Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 149.


__ADS_3

Setibanya di kantor, Elkan langsung masuk ke ruangan pribadinya. Dia memilih berbaring sambil memijat dahi yang mulai terasa pusing. Bukan fisiknya saja yang lelah tapi otaknya juga.


Elkan kemudian mengambil ponsel yang ada di kantong celana dan segera menghubungi Yuna. Hanya istrinya itu yang mampu mengobati kegalauannya saat ini.


"Hmm... Ada apa Bang?" jawab Yuna, wajahnya terpampang jelas di layar ponsel Elkan.


"Kok jawabnya gitu sih? Gak ikhlas banget," Elkan memanyunkan bibirnya.


"Bukan gak ikhlas sayang, ini lagi nyusuin Elga." Yuna menjelaskan. "Tumben nelepon jam segini," imbuh Yuna setelah memposisikan ponselnya dengan lurus.


"Kangen..." jawab Elkan singkat dengan tatapan menyayu.


"Hahahaha... Kok jadi lebay gini sih Bang? Baru juga beberapa jam gak ketemu," Yuna malah menertawai suaminya itu.


"Ya sudah kalau gak boleh nelepon,"


Elkan mematikan sambungan video call itu secara sepihak, hal itu membuat Yuna menautkan alisnya heran. Ada apa dengan suaminya itu? Tidak biasanya Elkan sesensitif ini.


Elkan melempar ponselnya ke permukaan kasur kosong di sampingnya, dia kemudian meraih bantal dan menutupi wajahnya. Tidak lama, dia pun terlelap dengan sendirinya.


Yuna yang masih penasaran berusaha menghubungi Elkan tapi panggilannya sama sekali tak dijawab, tentu saja hal itu membuat Yuna khawatir memikirkan keadaan suaminya.


Setelah menyusui Elga dan Edgar, Yuna mencoba menghubungi Amit. Amit menjawabnya dan mengatakan kalau Elkan sedang mengurung diri di kamar pribadinya. Hal itu membuat Yuna bertanya-tanya.


Karena khawatir memikirkan keadaan suaminya, Yuna memutuskan untuk mendatangi perusahaan dan menitipkan si kembar kepada Diah.


Setengah jam kemudian, Yuna sudah tiba di perusahaan. Dia diantar Pak Zul sampai gerbang, lalu Pak Zul meninggalkan perusahaan dan langsung menjemput Sari yang kebetulan sudah menunggunya di sekolah.


Yuna melangkah memasuki lobby, kedatangannya disambut hangat oleh pegawai yang melihatnya. Setelah menyapa mereka semua, Yuna langsung masuk ke dalam lift menuju lantai lima belas.


"Selamat sore Nyonya," sapa Andin memberi salam sambil membungkukkan punggung.


"Sore Andin," Yuna tersenyum kepadanya, kemudian memasuki ruangan Elkan.


"Kak Yuna?" Amit tercengang melihat kedatangannya.


"Dimana Kak Elkan?" tanya Yuna yang sudah berdiri di hadapan Amit.


"Masih di dalam Kak, sepertinya Kak Elkan lagi banyak pikiran." Amit menjelaskan.


Yuna mengangguk mengerti, lalu melangkah menuju pintu ruangan pribadi suaminya itu. Beruntung Yuna memiliki kunci cadangan hingga dia bisa masuk dengan leluasa ke dalam sana.

__ADS_1


Yuna menautkan alis saat menyaksikan suaminya yang tengah tertidur dengan muka tertutup bantal. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Yuna menghampiri ranjang dan menaruh tasnya di atas nakas lalu duduk di sisi ranjang dan mengambil bantal itu.


"Jangan ganggu aku!" bentak Elkan tanpa tau siapa yang sudah mengambil bantal itu dari mukanya.


"Bang... Ini Yuna," Yuna menghela nafas dan membuangnya kasar. Setelah sekian lama baru kali ini Elkan membentaknya kembali, tentu saja Yuna bingung dengan sikap suaminya itu.


Elkan yang menyadari kehadiran Yuna langsung membuka matanya, dia tercengang melihat wajah Yuna yang sangat dekat dengan dirinya. "Ngapain ke sini?"


"Deg!"


Sontak Yuna terperanjat mendengar pertanyaan suaminya itu. Jantungnya ingin rontok dibuatnya. Sedih, tentu saja. Apalagi sudah lama Elkan tak bersikap seperti itu padanya.


"Ya sudah kalau tidak boleh ke sini, Yuna pulang dulu."


Yuna bangkit dari duduknya dan segera menyambar tasnya. Saat tangannya meraih kenop pintu, dia membeku merasakan sentuhan tangan Elkan yang melingkar di tubuhnya.


