Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 62.


__ADS_3

Yuna menarik tangannya dari genggaman sang ibu. "Maaf Bu, Yuna tidak bisa ikut dengan Ibu. Yuna ingin kembali, Yuna punya anak Bu. Mana mungkin Yuna tega meninggalkan mereka? Mereka masih kecil, mereka masih butuh kasih sayang dari Yuna. Cukup Yuna saja yang kehilangan kasih sayang dari Ibu, mereka tidak boleh merasakan hal yang sama!"


"Dug!"


"Deg!"


Elkan terlonjak saat tubuh Yuna bergerak menghantam wajahnya. Jantung Elkan bergemuruh kencang dengan mata melotot tajam. Aliran darahnya mendadak lancar meski masih menyisakan rasa nyeri di dadanya. "Yunaaaa...,"


"Dokter, istri saya masih bergerak. Ayo Dok, cepat!" pekik Elkan dengan lantangnya.


Benar saja, grafik yang tadinya sudah menunjukkan garis lurus. Perlahan mulai naik, membuat para dokter tersentak kaget. Dengan segera Dokter Cindy mengambil tindakan dibantu Dokter Adi dan juga yang lainnya.


"Sayang, Yuna dengar aku kan? Yuna harus kuat, tolong bertahan!" gumam Elkan penuh harap. Dia bergegas mengusap wajahnya dan menggenggam tangan Yuna dengan erat.


Apakah ini yang dinamakan keajaiban? Jika iya, berarti Elkan masih memiliki harapan untuk tetap bersama istrinya. Yuna masih memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama bersama suami dan anaknya. Memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu terhadap putra putri mereka.


"Bagaimana Dok?" tanya Elkan penasaran, jelas sekali terlihat perasaan was-was dari raut wajahnya.


"Sungguh keajaiban yang sangat luar biasa. Ibu Yuna berhasil melewati masa kritisnya." jawab Dokter Adi.


Elkan menghela nafas lega, kemudian mengusap wajahnya berkali-kali. "Apa itu artinya istri saya baik-baik saja, Dok?"


"Sementara begitu, berdoa saja semoga setelah ini istri Anda akan segera sadar!" balas Dokter Adi.


Setelah memastikan detak jantung Yuna kembali normal, satu persatu dokter meninggalkan ruangan. Tidak lama, Elkan pun menyusul keluar untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Tiga jam di ruangan itu membuat Elkan kehilangan tenaga, apalagi setelah dibuat berolahraga jantung beberapa kali. Tubuhnya benar-benar lemas tak berdaya.


Elkan menghempaskan tubuhnya di atas kursi, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan meluruskan kakinya untuk meregangkan ototnya yang terasa kaku. Sementara matanya mulai terpejam dengan perlahan.


"Bagaimana keadaan Yuna?" tanya Beno ingin tau.


"Sudah membaik, tapi sempat pergi beberapa saat. Aku pikir semuanya sudah berakhir," lirih Elkan dengan mata yang terus saja terpejam.


Beno mengusap wajahnya dengan kasar, dia pun merasa lega mendengar itu semua.


"Tunggu di sini, aku beli minuman sebentar! Oh ya, mertuamu masuk IGD. Aku akan ke sana juga untuk menyampaikan ini pada Reynold. Kau istirahat saja di sini!"


Elkan mengangguk lemah, Beno pun mengusap pundaknya kemudian meninggalkan Elkan yang masih setia dengan posisinya. Jangankan untuk berdiri, bergerak saja rasanya sudah tidak sanggup.

__ADS_1


Sebelum ke kantin, Beno mampir dulu di depan IGD dan menceritakan semuanya pada Reynold. Akhirnya Reynold bisa bernafas dengan lega. Setidaknya salah satu sudah jelas keadaannya, tinggal menunggu Aditama sadar dari pengaruh obat tidur yang disuntikkan dokter padanya.


Setengah jam kemudian, Beno kembali membawa beberapa makanan dan minuman yang baru saja dia beli. Mampir di depan IGD dan memberikan salah satunya pada Reynold.


"Ini, makanlah dulu biar tenaga mu kuat! Aku tinggal dulu ya!" ucap Beno.


"Terima kasih," sahut Reynold.


Beno menepuk pundak Reynold, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang operasi.


Sampai di sana, Beno pun membukakan makanan yang dia bawa untuk Elkan. "Makanlah dulu!" seru Beno.


"Aku tidak lapar, kau saja yang makan!" tolak Elkan.


