
"Bagaimana Maurin, sudah ketemu sama Devan," tanya Rengganis. Saat ini Rengganis dan Maurin sedang menghabiskan waktu jalan-jalan di Cihampelas walk. Setelah kelelahan mengunjungi outlet branded product, mereka nongkrong di **ger Coffee.
"Sudah Tante.., kemarin lusa pas Maurin jalan ke Tr*** Stu*** Mall, kebetulan lihat mas Devan sama istrinya." jawab Maurin.
"Gimana reaksinya, kamu lihat kan tidak foto-foto gadis kampung itu dengan laki-laki asal."
"Sepertinya Maurin menyerah saja Tant, terkadang malu juga Maurin. Mas Devan kalau bicara tidak lihat tempat, seperti Maurin tidak ada harga dirinya." sahut Maurin kesal.
"Lha memang Devan itu kan dari dulu begitu anaknya. Sejak kepergian Helena ke luar negeri, dia menjadi tertutup dan antipati dengan perempuan manapun." kata Rengganis.
"Seharusnya dengan foto-foto istrinya yang sedang kencan berdua dengan laki-laki lain, suami manapun pasti akan panas. Tapi ini mas Devan malahan menganggapnya biasa saja." sungut Maurin.
"Yang bikin Maurin kesal, malah di depan umum, mas Devan mengusir dan meninggalkan Maurin sendiri." lanjut Maurin.
"Sudahlah nanti kita pikirkan cara lain lagi untuk menyakinkan Devan." kata Rengganis.
Melihat raut wajah Maurin yang masih tampak kesal, Rengganis mencoba menghiburnya.
"Kamu hanya butuh liburan Maurin, butuh refreshing. Kapan-kapan temani Tante liburan ke Maladewa ya. Disana kita bisa jalan-jalan di pantai untuk melepas penat "
"Benar Tante, kapan kita berangkatnya. Maurin mau banget," sahut Maurin bahagia. Rengganis memang sangat royal dalam memanjakan Maurin.
"Iya nanti kita atur. Sekarang kita makan dulu."
Mereka menikmati steak salmon dan lemon tea tanpa banyak bicara. Tiba-tiba Rengganis teringat sesuatu.
"Maurin, kamu mau berkorban sedikit tidak, Tante yakin jika ini terjadi, Devan tidak akan berani lepas dari tanggung jawab." kata Rengganis serius.
"Apa Tante yang harus Maurin korbankan. Selamanya semua untuk mas Devan, Maurin bersedia melakukannya tant." kata Maurin dengan mantap.
"Sini, mendekatlah ke Tante."
Maurin mendekatkan badannya ke Rengganis, kemudian Rengganis membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Bagaimana, apakah kamu bersedia. Kalau ok, nanti Tante yang akan mengaturnya." kata Rengganis.
"Ya Tante, Maurin bersedia. Tapi kalau Aleta ikut bagaimana."
__ADS_1
"Ya pasti, anak kampung itu pasti ikut. Karena sekarang ini, Devan sendiri yang sulit meninggalkan Aleta."
"Tapi Tante yakin dengan rencana Tante. Anak kampung itu akan pergi dengan sendirinya, jika melihat suaminya sendiri dengan perempuan lain." kata Rengganis yakin dengan keberhasilan rencananya.
******
Di lantai tujuh Casablanca Building, Devan, Rolland, Jenny sedang berkumpul mendiskusikan rencana family gathering keluarga Cokro.
"Rolland..., apa kamu ada ide untuk acara family gathering keluarga kita. Biar nanti Jenny yang akan membantu mengkondisikannya." tanya Devan pada Rolland tentang rencana family gathering.
"Iya Tuan, Jenny siap membantu." sahut Jenny. Dia memang sekretaris yang sangat bisa untuk diandalkan.
"Jenn..., mataku agak sakit kalau lihat pakaianmu. Blazernya dipakai dulu, kamu ga takut masuk angin apa." kata Rolland mengomentari pakaian yang dikenakan Jenny.
Hari ini Jenny mengenakan inner pas body tanpa lengan dari bahan rajut. Inner itu memiliki model leher round neck warna pink, dan blazer. Tapi blazer nya disampirkan di kursi kerjanya. Dia terbiasa hanya menggunakan blazer sebagai accesories. Dengan muka merah, Jenny mengambil blazer kemudian memakainya.
