
Pukul tujuh pagi mobil yang dikendarai Elkan sudah tiba di halaman rumah. Amit dan Sari menyambut kedatangan mereka karena keduanya kebetulan sedang berada di luar.
"Pagi Kak Elkan," sapa keduanya saat melihat Elkan turun dari mobil, kemudian menyalami Elkan dan mencium punggung tangannya secara bergantian.
"Pagi Amit, Sari, kalian tidak sekolah?" sahut Elkan sambil mengerutkan keningnya.
"Sari sekolah Kak, Kak Amit libur." jawab Sari yang sudah memakai seragam sekolah. Berbeda dengan Amit yang hanya mengenakan pakaian biasa.
Amit baru saja selesai menghadapi ujian akhir sekolah. Tinggal menunggu hasil apakah dia lulus atau tidak.
Saat Yuna turun dari mobil, keduanya langsung menghampirinya dan menyalami serta mencium punggung tangannya seperti yang mereka lakukan kepada Elkan tadi.
"Pagi Kak Yuna," sapa mereka.
"Pagi juga," sahut Yuna sambil tersenyum.
"Kalau begitu Sari pamit sekolah dulu ya Kak, dah Elga." ucap Sari sambil melambaikan tangannya. Dia masuk ke dalam mobil lainnya dan meninggalkan rumah bersama Pak Zul.
Setelah Sari pergi, Amit mengambil Elga dari tangan Yuna lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Diah juga turun dan membawa Edgar menyusul Amit.
Elkan menurunkan barang-barang si kembar dan menaruhnya di atas stroller, lalu mendorongnya ke dalam rumah bersama Yuna.
"Sayang, bikinin Abang kopi ya. Abang ke kamar dulu ganti baju," pinta Elkan setelah menaruh stroller si kembar di ruang keluarga.
Yuna menganggukkan kepalanya dan segera berjalan memasuki dapur. Dia langsung membuatkan kopi untuk Elkan seperti biasanya.
Secangkir kopi sudah terletak di atas meja makan, Yuna kemudian mengisi piring Elkan dengan nasi goreng yang dibuat Lili pagi ini. Masih panas sehingga Yuna tidak perlu repot membuatkan sarapan yang baru.
Tidak lama, Elkan turun dengan gagahnya. Sebuah kemeja putih melekat di tubuh atletisnya dan dibalut dengan rompi berwarna abu-abu di bagian luar, senada dengan celana yang dia kenakan pagi ini.
Elkan langsung duduk di kursinya dan menyantap nasi goreng yang sudah Yuna siapkan untuknya. Yuna pun menemaninya dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Amit, hari ini kamu ikut Kakak ya." ajak Elkan sambil menoleh ke arah sofa yang diduduki Amit.
"Aku Kak...?" Amit mengerutkan keningnya.
"Iya, siapa lagi? Kamu bersiaplah, pakai pakaian yang rapi!" imbuh Elkan.
Amit mengangguk lemah. Dia tidak mengerti kenapa Elkan mengajaknya tapi mau bagaimana lagi, terpaksa dia menurut dan memberikan Elga kepada Diah lalu berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Usai menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya, Elkan menyesap kopi buatan Yuna hingga tak bersisa.
"Hari ini mungkin Abang pulang telat, Abang harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Yuna jangan marah ya!" ucap Elkan sambil meraih tangan Yuna dan menggenggamnya.
"Abang aneh-aneh aja ih, untuk apa Yuna marah?" Yuna menautkan alisnya dengan bibir mengerucut.
"Marah sih gak, tapi lebih tepatnya cemburu. Yuna kan begitu orangnya," seloroh Elkan sambil tertawa kecil.
"Kalau cemburu pun pada tempatnya kali Bang, jangan nyari gara-gara deh!" Air muka Yuna nampak semakin cemberut.
Tidak berselang lama, Amit keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang keluarga. "Amit sudah siap Kak," serunya.
Elkan memutar pandangannya ke arah Amit lalu menganggukkan kepalanya. "Sayang, Abang pergi dulu ya." Elkan bangkit dari duduknya dan mengecup kening Yuna. Yuna ikut berdiri dan mengantarkan Elkan ke depan. Tapi sebelum pergi, Elkan mengecup pipi kedua anaknya terlebih dahulu. "Papa kerja dulu ya sayang, kalian baik-baik di rumah. Jangan nakal sama Mama!"
