Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 135.


__ADS_3

Elkan menurunkan Yuna tepat di samping meja makan, dia kemudian menarik kursi dan mendudukkan istrinya itu di sana. Lalu Elkan masuk ke dapur dan menyiapkan makanan untuk Yuna.


Yuna menumpukan sikunya pada permukaan meja, lalu menopang dagunya dengan telapak tangan. "Apa yang Abang lakukan di dapur?"


"Ya masak lah sayang, apa lagi yang bisa Abang lakukan di dapur seperti ini. Gak mungkin kan Abang mandi di sini?" seloroh Elkan sembari tersenyum kecil, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Elkan kemudian mengeluarkan bahan-bahan yang dia butuhkan dari dalam kulkas. Ada ayam, cabe dan beberapa macam bahan lainnya.


Yuna menautkan alisnya dengan bibir mengerucut. "Memangnya Abang bisa masak?"


"Gak bisa, yang penting kan usaha dulu." jawab Elkan enteng, lalu memotong ayam dan mencucinya.


"Loh, kalau gak bisa kenapa sok-sokan mau masak?" Yuna mendorong kursi ke belakang, kemudian melangkah menghampiri Elkan.


"Biar Yuna saja, nanti masakannya gak enak kalau Abang yang masak. Mubazir buang-buang makanan," Yuna ingin mengambil alih pisau yang ada di tangan Elkan, namun Elkan bersikeras untuk tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Belum dicoba udah bilang gak enak, Yuna gak yakin sama Abang?" Elkan mendengus kesal dengan air muka menggelap. Dia tidak menyangka Yuna tega meremehkan dirinya seperti ini.


Lalu Elkan memalingkan wajahnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Cukup sigap dan cekatan sehingga membuat Yuna mengerutkan kening. Elkan nampak lincah memotong sayuran bahkan bawang yang berukuran kecil sekali pun.


Setau Yuna Elkan tidak pernah memasak, masuk dapur saja bisa dihitung dengan jari. Tapi kenapa tangan suaminya itu seperti sudah sangat profesional? Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan besar di benak Yuna.


"Yuna duduk saja! Untuk apa jadi patung di sini? Makan tempat," ketus Elkan dengan senyuman sinis. Hal itu membuat Yuna geram lalu menghentakkan kakinya, dia kembali duduk di meja makan sambil terus mengamati pergerakan suaminya itu.


"Awas saja kalau gak enak, seminggu gak dikasih jatah." gerutu Yuna dengan suara sayup-sayup sampai, tapi masih terdengar jelas di telinga Elkan.


"Begitupun sebaliknya. Kalau enak, berarti seminggu full gak pakai istirahat. Seharinya tiga kali, jadi seminggu nya dua puluh satu kali gak boleh nolak!" timpal Elkan penuh penekanan.


"Huh, kita lihat saja nanti. Orang gak pernah masak mana mungkin masakannya enak?" jawab Yuna mencibir.


Elkan hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan istrinya itu, dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sesekali lengan Elkan terangkat saat menyapu keringat di dahinya, wajahnya nampak serius. Jarang-jarang Yuna melihat air muka Elkan seserius ini, ada aura lain yang dia temukan di diri suaminya itu.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Elkan akhirnya tersenyum sumringah. Makanan siap disajikan dan Elkan pun menatanya di atas meja. Ada ayam goreng balado, sayur sup dan kentang goreng krispi. Tidak mewah tapi setidaknya dia sudah berusaha untuk melayani sang istri.


Lalu Elkan mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, kemudian menambahkan lauk di atasnya. Kali ini dia benar-benar ingin melayani Yuna bahkan menyuapinya.


"Ak..." ucap Elkan menyuruh Yuna membuka mulut.


"Abang makan saja, Yuna bisa makan sendiri!" sahut Yuna ragu-ragu. Di pikirannya pasti masakan Elkan tidak enak, bisa saja asin atau apalah. Yuna benar-benar berat membuka mulutnya.


Lalu Elkan menyuap makanan tersebut ke mulutnya, rasanya pas dan tidak ada yang aneh. "Enak kok sayang, coba dulu sesuap!"


