
Usai makan malam, semua orang berpindah ke ruang keluarga. Yuna memangku Elga sementara Reni memangku Edgar, keduanya duduk bersebelahan di atas sofa.
Tidak lama, Elkan duduk di sebelah kanan Yuna dan Beno duduk di sebelah kiri Reni, lain halnya dengan Aditama dan Reynold yang memilih duduk di hadapan mereka berempat.
Malam ini menjadi malam yang begitu membahagiakan bagi Aditama, tak terkira betapa senangnya dia saat melihat anak menantu dan cucunya berkumpul seperti saat ini.
Segala rasa sakit di tubuh Aditama menghilang saat mendengar canda tawa mereka semua, dia rasanya ingin hidup lebih lama lagi sampai memiliki cicit nantinya.
"Rey, bagaimana perkembangan kaki istrimu? Apa kata dokter?" tanya Elkan berbasa-basi.
"Sudah jauh lebih baik, mungkin tidak lama lagi istriku sudah bisa jalan dengan normal." jawab Reynold apa adanya.
"Syukurlah, semoga istrimu cepat sembuh seperti sedia kala." balas Elkan dengan santainya, lalu melingkarkan tangannya di pundak Yuna.
"Oh ya Rey, ini sudah jam sembilan loh. Apa istrimu belum bangun juga? Barangkali dia lapar," sambung Yuna, dia sama sekali tidak keberatan setelah mendengar pertanyaan Elkan tadi. Dia tau Elkan tidak mungkin mengkhianatinya, pertanyaan itu hanya bentuk rasa simpati Elkan saja sebagai adik ipar Reynold.
"Mungkin, kalau begitu aku permisi sebentar. Aku mau mengambilkan makanan dulu untuknya." Reynold meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju meja makan.
Setelah mengambilkan makanan untuk Laura, Reynold langsung membawanya ke atas.
Setibanya di dalam kamar, Reynold menghampiri Laura yang tengah berbaring di atas ranjang lalu meletakkan nampan yang dia bawa di atas nakas.
"Bangunlah, makan dulu!" ucap Reynold dingin, lalu membantu Laura bangkit dari pembaringannya dan menyandarkan punggung Laura pada kepala ranjang.
"Mas..."
"Makan saja dulu, tidak usah banyak bicara!" selang Reynold.
Reynold mengambil piring yang ada di atas nampan dan menatap Laura dengan mata sayu nya.
"Mau makan sendiri atau aku suapi?" tawar Reynold.
"Suapi," lirih Laura.
Reynold mengangguk lemah dan mulai menyendok makanan yang ada di dalam piring. "Buka mulutnya!"
Sesuai permintaan Reynold, Laura pun membuka mulutnya sembari terus menatap wajah suaminya itu.
"Mas..."
__ADS_1
"Makan saja dulu, tidak baik berbicara saat mengunyah makanan!" timpal Reynold, hal itu membuat Laura terdiam seketika.
Suapan demi suapan Reynold sodorkan ke mulut Laura tanpa bicara sepatah katapun, rasanya tidak ada yang perlu dia bahas selain memperlihatkan bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Setelah makanan di piring itu habis, Reynold menyodorkan segelas air putih ke tangan Laura lalu memberikan obat ke tangannya. Setelah itu Reynold membereskan piring kotor dan bangkit dari duduknya.
"Mas mau kemana?" tanya Laura sebelum Reynold sempat mengayunkan kakinya.
"Kembali ke bawah. Aku harus menemani keluargaku, jarang-jarang mereka semua bisa bertamu ke rumah ini." jawab Reynold dingin hingga membuat Laura terdiam membatu.
Setelah mengatakan itu, Reynold langsung berjalan menuju pintu dan meninggalkan Laura yang masih membeku di atas ranjang.
Laura tidak memiliki daya untuk menjawab maupun menyela perkataan Reynold, dia sadar sikapnya kali ini sudah membuat Reynold marah hingga menjadi dingin seperti ini.
Tapi biarlah, Laura tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya perlu menyesuaikan diri.
"Bagaimana Rey? Apa Laura sudah bangun?" tanya Yuna setelah Reynold kembali dan bergabung dengan mereka semua.
"Sudah, dia juga sudah makan dan minum obat. Sekarang tidur lagi," jawab Reynold berbohong, tidak ada yang bisa dia katakan selain itu.
"Baguslah, mudah-mudahan besok pagi kondisinya sudah membaik. Aku ingin sekali bertemu dengannya," balas Yuna dengan sedikit senyum di bibirnya. Hal itu membuat Reynold tersenyum kecut dan menghela nafas berat.
Andai Yuna tau kalau Laura masih menaruh hati pada Elkan, entah apa yang akan terjadi setelah itu. Reynold tidak ingin Elkan dan Yuna berselisih paham hanya karena Laura yang dianggapnya masih mencintai Elkan. Kini Reynold benar-benar dilema memikirkan itu.
