
Setelah makan malam, Aleta masih malas-malasan di atas ranjang. Berkali-kali bahkan Aleta terlihat menguap. Devan tidak tega meninggalkan istrinya di kamar sendirian.
"Bagaimana sayang, kalau kamu capai, kamu istirahat saja. Tidak perlu memaksakan diri untuk bergabung. Toh, dulu kamu juga sudah berkenalan dengan mereka pada waktu acara di tempat kakek." kata Devan menyarankan pada istrinya.
"Tidak boleh begitu mas, jauh-jauh datang ke tempat ini, masak Aleta cuman pindah tidur."
"Ya sudah, cuci muka dulu sebentar biar segar. Kita setor muka sebentar, nanti kalau disana masih mengantuk, nanti mas antar ke kamar lagi untuk istirahat."
Aleta menganggukkan kepala, kemudian dengan lesu menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Kemudian membubuhkan bedak bayi dan mengoleskan lipgloss.
"Ayuk, tidak perlu pakai make up juga ga pa pa." kata Devan sambil menyampaikan pashmina di pundak Aleta.
Kemudian Devan merangkul Aleta dan membawanya ke lokasi diadakannya family gathering.
Acara family gathering session malam diadakan secara outdoor party di pinggir kolam renang **jar House villa. Lampu warna-warni untuk pencahayaan dan sekaligus mempercantik suasana malam hari.
"Atmaja...,. untuk apa istrimu membawa gadis itu ke acara keluarga kita. Apa Rengganis memang sudah tidak bisa diberi tahu." tanya Cokro pada Atmaja.
"Tidak apa-apa pa, dari pada Rengganis tidak mau datang kesini. Atma juga sudah menugaskan Puji untuk mengawasi gerak-gerik mereka." jawab Atmaja.
"Kamu terlalu memanjakan Rengganis, sekali dia mengkhianatimu, papa sudah tidak bisa lagi menganggapnya seperti tidak terjadi apa-apa." ucap Cokro.
Atmaja diam tidak menjawab perkataan Cokro, sejak Rengganis istrinya ketahuan selingkuh beberapa tahun lalu, Cokro merasa anti pati dengan menantunya itu. Atmaja kemudian meninggalkan Cokro dan ke sisi kolam untuk mencari keberadaan Puji.
"Puji..., bagaimanapun." tanya Atmaja.
"Iya Tuan, memang seperti ada yang mencurigakan dari gerak gerik mbak Maurin, seperti ada yang sedang dia rencanakan." kata Puji melaporkan hasil pengamatannya.
"Awasi terus, jika terjadi sesuatu yang mencurigakan, segera cari saya."
"Ya, tuan." kata Puji.
*****
"Aduh .. yang pengantin baru, kemana-mana tidak mau pisah dengan suaminya." kata Rengganis menyapa Aleta dan Devan.
"Iya ma, Aleta mengantuk pingin cepat tidur." jawab Aleta.
"Lho lho, pamali tidur sore-sore. Nanti Devannya diambil orang kalau ditinggal tidur."
Aleta hanya tersenyum malu, tidak menjawab perkataan mama mertuanya.
"Devan sama Aleta kesana dulu ya ma, pingin cari kopi biar Aleta bisa menahan kantuknya." kata Devan sambil menggandeng Aleta pergi.
Rengganis kemudian memberi kode pada Maurin. Di dekat tempat minuman, Maurin sudah berjaga dan memberi kedipan mata pada waiters yang bertugas. Semua interaksi mereka, tanpa mereka tahu diamati dengan jelas oleh Puji.
Waiters terlihat sedang meramu dua cangkir kopi, dan satu cangkir teh. Sambil menengok kanan kiri, dan merasa semua fokus pada aktivitas masing-masing, waiters memasukkan sebuah pil pada cangkir yang sudah diseduhnya. Setelah memastikan pil yang dimasukkan menyatu dengan gula, waiters bergegas meninggalkan tempat.
Puji segera merapat ke meja minuman.
__ADS_1
"Eh ada Non Maurin, kok tidak bergabung dengan yang lain non." tanya Puji ramah.
Maurin tahu bahwa Puji adalah ART favorit di keluarga Cokro, maka dia juga mencoba bersikap ramah pada Puji.
"Iya, capai aku Bi, disini saja. Kalau haus dekat tinggal ambil." jawabnya basa-basi.
"Saya mau bikin kopi, Non mau sekalian saya bikinkan." kata Puji menawarkan.
"Baik, bikinkan satu ya Bi. Gulanya pakai brown sugar ya."
"Ya non."
