
Setelah pelukan mereka terlepas, keduanya duduk bersebelahan di bangku panjang itu. Elkan mengacak rambut Edward seperti seorang anak kecil.
"Sejak kapan kau tau bahwa aku ini adalah kakakmu?" lirik Elkan dengan tatapan mengintimidasi.
"Pasca kecelakaan itu. Awalnya Mama tidak percaya dengan hasil tes DNA itu. Mama meminta dokter mengulanginya lagi, barangkali ada kesalahan tapi ternyata hasilnya tetap sama."
"Awalnya Mama bingung. Tapi setelah mengetahui golongan darahku, Mama baru yakin kalau aku adalah anaknya Papa. Mama tidak tau kalau dia tengah hamil waktu menikah dengan suami keduanya." jelas Edward apa adanya.
"Kalau kamu sudah tau, kenapa tidak pernah mencari ku?" tanya Elkan penasaran.
"Aku pernah mencari kalian sekali, tapi saat itu Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku rasa percuma saja, tidak akan ada yang percaya padaku. Apalagi semua ini kesalahan Mama, aku tidak berani menampakkan mukaku di hadapan kakek. Kakek sangat membenci Mama, kepergian Papa juga karena ulahnya. Sebab itulah aku memilih tinggal bersama nenek di Surabaya." terang Edward dengan jujurnya.
"Apa pekerjaanmu di sana?" Elkan menyipitkan matanya, dia semakin penasaran dengan kehidupan yang dijalani adiknya itu.
"Buka bisnis kecil-kecilan saja, lumayan buat biaya aku sama nenek." jawab Edward dengan santainya.
Elkan lagi-lagi memukul kepala Edward. "Anak bodoh! Jika kau datang lebih awal padaku, aku tidak akan pernah membiarkanmu kesusahan sendirian. Kau tau bahwa kakakmu ini mewarisi kekayaan keluarga Bramasta."
"Siapa bilang hidupku susah? Uangku cukup kok, aku tidak pernah kekurangan." jawab Edward dengan entengnya.
Edward tidak pernah tergiur dengan harta meski sebenarnya dia juga berhak atas warisan kekayaan keluarga Bramasta. Baginya melihat sang kakak bahagia saja itu sudah lebih dari cukup. Apalagi dia juga tau bahwa warisan itu tidak hanya jatuh ke tangan Elkan seorang tapi ada Beno juga yang mendapatkan haknya sebagai anak angkat.
Meski selama ini Edward mengasingkan diri di kota lain tapi dia selalu memantau kehidupan Elkan dari kejauhan. Dia juga tau siapa-siapa saja yang tinggal di rumah itu dan dia juga tau tentang kakak ipar dan kedua keponakannya.
Hal itulah yang membuat Edward semakin menjauhkan diri meski Elena sudah sering kali menyuruhnya kembali untuk merebut haknya sebagai pewaris kedua harta kekayaan keluarga Bramasta.
Di tengah percakapan serius itu, keduanya tersentak saat mendengar suara pintu yang tengah ditarik. Dua orang dokter keluar dari ruangan itu, keduanya langsung berdiri dan menghampiri kedua dokter itu.
"Malam Dok, bagaimana keadaan Mama saya?" Edward langsung bertanya karena mengkhawatirkan keadaan sang mama.
"Pasien mengalami komplikasi. Selain asma, beliau juga menderita sinusitis dan pembekuan darah di bagian jantung. Sepertinya jalan terbaik adalah mengambil tindakan operasi, itupun kalau pihak keluarga mengizinkan." jelas salah satu dokter itu.
__ADS_1
"Lakukan saja yang terbaik Dok, yang penting Mama saya bisa disembuhkan!" ucap Edward penuh keyakinan.
"Baiklah, tapi pasien harus di opname terlebih dahulu. Dalam keadaan seperti ini, akan sangat berbahaya jika dipaksakan. Tunggu satu dua hari ini dulu, kalau memungkinkan operasi akan segera dilakukan." terang dokter itu.
"Terserah dokter saja, yang penting lakukan yang terbaik untuk Mama saya. Berapa pun biasanya tidak masalah bagi saya," tegas Edward.
"Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Sekarang biarkan pasien beristirahat dengan tenang, dia sepertinya terlalu stres hingga drop seperti ini."
Setelah mengatakan itu, kedua dokter laki-laki itupun mohon pamit dan meninggalkan tempat itu.
Edward kembali duduk dan menghela nafas berat sambil meremas rambutnya.
Elkan yang melihat itu ikut duduk dan menepuk pundak Edward. "Kau tidak perlu khawatir akan hal ini, aku akan membantumu!"
"Tidak usah, aku masih bisa menanganinya. Terima kasih untuk perhatiannya." Edward tidak ingin merepotkan Elkan. Bagaimanapun Elena adalah tanggung jawabnya.
