
Beno tiba di perusahaan dengan amarah yang masih saja menggerogoti hatinya, entah kapan Elkan akan sadar bahwa dirinya sudah menyakiti Yuna tanpa disengaja.
"Pagi Tuan Beno," sapa Ferry.
"Pagi, apa Yuna ada di sini?" tanya Beno tanpa basa-basi. Entah kenapa langkah kaki Beno mendadak membawanya menuju lantai 10.
"Ada, masih di ruang ganti. Sudah 2 jam tapi tak kunjung keluar hingga detik ini." jelas Ferry.
"Baiklah, batalkan saja pemotretan untuk hari ini! Yuna sedang tidak enak badan," titah Beno.
"Baik Tuan," angguk Ferry.
Beno meninggalkan Ferry yang tengah sibuk mendekorasi latar belakang area pemotretan. Sampai di depan pintu, Beno menghela nafas berat. Berusaha tenang agar Yuna tak melihatnya dalam kemarahan.
"Tok Tok Tok"
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, namun Yuna tak meresponnya dan memilih diam meresapi kekecewaan yang mendalam di hatinya.
Karena tak ada sahutan dari dalam sana, Beno pun memberanikan diri menekan kenop pintu, mendorongnya perlahan hingga matanya menangkap langsung keberadaan Yuna di dalam sana.
Duduk di bangku menghadap cermin, kedua tangan terlipat di atas meja dan wajah yang disembunyikan di atas tangan.
"Boleh aku masuk?" sapa Beno yang masih berdiri di ambang pintu.
Yuna tak menyahut, menyembunyikan kesedihan dari semua orang adalah pilihan yang sangat tepat menurutnya. Tidak akan ada yang paham, tidak akan ada yang mengerti bagaimana perasaannya saat ini.
"Yuna," Meski tanpa izin, Beno pun melangkahkan kakinya dan duduk di bangku kosong yang ada di samping Yuna.
Beno menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. Sebenarnya Yuna sudah seperti adik perempuan baginya, tidak tahan melihat Yuna yang terus menangis gara-gara Elkan.
"Hey, apa yang terjadi? Kenapa meninggalkan rumah tanpa pamit?" tanya Beno memulai percakapan. Memberanikan diri mengusap rambut Yuna layaknya seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
"Pergilah Beno, biarkan aku sendiri!" sahut Yuna yang tidak menginginkan kehadiran siapapun di sampingnya.
"Kamu mengusirku? Dasar adik durhaka!" seloroh Beno sembari tertawa kecil, siapa tau dengan begitu Yuna mau membuka diri untuk bercerita.
"Huhuuuu... Hiks...," Bukannya ikut tertawa, Yuna malah meraung sejadi-jadinya, bahkan sampai terisak di samping Beno.
"Hey, jangan nangis! Jika yang lain dengar, kamu pasti ditertawakan. Sudah istri orang masih aja cengeng." goda Beno mencairkan suasana.
"Aku sakit Beno, hatiku hancur. Bolehkah aku mati saja? Aku tidak ingin hidup lagi," isak Yuna sembari meremas rambutnya dengan kasar.
"Hey, apa yang kamu lakukan?" Beno menarik tangan Yuna agar tak lagi menyakiti dirinya sendiri.
"Semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Jangan menyerah dan jangan putus asa! Hidup ini terlalu indah untuk ditinggalkan." imbuh Beno.
"Tapi tidak untukku Beno," Yuna mengangkat wajahnya, sangat kusut hingga membuat mata Beno terbelalak.
"Kenapa tidak? Kamu itu cantik, pintar, smart. Belajarlah menerima kenyataan meskipun rasanya sangat pahit!" ucap Beno.
__ADS_1
"Apa kau sudah tau tentang ini?" tanya Yuna penasaran.
"Tentang apa?" sahut Beno.
"Jangan pura-pura bodoh! Kau tau jika aku hanyalah pelarian baginya, cintanya masih sangat besar untuk wanita itu. Lalu untuk apa aku di sini?" Yuna menatap Beno dengan tajam.
Beno meneguk ludahnya dengan susah payah, berlanjut mengusap wajahnya berkali-kali. Dari mana Yuna tau akan hal ini? Sementara Elkan saja memintanya menyembunyikan semua ini dari Yuna.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga kalian, tapi-"
"Jangan berkelit! Katakan padaku!" bentak Yuna meninggikan suaranya.
"Apa yang harus aku katakan padamu?" Beno pun menautkan alisnya.
"Semuanya! Apa benar wanita itu sudah kembali?" geram Yuna dengan tatapan mematikan.
"Deg!"
Beno kembali mengusap wajahnya, apa harus Beno menceritakan itu pada Yuna. Tapi Yuna berhak tau meski akan sangat menyakitkan baginya.
"Iya, wanita itu kembali."
"Jadi sudah jelas, kalau begitu terima kasih." Yuna mengambil tasnya dan segera berlari dengan langkah gontai. Jelas sudah bahwa dirinya hanya orang ketiga diantara Elkan dan Laura.
"Tunggu Yuna!" Beno berusaha menyusul, namun mendadak kakinya tersandung pada kaki kursi.
