Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 57.


__ADS_3

Memiliki banyak uang dan kekuasaan yang tinggi tentunya membuat Elkan tidak kesulitan membiayai perawatan Yuna, berapa pun biaya yang harus dia keluarkan tidak jadi masalah baginya.


Bahkan kini ruangan Yuna sudah disulap menjadi sebuah kamar layaknya hotel berbintang. Kasur yang lebih besar dan empuk, semua fasilitas lengkap di dalamnya.


Elkan tak perlu lagi tidur di kursi, dia bisa tidur di samping Yuna dan memeluknya dengan leluasa. Berharap Yuna bisa merasakan kehadiran dirinya dan berjuang agar tersadar dari komanya.


"Sayang, kamu bisa dengar aku kan? Ayo bangun! Aku sangat merindukanmu, aku rindu suaramu, aku juga rindu senyuman mu yang manis. Ayo, kembalilah! Kita akan menjadi orang tua, ada buah hati kita di rahimmu." Elkan mengusap perut Yuna dengan lembut, mengecupnya dengan cinta.


"Mama, kami lapar. Mama bangun dong! Kami pengen makan mangga muda, kami pengen makan rujak dan sate. Kalau Mama tidur terus, kapan kami besar?" Elkan sengaja menirukan suara anak-anak, seolah baby kembar mereka yang bicara.


"Tuh kan, baby kita lapar sayang. Yuna gak kasihan, ayo bangun!" Lagi-lagi Elkan tak menyerah mengajak Yuna berbicara, siapa tau dengan ini Yuna bisa meresponnya.


Setengah jam berlalu, Elkan menjauh dan berjalan menuju sofa. Tangisannya kembali pecah karena Yuna masih saja tak merespon dirinya. Bagaimana nasib janin yang ada di rahimnya jika Yuna masih saja diam dalam tidur panjangnya?


"Kenapa bukan aku saja yang jatuh saat itu? Kenapa harus Yuna? Dia tidak bersalah, tolong bangunkan dia Tuhan! Kali ini saja kabulkan permintaanku, aku tidak akan minta apa-apa lagi setelah ini."


Hati kecil Elkan menjerit pilu, rasanya tak sanggup lagi melihat Yuna yang hanya diam tak bergerak. Hidup tapi seperti mati, bernafas tapi tak bernyawa. Sampai kapan Yuna harus menanggung penderitaan ini?


Elkan mengusap wajahnya berulang kali. Benarkah ini hukuman untuk dirinya? Ingin pasrah tapi tak rela.


Elkan kembali menghampiri Yuna, berdiri di pinggir ranjang lalu menatap Yuna penuh kemarahan.


"Kamu yakin gak mau bangun? Kamu yakin akan tidur selamanya seperti ini? Kalau kamu masih saja keras kepala, jangan salahkan aku jika aku pergi darimu! Aku akan pergi sejauh mungkin dan gak akan pernah kembali, bila perlu aku akan menikah dengan Laura." Elkan menjeda ucapannya, menatap wajah Yuna yang masih saja tak memberi respon apa-apa.


"Aku sudah muak melihatmu seperti ini, aku capek. Tiga bulan Yuna, tiga bulan aku menunggumu pagi, siang dan malam. Aku gak tidur, aku gak bisa makan hanya untuk menemanimu. Aku bahkan sudah meninggalkan semuanya demi menunggumu." Kembali Elkan menjeda ucapannya, menarik nafas sebanyak-banyaknya.


"Sekarang ada darah daging ku di rahimmu. Apa kamu ingin membunuhnya demi untuk menghukum ku? Apa kamu gak kasihan pada mereka? Mereka juga ingin hidup, mereka juga ingin melihat dunia ini." Elkan meletakkan tangannya di perut Yuna, kemudian menariknya kembali.


"Baiklah, kamu gak mau bangun kan? Kalau begitu pergilah! Pergi saja dari hidupku! Aku tidak membutuhkan kamu lagi, lebih baik aku menikah dengan Laura!"


Sekuat hati Elkan mencoba menahan tangisannya. Sengaja menciptakan ketegangan agar Yuna bisa meresponnya. Memancing emosi Yuna agar berjuang melawan komanya.

__ADS_1


Tak disangka, ternyata Yuna bisa mendengar semuanya. Setetes cairan bening mengalir di sudut matanya. Elkan yang melihat itu segera naik ke kasur.


"Yuna, kamu bisa mendengar ku sayang. Kamu menangis, kamu mendengar ku." Tangisan Elkan pecah juga setelah menahannya sedari tadi.


