Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 166.


__ADS_3

Malam sudah berlalu, pagi datang menjelang membangunkan dua anak manusia yang semalam baru saja berperang di atas ranjang empuk saksi bisu penyatuan mereka.


Tidak hanya sekali, tapi keduanya melakukan penyatuan sebanyak dua kali. Elkan bahkan masih memintanya lagi dan lagi, tapi Yuna sudah tidak sanggup karena Elkan selalu memintanya di atas. Pinggangnya serasa ingin copot mengikuti alur permainan Elkan yang kian hari kian beringas saja. Banyak gaya baru yang mereka peragakan hingga keduanya benar-benar menggila saat mencapai puncak kenikmatan yang sungguh luar biasa.


Bahkan sampai mata Yuna terbuka pagi ini pun, tubuhnya masih terasa remuk usai mengimbangi permainan gila suaminya itu. Tidak hanya bertempur di atas ranjang saja, mereka berdua sampai berpindah-pindah ke sofa, kursi, meja rias dan pintu balkon.


"Aaaah..." Yuna menggeliat sambil memegangi permukaan intinya yang terasa sangat perih.


"Uuuuh... Kenapa sayang?" gumam Elkan sambil membuka matanya perlahan.


"Sakit... Huuu..." rengek Yuna dengan bibir mengerucut.


Mendengar itu, Elkan langsung bangkit dari pembaringannya dan duduk sambil menekuk kaki Yuna. "Coba Abang lihat!"


Segera Yuna mengatupkan pahanya. "Tidak usah, Bang!"


Elkan mengerutkan keningnya. "Kenapa? Malu sama Abang?"


"Tidak, tapi-" Yuna nampak ragu-ragu dalam berucap. Dia bangkit dari pembaringannya dan turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setengah jam kemudian, Yuna keluar dengan handuk yang melingkar di dadanya. Elkan turun dari ranjang dan menghampiri Yuna lalu memeluknya dan mengecup pundaknya.


"Sudah Bang, mandi dulu sana!" suruh Yuna.


"Bentar lagi sayang, Abang mau-"


"Mau apa lagi?" Yuna berbalik dan menajamkan tatapannya. "Jangan macam-macam Bang, Yuna sudah tidak sanggup lagi. Cepat mandi, Yuna mau lihat si kembar dulu!"


Yuna mendorong dada bidang Elkan dan melangkah menuju lemari, segera dia mengambil pakaian dan mengenakannya dengan cepat sebelum monster mesum itu menerkamnya lagi.


Elkan menyipitkan matanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. Tanpa bicara, Elkan langsung berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Elkan menghilang dari pandangannya, Yuna duduk di depan meja rias memoles wajahnya dengan sedikit riasan tipis. Setelah itu Yuna menyiapkan pakaian untuk Elkan dan menaruhnya di atas kasur.


Yuna kemudian meninggalkan kamar dan turun menuju lantai bawah. Pas sekali Beno dan Reni baru keluar dari kamar mereka sambil menggendong si kembar yang tengah menangis kehausan.

__ADS_1


Tangisan keduanya membuat gempar seisi rumah, terlebih Elga yang menangis dengan sangat lantang.


"Elga, Edgar, ini Mama Nak." Yuna berlari kecil menghampiri keduanya, lalu mengambil Elga dari tangan Beno. "Reni, tolong antar Edgar ke kamar ya!"


Yuna kembali ke atas dan membawa Elga ke kamarnya, Reni pun menyusul di belakang.


Setelah duduk di atas kasur, Yuna segera mengangkat bajunya dan menyusui Elga. Tapi karena Edgar masih menangis, mau tak mau terpaksa Yuna berbaring dan menyusuinya di sisi sebelah lagi.


"Makasih ya Reni, kamu ke bawah dulu saja! Kasihan Beno nungguin," ucap Yuna.


"Iya Kak, nanti setelah menyiapkan sarapan aku ke sini lagi." Reni meninggalkan kamar si kembar dan turun ke lantai bawah.


Di kamar sebelah, Elkan sudah rapi dengan pakaian kantor yang melekat di tubuhnya. Setelah menyisir rambut, dia berjalan meninggalkan kamarnya dan melewati kamar si kembar.


Baru saja kakinya menginjak kamar si kembar, mata Elkan menyipit menyaksikan pemandangan langka yang jarang sekali dia lihat itu. "Anak Papa sudah bangun ya? Kenapa tidak gantian ne*nen nya?"


