Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 60.


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tidak terasa sudah tujuh bulan saja Yuna terbaring lemah tak berdaya, selama itu pula Elkan tak pernah meninggalkannya. Meski harapan itu sudah nihil, Elkan masih tetap kekeh mempertahankan istri dan anaknya.


Pagi tadi, Elkan berkonsultasi dengan Dokter Cindy di ruangan. Katanya harus dilakukan tindakan operasi untuk mengangkat bayi yang dikandung Yuna. Di usia ini kandungan Yuna sudah matang dengan bobot masing-masing bayinya melebihi dua kilo, akan lebih baik mengangkatnya sekarang. Jika dibiarkan, takutnya akan berisiko untuk Yuna dan bayi kembarnya itu.


Setelah mempertimbangkan semuanya dengan sangat matang, Elkan akhirnya setuju dengan usulan Dokter Cindy. Elkan pun diminta menandatangani surat izin dari pihak keluarga. Malam ini juga akan dilakukan operasi besar, tentunya melibatkan beberapa orang dokter spesialis dan juga beberapa suster yang ikut membantu mereka.


Elkan segera menghubungi Aditama, dia memberitahu sang ayah mertua tentang segalanya. Menurut beberapa dokter, ini adalah langkah yang paling tepat diambil saat ini. Aditama pun mengiyakannya.


Setelah berbicara dengan Aditama, Elkan pun menghubungi Beno. Menceritakan hal yang sama kepada saudara angkatnya itu. Beno pun menyetujuinya.


Pukul 8 malam, Aditama datang bersama Reynold. Kebetulan sepupu Yuna itu baru saja pulang dari luar negeri. Setelah sekian lama Yuna terbaring di rumah sakit, baru hari inilah Reynold sempat menemuinya. Pekerjaan yang sangat banyak membuat Reynold tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya, sangat berisiko untuk perusahaannya.


Tidak lama, Beno pun tiba di rumah sakit. Berharap kehadirannya bisa menyemangati Elkan yang saat ini tengah dilanda dilema yang mendalam. Sebenarnya Elkan sangat takut operasi ini gagal, dia tidak sanggup kehilangan Yuna dan anaknya. Namun jika tidak dilakukan, Elkan pun berisiko kehilangan ketiganya. Elkan hanya bisa pasrah meski hatinya menjerit menangisi keadaan ini.


"Elkan, bagaimana keadaan Yuna Nak?" tanya Aditama yang sudah berdiri di depan ruang operasi. Wajahnya nampak gusar memikirkan keadaan putrinya.


"Yuna sudah di dalam Yah, sebentar lagi operasinya akan dimulai." jawab Elkan dengan suara bergetar. Ketakutan akan kehilangan anak dan istrinya masih membelenggu di hatinya.


"Kau harus kuat! Berdoalah agar Yuna juga kuat menjalani operasi ini!" ucap Reynold sembari menepuk pundak Elkan.


"Terima kasih," lirih Elkan, tak terasa cairan bening di sudut matanya tumpah begitu saja.

__ADS_1


"Elkan...," Beno pun menghampiri Elkan dan memeluknya erat. "Kau harus kuat demi istri dan anakmu!" imbuh Beno.


Tangisan Elkan akhirnya pecah di pundak Beno, bagaimanapun hanya Beno lah satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Rasa penyesalan pun kembali datang mengganggu pikirannya. Jika saja dari awal dia mau mendengarkan kata-kata Beno, mungkin kecelakaan naas itu tidak akan pernah terjadi. Tapi kembali lagi pada takdir. Jika sudah takdir yang menginginkan, kita harus apa?


"Permisi," seru seorang suster yang baru saja keluar dari ruang operasi. Semua orang menoleh ke arah suster, tak terkecuali dengan Elkan. Seketika pelukannya terlepas dan segera menyeka wajahnya.


"Ada apa Sus?" lirih Elkan dengan suara seraknya.


"Operasi akan segera dimulai, Dokter meminta Anda untuk masuk!" jelas suster itu.


"Baiklah," angguk Elkan.


Elkan segera meminta restu kepada Aditama, berharap doa seorang ayah bisa sampai kepada putrinya. Tidak hanya menyelamatkan bayi kembar yang ada di perut Yuna, tapi juga mampu membangunkan Yuna dari komanya.


