Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 136.


__ADS_3

Setibanya di kamar, Elkan langsung membaringkan Yuna di atas kasur. Dia kemudian berjalan menuju pintu dan menguncinya.


Sambil melangkah menghampiri Yuna, satu persatu pakaian Elkan mulai terlepas dari tubuhnya. Hal itu membuat Yuna mengulum senyuman menyaksikan tubuh suaminya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.


Otot-otot Elkan menyembul dari balik kulitnya, benar-benar terlihat gagah dan perkasa. Apalagi ditambah perut kotaknya yang terpahat bak roti sobek. Semakin membuat Yuna terpesona dengan mata membulat sempurna.


Elkan menarik kaki Yuna dan menggelitiknya, tentu saja hal itu membuat Yuna menggeliat merasakan geli. Tawanya tiba-tiba pecah mengisi kehampaan kamar tersebut.


Kemudian Elkan mengecup kaki Yuna, semakin naik dan naik hingga bibirnya mendarat di inti istrinya yang masih dibaluti pakaian. Dalam hitungan detik saja Elkan berhasil melepas semuanya hingga tubuh mereka berdua sama-sama polos seperti bayi yang baru dilahirkan.


Seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan. Dia menekuk kaki Yuna dan mengecup permukaan inti istrinya itu dengan lembut. Yuna langsung tersentak dan mengangkat bokongnya.


Kemudian lidah Elkan bergerak lincah menjilati kelopak bunga berwarna pink itu. Desa*han kecil langsung lolos dari mulut Yuna. Rasanya benar-benar aduhai, tak bisa diungkap dengan kata-kata. Bahkan jari Elkan ikut bermain sehingga membuat Yuna tak mampu menahan diri.


"Aughhhh... Bang... Ya... Aughhhh..." Yuna meracau tak jelas saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir membasahi intinya. Kakinya bergetar hebat, sekujur tubuhnya merinding menikmati itu.


Lagi-lagi seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan. Dia menghisap inti Yuna dengan kuat hingga istrinya itu langsung menjerit dan menarik rambutnya.


"Aahhhh..."


"Kenapa sayang," tanya Elkan sambil mendongakkan kepalanya.


"Enak Bang," gumam Yuna dengan suara yang nyaris menghilang.


"Gantian ya, Abang juga mau." pinta Elkan dengan air muka memelas.


Yuna mengangguk lemah, kemudian bangkit dari pembaringannya. Dia langsung berjongkok dan menjilat ujung tongkat Elkan seperti permen, lalu mengulumnya seperti es krim.


Kini giliran mulut Elkan yang mengeluarkan desa*han saat tongkatnya keluar masuk dalam mulut Yuna. Rasanya benar-benar luar biasa.


"Cukup sayang," gumam Elkan dengan suara beratnya lalu mengangkat tubuh Yuna hingga berdiri sejajar dengannya.


Elkan melu*mat bibir Yuna dengan lembut, keduanya saling mengesap dengan nafas kian memburu. Kemudian masuk semakin dalam menyelami rongga mulut masing-masing hingga saling membelit lidah. Tangan Elkan tak lepas dari kedua gundukan kenyal milik Yuna yang begitu menantang.


Elkan melepaskan pagutan nya, lalu menggigit leher Yuna hingga menyisakan jejak berwarna merah pekat. Kemudian turun melahap dua gundukan kenyal itu secara bergantian. Lagi-lagi Yuna mengeluarkan desa*han hingga membuat Elkan menggila.

__ADS_1


Elkan mendorong Yuna hingga tersandar di dinding, lalu mengangkat sebelah kaki Yuna dan menuntun tongkat nya memasuki liang hangat milik istrinya itu. Jeritan kecil lolos dari mulut Yuna saat benda itu menerobos masuk.


"Aahhhh..."


Elkan mulai mengayunkan pinggulnya, hal itu membuat Yuna tak hentinya mende*sah. Dia meracau terus menerus hingga Elkan menekannya semakin cepat.


Kemudian Elkan membalikkan tubuh Yuna hingga membelakanginya, benda miliknya kembali masuk dan menekan inti Yuna semakin dalam. Desa*han keduanya menyatu mengisi kehampaan kamar tersebut.


Puas dengan posisi itu, Elkan mengangkat tubuh montok Yuna dan membawanya ke sofa. Elkan duduk dan meminta Yuna naik di atasnya. Kini giliran Yuna yang bergerak semaunya di atas tubuh Elkan.


Elkan kembali mengesap bibir Yuna, tangannya bergerak meremas gundukan kenyal milik istrinya itu.


"Bang, Yuna gak kuat lagi. Kaki Yuna pegal Bang," gumam Yuna yang sudah keletihan berpacu di atas tubuh Elkan.


