
"Ayolah Pak, tolong lepaskan aku? Aku janji tidak akan menuntut apa-apa dari Bapak, tapi tolong biarkan aku pergi!" mohon Laura dengan suara parau dan wajah memelas. Dia berusaha mendorong dada Reynold, tapi Reynold malah semakin mempererat pelukannya hingga Laura kesulitan membebaskan diri.
"Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus tetap jadi istriku!" tegas Reynold penuh penekanan.
"Tapi aku tidak mau, tolong jangan paksa aku!" jawab Laura tak kalah tegasnya.
"Dasar keras kepala!" Reynold yang mulai kesal kemudian menggotong tubuh Laura dan membawanya ke kamar mandi, lalu mengisi bathtub dan melempar Laura ke dalamnya hingga tenggelam.
"Aaaaaa... Glek!"
Laura kesulitan sendiri saat mencoba bangkit dari dalam bathtub.
"Bajingan... Dasar tidak punya hati, penjahat kelamin. Aku tidak akan memaafkan mu,"
Setelah berhasil berdiri dari dalam bathtub, Laura menarik tangan Reynold dan memukulinya sekuat tenaga. Lantai yang licin membuat Reynold tiba-tiba terpeleset dan masuk ke dalam bathtub, tubuh Laura pun tersungkur di atasnya.
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Reynold, dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Laura dan memeluknya erat.
"Katanya gak mau jadi istri aku, kok sekarang malah nempel kayak perangko?" seloroh Reynold sembari mengulum senyumannya.
"Cih, siapa juga yang sudi nempel sama Bapak? Gak nyadar siapa yang narik aku tadi?" ketus Laura dengan tatapan membunuhnya. Ingin sekali dia mengeluarkan taringnya dan menghisap darah Reynold sampai habis.
Laura mencoba bangkit tapi Reynold tidak memberinya kesempatan untuk menjauh.
"Jangan keras kepala! Kita nikah ya, aku tidak akan mungkin melepaskan tanggung jawabku setelah mengambil kesucian mu. Aku ini masih punya hati dan perasaan," bujuk Reynold sembari tersenyum kecil.
"Sekali aku bilang tidak ya tidak, aku tidak mau." ketus Laura yang masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Cukup Laura, jangan keras kepala gini! Tolong pikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi! Kalau kamu hamil bagaimana?" ucap Reynold berandai-andai.
"Tinggal di gugurin, apa susahnya?" jawab Laura asal.
"Deg!"
Reynold terperanjat dan langsung melepaskan pelukannya, dadanya mendadak ngilu mendengar itu.
__ADS_1
"Jika itu pilihanmu, maka jangan salahkan aku jika bertindak tegas padamu. Sebulan ini kamu tidak boleh kemana-mana, kamu akan terkurung di sini sampai aku tau bahwa kamu hamil anakku atau tidak!"
Setelah mengatakan itu, Reynold keluar dari bathtub dan berjalan meninggalkan kamar mandi dengan tubuh basah kuyup.
Hatinya benar-benar terluka mendengar jawaban Laura tadi. Apa manusia itu terlahir dari batu sehingga begitu tega bicara seperti itu. Apa Reynold salah menyukainya? Ternyata hatinya tak selembut yang dipikirkan Reynold sebelumnya.
Setelah mengenakan pakaian, Reynold meninggalkan kamar dan duduk di meja makan. Kebetulan Mbok Ati sudah datang dan tengah berjibaku menyiapkan sarapan pagi.
"Kopi nya Pak," ucap Mbok Ati sambil menaruh secangkir kopi di atas meja.
"Makasih Mbok," jawab Reynold dengan tatapan kosong. Raganya memang ada di sana tapi hatinya tengah berada di tempat lain.
"Pak Reynold kenapa? Bapak sakit?" tanya Mbok Ati saat menyadari ada yang aneh dengan air muka Reynold.
"Tidak apa-apa Mbok, capek banyak kerjaan." jawab Reynold asal, kemudian mengangkat cangkirnya dan beralih duduk di sofa.
Reynold menyandarkan punggungnya pada kepala sofa. Berkali-kali dia mengusap wajahnya, berkali-kali pula jantungnya berdetak kencang. Bahkan hembusan nafasnya terdengar berat. Dia tak habis pikir kenapa mulut Laura bisa setajam itu.
Usai menghabiskan kopinya, Reynold kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan setelan jas berwarna coklat muda. Dia sama sekali tak mau melihat Laura yang kini tengah duduk di sisi ranjang.
