Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 71.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, suster Reni kembali diam tanpa bicara sepatah kata pun. Lagian tidak ada yang perlu dia bicarakan dengan pria asing seperti Beno.


Sesekali Beno mencuri pandang ke arah suster Reni yang hanya mematung menatap jalanan. Gadis itu terlihat cantik setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual.


"Apa kedua remaja tadi adikmu?" tanya Beno membuka percakapan.


"Iya Pak," sahut suster Reni singkat.


"Dimana orang tua kalian? Aku tidak melihatnya tadi," tanya Beno, dia penasaran siapa orang tua yang beruntung memiliki putra putri seperti mereka.


Suster Reni bergeming mendengar pertanyaan itu, matanya mendadak berkaca. Orang tua siapa yang Beno tanyakan padanya? Dia tak merasa memiliki orang tua, dia lebih suka dianggap yatim piatu oleh semua orang.


"Kenapa diam saja? Apa aku salah bertanya?" imbuh Beno sembari melirik ke arah Reni.


"Tidak ada orang tua," jawab suster Reni dengan suara beratnya.


Beno menautkan alisnya dan segera menginjak pedal rem, lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku turut berduka cita," ucap Beno dengan tubuh berputar beberapa derajat.


"Tidak apa, aku sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti ini. Ayo, jalan saja!"


Beno menyipitkan matanya, ada luka mendalam yang dia tangkap di manik mata suster Reni. Namun Beno tak berani bertanya, dia takut pertanyaannya membuat gadis itu semakin sedih. Kembali Beno menginjak pedal gas dan melanjutkan perjalanannya.


Setengah jam sudah keduanya duduk menempuh perjalanan, kini mobil mewah itu sudah terparkir di depan sebuah istana megah.


"Ayo, turun!" ajak Beno setelah mematikan mesin mobilnya.


Suster Reni mengangguk pelan dan segera turun dari mobil, manik matanya berputar-putar dengan liar. Apa dia sedang bermimpi? Rumah segitu besar, apa penghuninya juga ramai? Dia sama sekali tak menyangka ternyata majikannya adalah seorang sultan.


"Kenapa bengong? Ayo, masuk!" ajak Beno, kemudian menyambar tas yang ada di tangan suster Reni.


"Jangan Pak, biar saya saja!" suster Reni mencoba menahan tasnya.


"Ok, kalau begitu ikut aku!" Beno melepaskan tas suster Reni dan berjalan memasuki rumah. Suster Reni pun mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di dalam, keduanya di sambut hangat oleh Elkan dan Yuna yang tengah bersantai di ruang keluarga.


"Selamat datang di rumah kami, semoga kamu betah ya bekerja di sini." ucap Yuna dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya.


"Makasih Bu," Suster Reni membungkukkan punggungnya.

__ADS_1


"Diah, tolong antar suster Reni ke kamarnya ya. Biar suster Reni istirahat dulu, pasti dia capek." seru Elkan yang tengah duduk di sofa bersama Yuna.


"Iya Tuan," sahut Diah dari dapur sana.


"Maaf Pak, Bu, panggil Reni aja biar gampang!" timpal suster Reni.


"Ide yang bagus," sahut Elkan dan Yuna bersamaan, keduanya saling melempar senyum.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Capek," Beno pun meninggalkan semua orang dan berjalan menuju kamarnya.


"Ayo Reni, ikut aku!" ajak Diah yang sudah tiba di ruang keluarga.


Reni mengangguk pelan. "Pak, Bu, aku izin ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih."


Elkan dan Yuna mengangguk kecil. "Silahkan, jangan sungkan ya! Anggap aja rumah sendiri!"


Kembali Reni mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Diah.


Masih di lantai yang sama, Diah membuka dan mendorong pintu sebuah kamar. "Silahkan masuk, ini kamar kamu."


"Makasih Mbak," Reni melangkah masuk dan tergugu melihat kamar yang jauh dari ekspetasinya. "Apa ini gak salah Mbak? Kamarnya terlalu mewah, aku hanya seorang pengasuh." imbuh Reni sembari menautkan alisnya.


"Hehe, gak ada yang salah. Inilah kamar yang disediakan untuk kamu. Kamarku juga sama, Tuan Elkan memberi kita tempat yang layak. Semoga kamu betah ya bekerja di sini. Satu lagi, jangan panggil Mbak! Panggil Diah aja, umur kita gak jauh beda kok." jelas Diah panjang lebar.


Diah melempar senyum ke arah Reni, lalu berbalik dan meninggalkan gadis itu sendirian. Reni menutup pintu dan segera memindahkan pakaiannya ke dalam lemari.


Setelah pakaiannya tersusun rapi, Reni masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lagi-lagi dia tergugu melihat seisi kamar mandi yang begitu mewah. Biasanya dia harus menimba air dulu sebelum mandi, sekarang tinggal memutar shower dan air pun meluncur deras mengguyur tubuhnya.


