Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 90.


__ADS_3

Beno mendekati Reni dan membawa gadis itu ke dalam dekapan dadanya. Beno sadar apa yang dia lakukan barusan salah, dia tidak bermaksud merendahkan Reni apalagi menganggapnya wanita murahan.


Beno mengakui bahwa dirinya sangat menginginkan Reni, tapi bukan berarti semua itu karena nafsu belaka. Dia benar-benar menyayangi gadis itu dan ingin menikahinya.


"Maafin aku ya, kamu salah paham padaku. Aku gak pernah menganggap kamu murahan, aku menghargai kamu." Beno mengusap pucuk kepala Reni dan mengecupnya dengan sayang.


"Aku akui, aku terlalu egois karena meminta sesuatu yang bukan hak ku. Tapi percayalah, aku meminta itu karena aku benar-benar ingin menjadikanmu milikku. Aku ingin kamu menikah denganku dan menjadi pendamping hidupku." Beno mempererat pelukannya hingga membuat Reni kesulitan mencuri nafas.


"Maaf Beno, aku gak bisa." Reni mendorong dada Beno sekuat tenaga hingga pelukan mereka terlepas, lalu turun dari ranjang dan berlari meninggalkan kamar.


Beno menyapu wajahnya berulang kali, dia mencoba mengatur nafas sebab terkejut mendengar penolakan dari mulut Reni. Beno turun dari ranjang dan menyusul gadis itu ke luar.


Beno tersenyum kecut saat matanya menangkap keberadaan Reni yang tengah duduk di dekat jendela kaca. Mata indahnya dipenuhi air mata, Beno tau Reni tidak suka dengan keadaan ini. Segera Beno menghampirinya dan membungkukkan punggung lalu memeluk gadis itu dari belakang.


"Lepasin aku Beno!" lirih Reni dengan suara seraknya.


"Reni, maafin aku ya. Aku janji gak akan gitu lagi, kamu mau kan maafin aku dan jadi istriku?" bujuk Beno, lalu mengecup kepala Reni dengan sayang.


"Maaf Beno, aku gak bisa. Aku gak pantas untukmu. Kamu layak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." tolak Reni. Dia tau siapa dirinya dan dimana posisinya, mana mungkin gadis sepertinya layak untuk Beno.


"Reni, yang terbaik untukku adalah kamu. Maaf kalau selama ini aku sering usil dan gangguin kamu, itu semua karena aku gemas sama kamu." Beno menyibakkan rambut Reni dan mengecup tengkuk gadis itu.


"Aku sayang sama kamu, aku serius ingin menjadikanmu istriku. Aku gak peduli siapa kamu dan darimana kamu berasal, intinya aku menginginkan kamu. Tolong, jangan tolak aku ya!" pinta Beno penuh keseriusan. Sudah cukup dia mempermainkan Reni selama ini, dia tidak ingin Reni salah paham lagi pada dirinya.


Reni menyapu wajahnya dan melepaskan lingkaran tangan Beno dari pinggangnya, lalu berbalik dan menatap Beno dengan intim. "Beno, aku gak pantas untukmu. Aku gak mau menjadi beban mu, kamu salah memilihku. Kamu tau sendiri kalau aku memiliki dua orang adik, aku gak bisa melepaskan mereka meski sudah menikah sekalipun. Mereka adalah hidupku, aku lebih baik sendiri asalkan mereka-"


"Aku gak peduli, adikmu itu adikku juga. Aku akan menerima kalian dengan tanganku ini, aku juga sudah terlanjur menyayangi mereka." Beno menarik tangan Reni dan memeluknya dengan erat, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan memangku nya di atas sofa.


"Beno, lepasin aku!" Reni mencoba menjauh, tapi Beno menahannya dengan cepat.


Beno meraih ponselnya yang ada di atas meja, kemudian memberikannya pada Reni. "Ayo, hubungi mereka!"


"Tapi Beno-"


"Gak ada tapi tapi, ayo cepat!" desak Beno dengan sebelah tangan yang masih melingkar di pinggang Reni.

__ADS_1


Reni terpaksa mengangguk dan menyalakan ponsel Beno. Beberapa detik kemudian, wajah mereka terpampang jelas di layar ponsel masing-masing.


"Kak Reni, Kakak baik-baik aja kan?" tanya Amit khawatir.


"Kakakmu baik Amit, kamu gak liat Kakakmu sedang duduk di atas pangkuan Kak Beno?" jawab Beno dengan entengnya, lalu memperlihatkan posisi mereka pada Amit.


