Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 93.


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat, sinar matahari pagi mulai masuk melalui sela-sela jendela kaca hingga membuat mata Reni berkedip silau. Reni membuka matanya perlahan, sekujur tubuhnya terasa remuk hingga tak kuat lagi untuk bergerak.


Beno benar-benar membuktikan kata-katanya. Tiga ronde dia menggempur istrinya tanpa lelah sedikitpun. Tidak hanya membuat Reni menjerit, tapi dia juga membuat Reni berkali-kali menangis minta ampun. Pria yang dulunya nampak biasa dan cuek itu ternyata begitu perkasa dan beringas di atas ranjang hingga membuat Reni kewalahan.


Beno tengkurap dengan sedikit dengkuran yang keluar dari mulutnya, nampaknya pertempuran semalam benar-benar menguras energinya hingga tak sadar sedikitpun saat Reni memindahkan tangannya yang melingkar erat di pinggang istrinya.


Reni mencoba beranjak dari kasur, namun tubuhnya malah terperosot hingga kepalanya membentur kaki ranjang.


"Bug!"


"Auhhhh..." jerit Reni sembari memegangi kepalanya.


Jeritan Reni itu membuat Beno tersentak dan membuka matanya dengan sempurna. Segera Beno bangkit dan melompat dari kasur.


"Sayang, kenapa bisa jatuh gini sih?" Beno mengangkat tubuh ringkih Reni dan membaringkannya di atas kasur.


"Mau kemana?" tanya Beno sembari mengusap kepala Reni.


"Mau ke kamar mandi, aku kebelet pipis. Eh, taunya jatuh." rintih Reni dengan bibir mengerucut.


"Kenapa gak bangunin aku sayang? Aku kan bisa mengantarmu ke kamar mandi," tanya Beno lagi sembari mencubit hidung Reni gemas.


"Tidur kamu nyenyak banget, mana berani aku ganggu? Ntar dimarahin," sahut Reni yang masih asik memijit kepalanya.


"Kebiasaan kan, udah jelas punya suami. Minta tolong kek, apa kek." gerutu Beno dengan tatapan aneh.


"Tuh kan dimarahin, gak nyadar aku begini karena kamu." keluh Reni dengan mata berkaca.


"Bukan marah sayang, ya udah sini aku temenin!"


Beno bergegas turun dari ranjang dan menggendong Reni ke kamar mandi. Berhubung mata Beno masih sangat mengantuk, dia memilih bersandar di dinding menunggu Reni yang tengah membuang apa yang seharusnya dia buang.

__ADS_1


"Udah Beno, aku mandi sekalian aja ya. Mau nyiapin sarapan buat kamu." seru Reni sembari bangkit dari duduknya.


"Gak usah sayang, kita pesan makanan aja. Ayo, temani aku tidur lagi!" Beno kembali menggendong Reni dan membopongnya menuju ranjang.


Setelah membaringkan istri yang baru dinikahinya itu, Beno menghempaskan tubuhnya hingga menindih sebagian tubuh Reni. Hampir saja Reni menjerit saat merasakan ngilu di sekujur tubuhnya, beruntung Beno dengan cepat membungkam bibirnya.


"Beno, sakit. Gak puas juga udah membuat tubuhku remuk, sekarang mau bikin tulang ku patah juga?" rengek Reni sembari mengusap pinggangnya.


"Hehehe... Muach..."


Beno malah tertawa dan mencium lembut pipi Reni yang sangat menggemaskan baginya, kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Segera Beno menarik Reni ke dalam dekapan dadanya dan mengecup kening istrinya dengan lembut, lalu membuka layar ponselnya di depan mata mereka berdua.


"Mau makan apa sayang?" tanya Beno sembari membuka aplikasi go food dan mencari makanan yang diinginkan oleh istrinya.


"Terserah, aku ikut kamu aja." jawab Reni dengan pipi yang menempel di dada Beno.


Usai memesan makanan, Beno menaruh ponselnya di atas nakas lalu memeluk Reni dengan erat.


"Capek ya?" tanya Beno sambil mengelus pipi mulus Reni dengan jemarinya.


