Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 125.


__ADS_3

Siang hari Laura nampak begitu cantik dengan riasan makeup flawless yang melekat di wajahnya, shimmer berwarna silver dan coklat tua senada dengan kebaya yang dikenakannya. Terlihat sangat anggun hingga membuat Reynold tak berkedip memandanginya.


Sebelum berangkat ke KUA, Reynold terlebih dahulu menelepon Aditama dan meminta restu darinya. Reynold juga sudah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, hal itulah yang membuatnya terburu-buru menikahi gadis idamannya itu.


Tentu saja Aditama sangat senang mendengarnya, memang begitulah seharusnya sikap seorang pria sejati. Berani berbuat harus berani pula bertanggung jawab, jangan lari dari kesalahan.


Pukul dua siang, Reynold dan Laura sudah tiba di depan gedung. Reynold turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Laura lalu mengulurkan tangannya. Sayangnya Laura tak merespon, dia malah berpegangan pada sudut pintu dan mengabaikan Reynold begitu saja.


Reynold yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Lagi-lagi Reynold harus meyakinkan dirinya bahwa hal itu hanyalah untuk sementara saja. Setelah mereka sah, Reynold tidak akan melepaskannya walau sedetik pun.


Sampai di ruangan, para saksi sudah duduk di bangku mereka. Begitu juga dengan penghulu yang akan menikahkan keduanya. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam kurun waktu satu jam kurang para saksi sudah berkata sah hingga membuat Reynold tersenyum bahagia.


Kini kekhawatirannya sudah hilang, dia tidak perlu takut lagi akan ancaman Laura yang selalu saja berkata ingin pergi darinya. Bukannya pergi, Reynold justru akan membuat Laura semakin menempel pada dirinya hingga merengek untuk tidak berpisah setelah satu bulan pernikahan.


Setelah semua rangkaian acara sakral itu diselesaikan dengan lancar, Reynold membawa Laura pulang ke apartemen. Sekarang dia sudah mengantongi surat nikah, jadi tidak perlu canggung lagi berduaan dengan istrinya itu.


Laura masuk ke dalam kamar dengan langkah besar. Tidak ada kebahagiaan tersirat di wajahnya, yang ada justru rasa kesal yang begitu berapi-api. Segera Laura mengambil pakaian ganti dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara di ambang pintu sana, Reynold hanya bisa tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Tanpa berpikir, Reynold langsung menutup pintu dan menguncinya lalu menyembunyikan anak kunci itu sejauh mungkin.


Reynold membuka pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek saja, dia kemudian berbaring di atas kasur dan mulai memejamkan matanya. Capek, ngantuk, gerah, semua membaur menjadi satu.


Tidak lama, Laura keluar dari kamar mandi. Matanya menyala tajam melihat Reynold yang sudah terbaring di atas ranjang. Seketika bagian tubuhnya yang terekspos membuat Laura bergeming, dia tak menyangka bahwa suaminya itu memiliki tubuh atletis yang sangat indah. Dia yakin suaminya itu pasti suka sekali berolahraga.


Belum lagi wajahnya yang tampan mempesona. Alis yang tebal dengan manik mata berwarna coklat tua dan juga hidungnya yang mancung. Ditambah rahang yang terpahat dengan sempurna, sangat proporsional dengan tubuhnya yang tinggi.


Hampir saja Laura mengukir senyum di bibirnya, namun urung dia lakukan mengingat pernikahan mereka hanyalah sebuah sandiwara belaka. Apakah Laura terlihat begitu menyedihkan sehingga harus dinikahi hanya karena suaminya itu kasihan padanya? Sungguh buruk dan malang betul nasibnya, begitulah yang terlintas di benaknya saat ini.


Laura menaruh baju kebaya yang dia kenakan tadi ke dalam paper bag, lalu mengemasi pakaian Reynold sekalian. Setelah itu dia berjalan menuju pintu, dia tidak ingin berada di kamar yang sama dengan Reynold. Bisa-bisa dia diperkosa lagi seperti dini hari tadi.


Saat menekan kenop pintu, gigi Laura menggertak kuat menyadari kecurangan Reynold yang sudah menguncinya di kamar itu. Tentu saja Laura sangat marah dan mengepalkan tangannya sambil berbalik menatap Reynold.


"Bajingan... Dasar brengsek," umpat Laura, lalu mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke wajah Reynold.


Reynold yang tadinya sudah terlelap tiba-tiba tersentak saat benda itu menimpa kepalanya. Bukannya marah dia malah tersenyum sambil menyipitkan matanya.


"Kalau mau bangunin suami dengan cara yang lembut bisa gak sih? Kok malah dilempar sama bantal?" tanya Reynold sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Jangan mimpi! Orang sepertimu gak pantas dikasih hati, yang ada malah ngelunjak." gerutu Laura dengan tatapan mematikan.


"Kok ngomongnya gitu sih? Aku ini suamimu loh," sahut Reynold dengan senyuman yang sangat manis.


