
Maurin dan Lastri tampak bahagia membawa seorang bayi keluar dari bandara Husein Sastranegara. Bayi laki-laki yang memiliki hidung mancung, tampak pulas dan nyaman dalam gendongan neneknya. Mereka tidak memberi tahu kakek bayi itu, karena mereka memang berniat untuk memberikan kejutan. Setelah mobil yang mereka pesan melalui aplikasi online menjemput, langsung diminta untuk mengantarkan mereka ke rumah.
"Kok rumah sepi ya ma." tanya Maurin pada Lastri.
"Mungkin papamu belum pulang, kita pencet bel masuk saja. Semoga bibi ada di dalam." sahut Lastri.
"Pak, minta tolong barang-barangnya ditaruh di atas kursi ya."
"Baik Ibu." sahut Driver yang kemudian menurunkan barang bawaan mereka.
Tidak berapa lama, pintu dibuka dari dalam.
"Nyonya, Nona...., maaf ya. Bibi lagi bersih-bersih di dapur. Jadi pintunya Bibi kunci, ya Allah ini bayi siapa Nyonya." terlihat Bibi Siti yang sudah lama menjadi ART di keluarga ini, tampak bingung melihat kedatangan Nyonya dan Nona mereka.
"Sudah, kamu angkat saja barang-barangnya dulu. Kami mau masuk dulu, untuk kamar Maurin bersih atau kotor Bi." tanya Lastri yang langsung masuk ke dalam rumah.
"Bersih Nyonya, karena Tuan berpesan untuk setiap hari membersihkannya. Kebetulan tadi pagi sprei dan perlengkapan juga baru bibi ganti."
"Baik..., Maurin kita tidurkan dulu Axel di dalam kamar. Nanti kalau papamu sudah datang, nanti sore kita ke rumah keluarga Cokro." ucap Lastri.
"Ya ma, Bibi nanti buatkan Maurin teh manis panas ya Bi." kata Maurin sambil melangkah menuju kamarnya.
"Baik Non."
Lastri masuk ke kamar suaminya, dia tersenyum karena tidak ada yang berubah dari sebelum dia tinggalkan ke Singapura. Selama di Singapura, Lastri memang tidak pernah sekalipun pulang ke rumah. Tetapi suaminya setiap hari Sabtu selalu mengunjungi mereka di Singapura. Kemudian setiap Senin pagi, akan kembali ke Indonesia. Dia duduk di atas ranjang, kemudian mengambil ponselnya.
"Nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan." Lastri berkerenyit keningnya, karena mencoba melakukan panggilan pada temannya Rengganis, mendapatkan jawaban seperti itu.
Dia mencoba sekali lagi, dan mendapatkan jawaban yang sama. Kemudian dia menghubungi teman arisan yang lain, siapa tahu memiliki kabar tentang Rengganis.
"Hai Jeng Lastri, waduh delapan bulan tidak ada kabarnya. Baru sekarang menghubungi aku Jeng." terdengar perkataan Rina dari ujung telepon.
"Iya Jeng, kemarin aku dan anakku sementara tinggal di Singapura. Ini barusan sampai di Bandung lagi." sahut Lastri.
__ADS_1
"Bagaimana Jeng ada yang bisa aku bantu, tahu kalau ada di Singapura aku mampir Jeng." kata Rina basa-basi.
"Iya Jeng, ini aku mau nanya tentang Jeng Rengganis. Dari tadi aku mencoba hubungi dia, kok ada jawaban berada di luar jangkauan ya."
"Owalah, iya Jeng Lastri. Jeng Rengganis sudah satu bulan ini memang pamitan dengan kami. Dia tidak join lagi arisan kita yang dulu, dan nomornya sudah non aktif."
"Apa tidak ada teman kita satupun yang memiliki nomor ponselnya sekarang."
"Maaf Jeng tidak ada. Karena kabar terakhir, aku dengar Jeng Rengganis sudah resmi mendapatkan akta cerai dari suaminya. Dia sekarang tinggal di luar kota Jeng." kata Rina yang mengejutkan Lastri.
"Ya sudahlah Jeng, nanti aku tak coba cari nomor ponsel Jeng Rengganis. Terima kasih ya Jeng informasinya. Selamat siang." tanpa menunggu temannya menjawab, Lastri langsung menutup panggilannya.