Elkan mengerutkan keningnya. "Apa kau masih menganggap ku sebagai orang asing?"
"Kau benar, dia memang sudah banyak melakukan kesalahan padaku. Mulai dari meninggalkanku, menghina istri dan keluargaku, bahkan menghancurkan perusahaan ku. Aku benci padanya, sangat benci. Tapi dibalik itu semua, dia tetaplah ibuku. Aku tidak mungkin lepas tangan begitu saja."
Elkan menurunkan sedikit egonya demi adik yang baru saja dia jumpai itu. Elkan tidak ingin membuat Edward salah paham dan menjauh lagi darinya. Elkan tau Edward tidak bersalah, dia hanyalah korban dari keegoisan seorang ibu yang terlalu memikirkan dunianya.
"Sudah larut, Kak Elkan pulang saja! Biar aku yang di sini menemani beliau!" Edward tidak ingin merepotkan Elkan lebih lama lagi. Dia tau ada istri dan anak Elkan yang menunggu di rumah.
"Tapi-"
"Kak, tolonglah! Kakak juga harus memikirkan istri dan anak-anak Kakak. Mereka pasti mencemaskan keadaan Kakak," potong Edward.
"Hmm... Kau benar, istri dan kedua anakku sekarang tengah berada di hotel. Mereka pasti kesepian," Elkan manggut-manggut mengindahkan ucapan Edward. "Ya sudah, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku!"
Elkan merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah dompet lalu menarik kartu nama yang terselip di dalamnya dan menyodorkannya ke tangan Edward. Setelah itu dia merangkul pundak Edward dan menepuk-nepuk nya pelan. "Aku pulang dulu, besok pagi aku akan kemari lagi bersama kakak iparmu."
__ADS_1
Setelah Elkan menghilang dari pandangannya, Edward menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kepalanya menengadah menghadap langit-langit. Sekilas hembusan nafasnya terdengar berantakan.
Edward sama sekali tidak menyangka bahwa Elkan akan menerimanya secepat ini. Padahal begitu banyak luka yang sudah ditorehkan Elena terhadap putra sulungnya itu. Terbuat dari apa hati kakaknya itu?
Kemudian Edward bangkit dari duduknya dan masuk ke ruangan untuk melihat keadaan sang mama yang masih terbaring lemah di atas brankar dengan bantuan beberapa alat.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Elkan masuk ke dalam gerbang hotel. Elkan memarkirkannya sembarangan dan turun dari mobil itu. Seorang satpam langsung berlari dan menangkap kunci yang dilemparkan Elkan padanya.
Sesampainya di lobby, Elkan memberikan jas yang berlumuran darah itu pada seorang pegawai dan memintanya me laundry jas itu lalu melanjutkan langkahnya menuju lift.
Sesampainya di lantai dua puluh lima, Elkan mengayunkan kakinya menuju pintu kamar. Seketika langkahnya terhenti saat menangkap keberadaan Beno yang masih duduk di balkon depan. Elkan urung menekan bel dan memilih menghampiri Beno.
"Tumben belum tidur?" Elkan menekuk kakinya di samping Beno dan meraih botol red wine yang ada di atas meja. Setelah menuangnya ke dalam gelas, Elkan meneguknya hingga tandas.
"Pusing," gumam Beno dengan wajah kusutnya.
"Pusing kenapa? Apa istrimu datang bulan juga?" tebak Elkan.
"Entahlah, sejak pulang dari kantor siang tadi dia mendadak aneh. Masa' katanya wajahku terlihat membosankan? Apa selama ini dia tidak pernah mencintaiku?" lirih Beno.
"Jangan berprasangka buruk begitu! Mungkin saja dia sedang ada masalah," ucap Elkan.
"Masalah apa? Setahuku dia baik-baik saja, apa aku terlalu berharap padanya? Bagaimana kalau dia minta cerai, apa yang harus aku lakukan?" terka Beno berandai-andai.
"Dasar bodoh! Mana mungkin dia seperti itu, aku yakin ini hanya kesalahpahaman saja. Masuklah ke kamarmu, ajak dia bicara baik-baik! Jika masih sulit, bawa dia melayang bersamamu! Setelah itu semuanya akan membaik." jelas Elkan.
"Apa kau yakin?" Beno mengerutkan keningnya.
"Coba saja kalau kau tidak percaya, itu senjata paling ampuh jika aku sedang bertengkar dengan Yuna. Berikan servis yang memuaskan, tunjukkan padanya kalau kau adalah pemain hebat!"
Setelah mengatakan itu, Elkan menarik tangan Beno dan membawanya menuju pintu kamar mereka yang bersebelahan dan menekan bel secara bersamaan.
__ADS_1
Bersambung...