Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 68.


__ADS_3

Pukul 9 pagi, Elkan meninggalkan ruangan Yuna dan berjalan menuju ruangan bayi. Seperti janjinya kepada Yuna tadi, Elkan akan membawa putra putrinya untuk bertemu dengan Yuna. Tentu saja setelah mendapatkan persetujuan dari dokter dan juga suster yang merawat kedua bayinya.


"Pagi Dok, Sus." sapa Elkan kepada Dokter Cindy dan Suster Reni yang kebetulan sedang berada di ruangan bayi.


"Pagi Pak Elkan, kebetulan sekali Anda datang. Ayo, masuk!" jawab Dokter Cindy.


Elkan mengayunkan kakinya memasuki ruangan, lalu berdiri tepat di sebelah box bayi kembarnya. Senang sekali pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan indah. Dua bayinya baru saja selesai mandi, tentunya sudah rapi dan wangi.


"Sayang Papa udah pada mandi ya." Elkan menyentuh pipi kedua bayinya secara bergantian. "Bagaimana keadaan bayi saya, Dok? Apa sudah bisa dibawa ke ruangan Yuna?" imbuh Elkan langsung pada intinya. Dia tidak ingin berbelit-belit mengingat Yuna yang sudah sangat ingin bertemu bayinya.


Dokter Cindy tersenyum lebar. "Hehe, sepertinya Anda sudah tidak sabar mau membawa mereka kepada sang Mama."


Elkan pun ikut tersenyum. "Kasihan istri saya Dok, dia sudah sangat ingin bertemu bayinya. Semua ini seperti mimpi baginya, tanpa sadar sudah ada dua malaikat kecil ini saja di hidupnya."


Elkan membungkukkan punggungnya dan mencium si kembar secara bergantian. Dokter Cindy dan Suster Reni hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu.


"Sus, tolong bantu Pak Elkan membawa si kembar ya! Saya masih ada pasien, kalau sudah selesai saya akan segera ke ruangan Bu Yuna." titah Dokter Cindy.


Suster Reni mengangguk pelan. "Baik Dok,"


Suster Reni mengangkat bayi laki-laki, sementara Elkan mengambil bayi perempuan dan mendekapnya erat. Setelah Dokter Cindy meninggalkan ruangan, Elkan dan Suster Reni pun ikut menyusul keluar.


"Beruntung sekali Pak Elkan dan Ibu Yuna karena memiliki dua bayi sekaligus. Yang satu tampan yang satu cantik, semoga Bu Yuna cepat pulih dan bisa merawat bayinya." ucap Suster Reni sembari mengikuti langkah Elkan.


"Makasih Sus, doain yang terbaik aja ya!" sahut Elkan sembari tersenyum kecil.


Memang tidak ada yang tau kemana takdir akan membawa kita. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Beruntung Elkan masih diberi kesempatan menebus kesalahannya. Jika saja kecelakaan itu merenggut nyawa Yuna, tentunya Elkan tidak akan bisa melihat putra putrinya seperti saat ini.


Elkan mendorong pintu perlahan. "Pagi Mama, liat siapa yang datang!" seru Elkan yang sudah berdiri di ambang pintu.


Yuna menatap lurus ke arah Elkan, mendadak air matanya jatuh begitu saja. Apa ini mimpi? Apa ini benar-benar bayinya Yuna? Hati Yuna merintih menahan kesedihan yang begitu mendalam di hatinya.


Elkan melanjutkan langkahnya dan duduk di sisi ranjang. "Jangan nangis dong! Gak boleh cengeng, nanti si kembar ikut sedih!"

__ADS_1


"Elkan...," lirih Yuna yang tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Elkan mengusap kepala Yuna dengan sayang, lalu menyeka pipi Yuna dengan telunjuknya. "Ini putri kita," Elkan menaruh putrinya di tangan Yuna, kemudian mengambil putranya yang masih berada di gendongan Suster Reni.


"Makasih ya Sus," ucap Elkan setelah mengambil putranya.


Suster Reni tersenyum kecil. "Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu ya Pak, Bu. Semoga ASI nya cepat keluar."


Setelah Suster Reni menghilang dari pandangan keduanya, Elkan langsung naik ke kasur dan duduk berhadapan dengan Yuna.


