Hahahaha... Yuna tidak akan keberatan, kita tidak akan memakai model itu lagi. Kali ini aku dan Yuna sendiri yang akan menjadi model produk terbaru ini."
Beno lagi-lagi mengerutkan keningnya. "Kau? Sejak kapan kau mau menjadi model?" Bukankah-"
"Selagi ada Yuna, aku akan melakukan apa saja. Lagian aku tidak mau Yuna berpasangan dengan pria lain. Disamping itu, ini untuk menghemat pengeluaran, aku yakin kali ini Yuna bisa menghipnotis konsumen seperti waktu itu. Jika penghasilan bulan ini meningkat, itu artinya perusahaan bisa menutupi kerugian yang terjadi kemarin." jelas Elkan dengan entengnya.
Setelah mendengar itu, kepala Beno nampak manggut-manggut. Dia mengerti dan memahami kekhawatiran Elkan, mau tidak mau Beno terpaksa menyetujuinya. Beno yakin Yuna pasti bisa menggaet konsumen dan pasar domestik karena wanita itu memiliki aura yang positif.
Setelah berdiskusi panjang lebar, Beno bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan Elkan. Dia memasuki lift dan turun menuju lantai sepuluh.
Beno mengayunkan kakinya setelah pintu lift terbuka. Dia langsung menuju ruangan Ferry.
"Pagi Tuan Beno, sudah pulang dari bulan madunya?" sapa Ferry yang tengah asik dengan laptopnya.
"Sudah, aku ingin bicara denganmu sebentar." Beno menghampiri Ferry dan duduk di seberang meja hingga keduanya saling berhadapan.
Ferry segera menutup laptop yang menganga di depannya dan fokus menatap wajah Beno. "Ada apa Tuan? Tuan mau bicara soal apa?"
Beno mengukir senyum sambil melipat kakinya. "Aku ke sini untuk menyampaikan pesan dari bos besar. Kau disuruh bersiap-siap untuk pengambilan iklan produk terbaru kita. Siang ini datanglah ke rumah, pemotretan akan dilakukan malam nanti. Jangan sampai ada kesalahan!"
Ferry menyipitkan matanya. "Kenapa harus ke rumah?"
__ADS_1
"Kali ini modelnya adalah bos besar dan istrinya sendiri. Kau harus menyiapkan semuanya dengan baik, jangan sampai Elkan murka dan menendang mu dari perusahaan!" jelas Beno.
Ferry menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku mengerti. Aku dan tim akan ke sana siang ini."
"Bagus. Ingat, jangan sampai melakukan kesalahan!" pesan Beno.
"Iya, aku mengerti." angguk Ferry.
Setelah mengatakan semuanya, Beno kemudian meninggalkan ruangan Ferry dan berjalan memasuki lift menuju lantai lima belas dan masuk ke ruangannya.
Sedangkan di bawah sana Ferry mulai sibuk mengumpulkan tim dan mempersiapkan apa-apa saja yang mereka butuhkan. Semua tim nampak bersemangat karena mereka semua memang sudah rindu ingin bertemu Yuna yang pernah menjadi bagian dari mereka.
Setelah jam makan siang selesai, Ferry dan tiga orang tim lainnya meninggalkan perusahaan menuju kediaman Bramasta. Ferry membawa Maya, Rina dan juga Agung untuk membantunya menyiapkan dekorasi latar belakang pemotretan.
Setengah jam berlalu, mobil yang dikendarai Ferry masuk ke gerbang kediaman Bramasta setelah memperlihatkan kartu keanggotaan Bramasta Corp kepada satpam yang berjaga.
Sejak kedatangan Elena tempo hari, Elkan memang sengaja memperketat penjagaan di kediamannya. Tentu saja dia sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang, dia tidak ingin orang asing masuk ke kediamannya dan mengganggu ketenangan keluarganya.
Setelah turun dari mobil, keempat orang itu turun dan melangkah menuju pintu utama. Ferry menekan bel dan mengetuk pintu memanggil tuan rumah yang ada di dalam sana.
"Siang Nyonya," sapa Ferry sambil tersenyum.
Reni yang melihat itu membalasnya dengan senyuman pula.
"Kami dari perusahaan, Tuan Elkan meminta kami menyiapkan keperluan untuk acara pemotretan nanti malam. Bisa panggilkan Yuna, eh... Maksud saya Nyonya Yuna." jelas Ferry.
"Oh iya, silahkan masuk dulu!" Reni mempersilahkan mereka berempat masuk dan menyuruh mereka semua menunggu di ruang tamu.
Kemudian Reni meninggalkan mereka dan memanggil Yuna yang tengah menyantap makan siang di ruang makan.
"Kak, ada orang-orang dari perusahaan. Katanya mau menyiapkan keperluan untuk pemotretan nanti malam." ucap Reni.
__ADS_1
"Oh iya, suruh masuk dulu!" sahut Yuna.
"Sudah Kak, mereka sudah duduk di ruang tamu." balas Reni.
"Ya sudah, aku akan segera menemui mereka."
Setelah mengatakan itu, Yuna menyoraki Diah dan memintanya menyiapkan minuman segar dan cemilan untuk mereka semua lalu Yuna melanjutkan makannya yang tinggal beberapa suap lagi.
Seperempat jam berlalu, Diah membawa sebuah nampan yang berisikan ketel dan gelas kosong. Sedangkan Yuna membawa nampan yang berisikan dua toples makanan ringan dan satu piring black forest dengan toping keju.
"Siang semuanya," sapa Yuna sambil tersenyum sumringah hingga menampakkan barisan giginya yang sangat rapi, lalu menaruh nampan yang dia bawa di atas meja.
Diah ikut menaruh nampannya dan segera meninggalkan ruang tamu.
"Siang juga Nyonya Yuna, tambah cantik saja." seloroh Maya yang terpukau melihat kecantikan istri bos besarnya itu.
"Bisa saja, kamu juga tambah cantik." sahut Yuna.
Yuna menghampiri Maya dan memeluknya, lalu beralih memeluk Rina. Setelah itu Yuna menyalami Ferry dan Agung secara bergantian.
Ferry mematut Yuna dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat," jawab Yuna santai.
Ferry mengangguk lemah dan memutar pandangannya ke arah lain. Dia sadar tak boleh menatap Yuna berlama-lama, bagaimanapun perasaan itu pernah tumbuh di hatinya meski sekarang sudah lenyap ditelan bumi.
Yuna kemudian memilih duduk di samping Maya, mereka semua bercengkrama sambil menikmati minuman dan cemilan yang sudah menganga di atas meja.
Satu jam berlalu, Ferry menyudahi obrolan mereka dan meminta Yuna menunjukkan tempat mana yang akan digunakan untuk pemotretan nanti malam.
Lalu Yuna mengajak mereka semua ke paviliun yang ada di bagian belakang. Di sanalah mereka nantinya akan melakukan pemotretan dan pengambilan video. View di sana cukup indah untuk dijadikan latar belakang. Tinggal memberikan sedikit sentuhan agar terlihat semakin indah dipandang mata.
__ADS_1
Setelah mengamati lokasi tersebut, Ferry segera meminta tim nya untuk memperindah tempat itu dan memasang lampu tumblr berwarna-warni untuk menghidupkan suasana. Mereka semua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, target mereka dekorasi harus selesai sebelum Elkan pulang.
Bersambung...