Dia langsung terduduk di atas ranjang, dia mengalami kebingungan, bagaimana akan menyampaikan kabar kelahiran cucunya pada keluarga papanya. Akhirnya dia keluar kamar untuk memberi tahu putrinya.
**************************
"Pa, papa dengar kabar tentang keluarga Jeng Rengganis pa? Tadi mama mencoba menghubungi nomor ponselnya, tetapi sepertinya dia ganti nomor ponsel." Lastri menanyakan kabar Rengganis pada suaminya.
Saat ini mereka sedang berbicara berdua di dalam kamar. Suaminya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya.
"Sudah ma, kalau memang tanpa Bu Rengganis, mama dan Maurin tidak bisa menuntut pengakuan dari keluarga Pak Cokro, ya sudah. Titik. Tidak perlu kita menuntut apa-apa ma." lanjutnya lagi.
"Tapi pa, apa papa tidak kasihan dengan status anak kita Maurin pa. Dia punya anak, tapi tidak memiliki suami. Mama tidak ikhlas pa, status itu dimiliki oleh putriku."
"Lha terus kita bisa apa. Apalagi kejadian hamilnya Maurin, juga bukan satu-satunya salah dari pihak laki-laki. Sang perempuan yang tidak bisa menjaga diri."
"Kenapa sih, dari dulu sikap papa seperti ini. Maurin ini putri kita pa, kita harus melindungi harga dirinya di masyarakat."
"Kalau mama malu dengan keadaan putri kita, sudah mama dan Maurin pindah ke luar negeri. Mama mau di negara mana, nanti papa yang uruskan ke kantor imigrasi."
"Kenapa sih dari dulu papa tidak pernah mendukung kami." teriak Lastri.
Papa Maurin hanya terdiam melihat istrinya sudah mulai tinggi. Kemudian dia keluar dari dalam kamar, malas menanggapi amarah dari istrinya.
__ADS_1
Di ruang keluarga dia melihat putrinya sedang menggendong Axel yang sedang menangis. Dia melangkah menghampiri Maurin, kemudian meminta cucunya untuk dia gendong.
"Sini biar papa saja yang gendong Maurin, kamu istirahat dulu."
"Iya pa, tidak tahu kenapa tiba-tiba menangis saja."
Maurin memberikan Axel pada papanya, kemudian dia duduk memperhatikan cara papa menggendong Axel.
"Mama sedang tidur ya pa, kok dari tadi belum Keluar kamar." tanya Maurin.
Tapi papanya tidak menjawab, dia menepuk-nepuk Axel, dan tidak lama anaknya diam. Kemudian papanya duduk di kursi memangku Axel. Melihat Axel diam dan anteng bersama papanya, Maurin berpikiran sendiri.
"Apa Axel kangen sama papanya ya." batin Maurin.
Kemudian Maurin ijin sama papanya untuk mencari Lastri, dan dia berjalan menuju kamar papanya. Begitu dia mendorong pintu, dia melihat mamanya sedang melakukan panggilan.
"Lagi menelpon siapa ma." tanyanya.
Melihat kedatangan putrinya, Lastri menghentikan telponnya.
"Mama lagi mencari informasi nomor telepon Tante Rengganis. Ternyata dia ganti nomor ponsel, dan memutuskan silaturahmi dengan teman-teman mama yang lain."
"Kan kita tinggal datang ke rumah keluarga Cokrodirjan ma, nanti disana kita juga akan ketemu sama Tante "
"Tante sudah cerai dengan Om Atmaja dari bulan lalu, itu kabar yang mama dapat dari teman-teman arisan. Jadi langkah kita untuk menuntut Devan, agar dia mau mengakui Axel sebagai putranya agak terhambat."
Mendengar perkataan mamanya, Maurin tampak lemas.
"Kok jadi begini ma, kalau begitu secepatnya kita harus segera ke tempat kakek Cokro ma."
"Iya, besok pagi kita kesana berdua. Mama yakin kalau papamu tidak akan mau mengantar kita. Nanti mama minta si Ujang untuk mengantarkan kita kesana."
"Iya ma." kata Maurin sambil memeluk mamanya erat.
__ADS_1
*******************"