"Kamu liat kan? Ini bayi kembar kita, bayi yang tumbuh di dalam rahim kamu selama tujuh bulan." jelas Elkan.


"Hiks... Hiks...,"


Yuna terisak memandangi kedua bayinya secara bergantian. Apa benar dia sudah menjadi seorang ibu? Apa bayi kembar ini benar-benar tumbuh di rahimnya?


"Elkan, apa ini benar bayiku?" isak Yuna berderai air mata.


Tangisan Yuna akhirnya pecah seiring penjelasan yang disampaikan Elkan barusan. Segera Yuna mendekap putrinya dan menciumi pipi gadis mungil itu berkali-kali, lalu beralih pada putranya yang masih berada di pangkuan Elkan.


"Elkan...,"


"Iya sayang, udah jangan nangis lagi! Nanti diketawain loh sama si kembar. Mama Yuna cengeng banget sih, katanya."


Elkan berusaha menghibur Yuna agar tidak terlalu larut dalam kesedihan, kemudian mengecup mata istrinya agar air mata Yuna berhenti menetes.


Setelah beberapa saat saling terdiam memandangi dua bayi lucu itu, Elkan pun menarik Yuna ke dalam dekapannya.


"Makasih ya sayang, aku sangat bahagia karena sekarang keluarga kecil kita sudah lengkap. Kalian bertiga adalah hidupku, kebahagiaanku." Elkan mengecup kening Yuna dengan sayang.


"Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, aku banyak kekurangan dan aku sudah terlalu sering menyakitimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri, aku janji akan menjaga kalian dengan sepenuh hati, mencintai kalian dengan sepenuh jiwa." imbuh Elkan.


Yuna mengangguk lemah. "Aku juga minta maaf ya, aku belum bisa jadi istri yang baik untukmu. Aku-"

__ADS_1


Belum selesai Yuna bicara, tangisan putrinya sudah lebih dulu menggelegar memenuhi seisi ruangan. Keduanya langsung tersenyum saking bahagianya mendengar tangisan itu.


"Putri kita pasti haus. Sini, biar aku bukain kancing piyamanya!" ucap Elkan sembari melepaskan pelukannya.


Kembali Yuna mengangguk. Sementara Elkan segera menaruh putranya di atas kasur, lalu membantu Yuna membuka kancing piyamanya.


"Pencet dulu! Keluar gak?" suruh Elkan.


Yuna mengangkat sebelah tangannya dan melakukan apa yang Elkan suruh. "Keluar, tapi dikit doang."


"Gak papa, namanya juga masih baru. Semuanya butuh proses, nanti biar aku suruh Diah masakin sayur buat kamu! Sekarang coba dulu!"


Yuna kembali mengangguk dan mendekatkan bibir putrinya tepat di ujung dadanya. "Hehehe...,"


Elkan mengerutkan keningnya. "Kok malah ketawa sih?"


"Hehe, geli." gumam Yuna tersipu malu.


"Haha... Ada-ada aja kamu nih, kalau Papanya yang ne*nen rasanya enak kan?" seloroh Elkan sembari tertawa lepas.


"Apaan sih Elkan? Jangan mikir jorok terus!" ketus Yuna dengan pipi bersemu merah.


"Wajar sayang, kamu gak tau sih gimana rasanya jadi aku. Berbulan-bulan loh aku nahan diri, eh giliran udah sadar malah kena palang merah. Malangnya nasib suamimu ini," lirih Elkan dengan wajah sendunya.


"Sabar Elkan, tujuh bulan aja kamu sanggup. Ini cuma empat puluh hari doang kok, masa' gak sanggup sih?" ucap Yuna sembari menyentuh pipi Elkan.


"Beda sayang, saat kamu koma pikiran itu menghilang begitu saja. Hasrat ku seakan sirna melihat kondisi kamu. Kalau sekarang, liat dada kamu aja udah bikin aku ngilu. Tadi aja harus main sendiri di kamar mandi." ungkap Elkan dengan jujurnya.


"Gak papa main sendiri, asal jangan celup sana celup sini!" seloroh Yuna sembari menahan tawanya.


"Ih, apaan sih? Kamu pikir aku ini suami apaan? Satu aja gak abis-abis," Elkan menarik hidung Yuna gemas, lalu mengecup bibir Yuna untuk menghilangkan ketegangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2