"Beno, apaan sih? Jangan bikin malu!" sela Reni dengan wajah ketus.


"Gimana Amit? Kami cocok kan?" seloroh Beno tanpa mempedulikan ucapan Reni.


"Cocok, sangat serasi." jawab Amit sembari tersenyum.


"Tuh kan, Amit aja setuju." bisik Beno tepat di telinga Reni.


"Apaan sih?" ketus Reni dengan tatapan horor.


"Amit, Kak Beno izin ya mau menikahi Kakak keras kepala mu ini. Kamu gak keberatan kan?" tanya Beno.


Belum sempat Amit menjawab, Reni sudah merampas ponsel itu dan mematikannya secara sepihak.


"Bikin malu aja kamu nih, kenapa harus memperlihatkan posisi kita padanya?" geram Reni menahan kekesalannya.


"Apa salahnya sayang? Kamu kan calon istriku," jawab Beno dengan gamblang.


"Cukup Beno! Tadi kamu maksa banget bilang aku ini pacarmu, sekarang bilang calon istrimu. Kapan aku bilang mau sama kamu?" bentak Reni dengan nada tinggi.


"Hahaha... Mulutmu emang gak bilang, tapi aku tau hatimu mau. Jangan membohongi perasaanmu sendiri!" jawab Beno dengan entengnya.


"Jangan sok tau!" ketus Reni dengan bibir mengerucut.


"Bukannya sok tau, tapi itulah faktanya. Jika kamu gak mau, mana mungkin kamu mau aku sentuh. Sekarang bersiaplah, aku akan membuktikan kata-kataku!" tegas Beno dengan wajah serius.


"Membuktikan apa?" Reni menautkan alisnya.


"Membuktikan bahwa aku benar-benar serius padamu, kita akan menikah hari ini juga." tegas Beno.

__ADS_1


"Beno, kamu jangan gila!" ketus Reni.


"Iya, aku emang gila. Tergila-gila padamu, paham!" tekan Beno.


"Beno, jangan bercanda terus! Aku-"


"Gak perlu berdebat lagi! Sekarang katakan padaku dengan jelas, kamu mau menikah denganku atau gak?"


"Beno, aku-"


"Jawab aja mau atau gak! Kalau mau, kita akan menikah hari ini. Kalau gak, aku gak akan memaksamu lagi!"


"Beno-"


Beno melepaskan tangannya dari pinggang Reni, kemudian mengangkat Reni dari pangkuannya. "Ya udah, aku gak akan memaksamu lagi. Sekarang bersiaplah, aku akan mengantar mu pulang. Aku janji gak akan mengganggumu lagi."


Beno masuk ke dalam kamar dengan air muka lesu dan segera mengganti pakaiannya. Mungkin memang sudah takdirnya begini, siapa wanita yang mau menikah dengan pria sepertinya.


"Beno," Reni menyusul masuk dan meraih pundak Beno yang tengah duduk di sisi ranjang.


"Gak papa, aku mengerti. Mungkin aku emang gak pantas untukmu, maaf karena udah mengganggu hidupmu selama ini. Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" Beno bangkit dari duduknya tanpa melihat Reni sedikitpun.


"Tunggu Beno!" Reni merentangkan tangannya dan memeluk Beno dari belakang.


"Gak perlu begini, kamu gak salah. Kamu berhak menentukan siapa yang pantas untukmu dan siapa yang gak." Beno melepaskan tangan Reni yang melingkar di pinggangnya dan mulai melanjutkan langkahnya.


"Beno, aku mau. Aku mau jadi istrimu, aku mau menikah denganmu." pekik Reni hingga membuat langkah Beno terhenti dan segera berbalik dengan mata melotot tajam.


"Aku mau Beno, aku juga sayang sama kamu. Tapi kalau kamu gak mau lagi ya udah, antar aja aku pulang!" celoteh Reni dengan bibir mengerucut.


Beno menggertakkan giginya kuat, ingin sekali dia melahap gadis itu hingga tak bersisa. Berani sekali Reni mempermainkan dirinya hingga memancing emosinya seperti ini. Segera Beno mendekat dan menempelkan bibirnya di telinga Reni.


"Sekarang tersenyumlah karena aku masih bisa menahan diri! Tapi setelah ijab nanti, jangan harap aku akan mengampuni mu!" Setelah mengatakan itu, Beno menggigit telinga Reni saking geramnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2