
Aleta mengikuti suaminya dengan diam, dan ternyata mobil kembali memasuki hotel tempat mereka menginap. Setelah sampai di kamar, Devan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Aleta membersihkan kaki dan tangannya, kemudian mengambil segelas air putih.
"Mas, minumlah dulu sedikit saja." kata Aleta sambil memberikan gelas ke tangan Suaminya.
Tetapi Devan tenggelam dalam pikirannya sendiri, kemudian Aleta mengangkat bagian kepalanya dan meminumkan air.
"Seteguk saja." bisik Aleta sambil tersenyum.
Devan menuruti keinginan istrinya, dia minum dua tegukan. Aleta menaruh gelas di atas meja kecil disamping ranjang.Dia sendiri juga bingung melihat respon suaminya. Akhirnya setelah keduanya terdiam lumayan lama, Aleta memiliki ide. Perlahan Aleta merendahkan wajahnya mendekat ke wajah suaminya, dan mendaratkan bibirnya ke bibir Devan.
Devan agak terkejut mendapatkan serangan mendadak dari istrinya, kemudian dia membuka sedikit bibirnya. Ide Aleta ternyata sangat diterima baik oleh Devan. Keduanya akhirnya beradu bibir, dilepaskan untuk mengambil nafas dan diulang sampai berkali-kali.
Dengan posisi diatas tubuh Devan, perlahan tangan kecil Aleta melepas kancing baju atasan yang dikenakan suaminya. Tangan mungil Aleta menelusuri roti kotak di tubuh bagian atas Devan, dan Devan merasakan tubuhnya geli dan bergetar. Tanpa sabar menunggu, Devan membalikkan tubuhnya sambil mengangkat tubuh istrinya dan meletakkan di bawahnya.
"A..ah, mas Devan...," tanpa sadar Aleta yang tadi memulai awal keluar ******* kecil dari mulutnya, yang seperti aprosidiak bagi Devan.
Awalan yang dilakukan oleh Aleta, diteruskan suaminya dengan penuh dominasi. Baju keduanya sudah terlempar ke lantai. Keduanya melebur dan menyatu menjadi satu, dengan suara ******* dan rintihan yang memenuhi kamar itu. Setelah beberapa saat, keduanya menaiki puncak secara bersamaan. Dengan lembut, kecupan di kening Aleta didaratkan oleh Devan.
"Terima kasih sayang," bisik Devan di telinga Aleta, kemudian memeluk istrinya.
"Ehm.m," Aleta menjawab dengan memejamkan matanya.
Devan mengangkat kepala istrinya, dan meletakkan di atas dadanya. Perlahan tangannya mengusap rambut Aleta, sambil sesekali memberikan ciuman di kening Aleta. Aleta masih menunggu untuk membicarakan masalah pertemuan tadi dengan mama Kinara.
"Aleta lapar tidak." tiba-tiba Devan teringat bahwa mereka belum makan malam.
Aleta membuka matanya dan menganggukkan kepala.
"Baiklah, kita cari makan. Kita mandi dulu sayang." Kata Devan yang langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Aleta reflek dengan menaruh kedua tangannya di leher Devan, dan meletakkan wajahnya di dada Devan.
__ADS_1
Setelah mereka selesai mandi, dan mengenakan baju.
"Kita mau makan apa sayang, sekarang sudah jam 21. Makan di food court mall sudah tutup." ucap Aleta.
"Kita keluar saja, sepertinya kita jalan ke depan, atau kalau malas kita bisa ambil mobil. Tadi mas lihat di sebelah timur jalan banyak sea food disitu." sahut Devan.
"Kita jalan saja mas, jarang kan kita jalan-jalan seperti ini." kata Aleta yang langsung disetujui oleh suaminya.
Akhirnya mereka bergandengan tangan, berjalan menyusuri Jl. Magelang untuk makan seafood di warung kaki lima. Aleta bersyukur karena sikap Devan sudah kembali seperti semula. Dia menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hatinya.
**********************
Devan memecahkan cangkang kepiting menggunakan tang yang sudah disediakan oleh penjualnya. Setelah pecah, dengan terampil dia mengambil daging dan sesekali menyuapkan ke mulut istrinya. Orang-orang yang ada di sekitarnya, pada bisik-bisik melihat kedekatan mereka di muka umum. Sedangkan Aleta memesan cumi asam manis, yang sesekali juga dia siapkan pada suaminya.
