
Saat pagi menjelang, Yuna terbangun dari tidurnya dan melihat jarum jam yang baru menunjuk angka 6. Yuna ingin sekali bertemu dengan si kembar, dia kemudian menggeser tangan Elkan yang melingkar di dadanya. Saat hendak beranjak dari ranjang, Elkan pun menahannya dengan segera.
"Mau kemana?" gumam Elkan dengan mata yang masih terpejam.
Yuna mengurungkan niatnya untuk turun dari tempat tidur, lalu menatap Elkan dengan intim. "Elkan, aku ingin bertemu anak-anakku. Jika aku tidak boleh ke sana, tolong bawa mereka padaku!" pinta Yuna dengan wajah memelas.
"Iya, aku akan membawanya ke sini. Tapi nanti ya, ini masih terlalu pagi, mereka pasti masih tidur." Elkan membuka matanya perlahan dan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.
"Benar? Kamu gak bohong kan?" lirih Yuna dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang, aku janji. Semalam aku sudah bicara dengan suster. Oh ya, apa ASI mu sudah keluar?" tanya Elkan sembari menatap dada Yuna yang lebih bulat dari biasanya.
Yuna menekuk wajahnya sembari memperhatikan kedua buah dadanya. "Aku gak tau Elkan,"
"Sini, biar aku lihat!" Elkan melepaskan lingkaran tangannya dan segera duduk berhadapan dengan Yuna. Tangannya mulai bergerak membuka satu persatu kancing piyama yang melekat di tubuh istrinya.
"Jangan Elkan! Apa yang kamu lakukan?" Yuna dengan cepat menutupi buah dadanya.
Elkan terdiam dan mengerutkan keningnya. "Kenapa ditutupi?"
Seketika wajah Yuna memerah bak kepiting goreng, rasanya malu sekali memperlihatkan bagian sensitif nya itu pada Elkan. "Aku malu,"
Lagi-lagi Elkan mengerutkan keningnya. "Malu?"
Yuna mengangguk lemah. Apa ingatannya sudah rusak? Pantaskah dia merasa malu di hadapan suaminya sendiri? Lupa kah dia bahwa semua yang ada di tubuhnya sudah diobrak-abrik oleh Elkan?
"Sayang, apa kamu demam?" tanya Elkan kebingungan, lalu meletakkan punggung tangannya di kening Yuna.
"Gak panas kok? Apa ingatanmu ada yang hilang?" imbuh Elkan.
Yuna menggeleng berkali-kali, dia tidak melupakan satupun dari kenangan masa lalunya. Semua itu masih tertata rapi di dalam memorinya.
Elkan hanya bisa tersenyum dan mengacak rambut Yuna saking gemasnya. "Sayang, aku ini suamimu. Jangankan dada ini, goa keramat itu aja udah aku jelajahi. Kenapa masih malu?"
"Hehe, maaf Elkan. Rasanya seperti baru pertama kali," Yuna menyeringai dan menyingkirkan tangannya dari kedua buah dadanya.
"Ada-ada aja, udah jadi emak-emak juga." seloroh Elkan, lalu mencubit pipi Yuna gemas.
__ADS_1
Elkan kembali membuka barisan kancing piyama Yuna. Baru beberapa baris saja, mata Elkan sudah membulat dengan sempurna.
Kenapa kali ini rasanya sangat berbeda ketika melihat benda kenyal yang menggantung di dada Yuna? Padahal saat Yuna koma, Elkan juga yang selalu membukanya dan mengganti pakaian Yuna. Tapi rasanya tidak sama seperti hari ini.
"Biar aku aja!" Yuna dengan cepat menyentuh dadanya dan memijatnya, lalu menekan ujung dadanya perlahan.
"Kok gak keluar?" lirih Yuna sembari mendongak menatap Elkan, seketika wajahnya berubah sendu. Padahal dia ingin sekali merasakan nikmat jadi seorang ibu, menyusui dan memberikan kasih sayang yang berlimpah.
"Elkan, kenapa diam aja? ASI nya gak keluar, apa aku tidak bisa menyusui anak-anakku?" Air mata Yuna jatuh begitu saja, hancur hatinya karena tak setetes pun keluar dari ujung dadanya.
"Sssttt... Jangan pesimis dulu! Pasti ada cara agar ASI nya cepat keluar." bujuk Elkan menenangkan Yuna.
"Cara apa Elkan? Ayo cepat, bantu aku!" rengek Yuna sedikit frustasi.
