
"Edward, kamu harus pulang sekarang juga! Mama tidak bisa lagi menentang kakakmu, Mama sudah banyak melakukan kesalahan padanya. Mama tidak sanggup melanjutkan ini, dada Mama sesak setiap kali melihatnya. Mama tau ini salah, tapi Mama tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula."
"Bukankah dari awal sudah aku katakan, aku tidak menginginkan harta itu. Kenapa Mama masih bertindak senekat itu?"
"Apa lagi yang bisa Mama lakukan? Kamu juga berhak atas harta itu."
"Tidak Ma, Mama salah. Yang berhak hanya kakakku, hanya dia satu satunya cucu kakek yang diakui. Aku hanya orang asing, aku tidak mungkin masuk ke dalam kehidupannya."
"Tapi setidaknya dia harus tau kalau dia bukan satu satunya cucu kakek, dia masih memiliki adik. Dia harus mengakui mu!"
"Cukup Ma, harus berapa kali aku katakan sama Mama. Semua sudah terlambat, harusnya Mama mengakui ini saat Papa masih hidup. Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi."
"Edward, Mama mohon kembalilah! Anggap saja ini permintaan Mama yang terakhir. Umur Mama sudah tidak lama lagi, Mama hanya ingin kamu mendapatkan hak yang sama dan diakui sebagai keturunan Bramasta. Mama tidak mau kamu terasingkan di keluargamu sendiri!"
"Baiklah, tapi Mama harus janji untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Jangan ganggu kakakku, biarkan dia bahagia dengan kehidupannya! Aku tau kakakku sudah banyak menderita karena Mama. Jika Mama melakukannya lagi, aku benar-benar akan pergi dan tidak akan kembali lagi!"
"Iya, Mama janji. Mama tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul dua siang, mobil mewah yang dikendarai Beno sudah terparkir di halaman kediaman Bramasta. Elkan turun dengan beberapa paper bag yang ada di tangannya, begitu juga dengan Beno dan Amit. Ketiganya baru saja berbelanja membeli pakaian baru yang akan mereka kenakan malam nanti.
Sesampainya di dalam rumah, Edgar dan Elga langsung merangkak mengejar langkah sang papa. Senyuman keduanya mampu meluluh lantakkan hati pria bertubuh atletis itu. Elkan seketika berjongkok dan meletakkan paper bag yang dia bawa di atas lantai lalu mengangkat tubuh gembul keduanya dan mengapitnya di setiap sisi ketiaknya.
"Hehehehe... Sayangnya Papa kangen ya?" seloroh Elkan sambil tertawa cekikikan.
Lalu Elkan mengecup pipi keduanya secara bergiliran. Edgar tertawa dengan lucunya, begitu juga dengan Elga yang menjulurkan lidahnya hingga air liurnya berserakan membasahi jas yang melekat di tubuh sang papa.
Yuna yang melihat itu langsung mendekat sehingga mendapatkan kecupan yang sama di pipinya. "Apaan sih Bang? Malu tau,"
"Kenapa musti malu?" Elkan mengerutkan keningnya dan beralih mengecup kening Yuna. Yuna hanya menunduk dengan pipi bersemu merah. Kian hari suaminya itu kian memperlihatkan kebucinan nya tanpa memikirkan keadaan di sekelilingnya.
Setelah Yuna mengambil paper bag yang tergeletak di lantai, keduanya melangkah beriringan menuju sofa yang ada di ruang tengah. Di sana sudah ada Beno yang duduk di samping Reni dan Amit yang duduk di samping Sari. Elkan dan Yuna pun ikut duduk di hadapan mereka.
__ADS_1
"Tumben pulang-pulang bawa paper bag begini, habis shoping lagi ya?" tanya Yuna sambil menilik wajah Elkan.
"Buat nanti malam sayang, biar istri Abang ini terlihat semakin cantik saat disorot kamera." jawab Elkan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Berarti sekarang Yuna tidak cantik ya?" Yuna memanyunkan bibirnya.
"Cantik dong sayang, siapa bilang tidak cantik? Maksud Abang biar semakin cantik." jelas Elkan.
"Cih, lebay banget sih jadi orang." timpal Beno mengejek dengan tatapan merendahkan.
"Nimbrung saja kau ini. Urus saja istrimu itu, ngapain ngurusin orang?" ketus Elkan menajamkan tatapannya. Untung ada si kembar di tangannya, jika tidak mungkin sepatu Elkan sudah melayang mencium pipi Beno.
