
"Elkan..."
Seketika langkah Elkan dan Yuna terhenti ketika mendengar suara seorang wanita yang cukup familiar di telinga keduanya. Saat berbalik, mata Elkan membulat mendapati seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri di hadapannya, sementara Yuna sendiri nampak ketakutan sambil memeluk lengan Elkan dengan erat.
Bukan tanpa alasan air muka Yuna berubah seperti itu. Dia takut wanita itu akan menghinanya lagi, apalagi posisi keduanya tengah berada di tempat umum. Banyak orang-orang yang tengah berlalu lalang di depan pintu aula itu. Yuna hanya ingin menjaga marwah suaminya di depan publik, dia tidak ingin hal itu menjadi tontonan apalagi banyak kamera yang berserakan di mana-mana.
"Bang, masuk saja yuk! Jangan dilayani!" bisik Yuna sambil menarik lengan Elkan.
Elkan menganggukkan kepalanya, dia berbalik dan melanjutkan langkah mereka.
"Tunggu Elkan, Mama ingin bicara!"
Tiba-tiba seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan, bukan senyuman kebahagiaan tapi merupakan sebuah ejekan seperti merendahkan. Elkan pun kembali berbalik dan diikuti oleh Yuna.
"Mama...? Hahahaha..." Elkan mengulangi kata itu sambil tertawa terbahak-bahak. "Sejak kapan kau bersedia mengakui dirimu sebagai mamaku? Apa aku pantas memanggilmu mama? Aku rasa tidak kan, Nyonya..."
"Ya, kamu benar. Aku memang tidak pantas dipanggil mama. Tapi tolong dengarkan aku sekali ini saja! Ada yang harus aku bicarakan denganmu, aku takut tidak ada waktu lagi untuk mengatakannya." Elena menghampiri mereka tapi Elkan malah mundur ke belakang.
"Aku rasa diantara kita sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan diantara kita sudah terputus saat kau meninggalkan aku dan papaku."
Setelah mengatakan itu, Elkan menarik tangan Yuna dan masuk ke dalam gedung aula. Air mukanya nampak gelap, Yuna yang melihat itu langsung mengusap lengan Elkan untuk menenangkan hati suaminya itu. Elkan memutar lehernya dan menatap Yuna dengan sendu. "Abang tidak apa-apa, yang penting ada Yuna di sisi Abang."
Yuna mengukir senyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Elkan. Tentu saja senyuman itu mampu menyejukkan hati Elkan. Baginya Yuna tidak hanya menjadi penyemangat di dalam hidupnya tapi juga pelipur lara dikala hatinya gundah gulana.
Setelah tiba di meja VIP, keduanya kembali bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Melihat Elga dan Edgar yang mencondongkan tubuh mereka ke arahnya, Elkan segera mengambil kedua buah hatinya itu dan mendudukkan keduanya di atas pangkuannya.
"Sayang Papa kangen ya?" Elkan mengecup pipi gembul keduanya secara bergiliran. Melihat tawa keduanya yang begitu lucu, hati Elkan terenyuh dibuatnya.
Dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keduanya, sebisa mungkin dia akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya agar kedua buah hatinya tidak merasakan apa yang dia rasakan. Kehilangan dua orang sekaligus disaat usia masih terlalu dini tidaklah mengenakkan. Banyak momen indah yang terlewatkan, banyak luka dan perih yang dilalui.
Yuna menatap lekat wajah suaminya itu, dia tau Elkan sedang berusaha mengalihkan kesedihan yang tengah menggenang di hatinya. Dia tau Elkan sangat terluka dan berupaya menyembunyikan itu dari semua orang.
"Apa acaranya sudah selesai?" tanya Yuna sembari memutar lehernya ke arah Beno dan yang lainnya.
"Sudah, ayo salaman dulu sama mereka!" ajak Beno. Dia bangkit dari duduknya dan membawa Reni ke koridor.
__ADS_1
"Diah, Lili, bawa si kembar ke kamar kalian dulu ya! Nanti kami menyusul," seru Elkan.
"Baik Tuan," Lalu keduanya mengambil si kembar dari pangkuan Elkan.
"Kak, Amit sama Sari juga pamit dulu ya!" Amit dan Sari ikut bangkit dari duduknya dan meninggalkan aula bersama dua pelayan cantik itu.
Setelah mereka berempat menjauh, Elkan dan Yuna ikut menyusul Beno ke koridor. Mereka menyalami semua tamu penting secara bergiliran dan meminta maaf atas kekurangan dalam perjamuan tersebut.