Puji segera menyeduh kopi, kemudian tanpa sepengetahuan Maurin, Puji membawakan kopi yang diracik waiters kemudian menyerahkan pada Maurin.
"Makasih Bu Puji."
"Ya non, sama-sama. Bibi mau pindah ke sana dulu ya non. Mau nawarin Tuan Rolland siapa tahu pingin minum kopi juga." kata Puji sambil membawa satu cangkir kopi.
"Bibi.., bawa apa itu," tiba-tiba Devan dan Aleta mencegat Puji.
"Kopi hitam Tuan, mau bibi tawarkan pada Tuan Rolland." katanya sambil menunjukkan cangkir kopinya.
"Tuan mau," tanya Puji.
"Tidak perlu, kelihatannya di meja sudah ada kopi yang siap minum. Aku ambil itu saja."
"Baik Tuan, bibi tinggal dulu ya."
"Pas,..., kamu mau," Devan menawarkan pada Aleta.
Aleta menggelengkan kepala lesu.
"Aku habiskan kopi ini dulu, baru aku antar ke kamar." kata Devan.
"Devan..., papa mau bicara sebentar." panggil Atmaja pada putra pertamanya.
"Iya pa, sebentar." Devan menengok Aleta yang tidak kuat menahan kantuknya.
"Bu Puji," teriak Devan memanggil Puji.
"Iya Tuan..," kata Puji sambil tergopoh-gopoh menghampiri Devan.
"Aku mau bicara dulu sama papa, tolong antarkan Non Aleta ke kamar ya. Temani dia sampai saya kembali ke kamar." kata Devan memerintah Puji untuk memastikan keamanan istrinya.
"Ya Tuan, mari non, bibi antar ke kamar dulu." kata Puji.
Aleta mengikuti Puji kembali ke kamarnya.
*****
__ADS_1
Maurin duduk dengan gelisah di kursinya. Dia merasa tubuhnya kepanasan. Tanpa sadar Maurin merasa melihat bayangan tubuh Devan yang beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju arah kamar Maurin.
Dengan linglung, Maurin mengikuti bayangan itu. Sesampainya di pintu kamar, Maurin semakin merasakan tubuhnya kepanasan, dan merasa dirinya membutuhkan sesuatu. Ada hasrat dari dalam tubuhnya yang ingin segera dituntaskan.
Dari arah barat ada seorang turis asing yang hendak masuk ke kamarnya. Dari kejauhan Maurin melihat bule tersebut seperti Devan.
"Mas..., Maurin disini " teriak Maurin dengan suaranya yang mulai serak. Turis asing itu menghentikan langkahnya, dan melihat ada cewek cantik dengan suara seksi yang sedang memanggilnya.
"Me" tanya turis asing tersebut.
"Ayolah mas...," kata Maurin manja.
Turis asing tersebut kemudian menghampiri Maurin, dan begitu sampai di dekat Maurin. Tanpa tahu malu Maurin langsung menarik tangan bule tersebut ke dalam kamar.
Dengan agresif dan brutal, Maurin menyerbu tubuh bule itu kemudian membawanya ke atas ranjang. Tanpa ada yang memulai, malam family gathering itu menjadi malam yang panjang bagi Maurin. Entah sudah berapa kali, penyatuan mereka berdua terjadi. Menjelang pagi, bule tersebut kembali menuju kamarnya. Sedang Maurin terkapar kelelahan, dan sudah mendapatkan pelampiasan apa yang dia inginkan.
***
Flashback On
"Bagaimana Devan, untuk rencana besok pagi." tanya Atmaja pada Devan.
"Terserah papa saja, tapi menurut Devan pa. Kita kan sudah adakan acara kebersamaan hari ini. Saya yakin mereka pingin acara bebas, mumpung sudah sampai disini."
"Terus apa pendapatmu."
"Yah mereka diberikan kebebasan saja untuk besok. Yang mau ke pantai silakan, mau ke pura silakan. Jadi tidak ada paksaan."
"Tapi kalau Devan sendiri sih, lebih menyukai di kamar dengan Aleta."
"Dasar kamu tidak ada bosannya." kata Atmadja.
"He..he..he... kayak papa tidak pernah muda saja." sahut Devan.
"Ya sudah sana, kembali ke kamar temani istrimu."
"Ya pa, makasih."
Pukul sepuluh Devan kembali ke kamar. Dilihatnya bi Puji sedang duduk di kursi depan kamar.
"Kok tidak ikut masuk Bi." tanya Devan.
"Bosen Tuan, non Aleta sedang tidur Tuan, sekarang."
"Ya Bi, makasih ya."
"Sama-sama Tuan."
#Flash back Off#
__ADS_1
******