
Usai jam makan siang, Amit menginformasikan bahwa hari ini ada rapat dadakan dengan dewan direksi dan pemegang saham. Mereka semua sudah berkumpul di ruang rapat untuk membahas kerugian yang sudah dialami perusahaan karena kejadian malam itu.
Elkan dan Amit langsung menuju ruang rapat dengan beberapa dokumen penting yang ada di tangannya. Setelah memasuki ruangan itu, semua berdiri menyambut kedatangan Elkan.
"Selamat datang Pak Elkan," sapa mereka bersamaan.
"Terima kasih, silahkan duduk!" sahut Elkan dengan santainya, lalu duduk di kursinya. Amit pun duduk di sampingnya.
"Perkenalkan, ini Amit. Asisten pribadiku yang baru, dia adalah adik iparnya Beno." ucap Elkan memperkenalkan Amit pada semua orang.
Amit langsung berdiri sambil menyatukan kedua telapak tangan lalu membungkukkan punggungnya. "Senang bertemu kalian semua, nama saya Amit. Saya hanya bekerja paruh waktu di sini," ucapnya.
"Selamat datang di perusahaan, kau terlihat masih sangat muda. Apa kau masih kuliah?" tanya Pak Muji.
"Belum Pak, saya baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolah. Doakan saja saya lulus dan bisa kuliah secepatnya." jawab Amit.
"Hahaha... Saya suka dengan anak muda yang memiliki semangat tinggi seperti kau ini, masih kecil tapi sudah gigih. Semoga kau bisa sukses kedepannya seperti Pak Elkan." timpal Pak Romi sambil tertawa mencairkan suasana.
"Terima kasih," sahut Amit, kemudian duduk kembali di kursinya.
Setelah Amit selesai memperkenalkan diri, mereka semua mulai membahas tentang kerugian perusahaan yang bernilai cukup fantastis. Tentu saja hal itu menjadi ketakutan sendiri di hati mereka. Selain merugikan perusahaan, hal itu tentunya ikut merugikan mereka sebagai bagian dari perusahaan.
Beruntung Elkan bisa mengatasi itu dengan pemikirannya yang cukup mendominasi. Elkan sudah mempelajarinya dan dia pun sudah mempertimbangkan semuanya dengan sangat matang. Tidak ada yang akan dirugikan karena hal itu hanya bersifat sementara.
__ADS_1
Elkan yakin beberapa hari ke depan produk baru mereka yang akan dirilis bisa diterima pasar seperti produk mereka sebelumnya. Dia juga akan menjadikan Yuna sebagai brand ambassador produk baru tersebut, dia yakin hal itu akan menjadi nilai jual tinggi bagi produk mereka.
Selama ini konsumen selalu mengagung-agungkan kecantikan Yuna dan hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Elkan ingat saat pertama kali Yuna menjadi brand ambassador produk mereka, Yuna mampu menghipnotis konsumen dan pasar sehingga meningkatkan penjualan mereka sampai sepuluh kali lipat dari target awal.
Jika sekarang Elkan melakukan hal yang sama, tidak dipungkiri bahwa mereka bisa melebihi target penjualan untuk bulan ini. Hal itu tidak hanya akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan tapi juga bisa menutup kerugian mereka.
Setelah mendengar penuturan Elkan yang panjang seperti jalan tol, para dewan direksi dan pemegang saham langsung mengangguk setuju. Selama ini mereka memang sangat percaya dengan kemampuan Elkan, ide-idenya mampu menjadikan produk mereka tetap menjadi brand terbaik di tanah air.
Namun ada sederet pertanyaan yang mengganjal di benak mereka semua. Siapa orang yang sudah menyusup ke dalam perusahaan dan apa motif mereka sebenarnya?
"Bagaimana dengan penyusup itu? Apa sudah ada titik terang?" tanya Pak Daud penasaran.
"Sedang diselidiki. Setelah mendapatkan salinan CCTV itu, kita akan mengetahui dalangnya secepat mungkin. Kalian tidak perlu khawatir!" jawab Elkan enteng.
"Bukannya rekaman CCTV nya rusak?" tanya Pak Muji.
"Maksudnya?" Pak Romi membulatkan matanya dengan sempurna, begitu juga dengan yang lainnya.