"Iya, iya, aku bantu. Tapi jangan marah ya, apalagi dipukul!" pinta Elkan.
"Gak akan, gimana caranya?" desak Yuna.
"Tutup matanya! Nanti bagaimanapun rasanya, kamu harus tahan ya!" ucap Elkan.
Setelah Yuna menutup mata, Elkan dengan cepat melahap dada istrinya. Sementara yang satu ada di mulut Elkan, yang satunya lagi diremas dengan tangan.
"Elkan, apa yang kamu lakukan?" gumam Yuna dengan suara tertahan, rasanya begitu nikmat hingga Yuna ingin mende*sah dibuatnya.
Sejenak, Elkan melepaskan hisapannya. "Nikmati aja sayang, biar ASI nya cepat keluar!"
"Tapi geli Elkan, kamu membuatku ingin-"
"Apaan sih? Ingat masih palang merah, gak boleh didatengin dulu!" potong Elkan sembari tersenyum kecil.
"Tapi Elkan-"
"Sssttt... Mau dibantuin atau gak?" tawar Elkan dengan tatapan aneh.
Yuna mengangguk kecil, bagaimanapun dia ingin sekali ASI nya cepat keluar dan segera menyusui putra putrinya layaknya seorang ibu pada umumnya.
"Ya udah, diam ya! Kalau mau mende*sah, keluarin aja! Ruangan ini kedap suara kok, jadi gak bakalan ada yang dengar."
__ADS_1
Kembali Elkan menghisap ujung dada Yuna dan meremas bagian lainnya. Sementara Yuna sendiri berusaha menahan nafas, ingin mende*sah rasanya sangat malu. Yuna pun menggigit bibir bawahnya sembari meremas rambut Elkan.
Lama Elkan bergelayut di dada Yuna hingga akhirnya ASI Yuna keluar sedikit demi sedikit. "Rasanya kok aneh ya?" gumam Elkan setelah menarik ujung dada istrinya.
"Elkan, pelan-pelan! Sakit tau," ketus Yuna sembari menepuk pipi suaminya.
"Hehe, maaf. Abisnya bikin gemes, lagi ya!" seloroh Elkan sembari mengedipkan sebelah matanya.
Yuna memijat benda kenyal itu perlahan. "Gak mau, udah cukup! Sepertinya udah keluar,"
"Pantesan rasanya aneh, hehe..." Elkan malah tertawa dengan sendirinya.
"Bodoh, ya iyalah aneh. Ini kan jatah si kembar, Bapaknya aja yang gak tau diri." gerutu Yuna sambil menautkan kancing piyama nya kembali.
"Loh, gak tau diri gimana? Bukannya berterima kasih malah diomelin, dasar emak-emak!" Elkan memutar tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi.
"Sial, apa pagi ini aku harus main sendiri?" Elkan mengusap wajahnya berkali-kali. "Malang sekali nasibmu Elkan," batin Elkan sembari menatap lekat area terlarangnya.
Segera Elkan membuka pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sayangnya tongkat keramat itu malah kian menegang hingga Elkan pun kesulitan menjinakkannya.
"Ayo jon, tidur! Kau ini gak punya otak ya, sudah jelas istriku baru saja melahirkan." geram Elkan dengan sebelah tangan yang masih bermain di titik sensitifnya.
Elkan memejamkan matanya sembari mengingat kembali setiap lekukan tubuh Yuna yang begitu aduhai. Sepuluh menit kemudian Elkan mengerang dengan dahsyatnya.
"Akhh...," Lumpur panas itu berjatuhan seiring tetesan air yang masih setia mengguyur tubuh atletis Elkan.
"Bisa gila aku kalau kelamaan seperti ini," gumam Elkan sembari memijat tongkat keramatnya, mengeluarkan sisa-sisa lendir yang masih ada di dalamnya.
Setelah membersihkan diri, Elkan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Segera dia mengenakan pakaian dan melanjutkan rutinitas paginya selama di rumah sakit.
Usai mengelap tubuh Yuna dan mengganti pakaiannya, Elkan pun membaringkan Yuna dengan posisi setengah duduk.
Tidak lama, seorang suster datang membawakan sarapan untuk Yuna. Sebelum meninggalkan ruangan, suster itu memeriksa keadaan Yuna yang kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Hal ini sebenarnya masih sangat membingungkan. Jarang sekali pasien yang baru saja sadar dari koma, tapi sudah sangat fit seperti yang dialami Yuna. Mungkin inilah keajaiban, sang buah hati mampu menguatkan dirinya.
Bersambung...
__ADS_1