Setelah satu jam duduk bersama dan bercengkrama di ruangan itu, Aditama meninggalkan mereka semua terlebih dahulu dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Yuna dan Reni pun menyusul dan masuk ke kamar untuk menidurkan si kembar.
Kini tinggal Elkan, Reynold dan Beno bertiga saja di sana. Reynold mengeluarkan dua botol minuman dan meletakkannya di atas meja. Elkan langsung meraihnya dan membuka botol itu lalu menuangnya ke dalam gelas.
"Bersulang," ucap Elkan sambil tersenyum lebar. Beno dan Reynold mengangkat gelas mereka dan meneguknya bersamaan.
Reynold yang tengah galau nampak kehilangan kendalinya. Dia meneguk minuman itu berulang kali hingga menyisakan botol kosong, lalu mengeluarkan dua botol minuman lagi dan membukanya.
Melihat itu, Elkan mengerutkan keningnya sambil menatap lekat wajah Reynold. "Pelan-pelan Rey! Apa yang terjadi denganmu?"
"Hehehehe... Minum saja Elkan, jangan banyak tanya!" Reynold mulai kehilangan keseimbangan dan menatap Elkan dengan mata sayu nya. Dia terus saja menuang minuman itu ke dalam gelas, lalu meneguknya lagi dan lagi.
"Rey, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau minum sebanyak ini," timpal Beno yang nampak kebingungan sambil menyipitkan mata. Sepertinya ada yang salah dengan Reynold kali ini.
"Aku tidak apa-apa Beno, kalian minum saja! Jangan sungkan, minumannya masih banyak kok!" Mata Reynold memerah mengatakan itu.
__ADS_1
Elkan dan Beno saling melirik satu sama lain, tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Reynold sebenarnya. Setau mereka Reynold bukanlah peminum berat apalagi pemabuk.
Sementara itu Reynold terus saja menuang minuman ke dalam gelas dan meneguknya tanpa henti.
"Glug!"
"Cukup Rey, kau sudah kebanyakan minum. Ini sudah berlebihan,"
Elkan merebut gelas yang ada di tangan Reynold, seketika mata Reynold memerah seperti api yang tengah membara. Mendadak wajah Elkan membuatnya kesal bercampur sedih.
"Apa kau masih mencintai Laura?"
"Deg!"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Reynold itu sontak membuat Elkan terperanjat kaget, begitu juga dengan Beno. Mata keduanya membulat dengan sempurna.
"Kenapa diam saja? Jawab pertanyaan ku!" Reynold bertanya lagi.
Elkan mengusap wajahnya dengan kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Jangan gila Rey! Aku ini suami adikmu, mana mungkin aku mencintai wanita lain?"
"Hehehehe... Kau benar, kau sangat mencintai adikku kan?" Reynold tertawa seakan mengejek. "Sayangnya aku kalah Elkan, istriku tidak mencintaiku. Dia masih mengharapkan mu sampai detik ini," imbuh Reynold dengan mata berkaca.
Tentu saja ucapan Reynold itu membuat Elkan tercengang dengan mulut sedikit menganga.
"Sudahlah Rey, jangan berpikir aneh-aneh. Cinta atau tidak, dia sekarang sudah menjadi istrimu. Kau harus bisa menaklukkan hatinya!" Elkan mencoba meyakinkan Reynold.
"Kau pasti ingat bagaimana susahnya aku mendapatkan cinta Yuna dulu, kalian bahkan sampai memainkan peran di belakangku. Tapi aku tidak menyerah Rey, aku berjuang untuk itu." Elkan menjeda ucapannya.
"Sekarang giliran mu, kau tidak boleh menyerah secepat ini! Aku yakin kau pasti bisa, bersabarlah sejenak!" imbuh Elkan, dia menepuk pundak Reynold untuk memberikan semangat.
"Entahlah, aku tidak yakin." lirih Reynold dengan tatapan sendu.
"Rey, kau tidak boleh lemah. Wanita itu memang terkadang menjengkelkan, sok jual mahal padahal mereka butuh. Kau harus yakin dengan perasaanmu sendiri!" Beno ikut menimpali.
"Yuna, Reni, Laura, mereka semua sama saja, sekarang tergantung dirimu. Kau pikir aku dan Elkan tidak butuh perjuangan untuk menaklukkan hati istri kami? Kau salah Rey, kami juga sama sepertimu. Diantara kita tidak satupun yang menikah didasari cinta, tapi kami yakin dengan pilihan kami. Belajarlah memahami dia terlebih dahulu!" imbuh Beno.
Beno kemudian mendekati Reynold dan berbisik di telinganya. Entah apa yang dia katakan author sendiri tidak tau.
Bersambung...
__ADS_1