Di luar sana, Elkan masih setia memeluk Yuna dalam duduknya. Sementara kedua bayi mereka tengah terlelap di dalam box bayi.


"Elkan," panggil Yuna.


"Jangan panggil Elkan lagi dong sayang! Apa kek, yang penting lebih enak didenger." sahut Elkan sembari menenggelamkan wajahnya di tengkuk Yuna.


"Maunya dipanggil apa?" tawar Yuna sembari tertawa kecil, geli rasanya saat bulu halus di wajah Elkan menyentuh permukaan kulitnya.


"Kenapa ketawa?" tanya Elkan dengan suara beratnya.


"Geli," Kembali Yuna tertawa sembari menjauhkan dirinya dari pelukan Elkan.


"Kenapa menjauh? Kamu udah gak sayang lagi sama aku?" lirih Elkan.

__ADS_1


"Apaan sih? Jangan kayak anak kecil gitu, malu sama anak!" seloroh Yuna yang terus saja tertawa tanpa henti.


"Hehe, aku kangen sayang. Kapan sih bersihnya?" bisik Elkan yang kembali memeluk Yuna, raut wajahnya mendadak berubah seakan tengah menahan sesuatu.


"Hust, apaan sih? Malu, kalau ada yang dengar gimana?" ketus Yuna sembari mencubit lengan Elkan yang melingkar di dadanya.


"Hehe, ke kamar yuk!" ajak Elkan yang sudah tak sanggup menahan keinginannya.


"Mau ngapain?" Yuna menautkan alisnya.


"Apa aja, yang penting bantu aku ngeluarin nya. Kepalaku pusing sayang," pinta Elkan dengan suara yang nyaris menghilang.


Segera Elkan melepaskan pelukannya dan bangkit dari duduknya. "Diah, kemarilah! Tolong jagain si kembar bentar! Aku mau mandiin Nyonya mu dulu, udah sore." seru Elkan.


"Iya Tuan, aku datang." sahut Diah, sedetik kemudian dia sudah berdiri di hadapan Elkan dan Yuna.


Elkan menggendong Yuna menaiki anak tangga. Setibanya di kamar, dia mendudukkan Yuna di sisi ranjang lalu membungkukkan punggungnya.


Tanpa permisi, Elkan segera mengesap bibir Yuna. Melu*mat habis bibir istrinya hingga deru nafas keduanya terdengar kian memburu. Tak berhenti di sana, Elkan mulai memainkan lidahnya dan menarikan nya di dalam rongga mulut Yuna. Saling membelit lidah dan menghisapnya dengan rakus.


Puas menghisap racun yang sudah membuatnya kecanduan itu, Elkan menyibakkan rambut Yuna dan mengecup tengkuk jenjang istrinya. Menjilatinya dan menggigitnya hingga menyisakan peninggalan sejarah berwarna merah pekat.


Bulu kuduk Yuna meremang dibuatnya, tubuhnya mendadak panas. Apalagi saat Elkan menganga kan buah dadanya dan menghisapnya seperti sang buah hati yang tengah kehausan.


"Cukup sayang!" Segera Yuna mendorong wajah Elkan, dia tak sanggup menerima serangan itu. Sementara keadaannya sendiri tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


Yuna menarik pinggang Elkan, membuka kancing celana beserta resletingnya hingga menampakkan tonjolan besar panjang di balik segitiga yang dikenakan suaminya itu.


Segera Yuna mengeluarkannya hingga menghilang di dalam tenggorokannya. Tanpa jijik, Yuna memainkannya hingga Elkan pun mengerang merasakan nikmat yang sungguh luar biasa.


Sesekali, Yuna melepaskannya untuk mencuri nafas. Sesak memang, namun memuaskan suami adalah kewajibannya. Yuna tidak mau Elkan sampai keluar mencari pelampiasan. Dengan segala daya dan upaya, dia ingin Elkan puas dengan servis yang dia berikan meski tidak harus dimasukkan ke tempat yang sebenarnya.


Beberapa menit berlalu, Elkan mencabut tongkat sihirnya dan menggesekkan nya di belahan dada Yuna. Hingga pada akhirnya lumpur hangat itu menyembur membasahi belahan dada Yuna.


"Makasih sayang, i love you." Segera Elkan melu*mat bibir ranum Yuna, lalu mencium keningnya dengan sayang.


"I love you to," sahut Yuna sembari tersenyum bahagia.


"Mandi yuk!" ajak Elkan sembari memasang resleting celananya kembali.


Yuna mengangguk karena tubuhnya benar-benar terasa gerah. Elkan pun menggendongnya dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Karena hari ini adalah hari pertama Yuna benar-benar mandi, Elkan pun membantu melumuri lulur dan menggosok tubuh istrinya. Lumayan berdaki tapi tak mengapa, namanya juga baru sembuh. Seiring berjalannya waktu semua akan kembali seperti sebelumnya.


Bersambung...


__ADS_2