"Mana bisa Pa? Dua-duanya nangis, mungkin saking hausnya." jawab Yuna yang sudah diapit oleh keduanya.


"Hehehe... Kalian benar-benar ya," Elkan tertawa kecil melihat kedua buah hatinya yang nampak seperti kodok saat mengesap pucuk dada sang mama.


Elkan kemudian duduk di sisi ranjang dan mengecup pusar Yuna yang ternganga lalu menepuk bokong Elga dan Edgar bergiliran. "Dasar nakal, bikin Mama susah saja!"


"Ssstt... Biarin saja, Bang!" timpal Yuna.


"Memangnya Yuna tidak sakit ditindih begini?" Elkan mengerutkan keningnya.


"Hahahaha... Pertanyaan bodoh," Yuna tertawa hingga membuat si kembar melepaskan hisapan mereka sejenak. Manik mata keduanya membola dan bergulir menatap Yuna dan Elkan secara bergantian, lalu mengesap pucuk dada sang mama lagi.


Elkan lagi-lagi mengerutkan keningnya. "Kenapa ketawa?"


"Pengen saja," jawab Yuna singkat.


"Yuna..." Elkan menajamkan tatapannya.


"Iya, iya, habisnya pertanyaan Abang aneh sih. Masa' ditindih sama anaknya yang kecil begini sakit? Bapaknya yang lebih berat saja tiap malam begini terus." seloroh Yuna sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


Mendengar itu, sontak Elkan tertawa terbahak-bahak. Dia baru ngeh kenapa Yuna malah tertawa sebelumnya. "Iya juga ya," Elkan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


Setelah Elga dan Edgar kenyang dan melepaskan hisapan mereka, Yuna langsung duduk dan merapikan pakaiannya. "Abang turun duluan saja, Yuna mau mandiin mereka dulu!"


"Malas ah, Abang maunya turun bareng kalian saja. Sekarang Yuna siapin dulu airnya, biar Abang yang lepasin pakaian mereka!"


Elkan mengambil kedua buah hatinya itu dan membaringkannya di atas kasur lalu membuka pakaian mereka satu persatu.


Setelah Yuna menyiapkan air mandi, Elkan membuka jasnya dan menyingsingkan lengan kemejanya lalu menggendong si kembar dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Seperempat jam kemudian, Elkan kembali menggendong keduanya dan membaringkan mereka di atas kasur. Elkan memakaikan minyak telon dan pakaian mereka secara bergiliran.


"Edgar ganteng banget sih, pasti mau ngikutin jejak Papa ya?" seloroh Elkan yang membuat Yuna mencibir saat itu juga.


"Kepedean banget sih jadi orang," ejek Yuna dengan senyuman miringnya.


"Kepedean dari mananya? Fakta begini kok," Elkan melirik Yuna dengan tatapan sinis.


"Edgar tuh ganteng seperti kakek Aditama, iya kan Nak? Kalau Elga cantik seperti Mama, hehehe..." balas Yuna sambil tertawa kecil.


"Iya deh iya, terserah Mama saja kalau begitu! Mama Yuna cantik sedangkan Papa Elkan jelek, puas."


Elkan menggembungkan pipi sambil berjalan mengambil jasnya. Setelah mengenakannya, Elkan menggendong kedua buah hatinya itu dan membawanya turun. Elkan tak menatap Yuna lagi setelah itu.


Sesampainya di bawah, Elkan meminta Sari membentangkan kasur lalu Elkan menaruh si kembar di sana. Kemudian Elkan melangkah menuju ruang kerja dan duduk di atas sofa sembari menyilangkan kakinya.


Elkan sengaja merajuk karena tidak senang mendengar ucapan Yuna tadi. Dia sangat kesal karena sang istri tidak mau mengakui ketampanannya.


Yuna yang baru saja turun nampak bingung memutar manik matanya ke segala arah tapi tak melihat Elkan di mana-mana.


"Sari, Kak Elkan mana?" tanya Yuna pada Sari yang tengah bermain bersama si kembar.


"Kak Elkan tadi masuk ke ruang kerjanya Kak," jawab Sari.


Yuna menautkan alisnya. Tumben sekali, padahal biasanya Elkan langsung duduk di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2