
Reynold keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya, wajahnya nampak berbinar dengan butiran air yang masih menetes di ujung rambutnya. Meski masih kesal terhadap penolakan Laura, tapi baginya hal itu sama sekali bukan masalah. Lambat laun dia akan membuat Laura bertekuk lutut di hadapannya.
Setelah mengenakan pakaian santai dan merapikannya di depan cermin, Reynold berjalan ke balkon dan mendapati Laura yang tengah termenung di tempat duduknya. Reynold menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Mikirin apa lagi?" tanya Reynold dengan suara lembutnya, lalu melingkarkan tangannya di lengan Laura dan mengusapnya pelan.
"Tidak ada," Laura menurunkan tangan Reynold dari lengannya, lalu berdiri dan melangkah ke dalam kamar.
Selain takut, Laura juga belum terbiasa dengan status barunya saat ini. Apalagi dia merasa dibohongi karena Reynold sama sekali tidak menuruti syarat yang dia ajukan.
Laura membaringkan diri di atas kasur. Sebenarnya perutnya sudah sangat lapar tapi dia tidak berani mengatakannya pada Reynold. Dia meringkuk seperti anak kucing sambil meletakkan tangannya di perut.
Reynold yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil melipat tangannya di dada dengan punggung yang tersandar di ujung pintu.
Tidak lama, dia menghampiri Laura dan membantunya bangun dari kasur. "Ayo, kita makan dulu!" ajak Reynold.
"Makan saja sendiri, aku tidak lapar." ketus Laura dengan wajah cemberut nya. Dia bahkan tidak mau menatap mata Reynold.
"Jangan keras kepala! Ini sudah waktunya makan malam, nanti kamu bisa sakit." bujuk Reynold.
"Memangnya kenapa kalau aku sakit, bukankah itu bagus?" jawab Laura ketus.
"Bagus dari mananya? Repot tau ngurusin orang sakit," sahut Reynold dengan santainya, namun mampu membuat Laura mendengus saking kesalnya.
"Kalau aku merepotkan, kenapa masih menahan ku di sini? Seharusnya biarkan saja aku pergi, aku tidak mau membebani orang lain!" Laura menatap Reynold dengan tatapan mematikan, sedetik kemudian dia menepis tangan Reynold dan kembali berbaring sambil memunggungi suaminya itu.
"Siapa orang lain?" tanya Reynold sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepala Laura.
"Tentu saja kau, siapa lagi?" ketus Laura dingin.
Mendengar itu, Reynold malah tertawa terbahak-bahak. Dia membaringkan diri di belakang Laura dan memeluk pinggang istrinya itu dengan erat.
"Laura, kamu ini bodoh apa pikun sih? Ingat sayang, aku ini suamimu bukan orang lain." jelas Reynold.
"Suami apa? Suami bajingan? Semua dipaksa, apa-apa dipaksa. Ingat, aku ini bukan boneka. Aku juga punya perasaan seperti istri-istrimu yang lain. Kau membawaku ke dalam hubungan rumit ini. Bagaimana kalau mereka mengetahui ini? Aku tidak mau dibully ataupun disakiti." ketus Laura.
__ADS_1
"Deg!"
Reynold menyipitkan matanya dengan kening mengkerut. Jantungnya berdetak kencang mendengar itu. Istri lain? Sejak kapan Reynold memiliki banyak istri? Mendapatkan hati satu wanita itu saja susahnya minta ampun.
"Benar-benar bodoh, mana ada aku punya istri selain kamu. Aku baru menikah satu kali dan istriku cuma kamu seorang." terang Reynold.
"Pembohong," ketus Laura.
"Tidak sayang, aku tidak bohong. Kamulah wanita pertama di hidupku." ungkap Reynold.
Mendengar itu, Laura menautkan alisnya. Dia segera berbalik dan menatap manik mata Reynold untuk mencari kebenaran.
"Aku tidak bohong, hanya kamu lah istriku satu-satunya." imbuh Reynold sambil menangkup tangannya di pipi Laura.
"Kata Mbok Ati-" Laura tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Apa kata Mbok Ati?" tanya Reynold yang sudah siap mendengar keluhan istrinya itu.
"Katanya kau sudah punya tiga istri sebelumnya, aku hanya dijadikan istri keempat olehmu." jawab Laura dengan suara kecilnya.
"Hahahaha... Kamu percaya?" ucap Reynold sambil tertawa.
"Hehehe... Makanya jangan mau dibodoh-bodohi, Mbok Ati cuma bercanda. Dia memang begitu, suka menjahili orang." jelas Reynold.
"Masa' sih?" Laura menautkan alisnya.
