Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 78.


__ADS_3

Usai makan, Beno memberikan beberapa lembar uang ratusan ke tangan Amit. Dia tau kedua remaja itu tidak memiliki uang sama sekali, setidaknya bisa membantu mereka untuk beberapa hari ke depan.


Awalnya Amit menolak, tapi Beno memaksa dan mengancam akan melaporkan mereka pada Reni. Amit dan Sari tentu saja tidak mau kakaknya sedih gara-gara ini. Dia pun menerima uang yang diberikan Beno.


Mereka bertiga berpisah saat keluar dari warung, Beno kembali ke mobilnya dan kedua remaja itu kembali ke rumah mereka.


Pukul 6 sore, Beno tiba di rumah dalam keadaan sedikit kusut. Hari ini terlalu melelahkan menurutnya, lelah hati, pikiran dan juga tenaga tentunya.


Segera Beno masuk ke kamar dan langsung membersihkan diri di kamar mandi. Usai mandi Beno mengenakan kaos oblong putih dan jogger berwarna hitam. Pukul 7 malam, dia sudah duduk di ruang keluarga bersama Elkan.


"Ini kontrak kerja sama dari Golden Star tadi, kau tinggal menandatanganinya saja." Beno memberikan sebuah map ke tangan Elkan.


Elkan mengambil map itu dari tangan Beno dan membacanya dengan teliti. "Apa kau sudah menyelidiki tentang perusahaan ini sebelumnya?"


"Sudah, perusahaan baru tapi cukup berjaya. Hanya saja-" Beno menjeda ucapannya.


"Hanya saja apa?" Elkan mengerutkan keningnya.


"Owner nya aneh," imbuh Beno.


"Aneh gimana?" Elkan semakin bingung dengan pernyataan Beno.


"Kau liat sendiri tadi kan? Udah tua tapi gayanya nyentrik banget. Di rumahnya gak punya kaca kali ya," gerutu Beno.


"Hahahaha... Mungkin itu fashion jaman now," Elkan tertawa terkekeh melihat ekspresi Beno. Tapi Elkan sendiri juga merasa aneh melihat dandanan wanita itu, ala-ala tahun 80an.


"Aku ngerasa ada yang gak beres dengan wanita itu. Dia tau kalau aku ini anak angkatnya Kakek, tau dari mana dia? Dan yang bikin aku kesal, dia dengan sombongnya ngatain aku kacung." geram Beno sembari mengeratkan rahangnya.


"Serius?" Elkan membulatkan matanya dengan sempurna.


"Iya, aku jadi ragu untuk melanjutkan kerja sama ini. Gimana kalau ternyata dia itu punya niat terselubung dibalik kerja sama ini, aku takut ini akan mempengaruhi perusahaan." jelas Beno.


"Kau jangan mengada-ada!" sela Elkan.


"Bukan mengada-ada, tapi kita perlu waspada. Dia mengenal Kakek, bisa jadi ada hubungan yang kita tidak tau diantara mereka. Apa kau rela perusahaan yang sudah kita bangun susah payah nantinya hancur begitu saja? Persaingan bisnis itu kejam loh." Kembali Beno mengingatkan Elkan.


"Lalu gimana? Bukankah kita udah sepakat bekerja sama dengan perusahaan mereka?" cerca Elkan dengan tatapan horor.


"Selagi belum ditandatangani masih aman, sebaiknya kita selidiki dulu biar jelas!" saran Beno.

__ADS_1


"Ya udah, itu tugasmu. Ambil ini, pending dulu tandatangannya!" Elkan urung menandatangani kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam map.


Setelah makan malam, Yuna dan Elkan kembali ke kamar mereka. Kali ini wajah Yuna terlihat murung tak seperti biasanya.


Usai membersihkan diri, Yuna mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sebelum naik ke kasur, Yuna tak lupa membaluri tubuhnya dengan lotion untuk meremajakan kulitnya kembali.


Kini Yuna sudah berbaring di atas kasur dan mulai memejamkan matanya. Elkan yang baru saja memindahkan si kembar ke kamar mereka merasa aneh dengan sikap Yuna yang mendadak dingin terhadap dirinya.


"Sayang, kok cepat banget tidurnya?" tanya Elkan sembari mengusap punggung Yuna yang tengah membelakangi dirinya.


"Aku ngantuk Elkan, jangan diganggu!" gumam Yuna dengan nada ketus.


Elkan mengerutkan keningnya, tidak biasanya Yuna bersikap dingin seperti ini terhadap dirinya. Apa mode sebelum mereka baikan kembali lagi? Tapi kenapa?


"Sayang, kok ngomongnya gitu sih? Kamu marah ya sama aku? Kalau iya, kasih tau aku apa sebabnya!" bujuk Elkan sembari membelai rambut panjang Yuna.


