Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.AK BAB 98.


__ADS_3

Tiba di kamar si kembar, Elkan mendapati Yuna yang tengah tertidur dengan posisi duduk selonjoran di lantai, kepalanya bertumpu di sofa.


Segera Elkan mendekat dan berjongkok, lalu menyelipkan rambut Yuna yang terurai ke belakang telinganya.


Tatapan mata Elkan berubah gelap saat memperhatikan mata Yuna yang sembab, bahkan masih menyisakan jejak cairan di sudut matanya. Elkan pun menyapunya dengan telapak tangan.


Elkan mengerutkan keningnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yuna? Sejak di bawah tadi Elkan sudah bisa membaca air muka istrinya yang menyimpan kesedihan tapi Elkan sendiri tidak tau penyebabnya.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" lirih Elkan dengan tatapan sendu. Dia mengusap pucuk kepala Yuna dan mengecupnya dengan sayang.


Elkan menyelipkan sebelah tangannya di tengkuk Yuna dan sebelahnya lagi di belakang lutut, lalu memindahkan tubuh semok istrinya itu ke kamar mereka.


Setelah membaringkannya di atas kasur, Elkan menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Yuna agar tidak kedinginan dihantam suhu AC. Tatapan Elkan begitu intim, dia penasaran dengan apa yang mengganggu pikiran istrinya itu.


Elkan bangkit dan berjalan ke kamar si kembar untuk memastikan keduanya sudah tidur. Setelah itu Elkan menutup pintu kamar dan kembali ke kamarnya melalui pintu penghubung kamar mereka, Elkan sengaja membiarkan pintu itu terbuka agar suara tangisan kedua buah hatinya bisa terdengar sampai ke kamarnya.


Sebelum berbaring Elkan membersihkan diri terlebih dahulu, tak lupa pula dia menggosok gigi agar nafasnya kembali segar. Setelah itu Elkan membuka pakaiannya dan menyisakan celana pendek saja.


Elkan berbaring di samping Yuna dan menatapnya lekat-lekat, ada banyak pertanyaan yang mengganjal di hatinya tapi dia sendiri tidak tau apa yang mengganggu di benak Yuna.


"Hiks..."


Kembali air mata Yuna menetes meski matanya masih tertutup rapat. Sebuah mimpi datang sebagai bunga tidur hingga membuat raganya tergamak. Elkan yang melihat itu segera mengikis jarak diantara mereka dan membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya.


"Huhuhuuu..."


Terdengar tangisan Yuna yang menyentuh relung hati. Elkan sendiri tak kuasa mendengarnya dan segera membangunkan istrinya itu. Elkan menepuk pipi Yuna pelan, lalu menyapu air matanya.


"Sayang, kamu kenapa?" gumam Elkan.


Yuna membuka matanya perlahan dan tergugu melihat wajah suaminya yang begitu dekat. Segera Yuna menyapu wajah dan menelan tangisannya.


"Mimpi apa?" tanya Elkan dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Gak ada, cuma mimpi aneh dan gak tau apa." jawab Yuna dengan suara serak, lalu menjauh dari Elkan dan berlalu memasuki kamar mandi.


Yuna berdiri di depan cermin sambil mematut wajahnya. Dia menyalakan kran dan mengguyur keseluruhan mukanya kemudian menggosok gigi. Setelah itu Yuna keluar dan mengganti pakaian dengan baju tidur, lalu berbaring untuk melanjutkan mimpinya.


Langsung saja Yuna memejamkan mata tanpa mempedulikan Elkan yang masih menatapnya.


Elkan menghela nafas berat, dia teringat kembali ucapan Yuna sore tadi. Apa mungkin Yuna tengah memikirkan itu? Ya Elkan mulai sadar, tadi Yuna sempat mengatakan itu padanya. Sejak itulah air muka istrinya berubah total.


Seulas senyum terurai di bibir Elkan, dia mendekat dan memeluk istrinya dengan erat. Jangankan pakaian dan lain sebagainya, mall itu saja bisa Elkan belikan untuknya.


Elkan sendiri pernah berkata akan meresmikan hubungan mereka di hadapan publik, tapi sebelum sempat mewujudkan itu Yuna sudah keburu mengalami kecelakaan hingga niat itu pun tertunda begitu lama.


