Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 119.


__ADS_3

Pagi hari Elkan terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Tatapan matanya nampak sayu saat menoleh ke arah Yuna yang masih berbaring di sampingnya.


Elkan memeluknya dari dalam selimut. Dia terperanjat saat menyadari tubuh Yuna yang tidak mengenakan apa-apa. Tangannya langsung bersentuhan dengan kulit mulus lembut istrinya itu.


"Mau ngapain lagi Bang? Belum cukup menyiksaku semalaman penuh," ketus Yuna dengan dinginnya.


Elkan mengerutkan keningnya saat mendengar itu. "Menyiksa semalaman?"


Elkan mencoba mengingat apa yang dia lakukan kepada Yuna semalam, tapi dia sama sekali tidak bisa mengembalikan memorinya. Yang dia ingat hanya saat mereka masih mengobrol di bawah sana. "Sayang, apa yang terjadi semalam?"


Mendengar itu, Yuna segera berbalik dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Sontak saja Elkan terperanjat saat menyaksikan tubuh Yuna yang sudah dipenuhi ratusan ****** berwarna merah gelap di area leher, dada bahkan perut istrinya itu.


"Sayang..."


"Sayang apa hah?" potong Yuna dengan tatapan membunuhnya. "Dasar binatang buas, untung aja aku gak mati karena disiksa olehmu. Benar-benar kejam," imbuh Yuna sambil memukuli dada Elkan.


Elkan mengusap wajahnya berkali-kali, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa se beringas itu terhadap Yuna. "Ini-"


"Ini apa? Belum sadar juga, apa minuman semalam membuat otak Abang jadi gak waras? Menindas istri sampai gak sanggup berdiri, menyedihkan sekali." gerutu Yuna kesal, kemudian berbalik dan menutupi tubuhnya kembali.


Elkan mengikis jarak diantara mereka dan memeluk Yuna dengan erat. "Maafin Abang ya, Abang gak ada maksud menyakiti Yuna. Mungkin semua itu pengaruh minuman sialan itu. Lagian Yuna terlalu menggoda hingga membuat Abang kecanduan. Jangan marah ya, sayang!" bujuk Elkan dengan suara lembutnya, lalu menenggelamkan wajahnya di tengkuk Yuna.


"Gak marah, tapi kesal aja. Perasaan kian hari Abang itu kian menjadi-jadi aja deh. Udah seperti monster aja," keluh Yuna dengan bibir mengerucut.


Elkan mengukir senyum di bibirnya. "Nah, harusnya dari sini tuh Yuna bisa mikir. Kalau setiap hari Abang menginginkan Yuna, itu tandanya gak akan ada tempat lagi buat wanita lain." Elkan mencoba menjelaskan. "Apa Yuna mau punya suami yang acuh gak acuh aja sama Yuna? Tapi di belakang Yuna, dia bermain dengan wanita lain." imbuh Elkan.


"Ya gak mau lah, mending gak punya suami sekalian. Buat apa punya suami seperti itu?" jawab Yuna ketus.

__ADS_1


"Maka dari itu, Yuna harusnya bersyukur punya suami seperti Abang. Udah tampan, baik, kaya, setia lagi. Kurang apa lagi suami Yuna ini?" ucap Elkan menyanjung dirinya sendiri.


"Ih, narsis banget jadi orang. Pakai acara memuji diri sendiri segala. Yang ada tuh Abang yang harusnya bersyukur punya istri seperti aku." sela Yuna.


"Iya sayang, Abang juga bersyukur punya istri seperti Yuna. Sempurna deh pokoknya," sanjung Elkan, lalu mengecup tengkuk Yuna dengan lembut.


"Bersyukur sih bersyukur, tapi lain kali jangan seperti tadi malam lagi! Masa' tiga ronde berturut-turut gak dikasih jeda sedikitpun. Apa Abang ini robot yang gak ada capek-capeknya sedikitpun?" omel Yuna.


"Gak ada kata capek kalau udah sama Yuna. Sekarang aja kalau Yuna masih mau Abang masih kuat kok," goda Elkan sambil tersenyum licik.


"Huhuuuu... Gak mau Bang, capek..." rengek Yuna hingga membuat Elkan tertawa terbahak-bahak.


"Iya iya, maafin Abang ya. Sekarang mandi dulu yuk, nanti si kembar keburu bangun. Bisa kaget mereka lihat kita seperti ini," seloroh Elkan.