Saat tiba di lantai 15, Yuna segera berlari menuju ruangan Elkan. Seakan rasa sakit itu tak mau lepas dari dirinya, kini malah semakin sakit saat matanya menangkap jelas 2 insan manusia yang tengah berpelukan di depan matanya.
"Prok Prok Prok"
Elkan tersadar saat Yuna sudah berdiri di ambang pintu. Dengan segera dia mendorong Laura hingga menjauh dari dirinya.
"Hebat, jadi begini kelakuanmu di belakangku. Bajingan, laki-laki brengsek, pembohong!" teriak Yuna sangat lantang hingga menggema di dalam ruangan.
Yuna berbalik dan berlari dengan kencangnya. Hancur, tentu saja. Sakit, jangan ditanya lagi.
Sirna sudah harapan untuk hidup bahagia bersama pria yang sangat dia cintai. Apa itu cinta? Apakah cinta semenakutkan ini? Kenapa ada cinta jika akhirnya harus terluka.
"Sayang, tunggu!" Tanpa mempedulikan Laura yang masih berdiri di hadapannya, Elkan berlari menyusul Yuna yang sudah tiba di depan lift.
Berhubung lift tak kunjung terbuka, Yuna akhirnya berlari menuju anak tangga.
"Kau menyakiti aku lagi Elkan, kau pembohong. Bahkan setelah apa yang aku berikan untukmu, lantas bagaimana denganku? Kenapa kau tega sekali padaku? Apa salahku?"
Yuna tak hentinya menangis dengan pemikiran buruk yang baru saja dia saksikan sendiri dengan mata kepalanya.
Terus berlari dan berlari menuruni anak tangga, bahkan tak terpikir lagi bahaya yang tengah mengintai dirinya. Otak dan hatinya sudah korslet hingga tak bisa lagi berpikir jernih.
Sampai pada akhirnya heels yang dia kenakan patah hingga tubuh Yuna melayang dan menggelinding menyisir anak tangga.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaa...,"
"Bug!"
Apakah bumi sudah runtuh? Kenapa tubuhnya terasa ditimpa puing-puing bangunan? Sangat sakit, tapi seperti melayang menggapai langit ke tujuh. Berputar-putar diantara awan yang berterbangan menghias langit biru.
Sedetik kemudian berubah kelam seperti berada di ruangan yang gelap gulita, tak satupun cahaya yang nampak menyinari. Dengan senyuman yang begitu indah, akhirnya mata Yuna terpejam seiring darah segar yang mengalir di belakang kepalanya.
"Aaaaaaaaaa... Toloooooong...," Jeritan seorang cleaning servis menggema memenuhi seisi ruangan.
Dalam hitungan detik tubuh Yuna sudah dikerumuni banyak orang.
"Yuna," Mata Beno terbelalak dengan lutut bergetar hebat. Rasanya tak percaya tapi ini semua nyata adanya.
"Yuna, bangun!" Dengan cepat Beno mengangkat tubuh ringkih yang sudah berlumuran darah itu.
"Apa yang kalian lihat? Cepat siapkan mobil!" bentak Beno dengan lantangnya, bahkan nyaris saja suaranya menghilang.
Panik, tentu saja. Beno bahkan tak mampu lagi berkata-kata. Yang ada dipikirannya hanya ingin membawa Yuna ke rumah sakit secepatnya.
Dengan langkah kaki tak tentu arah, Beno menguatkan diri membopong tubuh Yuna menuju parkiran. Masuk ke dalam mobil dan meminta sopir mengantarnya ke rumah sakit.
"Bersabarlah Yuna! Kau tidak boleh lemah, kau harus kuat!" Tangisan Beno pecah saat memangku Yuna dan mendekapnya dengan erat. Bahkan pakaiannya sudah penuh dengan darah.
Sementara di perusahaan, mata Elkan terbelalak menyaksikan banyaknya darah yang tertinggal di lantai. Bahkan berceceran hingga pintu utama. Sementara para karyawan masih berkerumun membicarakan kejadian naas itu.
"Apa yang terjadi? Darah apa itu?" cerca Elkan dengan pertanyaan.
"Anu, itu Tuan."
"Anu anu apa? Bicara dengan jelas!" bentak Elkan meninggikan suaranya.
"Nyonya Yuna Tuan, Nyonya jatuh."
"Duaaaar"
Serasa disambar petir di siang bolong, Elkan tersurut hingga punggungnya membentur dinding. Mata membulat sempurna dan bibir menganga lebar.
"Tidak mungkin, tidak! Kalian bohong kan?"
"Tidak Tuan, Tuan Beno sudah membawa Nyonya ke rumah sakit. Tuan bisa menyusul,"
"Deg!"
Apa ini hukuman yang harus Elkan terima? Tapi kenapa harus Yuna? Wanita itu tidak bersalah, lalu kenapa harus dia yang mengalami kejadian naas ini? Kenapa tidak Elkan saja?!
Elkan mengusap wajahnya berkali-kali, berusaha kuat dan dengan cepat mengambil mobilnya menyusul Yuna dan Beno menuju rumah sakit.
Bersambung...
__ADS_1