Elkan tersenyum, kemudian membalikkan keadaan. Dia merebahkan Yuna di atas sofa dan menekuk kedua kakinya, kemudian memasuki inti Yuna kembali dan menekannya dengan kecepatan tinggi.


"Aughhhh... Aughhhh... Bang... Yuna mau keluar," pekik Yuna dengan nafas tersengal.


Mendengar itu, Elkan semakin berpacu dengan kecepatan secepat kilat. Yuna menjerit menikmati pencapaiannya yang entah ke berapa kali, sekujur tubuhnya bergetar. Di saat itu juga Elkan menyemburkan lahar panasnya di dalam sana, erangan Elkan terdengar jelas seperti sapi yang baru saja disembelih.


"Aakhhh..."


"Dasar gila," gumam Yuna sambil mengulum senyumannya.


"Hmm... Gila karena Yuna, siapa suruh Yuna begitu enak?" bisik Elkan lalu menggigit daun telinga Yuna.


"Hehehehe... Geli Bang," gumam Yuna terkekeh.


"Hmm... Love you sayang," bisik Elkan sambil memeluk Yuna.


"Love you to," sahut Yuna.


Elkan mempererat pelukannya dan memejamkan matanya untuk sejenak. Setelah tongkat miliknya mengecut, Elkan menariknya dan duduk di sisi sofa. Dia menatap wajah polos Yuna yang tengah terlelap, lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


"Mandi dulu yuk, habis itu baru tidur!" ajak Elkan dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Yuna capek Bang, bentar lagi ya." gumam Yuna dengan mata yang masih terpejam.


"Abang mandiin, Yuna tinggal duduk aja. Kalau begini terus, nanti si kembar keburu bangun." bujuk Elkan sambil mengelus pipi Yuna.


Mendengar itu, mata Yuna langsung terbuka dengan sempurna. Hampir saja dia lupa bahwa masih ada si kembar yang harus dia urus.


"Mandiin ya!" pinta Yuna dengan manja.


"Iya sayang, Abang mandiin." sahut Elkan, lalu menggendong Yuna dan membawanya ke kamar mandi.


Elkan menyalakan shower dan berdiri di bawahnya. Setelah tubuh keduanya basah, Elkan mematikannya dan segera menuang shampoo di rambut Yuna lalu memijat kepalanya dengan lembut.


Setelah itu, Elkan menuang sabun cair di atas spons dan menggosok tubuh Yuna secara merata. Elkan juga melakukan hal sama pada dirinya sendiri, lalu menyalakan shower dan membilas tubuh mereka.


Setelah tubuh keduanya bersih, Elkan mengelap tubuhnya dengan handuk lalu melingkarkan nya di pinggang. Dia kemudian mengelap tubuh Yuna dengan handuk lain dan membalut tubuh istrinya itu, lalu menggendongnya meninggalkan kamar mandi.


"Digendong terus, apa Abang gak capek?" tanya Yuna sambil mengalungkan tangannya di tengkuk Elkan.


"Ya enggak lah sayang, ringan gini kok." jawab Elkan enteng, padahal bobot Yuna sendiri lumayan berat dengan tubuhnya yang montok dan berisi. Apalagi sejak melahirkan dan menyusui si kembar, bobot Yuna jadi naik beberapa kilo.


Elkan kemudian menurunkan Yuna di depan meja rias dan mendudukkan istrinya itu di sana, lalu Elkan membuka pintu lemari dan mengambil pakaian. Setelah Elkan mengenakan pakaiannya, dia pun mengambilkan pakaian untuk Yuna.


"Pakaian baru?" Yuna menautkan alisnya.


"Iya, Yuna gak suka?" Elkan mengerutkan keningnya.


"Bukan, tapi kapan Abang membelinya?" tanya Yuna penasaran.


"Sudah lama, jauh sebelum kita menyatu. Waktu itu Abang ingin membawa Yuna ke sini dan mengungkapkan isi hati Abang sama Yuna. Tapi sayangnya Yuna malah pergi ninggalin Abang," jawab Elkan jujur dengan tatapan sendu.


Yuna membulatkan matanya, kemudian bangkit dari duduknya dan memeluk Elkan dengan erat. "Maafin Yuna ya Bang, Yuna gak tau kalau waktu itu Abang suka sama Yuna. Yuna pikir Abang cuma mau melecehkan Yuna dan meninggalkan Yuna setelah itu. Makanya Yuna pergi, Yuna takut hanya dijadikan alat pemuas nafsu. Sementara perceraian kita sudah tertulis di kertas itu."


"Ya udah, gak usah dibahas lagi. Semua sudah berlalu. Sekarang pakai bajunya dulu, jangan sampai Abang berubah pikiran dan memakan Yuna lagi!"


"Deg!"

__ADS_1


Yuna terperanjat dan langsung mendorong Elkan, dia merebut pakaian tersebut dari tangan Elkan dan memakainya dengan cepat.


Bersambung...


__ADS_2