Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Perubahan dalam Hidup


__ADS_3

"Axel.., kamu sudah besar nak. Saat ini usiamu sudah hampir 16 tahun, dan tahun depan kamu 17 tahun. Mungkin akan ada banyak perubahan dalam hidupmu yang harus kamu sesuaikan." Aleta berdua mengajak Axel bicara, karena anak itu seperti memendam masalah. Zidan dan Arend membiarkan Axel berbicara dengan Mommy nya, mereka segera masuk kamar dan meninggalkan ruang belajar.


"Axel ingin seperti ini terus Momm.., Axel tidak mau berpisah dengan Mommy Aleta dan Daddy Devan. Siapapun tidak akan ada yang bisa menghapus rasa sayang di hati Axel."


Mendengar perkataan Axel, Aleta tersenyum kemudian mendekati anak itu.


"Kamu ada masalah nak? Bolehkan Mommy tahu, masalah apa yang sedang kamu hadapi sayang? Tapi.., jika kamu keberatan bercerita untuk saat ini, tidak apa-apa. Yang penting, Mommy harap.. kamu dapat mengelola dan menyelesaikan setiap masalahmu dengan baik." tanya Aleta sambil mengelus rambut Axel.


"Momm.., aunty Maurin tadi datang ke sekolah dan menemui Axel." ucap Axel lirih.


"Tapi Axel tidak mau menemuinya. Aunty terus berusaha mengejar Axel, tapi maafkan Axel Momm! Axel tidak bisa berbicara dengan orang itu." lanjut Axel.


Aleta kaget dan terdiam, meskipun suaminya Devan sudah memberi tahu jika cepat atau lambat, Maurin dan Lastri akan mencari Axel, tetapi Aleta belum siap. Tetapi saat ini, menjadi tugasnya untuk menenangkan Axel.


"Apakah aunty Maurin mengganggumu nak? Karena Mommy jujur khawatir jika pada saatnya nanti, Axel akan meninggalkan Mommy dan kembali bersama dengan Aunty Maurin. Tetapi, Momm tidak memiliki hak atas kamu nak,.."


"Mungkin Mama Lastri dan aunty Maurin masih berpikir jika Axel masih seorang anak usia di bawah lima tahun. Axel bisa berpikir Momm, dan dengan keahlian Axel.. menjadi mudah untuk mencari data dan informasi via internet. Dimana Axel lahir, di rumah sakit mana, dan bahkan siapa yang melahirkan Axel, dengan mudah bisa diketahui hanya dengan jentikan jari. Serapi apapun mereka menutupi dari Axel, tapi semua sudah Axel ketahui dan dapatkan."


"Kamu sudah tahu siapa kamu sebenarnya Axel?" tanya Aleta penuh kekhawatiran.


"Sudah Momm.., Axel lahir di Gleneagles Hospital, salah satu rumah sakit terbaik di Singapura. Dan aunty Maurin yang melahirkan, tetapi Oma Lastri yang selama ini mengaku sebagai mama Axel. Sampai mereka meninggalkan Axel dengan opa, apakah mereka sudah mengakui siapa sebenarnya mereka bagi Axel?" air mata mengalir di pipi Axel. Dengan lembut, Aleta mengambil tissue kemudian menghapus air mata tersebut.


"Bahkan tadi saat aunty Maurin menemui Axel di sekolah, dia masih mengakui dirinya sebagai Aunty.., bukan mengakui sebagai mama Axel. Untuk apa Momm.., wanita itu datang lagi dalam hidup Axel?"


"Jangan menangis sayang.., kamu laki-laki. Seorang laki-laki harus kuat, tidak boleh dengan gampang mengalirkan air mata! Hargai air matamu, jika harus mengeluarkan, keluarkan pada saat yang tepat!"

__ADS_1


"Meskipun kamu berada di rumah ini, karena wasiat dari Opamu, tetapi kasih sayang Mommy, Daddy, dan semua anggota keluarga disini tulus Axel. Dan saat usiamu sudah 17 tahun, hak untuk mengatur dirimu terletak pada dirimu sendiri. Kamu bebas untuk memilih, dengan siapa kamu akan tinggal."


"Sampai kapanpun, Axel akan memilih tetap berada di keluarga ini Momm. Axel tidak mau, orang-orang yang telah membuang Axel, mereka kembali untuk membawa Axel karena mereka memiliki suatu kepentingan."