Elkan kembali mengarahkan sendok ke mulut Yuna, mau tidak mau Yuna terpaksa membuka mulutnya.


Mata Yuna melebar dengan sempurna, ternyata apa yang dia pikirkan tidak terbukti sama sekali. Masakan Elkan sangat enak dan juga pas di lidahnya.


"Bagaimana?" tanya Elkan sambil mengerutkan keningnya.


"Lumayan," jawab Yuna sambil mengunyah makanannya.


"Bicara yang jelas sayang, enak atau gak?" Elkan meminta jawaban pasti.


"Enak," jawab Yuna sambil tersenyum.


"Tuh kan, makanya jangan meremehkan Abang. Ingat ya, seminggu dua puluh satu kali. Gak boleh kurang," seloroh Elkan dengan tatapan nakalnya.


"Apaan sih Bang, Yuna kan gak pernah bilang seperti itu." keluh Yuna dengan bibir mengerucut.


"Gak boleh curang, tadi katanya kalau gak enak gak dikasih jatah seminggu. Abang terima, tapi kan kenyataannya enak. Harus ikut syarat dari Abang dong. Masa' udah berusaha begini gak dapat apa-apa?" Air muka Elkan tiba-tiba berubah gelap.


Melihat perubahan di wajah Elkan, Yuna pun tertawa terbahak-bahak. "Ya udah, sekarang suapi Yuna lagi!"


Seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan, tentu saja dia sangat bersemangat menyuapi Yuna sampai makanan di piringnya habis. Mereka berdua makan dengan sangat lahap.

__ADS_1


Usai makan, Elkan mengajak Yuna jalan-jalan di pekarangan villa. Yuna melingkarkan tangannya di lengan Elkan dan merebahkan kepalanya di sana. Hal itu membuat Elkan sangat bahagia, ternyata perhatian kecil seperti itu mampu membuat istrinya tersenyum setiap saat.


Elkan kemudian duduk di atas sebuah ayunan dan menarik Yuna hingga terjatuh di atas pangkuannya, lalu Elkan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna dan menggerakkan ayunan itu dengan pelan.


Hari ini Yuna benar-benar bahagia, dia merebahkan kepalanya di leher Elkan dan memeluknya dengan erat. "Makasih ya Bang,"


Elkan mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"


"Untuk semuanya," Yuna kemudian mengecup leher Elkan hingga suaminya itu tertawa menahan geli.


"Hahahaha... Jangan sekarang sayang, ini masih di luar!"


"Apaan sih Bang, kotor terus pikirannya." gerutu Yuna dengan bibir mengerucut.


"Kotor sama istri sendiri apa salahnya? Lagian siapa suruh begitu menggoda? Abang kan jadi kecanduan," seloroh Elkan hingga membuat pipi Yuna merona merah. Spontan Yuna menggigit leher Elkan hingga menyisakan tanda merah kehitaman di sana.


"Hehe... Udah mulai nakal ya sekarang," gumam Elkan dengan suara beratnya. Kelakuan Yuna barusan tiba-tiba membangunkan ular bontotnya yang tengah tertidur. Yuna pun bisa merasakan pergerakan di bokongnya.


Semburat merah semakin terpancar jelas di pipi Yuna. Dia tak menyangka hal seperti itu mampu memancing gairah suaminya, padahal hanya gerakan kecil saja.


"Sekarang ya," pinta Elkan dengan nafas tersengal.


"Tapi Bang-"


Elkan langsung melahap habis bibir ranum Yuna yang berwarna merah muda. Tangannya mulai bergerak menyentuh lekukan pinggang Yuna dan berakhir di dada istrinya yang bulat berisi.


Tentu saja hal itu membuat Yuna gelagapan, secara posisi mereka berdua masih berada di taman. Bagaimana kalau ada yang melihat kelakuan tak senonoh mereka tersebut.


"Cukup Bang, ke kamar aja yuk!" ajak Yuna yang mulai terbawa dengan permainan Elkan. Tentu saja Elkan langsung mengangguk dan segera menggendong Yuna, lalu memasuki villa dan menaiki anak tangga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2