"Aku di sini, aku tidak akan pergi. Tapi tolong buka matamu, lihat aku! Kamu marah padaku kan? Aku siap menerima kemarahan mu, aku siap dipukul, aku juga siap dicubit. Kamu boleh menghukum ku sesuka hatiku, ayo sayang! Buka matamu!" Elkan terus saja menangis sembari mengusap kepala Yuna, menempelkan hidungnya di wajah Yuna hingga air matanya mengalir di pipi Yuna.


"Bangun ya, aku merindukanmu. Sudah tiga bulan sayang, apa kamu tidak rindu dengan suami sialan mu ini? Suami yang kamu bilang bajingan dan juga brengsek. Aku ingin mendengar mu memarahiku, memakiku, juga memukulku."


Lagi-lagi air mata Yuna menetes begitu saja. Dia bisa merasakan bagaimana terpukulnya Elkan saat ini, dia juga bisa merasakan ketulusan Elkan padanya. Hati ingin bangun, tapi otaknya tak sanggup mengiyakan.


"Lihatlah sayang! Perutmu sudah membuncit, kamu juga gemukan, pipimu semakin tembem aja. Apa kamu gak ingin melepaskan keinginanmu? Kamu pasti ngidam kan? Mau apa? Mangga muda, rujak, atau apa? Aku akan mencarinya untukmu! Maling juga gak papa, biarin deh digebukin yang penting kamu senang."


Seakan tak ingin menyerah walaupun sesaat, Elkan terus saja meracau sesuka hatinya. Dia yakin Yuna masih mendengarnya.


"Ya udah, kalau gitu sekarang kita tidur dulu ya. Besok pagi aku akan mencarikan mangga muda untukmu."


Elkan membaringkan tubuhnya di samping Yuna, memeluknya erat seakan tak ingin melepaskan lagi.


"Kenapa diam aja? Ayo, peluk aku! Aku rindu kehangatan pelukanmu, aku rindu semuanya."


Pagi hari, Elkan membersihkan tubuh Yuna seperti biasanya lalu mengganti pakaian Yuna dengan pakaian bersih.


Tidak berselang lama, Aditama datang menjenguk putrinya. Walaupun tidak bisa setiap hari, Aditama masih menyempatkan untuk datang setidaknya sekali tiga hari. Beberapa minggu terakhir kesehatannya kembali memburuk, mungkin karena kepikiran dengan putrinya yang tak juga bangun hingga saat ini.


"Pagi Elkan," sapa Aditama yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Pagi Yah, silahkan masuk!" jawab Elkan sembari bangkit dari duduknya. Elkan menyalami Aditama dan mencium punggung tangannya.


"Bagaimana keadaan Yuna?" tanya Aditama dengan tatapan sendu. Entah kapan putrinya akan bangun, atau mungkinkah Yuna tidak akan bangun lagi.


"Duduk dulu Yah! Ada yang ingin Elkan bicarakan," ajak Elkan, dia pun berjalan menuju sofa. Aditama mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Aditama setelah duduk di sofa.


Elkan menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. "Yuna hamil Yah,"


Aditama terlonjak dengan mata membulat sempurna. "Hamil?"


Elkan mengangguk lemah. "Iya Yah,"


Aditama mengusap wajahnya berkali-kali, rasanya sulit dipercaya. "Apa kau sudah gila? Apa kau meniduri istrimu dalam keadaan seperti ini? Dimana akal mu?" geram Aditama.


"Meniduri?" Elkan mengulangi kata itu sambil menautkan alisnya bingung.


"Elkan tidak meniduri Yuna Yah, kalau tidur di samping Yuna iya. Elkan masih waras, mana mungkin Elkan melakukan itu?"


"Lalu, kenapa Yuna bisa hamil?" tanya Aditama menuntut penjelasan.


"Kata Dokter Cindy, usia kehamilan Yuna sudah memasuki 14 minggu. Kalau dihitung-hitung, Yuna sudah di sini selama 12 minggu. Berarti sebelum jatuh, Yuna sudah hamil. Hanya saja belum ketahuan karena masih dalam proses." jelas Elkan.


"Apa lagi yang dikatakan Dokter Cindy padamu? Apa kehamilan Yuna tidak berbahaya? Dia masih koma, apa ini tidak mempengaruhi keadaannya?" tanya Aditama penasaran.


"Bayinya sehat, detak jantungnya juga normal. Tapi-," Elkan menjeda ucapannya hingga membuat Aditama semakin penasaran.


"Tapi apa?" desak Aditama.


"Bayinya ada dua yah, kembar." jelas Elkan penuh kebahagiaan.


"Dua?" Aditama melongo dengan mata terbuka lebar.


"Maksudmu, Ayah dapat dua cucu sekaligus." imbuh Aditama.


"Iya Yah, itu benar." angguk Elkan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, terima kasih untuk semua ini." Sesaat senyum kebahagiaan tersirat di wajah Aditama, namun sedetik kemudian berubah pilu.


Bersambung...


__ADS_2