"Jangan ngeyel! Kalau kau sakit, siapa yang akan menjaga Yuna dan anakmu? Kau tidak boleh lemah, mereka bertiga sangat membutuhkan dirimu saat ini!" desak Beno.


Mendengar itu, Elkan pun mengangguk lemah lalu mengambil kotak makanan yang ada di tangan Beno dan memakannya.


Sejak Yuna terbaring di rumah sakit, nafsu makan Elkan memang menurun drastis. Kadang makan hanya sesuap dua suap, kadang tidak sama sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Yuna dipindahkan ke ruang inap. Keadaannya sudah stabil dan tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sementara itu, Elkan tengah berdiri di balik kaca ruangan bayi. Menatap putra putrinya yang masih tertidur lelap di dalam inkubator.


Tak tau harus berkata apa. Dalam sekejap Elkan sudah menjadi ayah tanpa diduga. Seperti mimpi, kadang rasa tak percaya mengingat semuanya terjadi begitu cepat.


"Anak Papa yang kuat ya! Doakan Mama cepat sadar agar kita semua bisa berkumpul dan pulang ke rumah!" lirih Elkan sembari menyentuh pipi putra putrinya dari balik kaca.


Puas memandangi wajah imut putra putrinya, Elkan pun beranjak menuju ruangan operasi. "Dimana istri saya, Sus?" tanya Elkan dari balik pintu. Ruangan itu sudah kosong, hanya ada suster yang tengah berbenah karena ada pasien lain yang akan masuk.


"Istri Anda baru saja dipindahkan ke ruangan inap," jawab suster itu.


"Hm... Baiklah," Elkan menutup kembali pintu itu dan melangkah menuju ruangan Yuna.


Sesampainya di dalam, Elkan bergegas menghampiri suster yang baru saja ingin memindahkan Yuna ke ranjang. "Biar saya saja, Sus!" seru Elkan, lalu menggendong Yuna dan membaringkannya di atas kasur.

__ADS_1


Setelah posisi Yuna pas, suster pun merapikan kembali alat medis yang masih terpasang di tubuh Yuna, lalu meninggalkan ruangan setelah tanggung jawab mereka selesai.


Elkan memilih berbaring di samping Yuna dengan posisi miring sebab matanya sangat mengantuk setelah menunggu Yuna semalaman. Dia pun menggenggam tangan Yuna dengan erat lalu menciumnya dengan sayang. Tidak lama, Elkan tertidur dengan sedikit dengkuran yang keluar dari mulutnya.


"Sayang, ini Mama Nak."


"Gak mau, Mama jahat. Mama gak sayang sama kami. Kami mau sama Papa aja!"


"Sayang, Mama gak jahat. Mama juga sayang sama kalian, sama seperti Papa."


"Mama bohong, Mama gak sayang sama kami. Buktinya Mama gak kenal sama kami, Mama juga mau pergi meninggalkan kami."


"Itu gak benar sayang, Mama tidak akan pergi meninggalkan kalian. Mama kembali hanya untuk kalian berdua. Maafin Mama ya, Mama janji gak akan pergi!"


"Benar?"


"Iya sayang, Mama janji. Sekarang kemarilah! Peluk Mama dulu!"


"Dug!"


Yuna tersentak hingga detak jantungnya kembali melemah. Tubuhnya mengejang dengan jari jemari yang mulai bergerak sehingga Elkan pun terbangun saat merasakan sentuhan tangan Yuna.


"Deg!"


Jantung Elkan bergemuruh kencang bak petir yang melanda di tengah hujan. Matanya membulat sempurna dengan bibir menganga lebar. Sedetik kemudian mata Elkan mengarah pada tangan Yuna, jemarinya masih saja bergerak di atas telapak tangan Elkan.


"Sayang, kamu sadar? Kamu bangun?" Elkan tak kuasa menahan diri, air matanya jatuh begitu saja. Dengan cepat Elkan menekan tombol darurat memanggil suster yang belum lama meninggalkan ruangan.


Karena tak sabar, Elkan pun berlari ke luar dan berteriak seperti orang kesurupan. "Susterrr...,"


Beberapa menit kemudian suster pun datang disusul Dokter Cindy di belakangnya.


"Istri saya bergerak Sus, Dok. Tangannya bergerak," seru Elkan dengan nafas terengah.


"Mungkin ini pertanda baik, kami masuk dulu!" jawab Dokter Cindy dan melangkah masuk dengan segera.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2