
Sesampainya di kamar, Beno langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu dia keluar dan memakai piyama tidur lalu berbaring di samping Reni yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi.
Beno mematut wajah lelap istrinya sejenak, lalu memeluk dan mencium kening Reni dengan sayang. Dia masih belum percaya sepenuhnya bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah seperti Elkan. Syukur syukur dapat dua sekaligus, sama seperti Elkan yang mendapatkan si kembar tanpa disangka.
Tanpa sadar, air mata Beno tiba-tiba berlinangan di kelopak mata saat mengingat masa lalunya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah maupun ibu. Entah bagaimana rupa mereka, Beno tidak tau. Dia bahkan tidak memiliki foto mereka sama sekali.
Umur enam bulan dia dititipkan oleh seorang wanita tua yang mengaku sebagai neneknya, wanita tua itu hanya mengatakan bahwa dia tidak mampu membesarkan Beno karena keadaannya yang sudah sakit-sakitan.
Beno mengetahui cerita itu dari ibu panti yang kini sudah meninggal dunia, bahkan panti asuhan itu sudah ditutup sejak sepuluh tahun yang lalu. Entah apa sebabnya Beno sendiri tidak tau, sejak saat itu Beno tidak pernah lagi ke sana karena bangunan itu sudah tua dan nyaris roboh.
Lama termenung dalam pemikirannya sendiri, Beno akhirnya tertidur dengan kelopak mata yang masih basah.
Di atas sana, Elkan baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Melihat Yuna yang berbaring memunggunginya, Elkan mengukir senyum. Ide jahilnya muncul begitu saja hingga tanpa malu dia melepas semua pakaiannya dan berbaring di belakang Yuna sembari memasukkan tangannya ke dalam piyama yang dikenakan Yuna.
Jari-jari Elkan merayap menyentuh titik sensitif Yuna. Mulai dari pusar, naik ke belahan dada lalu meremas gunung kembar milik Yuna bergantian dan mengapit pucuk dada istrinya itu dengan jari.
"Aakhh..."
Yuna melenguh dan menggeliat hingga tanpa sengaja bokongnya menggesek ulat bulu jumbo milik Elkan yang sudah kedinginan di bawah sana. Benda itu mengeras hingga memperlihatkan urat-urat yang menonjol pada batangnya.
"Uhhh..." Elkan mengerang saat merasakan denyutan yang terasa ngilu-ngilu sedap, bahkan menjalar hingga ubun-ubun yang membuat kepalanya terasa ditusuk-tusuk.
Tak tahan lagi dengan siksaan menyakitkan itu, Elkan beranjak dan memposisikan dirinya di atas tubuh Yuna.
"Berat Bang," gumam Yuna dengan mata terpejam.
"Sayang, jangan tidur dulu dong! Aku ingin, ini sudah siaga satu." bisik Elkan tepat di telinga Yuna, lalu menjilat daun telinga istrinya itu dan menggigitnya gemas.
"Aakhh... Geli sayang," gumam Yuna sembari mengangkat bahu dan mengapit tengkuknya.
"Makanya bangun, lihat ini dulu! Milik Yuna sudah siap tempur, apa Yuna tidak kasihan? Kalau dia merajuk bagaimana? Yuna juga yang rugi," bujuk Elkan.
"Kenapa Yuna yang rugi? Abang saja kali," sahut Yuna masih dengan mata terpejam.
"Loh, kok Abang sih? Kalau dia tidak mau berdiri lagi saat melihat Yuna gimana? Siapa yang akan membuat Yuna mende*sah dan menggila seperti biasanya? Atau Yuna memang sudah tidak menginginkannya lagi." geram Elkan.
"Yuna ngantuk Bang," alibi Yuna untuk menghindari Elkan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau, nanti kalau Yuna ingin jangan minta sama Abang ya!" ucap Elkan sambil beranjak dari tubuh Yuna.
"Tunggu Bang!" Yuna membuka mata dan menahan tangan Elkan. "Memangnya minta sama siapa kalau bukan sama Abang?" imbuh Yuna menautkan alis, keadaan Elkan yang sudah telanjang bulat membuatnya meneguk air liur dengan susah payah. Batang rudal Elkan nampak menggoda dengan ukuran di atas normal.
"Terserah mau minta sama siapa," Elkan menepis tangan Yuna dan berjalan ke kamar mandi.