"Gendong..." rengek Yuna sambil berbalik dan merentangkan kedua tangannya.


"Iya, Abang gendong. Buat Yuna apa sih yang enggak,"


Di bawah sana, Diah dan Lili tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Mereka berdua sudah tau bahwa pagi ini ada tamu penting selain Aditama yang ikut sarapan bersama majikannya.


Sementara di kamar lain, Reni dan Beno baru saja selesai mandi setelah menghadapi pertemuan sengit pagi ini. Berbeda dengan Elkan yang langsung menyikat Yuna setelah tiba di kamar mereka, Beno justru langsung tertidur saat tiba di kamarnya. Pagi ini barulah dia menyikat Reni dalam keadaan sadar sepenuhnya.


Reni duduk di depan cermin sembari merias wajahnya dengan riasan seadanya, lalu Beno menghampiri dan memeluknya dari belakang.


"Istri siapa sih ini? Gemesin banget," seloroh Beno dengan senyuman nakalnya.


"Udah, jangan gombal! Pasti udah kebiasaan ya ngomong gini sama wanita lain." tuduh Reni dengan tatapan yang sulit dimengerti.

__ADS_1


"Mana ada? Kalau mau nuduh tuh pakai bukti, kalau gak ada bukti jatuhnya fitnah. Ingat sayang, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." jawab Beno enteng.


"Mana aku tau, kenal aja cuma beberapa hari udah langsung dinikahi. Dipaksa pula tuh," balas Reni mencibir.


"Begitulah yang namanya pria sejati. Kalau suka langsung dihalalkan, gak neko-neko. Emang kamu mau dipacari doang, terus ditiduri, habis itu ditinggalin?" terang Beno.


"Ya gak mau lah." Reni menaikkan sebelah alisnya. "Tapi waktu itu kan hampir aja Mas lakuin, untung aja aku gak mau. Kalau mau mungkin sekarang aku udah ditinggalin." ungkap Reni mengingat saat mereka di apartemen tempo hari.


"Hehe... Konsepnya beda sayang. Habisnya kamu itu selalu aja membuat Mas tergoda. Kalau pun kejadian tetap Mas nikahin kok, kan udah terlanjur cinta. Lagian Mas bukan tipe pria seperti itu." jawab Beno jujur, lalu mengecup kepala Reni dengan sayang.


Reni mengukir senyum di bibirnya, tentu saja dia sangat beruntung memiliki suami seperti Beno. Tidak hanya tampan, kaya, tapi juga sangat penyayang. Beno bahkan rela menerima kedua adiknya di tengah-tengah mereka. Reni juga sangat berterima kasih kepada Elkan yang sejatinya adalah pemilik rumah sebenarnya.


Tidak pernah terpikirkan oleh Reni sebelumnya, dalam waktu yang singkat hidupnya berubah begitu tiba-tiba. Sekarang dia tidak perlu banting tulang lagi untuk membiayai kehidupan kedua adiknya.


"Udah, jangan mikir macam-macam lagi, percaya aja sama suamimu ini! Selagi kamu patuh dan menurut, apapun akan Mas lakukan asal kamu bahagia." Beno mengangkat lengan Reni hingga bangkit dari duduknya, kemudian membawanya ke dalam dekapan dadanya.


"Makasih ya Mas," Reni mendongak dan menatap mata Beno dengan intim.


"Apaan sih sayang? Udah kayak orang lain aja," Beno menarik hidung Reni lalu menggigitnya gemas, kemudian mengesap bibir ranum istrinya itu dengan penuh kelembutan.


"Mmm..."


"Hehe..."


"Manis banget soalnya, bikin ketagihan." seloroh Beno, lalu tertawa terbahak-bahak.


Setelah melepaskan pagutan nya, Beno menggenggam tangan Reni dan melangkah meninggalkan kamar mereka. Segera Reni bergabung dengan Diah dan Lili di dapur, sementara Beno duduk di ruang keluarga bersama Aditama dan Reynold yang baru saja keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


Tidak lama, Elkan dan Yuna turun membawa si kembar yang sudah selesai mandi dan menyusu. Wajah kedua bayi itu terlihat begitu menggemaskan hingga membuat Aditama dan Reynold sangat geram, lalu mengambil alih keduanya dari tangan Elkan dan Yuna. Elkan duduk bersama mereka, sedangkan Yuna langsung menuju dapur membantu menyiapkan sarapan.


Bersambung...


__ADS_2