Setelah mengatakan itu, Elkan kembali mengecup kening Yuna. Dia ingin sekali mengesap bibir istrinya itu tapi masih ada Amit di sana, terpaksa Elkan mengurungkan niatnya.
"Abang hati-hati ya. Apapun yang terjadi tolong jaga emosi Abang, jangan sampai salah tindakan!" ucap Yuna menasehati suaminya agar tidak gegabah dalam bertindak.
"Iya, Abang tau itu." Elkan mengacak rambut Yuna dan berjalan menuju pintu utama, Amit pun menyusulnya dari belakang.
Setelah Elkan berlalu meninggalkan rumah, Yuna menyuruh Diah sarapan terlebih dahulu. Kemudian Yuna meminta bantuan Lili untuk membawa si kembar ke kamar mereka. Sudah saatnya si gembul Elga dan Edgar mandi dan menyusu.
Seperti biasa, Elga mandi lebih dulu dari sang kakak. Saat Lili memakaikan pakaian si cantik itu, Yuna segera memandikan Edgar. Kemudian menyusui mereka berdua bergantian.
__ADS_1
Tak terasa sudah satu jam waktu berlalu, Elkan sudah tiba di perusahaan dan langsung menuju lantai lima. Di sanalah perusahaan memproduksi aneka kosmetik yang menjadi andalan produk mereka.
"Selamat datang Tuan," sapa seorang petugas yang bertanggung jawab di ruangan itu.
Elkan hanya mengangguk dan segera memasuki ruangan. Dia berusaha terlihat santai untuk memecahkan teka teki ini.
Sesampainya di dalam, seorang kepala produksi langsung membungkukkan tubuhnya dan diikuti pekerja yang lain.
"Dimana letak kesalahannya?" tanya Elkan sambil melipat tangannya di area dada.
"Bagian keamanan masih menyelidiki kejanggalan ini, kami sendiri juga bingung. Bahan baku yang kita gunakan tidak ada yang salah, kami sudah melakukan uji coba beberapa kali. Hasilnya tetap sama, semuanya aman." terang wanita itu.
"Apakah ada orang lain yang memasuki ruangan ini?" tanya Elkan mencari tau.
"Selama jam operasional berlangsung, tidak ada orang lain yang masuk selain kami. Tapi tiga malam yang lalu sepertinya ada yang menyelinap masuk ke ruangan ini, paginya saya mendapati ruangan yang sudah tidak terkunci. Anehnya, tidak ada kerusakan sama sekali di bagian pintu. Bisa saja pelakunya orang dalam atau seseorang yang memang sudah profesional dalam hal ini." jelas wanita itu.
"Bagaimana dengan rekaman CCTV? Apa ada petunjuk?" tanya Elkan lagi.
"Itulah yang menjadi permasalahannya, CCTV malam itu tiba-tiba saja eror. Tidak ada satupun petunjuk yang ditemukan." jawab wanita itu.
"Hancurkan semua barang yang sudah terlanjur di produksi. Jangan sampai ada satupun yang keluar dari perusahaan ini!" perintah Elkan.
"Sudah Tuan, kami sudah menghancurkan semuanya. Untung saja kita belum mendistribusikannya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja kerugian kita mencapai angka ratusan juta." jelasnya.
"Tidak masalah, uang bisa dicari tapi kepercayaan konsumen susah didapatkan. Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian, kalian harus lembur untuk mencapai target bulan ini!" titah Elkan.
"Baik Tuan, kami mengerti. Kami juga bertanggung jawab atas kesalahan ini."
Setelah mengatakan itu, Elkan meninggalkan ruangan dan mengajak Amit ke ruangannya. Mereka berdua memasuki lift dan naik menuju lantai lima belas.
Saat keluar dari lift, Andin dan beberapa karyawan lain menyambutnya sambil membungkukkan punggung. Kemudian mereka berdua berjalan memasuki ruangan.
__ADS_1
Bersambung...