"Kenapa tadi kamu tidak sekalian pakai kaca mata hitam saja kalau silau dengan pakaian Jenny." sahut Devan.
"Maaf Tuan Rolland, Jenny agak risih sebenarnya pakai blazer, ga nyaman, berat." kata Jenny.
"Kalau risih, ya ga usah pakai baju rangkap-rangkap. Pakai baju yang benar, tertutup dadanya, biar mata kita jadi adem lihatnya." semprot Rolland.
"Rolland, back to Topic. Kenapa malah membahas Jenny." seru Devan.
Dia sendiri tidak masalah dengan pakaian yang dikenakan Jenny. Karena seperti yang dikatakan Rolland pada Jenny, hanya tubuh Aleta yang bisa mengeluarkan hormon testosteron dari dirinya.
Rolland kemudian mengutarakan gagasannya.
"Usulku kak, acara family gathering diadakan di pulau Bali. Pertimbangannya antara lain yang pertama adalah sekalian kita refreshing untuk re charge energi baru."
"Kedua, semua orang bisa fokus untuk acara, tanpa terganggu urusan kerjaan atau apapun. Ingat waktu kita adakan acara di Bogor, banyak yang pulang malam hari karena merasa dekat. Belum lagi banyak teman yang mengunjunginya pada saat acara."
"Yang ketiga, he..he..he... aku bisa lihat sumur di pantai-pantai Bali." katanya cengengesan.
"Sumur? Maksudnya apa Tuan Rolland," tanya Jenny bingung.
Sedangkan Devan terlihat hanya senyum-senyum mendengar kekonyolan adiknya.
__ADS_1
"Makanya banyak baca bahasa gaul, jangan hanya bahasa tubuh. Sumur itu singkatan dari Susu Murni, kan disana banyak turis-turis asing berjemur di pantai top less. Ha .ha .ha .," kata Rolland sambil tertawa lebar.
"Tuan Rolland mesum," sahut Jenny kesal dengan muka merah.
"Benar juga idemu. Jenny coba kalau ada masukan." Devan bertanya pada sekretarisnya.
"Meskipun ada unsur mesumnya, tapi ide yang diutarakan Tuan Rolland bagus Tuan." sahut Jenny.
"Mungkin ada beberapa alternatif lokasi acara. Kalau di Uluwatu, bagus bisa melihat view pantai dari atas tebing. Tapi agak panas."
"Kalau mau sejuk dengan dominasi warna hijau segar bisa ambil lokasi di Ubud Tuan."
"Atau kalau mau pegunungan, bisa cari villa di sekitar Bedugul." kata Jenny.
"Kamu pingin dimana Rolland." tanya Devan.
"Ubud saja kak, aku pingin jalan-jalan di pematang sawah, dan melihat terasering dalam jarak dekat. Sistem irigasi subak yang terkenal juga masih diterapkan di desa itu sampai sekarang" jawab Rolland.
"Baiklah Jenny, kamu atur semuanya. Beberapa orang Carikan tiket penerbangan komersial."
"Sedangkan aku dan istriku pakai jet pribadi. Aku tidak mau istriku kecapaian menunggu di bandara."
"Lha Rolland kak, apa gak sekalian bareng kalian. Rolland bisa ajak ngobrol dan menghibur kakak ipar." sahut Rolland.
"Kalau kamu tidak mau gabung ikut pesawat komersial, kamu bisa berenang sampai sana." kata Devan sambil berjalan keluar meninggalkan ruangan.
"Hadeh...ini namanya habis manis sepah dibuang," gerutu Rolland.
Jenny tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Kenapa ketawa, ada yang lucu," kata Rolland sewot pada Jenny.
"Ga ada yang lucu Tuan, cuman geli lihat ada cicak di dinding yang hari ini sedang apes." kata Jenny.
"Dasar perempuan penggoda iman," kata Rolland pada Jenny, kemudian melangkah keluar mengikuti kakaknya.
"Ha..ha..ha.. makasih untuk nama baruku Tuan. Aku pastikan Tuan Rolland yang akan tergoda pada Jenny." seru Jenny pada Rolland.
__ADS_1
Tapi Rolland tidak menggubris, dia terus berjalan meninggalkannya ruangan.
******