
Tidak berapa lama Tata dan temannya ke ruang tamu menemui Aleta. Aleta yang sedang membaca majalah tidak tahu kalau Tata sudah datang. Tata dan temannya menatap laki-laki yang ada di hadapan Aleta, yang senyum-senyum memandangi Aleta.
"Hai Rendy..., kamu kesini mau cari siapa. Tidak mungkin kan kamu kesini hanya untuk memandangi saudaraku." Tata langsung memukul punggung laki-laki yang dipanggil Rendy dengan buku.
Rendy cengar-cengir melihat ke arah Tata dan temannya. Sedangkan Aleta mendengarkan suara Tata langsung ikut menengok ke arahnya.
"Loh kan aku tidak membuat kesalahan Ta. Aku datang, di depanku ada keindahan, mubadzir dong kalau keindahannya aku cuekin. Yah, selagi masih bisa dinikmati, ya nikmatilah." sahut Rendy dengan senyum-senyum melihat ke arah Aleta.
"Desi .., kenalkan sepupuku namanya Aleta." ucap Tata mengenalkan Aleta pada Desi.
Desi dan Aleta keduanya berjabat tangan, sedangkan Rendy tetap dengan gaya pertamanya senyum-senyum sambil melihat ke arah Aleta.
"Ta ., kenapa aku tidak ikut dikenalkan. Hai Aleta..., kenalkan namaku Rendy." Rendy memprotes Tata, kemudian dia mengenalkan dirinya sendiri kepada Aleta.
Aleta menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, untuk membalas perkenalan dari Rendy
"Sudah selesai pinjam bukunya Ta. Kalau sudah segera pulang yuk, mas Devan dari tadi sudah nelpon Aleta. Katanya masih mau cari bakso juga." kata Aleta mengingatkan Tata
"Oh iya,. Des kami langsung balik ya. Maklum aku bawa barang antik kali ini, harus ekstra hati-hati." mendengar perkataan Aleta akhirnya Tata langsung minta pamit ke Desi.
"Iya, hati-hati di jalan ya." kata Desi.
"Kira-kira aku boleh ikut nemani kalian tidak ini." sahut Rendy.
"Heh ..., kamu itu kesini mau cari siapa. Tuntaskan pencarian, jangan ganggu orang lain." semprot Tata.
"Aku jadi lupa dengan niatku kesini tadi mau ngapain, boleh ya aku ikut kalian cari bakso. Nanti aku deh yang bayarin kalian."
"Lah, memangnya kamu pikir kami ini seperti orang yang kurang duit Ren. Ga usah aneh-aneh, jangan ikuti kami." Tata langsung memberikan ketegasan pada Rendy.
"Desi..., bangunkan semua penghuni kost. Tanya kira-kira siapa yang ada urusan dengan laki-laki ini." lanjut Tata pada Desi
Sedangkan Aleta hanya tersenyum melihat Tata yang pasang kuda-kuda untuk melindunginya.
"Siap he...he...," jawab Desi sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Rendy hanya garuk-garuk kepala melihat kepergian Aleta dan Tata. Kedua gadis itu segera keluar dari rumah kost Desi dan segera menuju ke mobil yang diparkir di jalan depan.
*****************
Mereka segera masuk ke dalam mobil, dan menyampaikan pada Asep untuk mencari bakso rusuk ***anhudi si Dago.
"Pak Asep, ayo ikut turun maka. bakso." Aleta menawarkan bakso pada Asep.
"Saya tak makan di warung rames depan situ saja Non, tidak kenyang kalau hanya makan bakao." sahut Asep.
"Ya sudah, ambil uang di depan situ ya pak." Aleta menawarkan Asep untuk mengambil uang yang mereka sediakan untuk parkir.
"Ya Non, gampang."
Aleta dan Tata segera masuk ke warung bakso tersebut. Tata memesan dua pesanan mereka, sedangkan Aleta mengambil tempat duduk di pojokan ruang. Sambil menunggu Tata, Aleta menyibukkan dirinya dengan mwmbuka media sosial di ponselnya.
"Aleta..., hai sama siapa kamu kesini." tiba-tiba Irvan sudah mengambil tempat duduk di depan Aleta.
