Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Sisa Kekacauan


__ADS_3

Tamu-tamu keluarga Cokro akhirnya berpamitan karena situasi menjadi tidak nyaman. Beberapa ada yang pamit dengan tuan rumah, tetapi banyak pula yang langsung pergi meninggalkan rumah tanpa pamitan terlebih dulu. Rengganis dan Lastri terlihat tampak sedang menenangkan Maurin di sofa. Sedangkan Rolland dan Atmaja juga bingung akan berdiri di pihak siapa.


Melihat Rolland kebingungan, Jenny merasa tahu diri. Dengan tenang dia menghampiri Rolland untuk pamitan pulang.


"Rolland...yang sabar ya. Beri kepercayaan pada Tuan Devan, saat ini beliau membutuhkan support untuk bisa bertahan melewati semua, Juga nitip jaga si imut Aleta. Dia panutanku," kata Jenny menenangkan Rolland dan mencoba mengajak bergurau.


Rolland mengangguk dan menatap Jenny yang sudah membawa tasnya. Dia merasakan tidak enak sudah mengabaikan Jenny, tetapi kondisinya saat ini juga tidak lebih baik.


"Taksiku sudah menunggu di depan, kamu tidak perlu mengantarkan aku pulang." Jenny berpamitan dan tidak mau merepotkan Rolland yang terlihat sedang kacau.


"Maaf ya Jenn, aku tidak bisa mengantarmu pulang." kata Rolland sambil menggenggam tangan Jenny.


"Tidak apa-apa Rolland, aku paham, keluargamu saat ini sedang butuh kehadiranmu. Sudah ya, aku pulang" akhirnya Jenny pulang dengan menggunakan taksi.


Rolland mengantarkan Jenny sampai di depan pintu taksi. Dia hanya bisa melihat dan melambaikan tangan saat taksi membawa Jenny pergi.


Sementara itu Lastri dan Rengganis membicarakan tentang keinginan Devan melakukan test DNA saat ini.


"Maaf ya Jeng, aku tidak akan mau mengambil resiko dengan kesehatan Maurin dan bayinya. Karena test DNA yang dilakukan saat bayi masih berada di dalam kandungan, akan memiliki efek buruk terhadap bayi. Aku tidak mau cucuku terlahir cacat." Lastri menolak dengan tegas rencana Devan untuk melakukan test DNA saat ini.


"Tenang Jeng, aku juga tidak akan menyetujuinya. Tapi aku kenal dengan sifat Devan, dia tidak akan mau menikah dengan Maurin jika dia belum mengetahui hasil sebenarnya dari bayi yang dikandung Maurin." kata Rengganis yang juga dilanda kebingungan.


"Apakah kamu juga meragukan Jeng, meragukan bayi dalam perut Maurin?" Lastri bertanya pada Rengganis dengan sinis.


"Aku yakin dan percaya Jeng, karena aku melihat sendiri bahwa Maurin sudah menghabiskan malam di tempat tidur dengan Devan. Cuma agak sulit bisa mengendalikan putraku Devan. Hanya kakeknya yang bisa melunakkan hatinya." Rengganis menjadi tidak nyaman dengan Lastri dan keluarganya.


Karena belum ada titik temu dan hari semakin malam, akhirnya Maurin dan Lastri ikut berpamitan juga. Setelah mengantarkan mereka sampai mobil, Rengganis dengan muka tampak lelah kembali masuk ke dalam rumah. Baru saja menginjakkan kaki satu langkah di dalam, Atmaja langsung menarik tangan istrinya dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


Sedangkan Rolland hanya terduduk bengong di kursi, sambil melihat Bi Puji dan security membereskan peralatan makan yang kotor. Tiba-tiba Cokro datang dan menepuk pundaknya.


"Istirahatlah sudah malam, jangan banyak berpikir." kata Cokro pelan.


"Kakek, kenapa kakek begitu tenang malam ini. Apakah kakek bahagia karena akan mendapatkan buyut, meskipun harus menyakiti hati kakak ipar," tanya Rolland bingung melihat kakeknya yang tetap bersikap tenang seperti tidak ada kejadian apa-apa. Padahal biasanya, jika ada stimulus sedikit saja kakeknya akan mengamuk.