"Bocah ini tidak bisa diremehkan, dia memiliki kemampuan tersembunyi yang tidak diketahui orang lain. Aku harap kalian semua bisa menyembunyikan ini dari siapa pun. Biar saja orang lain menganggapnya sebagai asisten biasa, kita lihat sampai dimana mereka bisa bertindak." terang Elkan.
Para dewan direksi dan pemegang saham saling melirik satu sama lain. Mereka belum bisa mencerna maksud ucapan Elkan barusan tapi mereka memilih mengangguk dan menyetujui apapun keputusan Elkan.
Satu jam kemudian, rapat dibubarkan dan mereka semua pamit meninggalkan ruangan. Elkan kemudian menyusul bersama Amit dan kembali ke lantai lima belas. Masih ada sedikit pekerjaan yang harus Elkan selesaikan sebelum pulang ke rumah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kota Istanbul, Beno dan Reni sudah merencanakan untuk pulang ke ibukota. Sudah satu minggu lebih mereka di sana menikmati bulan madu di tengah kota yang mulai hilang ditelan salju.
Sayangnya kepulangan mereka harus ditunda karena penerbangan dihentikan untuk beberapa hari ke depan. Tidak hanya bandara yang ditutup tapi jalanan juga banyak yang ditutup di beberapa titik tertentu. Beno dan Reni bahkan tidak bisa keluar dari hotel tempat mereka menginap.
Seminggu ini mereka berdua hanya menghabiskan waktu di dalam hotel saja. Jangankan untuk membeli oleh-oleh, keluar dari pintu utama hotel saja sangat sulit karena suhu di sana benar-benar dingin diantara 13°C sampai 10°C.
"Mas, apa tidak masalah jika kita berada di sini terlalu lama?" ucap Reni merasa tidak enak hati. Dia duduk di balkon kamar menikmati salju yang masih berjatuhan, tubuhnya dibaluti baju hangat yang sangat tebal untuk menetralisir rasa dingin yang menusuk hingga tulang.
"Mau bagaimana lagi sayang, ini bukan kemauan Mas tapi keadaan lah yang memaksa kita untuk tinggal beberapa hari lagi." sahut Beno sambil mendekap Reni ke dalam pelukannya.
"Iya juga sih, tapi rasanya tidak enak. Janjinya cuma satu minggu ternyata lebih," balas Reni sambil menyembunyikan kepalanya di dada Beno.
"Tidak usah dipikirkan, itung-itung ngerjain Elkan sekali-sekali. Biar dia tau bagaimana sulitnya mengurus perusahaan sendirian." Beno tersenyum sumringah hingga menampakkan barisan giginya yang sangat rapi.
"Kok gitu sih Mas, itu jahat namanya. Bagaimanapun Kak Elkan itu adalah saudara Mas. Masa' ngomongnya gitu, dia baik loh orangnya. Buktinya dia mau menerima aku dan kedua adikku di rumahnya." Reni memajukan bibirnya beberapa senti.
"Hahahaha... Baper banget sih, Mas kan cuma bercanda. Mas tau Elkan itu orang baik, makanya Mas bertahan di sisinya meski tanpa ikatan darah sekali pun. Dia tidak pernah menganggap Mas orang lain, dari kecil Mas selalu dianggap seperti saudaranya sendiri. Meski terkadang sikapnya menjengkelkan tapi orangnya asik, yang pastinya tidak perhitungan." jelas Beno.
"Makanya Mas jangan semena-mena, kasihan kalau Kak Elkan harus mengurus perusahaan sendirian. Dia juga harus membagi waktu dengan Kak Yuna dan si kembar." terang Reni.
"Iya iya, Mas tau itu. Sekarang keadaannya yang tidak mendukung, mau bagaimana lagi?" Beno mengerutkan keningnya. "Mudah-mudahan saja tidak ada masalah di perusahaan." imbuh Beno.
__ADS_1
Karena cuaca terasa semakin dingin, mereka berdua memilih masuk dan menyalakan pemanas ruangan. Kemudian Reni membuka cemilan untuk mengganjal perut, cuaca yang begitu dingin membuat perut Reni selalu keroncongan. Kelamaan di sana, bobotnya bisa-bisa bertambah dalam waktu singkat.
Bersambung...