"Uhm, tenaga mu seperti kuda liar aja. Ganas banget, tau gini aku gak mau nikah sama kamu. Bikin tubuhku hancur, pipis aja rasanya sakit banget." omel Reni dengan bibir mengerucut. Mana dia tau Beno seberingas itu hingga tak menghiraukan tangisannya saat meminta ampun.


"Hehehe... Jadi kamu nyesel nikah sama aku?" Beno mengulum senyumannya menyaksikan air muka menggemaskan istrinya. Beruntung Beno benar-benar lelah pagi ini, jika tidak sudah dia jadikan Reni santapan paginya.


"Iya, nyesel banget." lirih Reni yang membuat Beno semakin gemas. Entah terbuat dari apa otak istrinya itu sehingga begitu polosnya jadi wanita.


"Ya udah, kalau nyesel aku gak akan ngelakuin itu lagi padamu. Mulai nanti malam, aku tidur di luar aja." seloroh Beno menahan tawanya.


"Uuuuu... Jangan! Aku gak mau ditinggal sendirian," rengek Reni sembari memeluk Beno dengan erat.

__ADS_1


"Loh, katanya nyesel nikah sama aku?" Pipi Beno dibuat menggembung saking tak kuat menahan tawanya.


"Gak gitu juga konsepnya. Kan udah terlanjur dinikahin, mau gak mau harus ikhlas menerima penderitaan ini. Lagian rasanya juga enak sih, tapi jangan keseringan juga!"


"Hahahaha..." Tawa Beno akhirnya pecah juga setelah cukup lama menahannya.


"Salah sendiri, kenapa rasa kamu itu terlalu enak? Aku kan jadi ketagihan. Lagian ini pengalaman pertamaku menyentuh seorang wanita, mana mungkin aku anggurin begitu aja?" ungkap Beno jujur.


"Jadi kamu pikir aku udah sering gitu?" ketus Reni dengan tatapan masam.


"Gak gitu sayang, siapa bilang sering? Aku tau kamu juga baru pertama kali, kan aku yang unboxing." seloroh Beno sembari mencubit hidung Reni gemas.


"Emangnya paket?" Reni mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti.


"Iya, paket spesial untuk Beno si pria tampan dan mempesona." angguk Beno dengan sombongnya.


"Kepedean banget sih, jelek juga." cibir Reni dengan wajah cemberut nya.


"Gak papa jelek, yang penting udah laku. Ada yang sayang, ada yang cinta juga." jawab Beno dengan pongahnya. Hal yang mustahil sebenarnya menurut Beno, tapi begitulah jodoh. Kita tidak pernah tau kemana hati kita akan berlabuh.


Reni mengalungkan tangannya di leher Beno dan menggigit hidung suaminya itu hingga memerah. Untung saja dia sudah terlanjur sayang, kalau tidak sudah dia buat hidung Beno putus saat ini juga.


Beno hanya bisa pasrah dan tertawa terbahak-bahak. Alangkah bahagianya dia saat ini, apalagi melihat sikap istrinya yang begitu manja dan polos. Mengerjai sang istri adalah hal wajib baginya karena air muka kesal Reni membuatnya sangat gemas.


Usai membersihkan diri bersamaan, Beno keluar lebih dulu saat mendengar suara bel dari arah pintu utama. Segera Beno mengambil pesanannya dan menatanya di atas meja makan.


Entah kenapa kehadiran Reni membuat hidupnya jadi berwarna, dia berjanji tidak akan pernah menyakiti apalagi membuat istrinya menangis. Beno akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan istrinya itu. Sudah cukup Reni menderita selama ini, dia akan membuat Reni menjadi wanita paling beruntung karena sudah memilihnya sebagai suami.


Beno juga tidak akan tinggal diam mulai detik ini. Apapun masalah yang berhubungan dengan istri dan kedua adiknya, maka hal itu juga akan menjadi masalahnya. Beno sadar saat menikahi Reni dia juga harus siap mengambil alih tanggung jawab Reni sebagai kepala keluarga untuk kedua adiknya. Beno juga dengan senang hati membuka kedua tangannya untuk mereka. Menjadikan mereka orang-orang yang sukses dan dihargai oleh semua orang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2