"Maaf," Hanya kata itu yang melompat dari mulut Elkan.


"Tidak usah minta maaf, harusnya Yuna tidak perlu datang ke sini."


Yuna berusaha melepaskan tangan Elkan yang membelit tubuhnya tapi Elkan malah mempererat pelukannya dan membawa Yuna ke ranjang lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur.


Elkan menindih istrinya itu dan menenggelamkan wajahnya di leher Yuna. Lidahnya mulai bergerak menjilati leher putih mulus istrinya itu dan sesekali menggigitnya hingga menyisakan jejak berwarna merah kehitaman.


"Karena Yuna sudah di sini, Yuna harus bertanggung jawab!" tegas Elkan.


"Tanggung jawab apa? Yuna tidak melakukan apa-apa sama Abang." lirih Yuna kebingungan.


Elkan tak peduli dengan ucapan istrinya itu, dia langsung membungkam mulut Yuna dan mengesap bibirnya penuh gairah. Nafas Elkan semakin memburu saat lidahnya masuk menyelami rongga mulut istrinya itu, dia menghisap lidah Yuna dan meneguk air liur mereka yang sudah membaur jadi satu.


"Bang..."


"Please, jangan menolak! Abang butuh Yuna,"


Setelah mengatakan itu, Elkan beranjak dari tubuh Yuna lalu membuka pakaiannya hingga tak bersisa. Elkan menarik tangan Yuna hingga terduduk di sisi ranjang lalu dia meminta Yuna berjongkok untuk memanjakan senjatanya yang sudah mengeras di bawah sana.


"Bang..."


"Sssttt... Ayolah, Abang tidak tahan lagi!" Suara Elkan terdengar serak karena gairahnya sudah di ujung tanduk.


Mau tidak mau, Yuna terpaksa menurut dan berjongkok di kaki Elkan. Mulutnya menganga saat mengulum senjata Elkan dan menjilatinya bak es krim.

__ADS_1


"Aakhh... Ya... Sayang... Uukhhh..." Elkan meracau menikmati permainan mulut Yuna yang begitu menyenangkan baginya.


Karena tidak tahan lagi, Elkan kemudian mengangkat tubuh Yuna hingga berdiri sejajar dengannya lalu Elkan melu*mat bibir tebal istrinya itu dengan penuh kelembutan. Satu persatu pakaian Yuna berjatuhan ke lantai.


Kemudian Elkan melahap habis dua gundukan kenyal milik Yuna secara bergiliran, sedangkan tangannya asik mengitari inti Yuna hingga sekujur tubuh istrinya itu melemah.


"Aughhh... Bang..."


"Kenapa sayang?" Elkan mendongak sambil tersenyum kecil.


"Enak..." Yuna mengulum senyumannya.


"Yuna suka?" tanya Elkan.


"Ya..." gumam Yuna.


Mendengar itu, Elkan langsung membalikkan tubuh Yuna dan merebahkannya di kasur dengan posisi tengkurap. Separuh tubuh Yuna menempel di kasur sementara separuhnya lagi terjuntai ke lantai. Elkan berdiri di tepi ranjang dan berjongkok lalu menjilat inti istrinya dan menghisapnya.


"Aughhh... Bang..."


"Enak?" Elkan menyeringai.


"Ya..." Yuna menggigit ujung jarinya.


Elkan langsung berdiri dan memposisikan ujung senjatanya ke liang hangat milik Yuna. Elkan mendorongnya pelan sambil meremas bokong Yuna.


Saat sebatang benda keras itu memasuki dirinya, Yuna menjerit kecil dan menggigit bibir bawahnya.


"Aakhhh..."


Kemudian Elkan mengayunkan pinggulnya perlahan, hal itu membuat Yuna tak hentinya mende*sah menikmati rasa yang sungguh luar biasa.


Pergerakan Elkan yang awalnya lambat, kini berangsur cepat seiring ritme permainan mereka yang semakin memanas.


Puas dengan posisi seperti itu, Elkan kemudian membalikkan tubuh Yuna dan menekuk kedua kakinya. Dia kembali memasukinya dan menekannya dengan cepat. Desa*han keduanya saling bersahutan memenuhi seisi kamar, beruntung ruangan itu sudah dipasang alat mengedap suara.


Satu jam berpacu, Elkan akhirnya tersungkur lemas di atas tubuh Yuna. Kepalanya yang tadinya pusing, kini langsung terobati setelah mendapat kepuasaan dari istrinya. Obat paling mujarab dari segala obat.


"Makasih sayang," gumam Elkan sambil tersenyum lalu mengecup kening Yuna dan mengesap bibir istrinya itu.


"Tidak usah berterima kasih," Yuna mengacak rambut Elkan sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2