"Ayah, Ayah kenapa?" Reynold pun mendadak syok. Belum selesai memikirkan keadaan Yuna, kini giliran ayahnya yang mendadak tak sadarkan diri.


Beno yang masih tersandar di dinding pun terlonjak dengan mata terbelalak. "Apa yang terjadi?"


"Sepertinya Ayah terkena serangan jantung lagi, bisakah kau menolongku membawa Ayah ke IGD?" pinta Reynold.


Beno mengangguk cepat dan segera mengangkat tubuh Aditama. Keduanya menggotong Aditama menuju ruang IGD.

__ADS_1


Sementara di ruang operasi sana, Elkan masih gelisah sembari menggenggam tangan Yuna dengan erat. Banyaknya alat medis yang terpasang di tubuh Yuna membuat hatinya hancur tanpa sisa. Belum lagi saat melihat dokter membedah perut istrinya, Elkan rasanya ingin mati saja. Dia benar-benar tidak tahan melihat penderitaan Yuna yang datang bertubi-tubi tanpa henti.


"Yuna, kamu yang kuat ya sayang! Kamu itu hebat, kamu wanita tangguh, kamu pasti sanggup menghadapi semua ini. Kamu pasti sembuh, kamu harus sembuh demi anak kita. Mereka membutuhkan kamu sayang, kita akan membesarkan mereka bersama-sama. Kamu harus janji padaku, kamu tidak boleh pergi. Aku tidak akan rela jika kamu pergi, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu."


Elkan tak sanggup lagi menahan diri, semua keluar begitu saja dari mulutnya. Elkan bahkan tak melepaskan bibirnya dari pipi Yuna, mulutnya terus saja meracau menyemangati istrinya.


Satu jam sudah berlalu, tangisan seorang bayi laki-laki menggelegar memenuhi seisi ruangan. Saat itu juga jantung Elkan bergemuruh kencang, seakan dunia berhenti berputar untuk sejenak. Tidak lama, tangisan bayi perempuan juga menggema memenuhi seisi ruangan. Lagi-lagi dada Elkan bergemuruh tak tentu arah. Bahagia, sedih, cemas, takut, semua membaur menjadi satu.


"Sayang, kamu dengar itu kan? Kamu dengar kan sayang? Itu tangisan bayi kita, anak kita. Apa kamu tidak ingin melihatnya? Apa kamu tidak ingin memeluknya?" lirih Elkan dengan mata yang sudah basah.


Sementara Elkan masih meracau di telinga Yuna, dua orang suster nampak tengah sibuk membersihkan bayi kembarnya. Mengukur tinggi dan berat badan keduanya secara bergantian, lalu memasangkan bedong kepada keduanya. Sementara beberapa dokter tengah sibuk menyelesaikan tugasnya.


"Ini putri dan putra Anda. Cantik dan ganteng, silahkan di adzan kan! Setelah itu kami akan membawanya ke ruang bayi untuk melakukan perawatan, mereka terlalu kecil." kata seorang suster sembari memberikan bayi itu ke tangan Elkan.


Rasa tak percaya, tapi semua ini nyata adanya. Elkan tak menyangka bahwa kini dirinya sudah menjadi seorang ayah, ayah dari sepasang bayi kembar yang hadir tanpa diduga.


Dengan tangan yang bergetar, Elkan mengambil salah satu dari keduanya. Air matanya meluncur bebas begitu saja menatap wajah polos itu. Dengan suara yang serak, Elkan melantunkan adzan dengan merdunya.


Setelah mengadzani keduanya secara bergantian, suster pun membawa keduanya pergi. Kaki Elkan seketika terasa lemas hingga terduduk di lantai. Baru saja tangannya menyentuh putra dan putrinya, baru saja dia menjadi ayah dari keduanya. Rasanya seperti mimpi saja, otak Elkan masih tak percaya dengan ini. Tangisannya semakin menjadi-jadi merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.


Tapi bagaimana keadaan Yuna? Apa Yuna akan sadar setelah ini? Apa malah mengalami koma lagi? Atau...???

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2