Beberapa hari lagi tepat satu tahun pernikahan mereka, Elkan sudah memiliki rencana untuk membuat pesta sekaligus syukuran untuk si kembar. Apalagi keadaan Yuna sudah membaik, tidak ada salahnya mewujudkan niatnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar lain, Reni nampak linglung saat pertama kali menginjakkan kaki di kamar Beno. Kamar yang mulai sekarang akan menjadi kamarnya juga. Reni pikir kamar yang dia tempati sebelumnya sudah sangat mewah, tapi kamar Beno jauh lebih mewah dari itu. Tidak kalah dengan kamar Elkan yang pernah dia masuki sekali lalu.


"Kenapa bengong sayang? Mulai hari ini kamar ini akan menjadi kamar kamu juga, kamar kita." jelas Beno sembari membuka kemejanya. Tubuhnya sangat gerah, dia ingin berendam sejenak biar lebih segar.


"Gak ada tapi tapi. Mas mandi dulu ya, atau mau mandi bareng?" goda Beno sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Gak ah, gantian aja. Aku mau beresin barang-barang dulu. Oh ya, apa barang tadi udah sampai?" Reni memutar leher menatap sekelilingnya tapi tak menemukan satupun barang-barang pembelian Beno tadi.


"Apanya yang mau diberesin? Semua sudah tersusun rapi di dalam lemari," Beno berbalik dan melangkah memasuki kamar mandi.


Reni membulatkan matanya dengan sempurna. Apa Diah atau Lili yang melakukannya? Reni jadi tidak enak hati dibuatnya. Kenapa sekarang posisinya jadi aneh begini? Dia padahal datang ke rumah itu untuk bekerja, tapi sekarang dia malah jadi istri dari saudara majikannya sendiri. Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya.


Setengah jam berlalu Beno keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Reni yang melihat itu segera memalingkan wajahnya, dia tau Beno pasti akan menggodanya lagi. Namun sebelum itu terjadi, Reni sudah lebih dulu berlari memasuki kamar mandi dengan pakaian ganti yang ada di tangannya.


Beno mengukir senyum di bibirnya, baru juga ingin menggoda Reni tapi dia sudah keburu kabur secepat kilat.


Segera Beno memakai pakaian tidur dan mengeringkan rambutnya sebelum berbaring di atas kasur.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Reni keluar dari kamar mandi, dia sengaja tidak keramas karena memikirkan hari yang sudah malam. Takut terkena flu mengingat tanggung jawabnya yang harus menjaga si kembar mulai besok.


Reni menghampiri Beno yang tengah berbaring di atas kasur. "Mas, temani aku ngambil barang yang tertinggal di mobil yuk!"


"Sekarang?" Beno mengerutkan keningnya.


"Ya iya lah sekarang, masa' tahun depan." Reni mengerucutkan bibirnya.


"Oke, tapi cium dulu dong!" goda Beno sambil memajukan bibirnya beberapa senti.


"Mas, kamu ini kenapa sih? Apa-apa minta cium, apa-apa minta cium. Kalau gak mau nemenin bilang aja, aku bisa sendiri kok." Reni berbalik dan berjalan menuju pintu.


"Hahahaha... Manis banget sih," Beno berhamburan turun dari kasur dan menyambar kunci yang terletak di atas nakas, lalu berlari menyusul Reni. Lagian bagaimana cara istrinya itu membuka pintu mobil, ada-ada saja.


Sesampainya di garasi, bibir Reni kembali mengerucut saat tak bisa membuka pintu mobil. Bodohnya dia tak memikirkan sampai ke sana. Saat berbalik tiba-tiba dia terlonjak mendapati tubuh tinggi Beno yang sudah berdiri di hadapannya.


"Aaaaa..."


"Mas, kamu mau bikin aku jantungan?" geram Reni dengan tatapan mematikan, lalu memegangi dadanya yang seakan ingin tumpah.


"Hahahaha..."


"Jangan marah-marah dong sayang! Sini, biar Mas kasih nafas buatan!"


Beno mengayunkan kakinya hingga Reni melangkah mundur. Sayangnya di belakang ada mobil hingga Reni tak bisa lagi menghindar. Beno menguncinya dengan tangan yang bertumpu pada kerangka mobil.


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Reni. Perlahan kecupan itu berubah jadi lu*matan hingga membuat Reni membatu.


"Udah Mas, malu diliat orang." gumam Reni sambil mendorong wajah Beno.


Beno menyeringai dan mengacak rambut Reni dengan sayang, kemudian membuka pintu mobil dan menurunkan dua paper bag yang berisikan kosmetik yang tadi mereka beli. Menyusul sebuah tas kecil yang tadi dibawa Reni dari rumahnya.


Setelah menurunkan semuanya, Beno menentengnya menuju kamar bersama Reni yang berjalan di sebelahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2