"Sayang..., kira-kira rencana mas Devan setelah ini apa." tanya Aleta dengan hati-hati.
Devan, menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian dia minum teh panas. Setelah menaruh gelas kembali di atas meja, dia menatap mata istrinya.
Aleta meletakkan tangannya di atas tangan Devan.
"Menurut Aleta mas, mungkin terlalu dini kalau kita menyimpulkan sikap mama Kinara. Kita belum mendengar semua cerita yang melatarbelakanginya." ucap Aleta lembut.
"Terus apa lagi yang harus mas lakukan sayang. Langsung menerima dan mengakuinya, atau langsung meninggalkan untuk mengingatkan kalau semua yang telah dia lakukan salah." tanya Devan yang bingung untuk merespon informasi yang baru malam ini mereka dapatkan.
"Mungkin besok pagi kalau mas berkenan, kita ke tempat mama lagi mas. Bagaimanapun mama Kinara adalah mama mas Devan. Kewajiban kita untuk menghormati mama mas. Baru nanti sambil jalan kita memikirkan langkah selanjut. Itu kalau menurut Aleta mas." dengan hati-hati Aleta mencoba membujuk Devan.
Devan mengambil nafas panjang, kemudian memberikan kecupan di kening Aleta.
"Terima kasih sayang, kamu tetap mendampingi mas dalam keadaan ini. Besok pagi kita ke tempat itu lagi. Kita perlu mendengar cerita lengkapnya." sahut Devan akhirnya.
__ADS_1
"Iya mas, Aleta janji akan selalu berada di sisi mas dalam keadaan apapun." ucap Aleta.
Kemudian mereka menghabiskan pesanan sea food yang sudah mereka pesan. Setelah selesai, Devan mengejutkan semua orang yang saat itu sedang makan bersamanya. Dia membayar semua pesanan orang-orang di warung sea food tersebut. Aleta hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Terima kasih mas, mbak atas traktirannya." ucap beberapa orang yang ikut makan disitu.
"Terima kasih untuk istri saya ya, yang dalam keadaan apapun selalu mendukung saya." ucap Devan sambil mengecup kening Aleta di depan mereka.
*********************
Sepeninggalan Devan dan Aleta, Kinara menangis tersedu. Dia bingung mau melakukan apa, siapa yang salah di masa lalu dia sendiripun tidak bisa menemukannya. Akhirnya dia memiliki ide untuk memberi tahu adiknya. Kemudian dia mengambil ponselnya, dan mencoba menelpon seseorang.
"Ada apa mbak, malam-malam begini menelponku." tanya seorang perempuan di seberang telepon.
"Kinanti...., dia hari ini datang kesini. Dia datang Kinan. Sekarang ini Mbak bingung Kinan." ucap Kinara pada Kinanti.
Kinanti adalah adik Kinara, yang dulu diperintahkan oleh papanya untuk menyerahkan Devan pada Atmaja.
"Dia siapa mbak. Kinan tidak paham dengan yang mbak Kinara maksud." tanya Kinanti.
"Anakku Kinan dengan Atmaja. Barusan dia kesini dengan menantuku. Dia sekarang sangat gagah Kinan." Kinara menceritakan pertemuan dengan Devan yang hanya sekejap. Dia menangis tersedu-sedu.
"Sekarang mbak Kinara tenang, sebentar lagi Kinan ke tempat mbak. Mbak Kinara tiduran dulu saja ya, nanti kita bicara setelah Kinan sampai disana." Kinanti berusaha menenangkan kakak perempuannya.
"Iya Kinan, jangan beri tahu papa dulu Kinan. Beliau sudah tua." lanjut Kinara.
"Iya, iya mbak, sekarang ditutup dulu ya telponnya. Kinanti sama mas Raharjo langsung menuju ke tempat mbak Kinara." akhirnya Kinanti mengakhiri panggilan Kinara.
Kemudian dia memberi tahu pada suaminya, dan segera bersiap untuk berangkat menuju tempat kakaknya. Dia mengajak putra pertamanya Anwar untuk mengemudi mobil.
__ADS_1
****************************