"Untuk apa marah? Aku kan bukan siapa-siapa," gumam Yuna.


"Apaan sih sayang? Kok ngomongnya makin ngawur gini sih? Udah jelas kamu itu istriku, bukan siapa-siapa gimana maksudnya?" Elkan mulai kelimpungan melihat perangai istrinya. Tidak ada angin, tidak ada hujan kenapa mendadak dingin?


"Makanya jangan diganggu! Pergi sana!" Yuna menepis tangan Elkan dan menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya.


Di taman belakang, Reni tengah termenung dengan punggung yang tersandar pada tiang. Wajahnya nampak sendu dengan tatapan mata terlihat kosong. Entah dimana tubuhnya dan entah dimana pikirannya saat ini.


"Boleh aku duduk?" Suara Beno yang besar sontak saja membuat Reni terperanjat dan tersadar dari lamunannya.


"Bapak lagi Bapak lagi. Kenapa sih dimana-mana ketemu Bapak mulu?" ketus Reni dengan tatapan horor.


"Apaan sih? Ini rumahku, wajah dong kalau aku gentayangan di rumah ini." seloroh Beno sembari tersenyum lebar.


"Gentayangan?" Reni mengulangi kata itu. "Jadi Bapak ini hantu?" imbuh Reni dengan polosnya.


"Hahaha... Anggap aja begitu," Beno malah terkekeh mendengar kepolosan gadis itu.


"Ih, lebih baik aku tidur daripada harus bicara sama hantu." Reni memilih berdiri dan melangkah meninggalkan Beno.


"Hati-hati, di dapur sana banyak penunggunya. Kemarin aja Diah sama Lili digangguin." sorak Beno yang membuat langkah Reni terhenti seketika.


Reni segera berbalik dan berlari menghampiri Beno. "Bapak jangan nakut-nakutin dong, ini udah malam loh Pak." lirih Reni yang sudah berdiri di hadapan Beno.

__ADS_1


"Siapa yang nakut-nakutin? Memang kenyataannya begitu kok, dulunya di sini tuh ada-"


"Aaaaaaaaa...," Tanpa sadar Reni pun memeluk lengan Beno dengan erat sembari memejamkan matanya.


"Udah Pak, gak perlu diceritain!" imbuh Reni dengan tangan yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


Beno bergeming merasakan kelembutan tangan Reni yang melingkar di lengannya. Dadanya mendadak ngilu saat beberapa helai rambut Reni menempel di wajahnya. Rasanya begitu nyaman hingga Beno ingin berlama-lama dengan posisi itu.


Reni mendongak hingga tatapan keduanya saling bertemu. "Pak, anterin aku ke kamar dong! Aku takut," lirih Reni dengan wajah memelas.


Beno ingin sekali tertawa terbahak-bahak, namun dia tahan agar Reni tidak menyadari kalau dia tengah mengerjai wanita cantik itu.


"Aku masih ingin di sini," tolak Beno dengan alasan yang cukup masuk akal.


"Pak, tolong!" rengek Reni hingga membuat hati Beno luluh lantah tak menentu.


"Ya udah, ayo!" Beno akhirnya mengangguk dan mulai mengayunkan kakinya. Reni mengikuti Beno tanpa melepaskan tangannya yang masih melingkar erat di lengan Beno.


Betapa senangnya hati Beno melihat wanita keras kepala itu bergelayut di lengannya. Kenapa? Beno sendiri tidak tau jawabannya, yang Beno tau dia suka sekali mengerjai gadis itu.


Beno meraih kenop pintu dan membukakannya untuk Reni. Reni kemudian melepaskan tangannya dari lengan Beno dan melangkah memasuki kamar, lalu Reni pun berbalik.


"Makasih ya, Pak." ucap Reni dengan suara lembutnya.


"Ya, tidurlah! Tapi hati-hati karena di kamar ini juga ada penunggunya." jawab Beno asal.


"Aaaaaaaa...," Reni berhamburan dan melompati tubuh Beno, tangannya melingkar erat di tengkuk Beno hingga membuat pria itu terperangah dan kesulitan mengatur nafas. Apalagi saat merasakan sepasang gunung kenyal Reni menempel di dadanya, membuat dada Beno berdenyut ngilu.


"Jangan pergi Pak, temani aku dulu! Aku takut," rengek Reni tepat di telinga Beno, membuat bulu kuduk Beno meremang seketika.


"Hei, mana mungkin aku di sini menemanimu?" Beno mengerutkan keningnya.


"Tapi aku takut, temani dulu sampai aku tidur! Setelah itu Bapak boleh keluar," pinta Reni memohon.


"Kamu yakin?" tanya Beno memastikan.


Reni mengangguk lemah di pundak Beno, mau tidak mau Beno terpaksa menurutinya. Lagian salah Beno sendiri karena sudah menakut-nakuti gadis itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2