"Ingat, sebulan ini kamu akan menjadi tahanan ku. Jangan pernah berpikir untuk kabur karena di depan pintu sana ada pengawal yang siap memukuli mu jika berani berbuat nekat!"
Laura mengepalkan tangannya erat, lalu mengejar Reynold sampai ruang tamu. Di sana, Laura mengambil vas bunga dan melemparkannya ke punggung Reynold.
"Bug!"
Langkah Reynold tiba-tiba terhenti, dia berbalik dan menatap Laura dengan tajam seperti seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.
"Laura..." geram Reynold sambil menggertakkan giginya kuat.
"Aku ke sini untuk bekerja bukan untuk menjadi tahanan mu. Jika kau tidak bisa menepati janjimu sebagai bos, maka biarkan aku kembali ke luar kota. Aku tidak mau di sini," lirih Laura, cairan bening di sudut matanya mengalir begitu saja.
"Keputusan ada di tanganmu. Jika kamu mau menjadi istriku, aku akan membiarkanmu bekerja di perusahaan. Tapi jika kamu masih menolak, maka jangan harap kamu bisa pergi sebelum aku yang mengizinkannya." tekan Reynold.
Laura terdiam beberapa saat sembari menelaah kata-kata Reynold barusan, kemudian dia berkata. "Baiklah, aku akan menikah denganmu tapi ada syarat yang harus kau ikuti."
__ADS_1
"Katakan saja! Apa syaratnya?" sahut Reynold, lalu menekuk kakinya di sofa.
"Pertama. Aku akan menjadi istrimu selama satu bulan penuh, tidak boleh lebih."
"Kedua. Jika aku tidak hamil, kamu harus menceraikan ku setelah satu bulan."
"Ketiga. Saat di perusahaan, kita tidak boleh saling berbicara kecuali masalah pekerjaan."
"Keempat. Kita tidak boleh tidur di ranjang yang sama, apalagi bersentuhan." jelas Laura mengutarakan empat syarat yang harus Reynold turuti.
"Masih ada syarat lagi?" Reynold mengerutkan keningnya.
"Cukup, itu saja." Laura segera berbalik dan masuk ke dalam kamar.
"Dasar bodoh," Reynold tersenyum penuh kemenangan saat menatap punggung Laura yang semakin menjauh dari pandangannya.
Tidak apa-apa mengalah sejenak demi menjadikan Laura istrinya. Setelah itu Reynold akan membuat gadis itu bertekuk lutut di hadapannya hingga memohon untuk tidak menceraikan dirinya.
"Kamu pikir aku ini bodoh hah? Sebelum satu bulan, aku akan menjadikanmu milikku sampai kamu sendiri yang akan takut kehilangan diriku." gumam Reynold sambil mengulum senyumannya.
Reynold urung meninggalkan apartemen dan kembali ke dalam kamar menyusul Laura. Di sana, Reynold mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kantor KUA setempat. Kebetulan dia memiliki beberapa orang kenalan di sana. Tidak sulit baginya mengurus pernikahan yang akan dilangsungkan hari ini juga.
Setelah mengirimkan data pribadi dirinya dan Laura, Reynold menghubungi seorang kenalan lalu memintanya mengirimkan MUA dan beberapa pakaian yang akan mereka kenalan siang nanti.
Reynold kemudian tersenyum sumringah sambil menatap Laura dengan intim. Ingin sekali dia melahap gadis itu saat ini juga, tapi Reynold harus bersabar sampai mereka sah menjadi suami istri agar Laura tidak berpikiran buruk terhadapnya.
"Bersiaplah, kita akan menikah siang ini di kantor KUA. Sebentar lagi seorang MUA akan datang untuk merias mu, tapi sebelum itu kita sarapan dulu ya!" ucap Reynold, kemudian menghampiri Laura dan menggenggam tangannya.
"Ingat, syarat keempat tidak boleh bersentuhan!" ketus Laura sambil menyentakkan tangannya hingga genggaman Reynold terlepas.
"Oke, terserah kamu saja. Ayo ikut aku, temani calon suamimu ini sarapan dulu!" ajak Reynold.
"Calon suami?" Laura mengejek sambil menjulurkan lidahnya.
"Mimpi saja, meski nanti kita menikah aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai suamiku. Ini hanya sandiwara agar aku bisa bekerja lagi," gumam Laura hingga membuat Reynold tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti," jawab Reynold enteng, lalu berjalan meninggalkan kamar dan duduk di meja makan. Laura menyusulnya, mereka berdua duduk saling berhadapan. Namun tatapan mata gadis itu nampak sekali menyimpan kebencian yang begitu dalam terhadap Reynold.
Bersambung...