Aleta tercengang, sama sekali dia tidak menyangka dapat berjumpa dengan Irvan di tempat ini.
"Berapa bulan ya, ada kalau empat bulanan kita tidak ketemu. Aku sama temanku kesini. Itu, dia lagi pesan." Irvan menunjuk seorang laki-laki yang sedang antri di belakang Tata.
"Tapi kamu sama siapa Aleta, boleh tidak aku sama temanku join ikut duduk disini." lanjut Irvan
"Itu, depannya temanmu, Itu sepupuku, namanya Tata. Masih lajang lho dia," Aleta menunjuk Tata yang berdiri si depan temannya Irvan.
"Iya Aleta, aku paham kok. Ternyata ada seorang gadis yang aku mimpikan untuk kumiliki, ternyata sudah menjadi milik orang lain." gumam Irvan.
"Iyakah, gadis mana? Teman kuliah atau teman kerja Van " tanya Aleta penasaran.
Irvan hanya tersenyum tetapi tidak menjawab pertanyaan Aleta. Untungnya Tata dan di belakangnya teman Irvan sudah selesai dalam melakukan order.
"Van .., kita duduk disinilah." tanya teman Irvan.
"Iya An .., kenalkan ini temanku, namanya Aleta. Tapi harus jaga hati, dia sudah menikah," tiba-tiba Irvan mengenalkan Aleta pada temannya.
__ADS_1
Aleta agak terkejut dengan pernyataan Irvan, tetapi dia segera menutupinya dengan menyodorkan tangannya untuk mengajak teman Irvan berjabatan.
"Aleta namaku, dan ini sepupuku namanya Tata. Aku jamin masih free deh."
Andi menjabat tangan Aleta, kemudian menyodorkan tangannya ke arah Tata.
"Van .., sekalian dong, kamu ikut kenalan sama sepupuku." Aleta mengingatkan pada Irvan.
Akhirnya Irvan menjabat tangan Tata.
"Bagaimana kabarmu Aleta." tanya Irvan tiba-tiba.
"Alhamdulillah selalu baik Van, aku baru datang dari Solo. Melakukan aktivitas kegiatan magang. Yah biasa untuk prasyarat tugas akhir kuliah." jawab Aleta.
"Sekarang sudah tidak pernah ke tempat Joni ya. Aku tanya sama Joni, malahan dia tidak tahu kabarmu sekarang. Tapi dia masih sering mengirim baju untukmu." lanjut Irvan.
"Iya sih, suamiku yang order ke Joni. Aku baru tiga hari ini di Bandung. Mungkin Minggu besok aku juga sudah balik ke Solo. Maklum mau pingin cepat selesai kuliah Van."
"Hai...., ayolah kalian berdua juga ikut mengobrol. Masa dari tadi cuma mendengarkan aku sama Irvan berbicara." Aleta meminta Tata dan Andi ikut berbicara.
Irvan hanya tersenyum mendengar ucapan Aleta. Untungnya pesanan mereka segera diantarkan oleh pramusaji. Mereka segera menikmati bakso yang sudah ada di depannya. Aleta fokus pada makanannya, sedangkan Irvan dari tadi melihat Aleta yang sedang makan.
"Van..., kamu tidak mau baksomu kah, kok dari tadi cuma diaduk-aduk?" tanya Andi sama Irvan.
"Sekalian menunggu dingin An, kamu mau nambah?" Irvan balik bertanya.
"Tidak sih, cuman kalau punyamu tidak dimakan, rencananya akan aku ambil. He .he..,"
Aleta dan Tata menghentikan sejenak makannya, kemudian melihat ke arah Irvan. Irvan kemudian menyuapkan gigitan ke mulutnya. Mereka tersenyum, kemudian kembali menghabiskan menu mereka.
"Irvan, Andi..., kami pulang duluan ya. Soalnya tadi sudah dipesan sama suamiku untuk langsung pulang." Aleta mencoba berpamitan pada Irvan dan Andi .
"Iya, hati-hati di jalan ya." sahut Irvan dan Andi.
Aleta dan Tata kemudian meninggalkan mereka berdua. Irvan hanya memandang kepergian kedua gadis itu dengan tersenyum kecut. Sedangkan Andi mengamati reaksi temannya sambil tersenyum.
__ADS_1
***************