Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 128.


__ADS_3

Pagi hari, Laura membuka matanya perlahan. Sesaat dia terpaku mendapati tangan Reynold yang masih melingkar di pinggangnya, bahkan wajahnya masih menempel di dada suaminya itu.


Tak disangka sekarang dia sudah mempunyai seorang suami. Pria yang sangat tampan dan penuh kelembutan. Meski awalnya dia sangat membenci Reynold karena sudah mengambil paksa mahkota kebanggaannya, tapi perlahan hatinya mulai mencair. Entah kenapa dia merasa begitu nyaman di dalam dekapan suaminya itu. Suhu tubuh Reynold yang hangat membuatnya betah berlama-lama di sana.


"Sudah bangun?" gumam Reynold sambil tersenyum dan mempererat pelukannya.


Suara Reynold yang serak sontak membuat Laura terkejut sambil mendongakkan kepalanya, tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat.


"Pak, bisa tolong lepaskan aku! Aku mau mandi dan bersiap-siap, hari ini aku harus ke kantor untuk bekerja." ucap Laura dengan tatapan memelas.


"Siapa Pak?" Reynold mengerutkan keningnya.


"Anda lah, siapa lagi?" jawab Laura.


"Sejak kapan seorang istri memanggil suaminya sendiri dengan sebutan Pak?" tanya Reynold sambil mengulum senyumannya.


"Sejak hari ini, puas." ketus Laura dengan air muka menggelap.


"Hehe... Ganas banget sih? Sudah dipanggil Pak, masih saja dikasari. Bisa gak ngomongnya dilembutkan sedikit? Panggil Mas kek, Abang kek, sayang juga boleh." seloroh Reynold dengan tatapan nakalnya.


"Malas, panggilan itu dikhususkan untuk suami istri yang saling mencintai. Ingat, pernikahan kita hanya untuk satu bulan saja. Tidak lebih," ucap Laura dengan tatapan membunuhnya.


"Sebulan dari Hongkong. Jangan pernah berpikir untuk bisa lepas dariku, aku sudah memilihmu jadi selamanya kamu akan tetap menjadi istriku." tegas Reynold penuh penekanan.


"Dasar tukang paksa," umpat Laura dengan bibir mengerucut.


"Hmm... Akan ku buktikan apa itu yang dimaksud dengan kata paksa." Reynold melepaskan pelukannya dan beralih menindih tubuh Laura hingga terkunci di bawah kungkungan nya.


"Apa yang ingin Bapak lakukan? Jangan menindas ku lagi, aku tidak mau!" tolak Laura sambil mendorong dada Reynold sekuat tenaga. Sayangnya kekuatan Laura tak ada apa-apanya dibanding suaminya itu.


"Jadilah sarapan pagi ku," gumam Reynold lalu melahap bibir Laura seperti orang yang tengah kelaparan. Terlihat sangat rakus namun penuh dengan kelembutan hingga membuat Laura tak bertenaga menolaknya.

__ADS_1


Laura terlihat seperti rusa yang tengah meringkuk di bawah cengkraman harimau liar, dia tidak bisa menghindari serangan Reynold apalagi menjauhkan diri. Pasrah, begitulah kata yang tepat disematkan untuk dirinya.


Puas melu*mat bibir Laura dan menghisap lidahnya, Reynold kemudian mengecup leher Laura dan menggigitnya gemas. Hal itu menciptakan beberapa tanda yang membuat lehernya seperti habis dikerok. Padahal tanda kemarin saja belum hilang sepenuhnya.


"Pak, jangan digigit lagi! Bagaimana cara menyembunyikan itu dari semua orang? Aku tidak mau menjadi bahan gunjingan di kantor nanti." pinta Laura memohon.


Mendengar itu, Reynold langsung menghentikan aksinya dan beralih menatap gundukan kenyal yang terpampang di depan matanya. Laura yang menyadari tatapan mesum Reynold segera menutupnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa ditutup?" tanya Reynold sambil mengerutkan keningnya.


"Malu," gumam Laura.


"Jangan malu sayang, aku ini suamimu. Semua yang ada di dirimu adalah milikku, begitu juga sebaliknya. Lagian ini bukan pertama kali bagi kita, kita sudah melakukan ini sebelumnya." jelas Reynold.


"Tapi kenapa harus melakukan ini terus? Tidak bisakah kita berhubungan secara normal saja, tidak usah seperti ini." ucap Laura dengan polosnya, tentu saja hal itu spontan membuat Reynold tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha..."


