
Usai makan malam, Yuna masuk ke kamar si kembar dan mengunci kedua pintu yang ada di kamar itu. Baik pintu utama maupun pintu penghubung kamar mereka tidak satupun yang bisa dibuka.
"Berani jadi model bersama wanita lain berarti harus siap tidur sendirian mulai malam ini." batin Yuna dengan air muka menggelap.
Dia sungguh jengkel setelah mendengar ucapan Elkan di bawah tadi. Enak saja kulit Elkan mau disentuh oleh wanita lain, tentu saja Yuna tidak rela.
Tepat pukul sepuluh malam, Elkan melangkah menuju kamar. Seperti biasa dia akan ke kamar si kembar terlebih dahulu untuk mengucapkan selamat malam dan mencium kedua buah hatinya itu.
Baru saja sampai pintu, mata Elkan langsung menyipit dengan kening mengkerut saat menekan kenop pintu. Sudah bisa dipastikan bahwa Yuna sedang marah besar dan sengaja menghukum dirinya.
Sambil tersenyum, Elkan pun mengetuk pintu dengan pelan.
"Tok Tok Tok"
"Sayang, buka pintunya dong! Abang mau lihat si kembar dulu," seru Elkan dari balik pintu.
Sayangnya tak ada sahutan sama sekali dari dalam sana. Yuna sudah tertidur di atas ranjang si kembar dan tidak tau lagi apa yang terjadi di luar sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari, Yuna sudah selesai memandikan si kembar. Dia turun ke lantai bawah sambil menggendong Elga, kemudian balik lagi mengambil Edgar.
Setelah menaruh kedua buah hatinya di atas kasur yang ada di ruang keluarga, Yuna masuk ke dapur dan mengisi perutnya dengan sepotong roti dan segelas teh hangat lalu duduk dengan muka manyun sambil mengingat perkataan Elkan semalam.
Di atas sana, Elkan baru saja bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya sedikit aneh saat tak melihat wajah Yuna ketika bangun dari tidur, seperti ada yang hilang dari dirinya.
Usai mandi dan mengenakan pakaian kantor, Elkan turun dan tersenyum saat menangkap keberadaan Yuna yang tengah termenung di atas sofa. Elkan menghampirinya dan duduk di sebelah istrinya itu.
"Pagi sayang," sapa Elkan.
Saat ingin mengecup kening istrinya itu, Yuna langsung beringsut dan menjauh dari Elkan. Tentu saja hal itu membuat Elkan terkejut dan menatapnya dengan tatapan bingung.
Elkan pikir Yuna sudah tidak marah lagi pada dirinya, ternyata pikirannya itu salah.
"Sayang... Yuna masih marah sama Abang?" tanya Elkan sambil merapatkan tubuhnya.
"Untuk apa marah? Aku tidak punya hak untuk itu," ketus Yuna sambil beringsut dan menjauhkan diri dari Elkan.
"Sayang...???"
__ADS_1
Elkan menyipitkan matanya, keningnya nampak mengkerut memandangi muka masam Yuna yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Maafin Abang ya, Abang tidak jadi memakai model itu. Tapi Yuna harus mau jadi model wanitanya, kita berdua yang akan jadi model untuk produk terbaru kali ini. Yuna mau kan?" pinta Elkan sambil tersenyum.
"Tidak mau, kalian berdua saja yang jadi modelnya. Mau sentuh sentuhan kek, mau cium ciuman kek, mau peluk pelukan sekali pun aku tidak peduli." Yuna menajamkan tatapannya, lalu bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
Yuna berjalan menuju pintu samping dan duduk di gazebo yang ada di dekat kolam renang. Air mukanya nampak gelap menahan kekesalan yang masih meletup di hatinya.
Jangankan melihat Elkan bersentuhan dengan wanita lain, membayangkannya saja sudah membuat tensi Yuna naik hingga ubun-ubun.
Mana mungkin Yuna sanggup melihat itu, satu-satunya pria yang dia cintai akan berakting dengan model seksi yang Yuna sendiri tidak tau siapa itu. Bagaimana kalau pakaian wanita itu terbuka?
"Aaaaah..."
Yuna menggertakkan giginya dan meremas bantal yang ada di sampingnya lalu memukulnya dengan sekuat tenaga. Dia sungguh kesal dan tak bisa mengendalikan emosinya.
"Suami jahat, tidak punya hati." geram Yuna sembari terus memukuli bantal itu untuk melampiaskan kemarahannya.
