Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 162.


__ADS_3

Pagi hari Elkan dan Yuna turun dari kamar sembari menggendong si kembar di tangan masing-masing, Elga bersama Yuna dan Edgar bersama Elkan. Air muka keduanya nampak berbinar penuh cahaya, mungkin semalam sudah terjadi pertempuran sengit diantara keduanya, tapi sayang author lupa ngintip.


"Pagi Kak Elkan. Bagaimana penampilan Amit, tampan tidak?" sapa Amit sambil berkacak pinggang lalu memutar tubuhnya, bermaksud memperlihatkan setelan jas yang dibelikan Elkan beberapa hari lalu.


"Hmm..." Elkan mematut Amit dari depan sampai belakang. "Lumayan, tapi kurang berisi sedikit."


"Apanya yang kurang berisi, Kak?" Amit mengerutkan kening sambil mematut penampilannya sendiri.


"Badan mu lah, apa lagi?" Elkan tersenyum kecut seakan menyindir. "Sebelas dua belas saja sama Beno," imbuh Elkan mencibir.


"Kenapa namaku dibawa-bawa?" Beno menimpali saat kakinya baru saja menginjak ruang makan, keningnya mengkerut menilik wajah Elkan dan Amit secara bergantian.


"Datang dia," gumam Elkan, lalu menekuk kakinya di kursi.


"Tidak ada apa-apa Kak Beno, aku tadi cuma nanya. Menurut Kakak bagaimana penampilan ku?" sambung Amit sambil memamerkan setelan jas yang melekat di tubuh tinggi jangkung nya itu.


Beno menyipitkan mata sembari mematut Amit dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Keren, dimana kau mendapatkan setelan jas itu?"


Amit tersenyum sumringah. "Dibelikan Kak Elkan, bos aku baik kan?" sahut Amit memuji Elkan.


Elkan tersenyum sumringah menampakkan barisan giginya yang sangat rapi, tentu saja dia sangat bangga mendapat pujian seperti itu dari Amit.


Berbeda dengan Beno yang malah mendengus kesal saat mendengarnya. Antara marah dan cemburu, begitulah kira-kira yang dirasakan Beno saat ini. "Lebay, cuma jas doang sudah dipuji sampai segitunya."


"Hahahaha..."


Elkan tertawa terbahak-bahak hingga membuat Edgar terperanjat dan mendongak menatap wajah sang papa.


"Hehe... Maaf sayang, Edgar kaget ya?" Elkan mengusap kepala Edgar dan mengecupnya.


"Ya iya lah kaget, ketawa papanya kayak setan." ledek Beno.


"Bang, Beno, sudah ya! Sekarang lebih baik sarapan dulu!" Yuna menimpali seperti tengah membujuk anak kecil. Jika dibiarkan, agaknya aksi sindir menyindir diantara kedua pria itu tidak akan berhenti hingga siang nanti.

__ADS_1


Kemudian Yuna mengambilkan makanan untuk Elkan, begitu pun dengan Reni. Pagi ini Diah dan Lili membuat mie goreng spesial lengkap dengan telur dadar dan kerupuk udang, ada roti bakar toping keju dan coklat juga di atas meja.


Melihat sang papa yang tengah makan dengan lahap, air liur Edgar nampak mengalir di sudut bibirnya. Edgar menjangkau piring Elkan seakan ingin mencicipi apa yang papanya makan. Elkan langsung tertawa dan mengusap kepala putranya itu.


"Hahahaha... Belum boleh sayang, sabar ya!" seloroh Elkan yang merasa lucu melihat tingkah putranya itu.


Yuna yang melihat itu ikut tertawa dibuatnya. "Edgar mau mamam mie juga ya? Tunggu dua bulan lagi ya, Nak!"


"Lucu banget sih kamu," timpal Reni yang merasa gemas melihat kelakuan keponakannya itu.


Usai sarapan bersama, semua orang meninggalkan meja makan. Yuna menaruh Elga di atas kasur santai yang sudah dibentangkan oleh Reni, Elkan pun ikut menaruh Edgar di sana.


"Papa kerja dulu ya Nak, kalian berdua jangan nakal sama Mama!" ucap Elkan, lalu mengecup pipi gembul Edgar dan Elga secara bergantian.