Aleta memeluk Axel dengan penuh ketulusan.


"Sekarang istirahatlah dulu! Nanti jika Daddy pulang, Mommy akan menceritakan semua padanya. Dan mulai besok kalian bertiga jangan protes, jika nanti Daddy memerintahkan beberapa pengawal untuk mendampingi kalian bertiga kemanapun, itu semua demi keamanan kalian. Sekarang Axel langsung ke kamar ya, istirahat!"


"Yess Momm.., terima kasih Mommy Aleta."


 


 


*********************


 


"Ada apa Maurin, apa yang membuatmu mengamuk seperti itu?"


"Maurin kesal ma, tadi Maurin menemui Axel di sekolahnya. Tetapi kurang ajar banget anak itu, Maurin yakin jika Aleta dan Devan sudah meracuni pikiran anak itu. Masak Maurin datangi dan panggil, menjawab saja tidak mau. Malah langsung masuk ke mobil dan menguncinya dari dalam."


"Apa mungkin Axel lupa sama kamu?" Lastri kemudian duduk di kursi, dan Maurin mengikuti mamanya.


"Tidak tahu juga Ma, tapi sepertinya tidak. Jika dia lupa, Maurin yakin sekedar menyapapun pasti akan dilakukan Axel."

__ADS_1


"Coba besok setelah dari perusahaan papamu, kita datangi sama-sama anak itu. Masa sama mama, dia juga tidak mau menyapa."


"Orang suruhan mama sudah melapor? Siapa sekarang yang mengelola perusahaan papa?"


"Sudah.., ternyata setelah mama cerai dengan papamu, papa memiliki dua anak asuh. Namanya Rico dan Ridwan, dan perusahaan papa sekarang mereka berdua yang menjalankan. Tetapi ada satu perusahaan yang ditunjuk papamu sebagai eksekutor akhir setiap keputusan strategis yang diputuskan dua anak itu. Nama perusahaan itu, orang-orang suruhan mama belum berhasil mendapatkannya."


"Kemudian juga, sepertinya Rico dan Ridwan hanya menjalankan operasional perusahaan sampai Axel berusia 17 tahun. Jadi tetap ahli waris satu-satunya almarhum papamu adalah Axel." lanjut Lastri.


"Jika demikian ma..., berarti Axel harus segera kita ambil kembali. Karena tidak lama lagi, usia anak itu sudah 17 tahun. Bisa-bisa perusahaan papa akan jatuh ke tangan Devan dan keluarganya, jika Axel masih berada di keluarga itu. Kita harus bergerak cepat!"


"Mama setuju Maurin. Besok gimana, kita bagi tugas atau bersama-sama kita urus sekalian dua-duanya? Mama ke sekolah Axel, kemudian kamu ke perusahaan papamu! Mama yakin, anak buah papamu pasti masih mengingatmu Maurin, dan akan menguatkan kamu sebagai ahli waris perusahaan."


"Biar cepat selesai semua urusan, mungkin bagi tugas saja ma. Besok mobil Maurin bawa ke perusahaan, mama naik mobil online ya ke sekolah Axel. Tadi Maurin ke sekolah jam 13.30.., kebetulan Axel pas duduk di student lounge seperti sedang menunggu seseorang. Mungkin menunggu putra Devan keluar."


"Yah.. mama ngikut saja. Sudah sekarang kamu mandi dulu.., kemudian kita makan bersama. tadi Bibi sudah memasakkan kita."


"Baik ma.., tunggu Maurin sebentar. Karena Maurin mau menghubungi Steven dulu, sudah dari tadi siang menelpon terus, dan kirim pesan kapan kita segera kembali."


"Jadi perempuan itu yang sabar, jangan grusa-grusu! Bilang baik-baik sama suamimu, jika di Indonesia kamu masih banyak urusan yang harus dibereskan. Tidak bisa sehari atau dua hari langsung selesai."


"Ya Ma.., makanya Maurin mau menelponnya. Maurin ke kamar dulu."


Lastri diam, kemudian berdiri dan menunggu Maurin di meja makan. Pandangannya kosong, mengingat kembali mantan suaminya yang saat ini sudah tiada. Karena keegoisannya, dia ditinggalkan suami dan cucunya dan memilih menemani putrinya tinggal di Singapura.


 

__ADS_1


**************************


__ADS_2