"Jangan banyak berpikir. Tidurlah dulu. Besok sepulang kantor, datanglah ke kamar kakek, semua pertanyaan malam ini akan terjawab." kata Cokro sambil melangkah meninggalkan Rolland untuk masuk ke dalam kamar.


"Tuan Rolland, percayalah pada Tuan Devan. Tidak terjadi apa-apa antara Tuan Devan dan non Maurin, bibi jamin. Tuan Devan sangat mencintai Non Aleta, meskipun Tuan tidak pernah menunjukkannya." Bi Puji ikut meyakinkan Rolland tentang kakaknya sambil mengangkat piring kotor ke tempat cuci piring.


Melihat semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing, akhirnya Rolland juga kembali ke kamarnya.


*******


"Nis..., kekacauan apa lagi yang kamu buat malam ini. Apakah kamu tidak puas jika kamu tidak membuat onar di keluarga ini." Atmaja mencecar Rengganis saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Cucu apaan,. Aleta masih studi, dan usianya belum genap 20 tahun. Mereka masih memiliki waktu yang panjang untuk memiliki anak." sergah Atmaja berusaha membela Aleta.


"Mas, kapan kamu akan berpihak padaku. Saat ini sudah jelas Maurin bisa hamil anak Devan, jelas dia cucuku. Kenapa kita harus menunggu cucu, yang belum jelas akan ada atau tidak dari perut Aleta." sahut Rengganis dengan nada tinggi ke Atmaja.


"Bagaimana kamu bisa begitu yakin dengan anak yang dikandung Maurin adalah anak Devan. Sedangkan test DNA saja belum dilakukan." Atmaja tetap bingung dengan keyakinan Rengganis.


Rengganis tersenyum sinis penuh kemenangan.


"Ya jelas aku tahu mas, karena kehamilan Rengganis aku yang telah merencanakannya. Sampai sekarang mas, aku belum mau menerima Aleta sebagai menantuku. Dia tidak sebanding dengan keluarga kita." kata Rengganis sinis.


"Apa maksudmu dengan merencanakannya." seru Atmaja dengan nada tinggi.

__ADS_1


Rengganis menceritakan tentang kronologi sampai Devan dan Maurin menghabiskan waktu bersama di ranjang.


"Plak...," tiba-tiba Atmaja menampar Rengganis dengan keras.


"Hiks..hiks.., sakit. Kenapa kamu tega menamparku mas." Rengganis kaget dengan respon Atmaja dan dia mulai menangis.


"Hatimu kotor Anis, pikiranmu bejat. Kamu menjebak anakmu dalam perbuatan dosa hanya untuk memenuhi nafsumu." kata Atmaja marah.


Rengganis diam dan menangis tersedu, karena melihat Atmaja tidak mendukungnya, tetapi malah menyakiti hatinya. Melihat istrinya menangis, Atmaja keluar dari kamar kemudian membanting pintu dengan keras.


Puji dan security yang sedang membersihkan sisa-sisa kotoran, saling berpandangan melihat Atmaja dengan muka kusut keluar kamar dengan membanting pintu. Dengan pengertian, Puji segera mengambilkan satu gelas air putih dan memberikan pada Atmaja.


"Minum dulu Tuan, agar hatinya sedikit tenang.' kata Puji.


"Terima kasih Puji." Atmaja menerima gelas dari tangan Puji kemudian meneguknya. Air yang turun membasahi kerongkongan, sedikit mendinginkan perasaannya.


"Ji... kamar tamu sudah dipasang spreinya belum." tanya Atmaja.


"Sudah Tuan, tadi saya sudah menyiapkan tiga kamar, karena siapa tahu ada keluarga yang akan menginap. Tapi ternyata semua keluarga, pulang ke rumah." Puji menjawab.


"Saya malam ini akan tidur di kamar tamu yang dekat kolam. Jika Rengganis mencariku, kamu bilang saja tidak tahu.' kata Atmaja.


"Baik Tuan, selamat malam selamat beristirahat." kata Puji kemudian meninggalkan Atmaja dan melanjutkan bersih-bersih ruangan.


Untuk menenangkan pikirannya, Atmaja segera keluar dari ruang utama, dan langsung menuju kamar tamu yang terletak di dekat kolam renang.


Malam itu akhirnya kembali menjadi tenang, tetapi tidak setenang yang terjadi di kamar Devan dan Aleta.

__ADS_1


******


__ADS_2