Edgar tersenyum dengan lucunya, sementara Elga nampak tengah membelai pipi sang papa dengan tangan mungilnya seakan tidak ingin melepas Elkan pergi bekerja.


Elkan kemudian menangkap tangan mungil putrinya itu dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Papa janji hari ini akan pulang cepat, Elga jangan rewel ya!"


Setelah mengatakan itu, Elkan bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Yuna. Elkan memeluknya dan mengecup keningnya dengan penuh kehangatan. "Abang berangkat dulu ya!"


Di luar sana, Beno juga tengah berpamitan dengan Reni. Dia juga melakukan hal yang sama kepada istrinya itu.


Setelah keduanya berpamitan, Elkan dan Beno masuk ke dalam mobil yang sudah lebih dulu dinaiki Amit. Amit duduk di bangku belakang sedangkan Elkan dan Beno duduk di bangku depan. Seperti biasa, Beno lah yang mengendarai mobil mewah itu.


Yuna dan Reni melambaikan tangan mereka saat mobil itu melaju meninggalkan gerbang lalu kembali ke dalam dan bermain bersama si kembar yang kini sudah semakin aktif dan lincah.


Kini Yuna sudah tidak bisa meninggalkan keduanya, lengah sedikit saja mereka berdua sudah menghilang dan ngesot entah kemana.


Seperti kali ini, Edgar sudah tiba di bawah kolong meja dan Elga sudah tiba di dekat lemari. Yuna dan Reni sampai berlarian mengejar mereka.


"Hahahaha..."


Diah dan Lili tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah kedua nyonya muda mereka yang terlihat sangat lucu.

__ADS_1


Setelah Yuna mengambil Edgar dan Reni mengambil Elga, keduanya menajamkan tatapan mereka ke arah Diah dan Lili yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Kalian ini gimana sih? Kenapa si kembar dibiarkan begitu saja?" cerca Yuna meninggikan suaranya.


"Sengaja Nyonya, yang penting masih dibawah pantauan kami." sahut Diah yang masih saja tertawa sepuas hatinya.


"Sengaja, sengaja, kalau kepala mereka kepentok bagaimana?" timpal Reni.


"Tidak apa-apa Nyonya, namanya juga dalam masa pertumbuhan. Masa' digendong terus sih? Kapan berkembangnya?" sahut Lili.


Setelah mendengar itu, Yuna dan Reni akhirnya terdiam. Benar juga yang dikatakan Lili barusan, kapan mereka berdua akan berkembang kalau dibatasi pergerakannya. Yang penting tetap di bawah pengawasan mereka semua.


Setengah jam berlalu, mobil yang dikendarai Beno tiba di parkiran Bramasta Corp. Setelah memarkirkan mobil itu, mereka bertiga turun dan melangkah memasuki lobby.


Sebelum menuju lantai lima belas, mereka mampir dulu di lantai lima untuk memeriksa bagian produksi. Seorang petugas yang berjaga di depan pintu langsung menyambut kedatangan mereka sambil membungkukkan punggung.


Kemudian Elkan dan Beno masuk ke dalam ruangan, tidak dengan Amit yang memilih menunggu di luar sana.


"Pagi Tuan Elkan, pagi Tuan Beno," sapa kepala produksi saat menangkap kedatangan keduanya.


"Pagi juga, bagaimana perkembangannya?" tanya Elkan yang tidak ingin berbasa-basi.


"Lancar Tuan, semua aman. Target kami hari ini semuanya sudah harus selesai dikemas. Sore nanti semua barang sudah siap didistribusikan." jawab wanita itu.


"Bagus, apakah sampelnya sudah ada?" sambung Beno.


"Sudah Tuan, kami sudah menyiapkannya."


Wanita itu menoleh ke arah seorang karyawan dan mengangkat sebelah tangannya. Karyawan itu mengangguk mengerti dan berjalan ke dalam sebuah ruangan. Tidak lama, dia keluar membawa sebuah dus kecil di tangannya.


"Ini Tuan, ada beberapa sampel produk terbaru kita di dalamnya!" Karyawan itu menyodorkan dus yang dia pegang ke tangan Elkan, Beno segera mengambilnya.


Setelah berbicara cukup lama, Elkan dan Beno meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju lift. Amit pun menyusul keduanya dari belakang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2