"Sari, ikut ke kamar Kakak yuk! Kita tidak diperlukan di sini," Amit mengambil paper bag yang dia bawa tadi dan menarik tangan Sari menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, keduanya naik ke atas kasur dan duduk sambil mengeluarkan isi yang ada di dalam paper bag itu.
"Ini untukmu!" ucap Amit sambil membentangkan sebuah gaun indah berwarna coklat susu tanpa lengan. Ada ombak dari bahan tile yang menghias di bagian dada dan taburan mutiara tanam bertaburan di bagian rok.
"Iya, Kak Elkan yang membelikannya tapi Kakak yang memilihkan modelnya. Apa kamu suka?" Amit mengerutkan keningnya.
"Suka Kak, suka sekali. Ini pasti mahal, Kak Elkan baik sekali ya." sanjung Sari dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Keluarga ini memang baik semua, makanya kamu jangan hanya bermalas-malasan saja, bantu apa yang bisa kamu bantu! Mereka sudah menganggap kita seperti keluarga sendiri, kita bahkan diberi kebebasan menikmati fasilitas yang mereka punya." jelas Amit.
"Iya Kak, Sari tau itu." angguk gadis yang berusia tujuh belas tahun itu.
"Ini satu lagi!" Amit mengeluarkan satu gaun lagi dengan warna merah muda kesukaan Sari.
"Astaga, ini bagus sekali Kak." Sari tak henti-hentinya mengumbar senyum saking bahagianya memiliki gaun mahal seperti itu.
"Sekarang bawa ke kamarmu, kemudian bersiap-siaplah! Bawa beberapa baju ganti, kita akan ke hotel untuk acara nanti malam!" terang Amit.
"Ok, Sari pergi dulu." Gadis cantik itu langsung berhamburan meninggalkan kamar Amit dan masuk ke kamar yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Sari, Amit langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia mengenakan pakaian santai dan menyiapkan barang yang akan dia bawa.
Di luar sana, Elkan memanggil Diah dan Lili yang tengah berada di belakang. Dia memberikan satu paper bag untuk masing-masing mereka. Elkan ingin seluruh anggota keluarga yang menghadiri acara malam nanti memakai pakaian yang senada dengan warna coklat susu pilihannya.
"Bersiaplah, sebentar lagi kita semua akan berangkat menuju hotel!" Setelah mengatakan itu, Elkan mengajak Yuna ke lantai atas untuk bersiap-siap.
Beno yang masih tinggal langsung menoleh ke arah Reni dan mendaratkan kecupan lembut di bibir istrinya itu. "Kenapa bengong sayang? Kamu tidak ingin ikut?"
"I-Iya Mas," Dengan wajah memerah setelah mendapat serangan fajar itu, Reni langsung bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Beno yang melihat itu sontak mengerutkan keningnya.
Ada apa dengan Reni? Kenapa istrinya itu terlihat seperti kebingungan? Apalagi dia seperti menghindar dari Beno, apa Beno sudah melakukan kesalahan? Beno rasa tidak.
Lalu Beno menyusul Reni dan masuk ke dalam kamar mereka. Setelah menutup pintu, Beno menghampiri Reni yang tengah berdiri di dekat lemari.
"Ada apa?" bisik Beno sambil melingkarkan tangannya di perut Reni.
"Tidak apa-apa Mas, bisa lepasin aku?" Reni menggerakkan bahunya saat bibir Beno menempel di sana.
"Kenapa sih sayang? Apa Mas melakukan kesalahan?" Beno mengerutkan keningnya. Dia benar-benar bingung melihat keanehan istrinya itu.
"Tidak, aku malas saja dipeluk begini. Mas membuatku jijik," gumam Reni yang mampu membuat mata Beno melotot seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Jijik?" Beno mengulangi kata itu sambil memutar manik matanya, lalu membalikkan Reni hingga keduanya saling berhadapan. "Kamu jijik sama Mas? Kenapa? Apa salah Mas?"
Reni mengangkat bahunya dengan bibir mengerucut. "Entahlah, muka Mas sangat membosankan. Aku malas melihatnya,"
"Deg!"
Beno menjauhkan diri dan menajamkan tatapannya. Dadanya terasa ngilu mendengar itu. Apa yang terjadi dengan Reni? Segitu cepat kah dia bosan dengan suaminya sendiri?
Beno yang takut tersulut emosi langsung melangkah memasuki kamar mandi. Pikirannya bercabang kemana-mana, apa Reni tidak menginginkannya lagi? Tapi kenapa?
Bersambung...
__ADS_1