"Suami apaan? Suami kejam yang gak punya hati atau suami penjahat yang suka menindas wanita? Sudah berapa banyak wanita yang kau permainkan selama ini? Belum puas juga sehingga menjadikanku korban mu selanjutnya?" bentak Laura penuh kekesalan, lama-lama dia bisa stroke gara-gara menghadapi pria gila itu.


Reynold mengerutkan keningnya dan turun dari ranjang. Saat dia melangkah, Laura langsung mundur hingga punggungnya membentur dinding.


"Jangan mendekat! Sudah aku bilang gak boleh bersentuhan," ketus Laura yang mulai ketakutan melihat air muka mesum suami bajingan nya itu.


"Kan kamu yang bilang bukan aku," jawab Reynold enteng.


Laura menautkan alisnya dan menilik wajah Reynold dengan tatapan sangar seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.


"Hey, kau belum amnesia kan? Bukankah tadi-"


"Tadi aku hanya bertanya ada lagi syarat yang ingin kamu ajukan, aku gak bilang setuju loh." potong Reynold hingga membuat Laura mengepalkan tangannya.


"Dasar kurang ajar, kamu membohongiku?" umpat Laura yang sudah di ambang kemarahannya. Jika membunuh itu dibolehkan, dia akan membunuh suami sialannya itu detik ini juga.


"Makanya jangan bodoh-bodoh amat jadi orang!" Reynold tersenyum licik dan mengunci tubuh Laura diantara kedua tangannya.


"Kenapa gak boleh disentuh? Bukankah aku ini suamimu, aku berhak atas dirimu." bisik Reynold sambil menggerakkan hidungnya di telinga Laura. Sontak saja hal itu membuat bulu kuduk Laura meremang.


"Jangan, aku mohon! Pernikahan ini hanyalah sandiwara belaka, tolong jangan berharap apa-apa dariku! Jika kamu menginginkan itu, pulanglah ke rumahmu! Lepaskan pada-"


"Kenapa harus pulang? Bukankah istriku ada di depan mataku sendiri?" potong Reynold.


Kini Reynold menenggelamkan wajahnya di leher Laura dan mengecupnya dengan lembut. Hal itu membuat Laura semakin kelimpungan dengan kaki bergetar hebat.


Dia tidak tau lagi bagaimana cara menghindar dari serangan Reynold, sementara tubuhnya saja sudah tak bisa digerakkan.


"Pak, pulanglah ke rumahmu! Aku-"


"Mmm..."


Ucapan Laura langsung terhenti saat bibir Reynold sudah mendarat di bibirnya, sangat lembut dan hangat sehingga membuat Laura terpaku saat Reynold melu*matnya.

__ADS_1


Tidak lama, tubuh Laura tiba-tiba melayang saat Reynold mengangkat bokongnya dan membawanya menuju ranjang. Laura benar-benar panik saat Reynold menjatuhkannya di atas kasur lalu menindihnya.


"Pak, sadarlah! Hubungan ini tidak seperti yang Bapak pikirkan, aku-"


"Kenapa? Apa aku tidak pantas menjadi suamimu? Atau apakah kamu mencintai orang lain?" cerca Reynold dengan pertanyaan yang tentu saja memojokkan Laura.


"Bukan, bukan itu masalahnya. Tapi aku-"


"Aku kenapa? Kamu masih mengharapkan mantanmu itu?" tanya Reynold menuntut penjelasan.


"Tidak, bukan itu. Aku sudah lama melupakannya, lagian dia sudah menikah. Untuk apa lagi aku mengharapkannya?" jawab Laura.


"Lalu kenapa?" Reynold mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mau merusak rumah tangga orang, tolong mengertilah!" Laura mencoba menjelaskan.


"Merusak rumah tangga siapa?" Lagi-lagi Reynold mengerutkan keningnya.


"Tentu saja rumah tangga Bapak, siapa lagi?" jawab Laura.


"Hah?" Reynold membuka matanya dengan sempurna, mulutnya menganga lebar mendengar itu.


"Hahahaha..."


Mendadak tawa Reynold pecah saat tersadar akan kekonyolan istrinya itu.


"Aku pikir istriku ini hanya bodoh, tapi ternyata tukang gosip. Ingat, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Aku bisa menuntut mu atas pencemaran nama baik," seloroh Reynold yang kesulitan menahan tawanya.


"Siapa yang bergosip?" Laura menautkan alisnya. "Aku berbicara berdasarkan fakta, aku gak mau jadi istri keempat. Tolong lepaskan aku, biarkan hubungan ini berjalan sebagaimana mestinya. Setelah satu bulan, kita harus bercerai. Tolong, jangan sentuh aku lagi!"


"Siapa bilang aku akan menceraikan mu? Dalam kamus ku tidak ada yang namanya perceraian, kamu akan tetap menjadi istriku sampai kapanpun!"


"Tapi Pak, aku-"


"Tidak ada tapi tapi, lebih baik layani suamimu ini dengan baik!"


Reynold kembali melu*mat bibir Laura, kali ini sedikit memanas hingga membuat Laura kesulitan mencuri nafas. Reynold menyelami rongga mulut Laura hingga lidah keduanya saling bertemu. Reynold pun menghisapnya kuat tanpa jijik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2