Dari belakang sana, Elkan tersenyum sumringah hingga menampakkan barisan giginya yang sangat rapi. Dia tak menyangka kalau ucapannya itu mampu membuat Yuna murka seperti saat ini. Padahal dia hanya bermaksud untuk memanas-manasi Yuna saja.
Elkan mengayunkan langkahnya dan duduk di samping Yuna. "Masih marah?"
"Yakin?" imbuh Elkan.
"Yakin... Pergi sana, jangan ganggu aku!" Yuna mendorong lengan suaminya itu dan memutar posisi duduknya hingga membelakangi Elkan.
Lagi-lagi Elkan hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol istrinya itu, lalu Elkan membaringkan diri dan menjadikan paha Yuna sebagai bantalannya.
Elkan meraih tangan Yuna dan meletakkannya di atas dada, lalu menatap istrinya itu dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Yuna cemburu?" tanya Elkan sambil mengulum senyumannya.
"Tidak, untuk apa cemburu?" sanggah Yuna yang tidak mau mengakui perasaannya.
"Bohong, Yuna pasti cemburu kan?" seloroh Elkan sambil mengecup punggung tangan istrinya itu.
"Sudah dibilang tidak ya tidak, jangan maksa!" ketus Yuna dengan tatapan membunuhnya.
"Sayangnya Abang tidak percaya, Abang yakin Yuna cemburu." Elkan tentu saja tak mau mengalah sebelum Yuna mengakui perasaannya.
__ADS_1
Kesal karena Elkan terus saja menyudutkan dirinya, Yuna kemudian menarik tangannya dari genggaman Elkan lalu menjambak rambut suaminya itu dengan penuh kemarahan.
"Iya, Yuna cemburu, Yuna marah, Yuna tidak mau suami Yuna disentuh sama wanita lain, puas!" geram Yuna dengan suara lantang sambil terus menjambak rambut Elkan sesuka hatinya.
"Hahahaha... Sakit sayang, lepasin dulu!" pinta Elkan sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Tidak mau, suami seperti Abang patut dikasih pelajaran. Apa Abang tidak merasa bersalah saat memuji kecantikan dan keseksian wanita lain di depan istri Abang sendiri? Apa Yuna kurang cantik? Apa Yuna kurang seksi? Abang mau wanita yang seperti apa lagi hah?" Suara Yuna terdengar bergetar saat mengatakan itu, matanya menyala berapi-api.
"Hahahaha..."
Lagi-lagi Elkan hanya bisa tertawa mendengar keluhan istrinya itu.
"Jangan ketawa, atau Yuna akan membunuh Abang sekarang juga!" ancam Yuna dengan tatapan mematikan. Dia melepaskan tangannya dari rambut Elkan dan beralih mencekik leher suaminya itu.
"Khekhhh..."
"Apa Yuna tega melenyapkan suami Yuna sendiri? Kalau Abang mati, apa Yuna yakin tidak akan menyesal kehilangan Abang?" Elkan berkata dengan susah payah saat kedua tangan Yuna melingkar kuat di lehernya.
"Bunuh saja jika itu bisa membuat Yuna senang! Abang rela mati di tangan Yuna. Setelah itu Abang akan gentayangan dan menghantui Yuna. Bersiap-siaplah tidur dengan hantu setiap malam. Dan yang paling penting, Abang akan menggerayangi tubuh Yuna setiap waktu. Enak kali ya bercinta dengan hantu,"
Elkan masih sempat-sempatnya menggoda Yuna disaat nafasnya sudah tercekat dalam ketidakberdayaannya.
Mendengar itu, Yuna langsung merinding dan segera melepaskan tangannya dari leher Elkan.
"Kalau mati ya mati saja, kenapa harus gentayangan?" keluh Yuna dengan bibir mengerucut.
"Harus dong sayang, kan cuma Abang yang boleh memiliki Yuna. Meski sudah jadi hantu sekali pun, Yuna tetap milik Abang seorang. Tidak ada orang lain yang boleh memiliki Yuna."
Setelah mengatakan itu, Elkan meraih tengkuk Yuna dan menariknya hingga kepala Yuna tertunduk ke bawah. Elkan mengangkat kepalanya dan mengesap bibir istrinya itu dengan penuh kelembutan.
"Bagaimana rasanya dicium sama hantu?" seloroh Elkan setelah melepaskan pagutan nya.
"Enak, rasanya manis seperti permen." Yuna mengulum senyumannya dan mencubit perut Elkan saking geramnya. "Dasar hantu mesum,"
"Hahahaha..."
Tawa Elkan pecah seketika itu juga, menurutnya ini adalah momen langka dan sangat lucu hingga membuatnya kesulitan menahan tawa.
Bersambung...
__ADS_1