"Bang..." sorak Yuna, tapi Elkan sama sekali tidak mengacungkannya.
"Braaak!"
Yuna terlonjak saat Elkan membanting pintu dengan kasar.
"Kok malah merajuk sih, bukannya dibujuk." keluh Yuna dengan bibir mengerucut.
Elkan yang sudah dalam tegangan tinggi tak bisa menahan lagi, mau tidak mau dia terpaksa bermain solo di kamar mandi. Berharap bisa membawa Yuna menggapai puncak kepuasan, malah dia sendiri yang harus tersiksa karena penolakan istrinya.
Setengah jam kemudian Elkan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang setelah berhasil menenangkan ulat bulu miliknya. Segera Elkan membuka pintu lemari dan mengambil baju tidur lalu mengenakannya terburu-buru. Setelah itu Elkan berbaring di sofa, sebelah tangannya berada di atas perut dan sebelahnya lagi menutupi wajah.
"Bang..." panggil Yuna.
Lalu Yuna turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Elkan.
"Bang, kok tidur di sofa sih?" Yuna mengangkat tangan Elkan tapi Elkan dengan cepat menutupnya lagi.
"Bang, jangan merajuk gini dong! Tadi kan-"
"Abang capek mau tidur, bisa diam tidak?" ketus Elkan dengan rahang mengerat kuat.
"Abang marahin Yuna?" Yuna mengerucutkan bibir.
"Kalau tidak mau dimarahi, pergi dan tidur!" kesal Elkan, lalu memutar tubuhnya ke arah berlawanan.
"Bang, jangan diami Yuna seperti ini! Yuna minta maaf," sesal Yuna.
"Telat, sekarang pergilah! Kalau masih ngeyel, Abang yang akan keluar dari kamar ini." ancam Elkan.
"Jangan dong Bang! Masa' Abang tega meninggalkan Yuna sendirian." rungut Yuna.
__ADS_1
"Apa bedanya sama Yuna? Yuna bahkan tega menyiksa Abang sampai kepala Abang ingin pecah menahan sakit. Besok-besok Abang tidak akan pernah meminta itu lagi sama Yuna," geram Elkan.
"Kalau tidak minta sama Yuna, lalu Abang mau minta sama siapa?" tanya Yuna dengan polosnya.
"Sama jala*ng. Bayar bayar deh, dari pada sakit kepala." ucap Elkan asal.
"Bang... Bisa ngomong baik-baik tidak?" bentak Yuna yang mulai tersulut emosi.
"Makanya pergi, tidur sana! Orang mau tidur digangguin terus," gerutu Elkan.
"Karena Abang suami Yuna makanya Yuna gangguin, kalau orang lain mana mungkin Yuna berani." terang Yuna.
"Suami? Baru sadar punya suami? Tadi kemana saja Neng? Suami minta tidak dikasih," ketus Elkan.
"Ya tidak harus langsung merajuk gini bisa kan Bang, biasanya Abang tidak se sensitif ini. Sekeras apapun Yuna nolak, Abang pasti bisa membuat Yuna luluh. Kenapa sekarang tidak seperti biasa?" Yuna menautkan alis.
"Entahlah, mungkin sudah capek jadi pengemis tiap malam." kesal Elkan.
"Pengemis?" Yuna mengerutkan kening.
"Iya, pengemis. Coba Yuna ingat-ingat lagi! Selama kita menikah, apa pernah Yuna berinisiatif meminta duluan? Jawabannya tidak, tidak pernah. Selalu Abang yang memintanya lebih dulu, selalu Abang yang ngemis minta dilayani. Sekarang Abang jadi kepikiran, Yuna menganggap Abang apa sih?"
"Tapi Bang-"
"Yuna tidak bisa jawab kan? Abang juga tidak membutuhkan jawaban dari Yuna. Abang tau Yuna tidak pernah menginginkan Abang, Abang yang salah karena terlalu berharap sama Yuna."
Elkan menghela nafas berat dan bangkit dari pembaringannya, lalu menyambar kunci mobil dan berjalan menuju pintu.
"Abang mau kemana?" sorak Yuna.
"Mau mencari kesenangan di luar sana. Mulai malam ini Yuna bebas, Yuna tidak perlu melayani Abang lagi."
"Braaak!"
Yuna terperanjat saat Elkan membanting pintu dengan kasar.
Bersambung...
__ADS_1