"Kalau kamu tidak percaya, tanya langsung saja sama dia. Sekarang bangunlah, kita makan malam dulu. Kamu lapar kan?" ucap Reynold.
Laura memajukan bibirnya beberapa senti sambil mengangguk lemah, dia lebih dulu turun dari tempat tidur dan bejalan menuju pintu. Reynold hanya bisa tersenyum melihatnya lalu menyusulnya dan membukakan pintu yang tadinya terkunci.
Setibanya di meja makan, kebetulan sekali ada Mbok Ati yang sedang menata makanan di atas meja. Laura segera duduk dan menatapnya penuh selidik.
"Mbok, aku boleh nanya gak?" ucap Laura yang tidak ingin menunda-nunda.
"Boleh, memangnya Non mau nanya apa?" jawab Mbok Ati.
__ADS_1
"Kemarin kata Mbok bos aku sudah punya tiga istri, apa itu benar?" tanya Laura menuntut penjelasan.
Mbok Ati bergeming mendengar itu. Apa yang harus dia katakan? Dia sendiri hanya bercanda tapi Laura malah serius menanggapinya. Dia bingung harus melanjutkan ini atau menyudahinya.
Saat ingin menjawab, tiba-tiba sesosok pria tampan sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Tentu saja nyali Mbok Ati langsung ciut dibuatnya.
"Kenapa diam Mbok? Jawab saja!" seru Reynold, lalu menarik kursi dan duduk dengan santainya.
"Ma-maaf Non, Mbok hanya bercanda. Bapak belum pernah menikah, dia masih bujangan." jawab Mbok Ati jujur.
Mau bagaimana lagi, tidak mungkin dia melanjutkan kekonyolannya di hadapan yang punya badan.
Mendengar itu, air muka Laura mendadak bersemu merah. Bikin malu saja, ternyata dia sendiri yang terlalu bodoh karena sudah mempercayai ucapan Mbok Ati tanpa mencari tau dulu kebenarannya.
Laura menekuk wajahnya, dia sungguh malu menatap wajah Reynold yang kini tengah duduk di sampingnya.
Tanpa berpikir, dia langsung saja mengambil makanan dan menyantapnya dengan lahap. Setelah itu dia meninggalkan meja makan tanpa bicara sepatah katapun.
Reynold yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil menyantap makanannya. Setelah itu dia menatap Mbok Ati dengan intens. "Dia bukan Nona lagi, tapi Nyonya Reynold."
Mendengar itu, mata Mbok Ati terbuka dengan sempurna. "Cepat sekali,"
"Untuk apa lama-lama?" Reynold mengukir senyum dan meninggalkan Mbok Ati yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Astaga, anak muda sekarang ternyata lebih agresif dari anak muda di zaman ku dulu." gumam Mbok Ati sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Di kamar, Laura sudah berbaring di atas tempat tidur. Dia masih belum berani menatap wajah Reynold dan memilih memejamkan matanya. Biarkan saja Reynold berpikiran aneh terhadap dirinya, lagian wajar saja dia bersikap seperti itu karena pernikahan ini terlalu mendadak baginya.
Reynold tiba di kamar dan segera mengunci pintu, lalu menghampiri Laura dan berbaring di sebelahnya sambil memeluk pinggang kecil istrinya itu.
"Sekarang sudah percaya kan? Aku ini bukan pria hidung belang. Kamu lah wanita pertama dan satu-satunya di hidupku." Reynold membenamkan wajahnya di tengkuk Laura.
"Untuk kejadian dini hari tadi, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bohong, aku memang dijebak sebelum pulang ke apartemen ini. Mereka menaruh obat di minumanku. Jika aku sadar, aku tidak akan pernah mengambil kesucian mu sebelum menjadikanmu istriku yang sah." Nampak raut penyesalan di wajah Reynold saat mengatakan itu.
"Aku akui aku menyukaimu sejak melihatmu di perusahaan cabang. Untuk itulah aku memindahkan mu ke perusahaan pusat. Rencananya aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku sebelum menikahi mu, tapi kejadian itu terjadi tanpa diduga. Dan asal kamu tau, pernikahan ini bukan semata-mata hanya karena perasaan bersalah ataupun bentuk tanggung jawab karena sudah mengambil paksa kesucian mu. Tapi sepenuhnya karena aku menyukaimu dan sungguh ingin menjadikanmu istriku." jelas Reynold panjang lebar.
__ADS_1
Laura tersenyum mendengar itu, tapi dia sengaja tak menyahut karena tidak tau harus berkata apa. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya, setidaknya dia merasa lega karena kebenarannya dia bukanlah istri keempat melainkan istri satu-satunya.
Bersambung...