"Ini normal sayang, hubungan suami istri ya seperti ini. Ini yang akan mengikat hubungan kita agar semakin erat, apalagi jika kamu mengandung benih ku. Aku akan sangat bahagia," terang Reynold.


"Jangan mikir yang aneh-aneh! Sekarang kita sudah menikah, belajarlah menerimaku. Buka hatimu untukku, aku janji tidak akan pernah menyakitimu apalagi meninggalkanmu. Aku mencintaimu dan akan membahagiakanmu semampuku." ungkap Reynold penuh keyakinan.


Laura menatap manik mata Reynold dengan intim, dia sama sekali tak menemukan kebohongan di sana. Dia kemudian mengangguk dan menyingkirkan tangannya dari dadanya, dia bahkan membuka kancing bajunya dengan tangannya sendiri.


"Silahkan!" ucap Laura tanpa ragu sedikit pun.


Reynold mengerutkan keningnya dan menutup kembali dada Laura yang sudah menganga. "Nanti saja, aku tidak ingin memaksamu."


Setelah mengatakan itu, Reynold mengecup kening Laura dengan sayang, lalu beranjak dari atas tubuh istrinya itu.


"Mandilah, setelah itu siap-siap. Kita akan ke kantor sama-sama." imbuh Reynold yang sudah duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


Laura bangkit dari pembaringannya dan duduk di samping Reynold. "Bapak marah?"


Reynold memutar lehernya beberapa derajat dan menarik Laura ke dalam dekapan dadanya. "Tidak, kenapa harus marah? Aku mengerti ketakutan mu, aku tidak mungkin memaksamu jika kamu belum bisa menerimaku sepenuhnya. Tapi tolong jangan panggil Bapak lagi pada suamimu ini!"


Laura mendongakkan kepalanya dan menatap Reynold dengan intim. "Mas,"


"Hehe... Makasih," Seringai tipis melengkung di sudut bibir Reynold, kemudian dia mengecup kening Laura dengan sayang.


"Mandilah! Jika masih di sini, Mas bisa saja berubah pikiran dan melahap mu sampai habis." gertak Reynold yang membuat nyali Laura langsung menciut.


Laura segera bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar mandi. Hal itu membuat Reynold tertawa terbahak-bahak, sungguh menggemaskan dan mampu merusak emosinya. Untung saja otaknya masih waras, jika tidak entah apa yang akan terjadi. Reynold bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar menuju kamar mandi lain.


Setengah jam berlalu, Laura keluar dari kamar mandi dan segera bersiap-siap. Dia duduk di depan cermin dan memoles wajahnya dengan sedikit riasan tipis. Seketika air mukanya berubah gelap menatap lehernya yang dipenuhi tanda keganasan suaminya. Entah bagaimana menyembunyikan itu dari tatapan semua orang di kantor nanti.


Dalam pemikirannya itu, Reynold masuk ke dalam kamar dan melangkah menghampirinya.


"Pagi-pagi sudah melamun, mikirin apa?" ucap Reynold yang membuat Laura terperanjat.


"Mas, aku tidak bisa menutupi tanda merah di leherku ini. Bajuku tidak ada yang memiliki kerah panjang. Aku tidak mungkin ke kantor seperti ini." keluh Laura dengan tatapan murung.


"Pakai yang ada saja dulu, nanti kita mampir di butik." sahut Reynold enteng. Baginya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.


"Butik?" Laura mengulangi kata itu sambil mengerutkan keningnya.


"Iya butik, memangnya di pasar tradisional ada yang jual baju seperti itu?" Reynold berbicara sambil mengenakan pakaian kantornya.


"Ada, tapi butuh waktu yang lama untuk mencarinya." ucap Laura.


"Kalau kamu mau, Mas akan menemanimu." sahut Reynold tanpa penolakan sama sekali.


"Jangan Mas, nanti kelamaan. Mas bisa telat tiba di kantor. Kalau aku saja yang pergi bagaimana? Nanti kita bertemu di kantor saja." tawar Laura.

__ADS_1


Dia sebenarnya bukan ingin mencari baju semata, tapi lebih tepatnya ingin menghindar dari Reynold. Dia tidak ingin kedatangannya bersama Reynold dicap aneh oleh karyawan kantor, dia sadar dia adalah karyawan pindahan. Jangan sampai orang-orang kantor memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya dan Reynold.


Bersambung...


__ADS_2