Di luar sana, seorang pria tampan muncul dan menarik tangan Elena yang masih berdiri di depan gedung aula. Hal itu membuat Elena tersentak kaget dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa yang Mama lakukan di sini? Sudah cukup Ma, jangan mengganggu kakakku lagi! Biarkan dia dan keluarganya hidup dengan tenang!" tegas pria yang tak lain adalah Edward, pria tampan yang baru saja menginjakkan kakinya di ibukota beberapa saat yang lalu.
"Edward, Mama hanya-"
"Ma, tolong berhentilah! Apa susahnya mengalah demi aku? Aku tidak butuh pengakuan dari siapa pun. Semua sudah berlalu, biarkan-"
Tiba-tiba ucapan Edward terhenti saat menangkap kedatangan Elkan yang baru saja keluar dari gedung aula. Mendadak tangan Edward bergetar di lengan Elena, dia sudah tak sanggup berbicara melihat sosok tampan yang semakin mendekat ke arahnya itu.
Dari lubuk hati yang terdalam, Edward ingin sekali mengungkapkan jati dirinya dan memeluk kakaknya itu. Tapi Edward tidak sanggup melakukannya, dia tidak memiliki kekuatan untuk itu. Seketika matanya terasa berat menahan linangan air mata yang ingin segera tumpah.
"Maaf Edward, Mama tidak bisa. Elkan harus tau siapa kamu sebenarnya. Terima atau tidak, kalian berdua tetap saja memiliki ikatan darah." Elena menepis kasar tangan Edward dan berlari menyusul Elkan.
"Ma..."
Edward nampak begitu frustasi dan mengacak rambutnya hingga berantakan, lalu menyusul Elena yang sudah tiba di hadapan Elkan.
"Elkan..."
Lagi-lagi langkah Elkan harus terhenti ketika melihat wanita itu. Apalagi kali ini Elena sangat berani menghadang langkahnya.
"Maaf, saya tidak punya waktu untuk melayani Anda." Elkan berusaha menghindar tapi Elena bersikeras menahannya.
"Kamu boleh membenciku, kamu boleh tidak mengakui ku sebagai mamamu. Tapi satu hal yang harus kamu tau, kamu masih memiliki-"
"Cukup Ma, ayo kita pulang!" potong Edward sambil menarik tangan Elena.
__ADS_1
"Tidak Edward, Mama tidak akan pulang sebelum mengatakan ini!" Elena menyentakkan tangan Edward dan beralih menggenggam tangan Elkan. "Elkan, Mama ingin bicara Nak. Sekali ini saja, Mama mohon!"
"Ma..." Edward masih berusaha menghentikan Elena.
"Diam Edward, biarkan Mama bicara dengan kakakmu!" bentak Elena. Hal itu membuat Elkan tersentak kaget. Manik matanya berguling liar dan beralih menatap Edward yang dari tadi tidak mau mengangkat kepalanya.
Lalu Elkan beralih menatap Yuna. "Sayang, Yuna duluan saja bersama Beno dan Reni. Sebentar lagi Abang menyusul,"
"Tapi Bang-"
"Abang tidak apa-apa sayang, Yuna percaya sama Abang kan?" bujuk Elkan.
Mau tidak mau Yuna terpaksa mengangguk dan berpindah ke samping Beno. Mereka bertiga meninggalkan Elkan yang masih berdiri di hadapan Elena.
"Ma, tidak ada gunanya mengungkit luka lama. Ayo kita pulang!" Edward masih belum menyerah meyakinkan sang mama. Dia kemudian menarik tangan Elena, namun kali ini Elkan lah yang menahannya.
"Tunggu!" tegas Elkan hingga membuat langkah keduanya terhenti.
Edward memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup menatap wajah Elkan. Sebelah tangannya nampak bergerak mengusap sudut matanya secara bergantian.
"Maaf sudah mengganggu ketenangan Anda," Edward menarik tangan Elena. Baru dua langkah berjalan tangan Elkan tiba-tiba mendarat di bahunya.
Edward menghentikan langkahnya, dia tidak tau harus berbuat apa. Dunia seakan runtuh saat pertama kali merasakan sentuhan tangan Elkan.
"Siapa kau?" tanya Elkan yang seakan merasakan sesuatu saat berdekatan dengan pria itu.
"Bukan siapa-siapa, Anda tidak perlu memikirkan itu." lirih Edward yang akhirnya menumpahkan seluruh air matanya.
"Dia adikmu," timpal Elena.
"Deg!"
Elkan tersentak kaget hingga tangannya terlepas dari bahu Edward. Jantungnya bergemuruh kencang secepat kilat menyambar. Edward yang tak sanggup menahan diri akhirnya berlalu meninggalkan mereka berdua.
Bersambung...
__ADS_1