
Setelah memarkirkan mobil, Devan dan Aleta berlarian menuju ruang UGD Santosa Hospital Bandung Central. Mereka panik ingin segera mengetahui kabar terakhir dari pak Broto. Tetapi saat mereka sampai di depan UGD, terlihat pak Broto yang tidak sadarkan diri dibawa dengan menggunakan ranjang yang didorong menuju ruang operasi. Tampak dua orang laki-laki muda ikut mendorong disamping perawat rumah sakit. Mereka berdua mengikuti, dan ternyata masuk ke ruang operasi. Dua anak muda itu tampak lesu, duduk di kursi tunggu di luar ruang.
"Permisi, apakah yang barusan masuk ruang operasi tadi pak Broto?" tanya Devan pada dua anak laki-laki muda itu.
Laki-laki muda itu menengadahkan wajahnya dan melihat ke arah Devan.
"Iya, itu pak Broto. Anda siapanya pak Broto?" tanya salah satu anak laki-laki itu.
"Saya bingung jika harus menceritakan ada hubungan apa saya dengan pak Broto, karena baru tadi pagi saya mengenal beliau. Tetapi tadi saya sempat dihubungi dari pihak kepolisian, dan saya yang menyarankan untuk segera dilarikan ke rumah sakit ini." Devan menjawab pertanyaan laki-laki tersebut, Aleta berdiri memegangi lengannya.
"Berarti anda Tuan Devan? Kenalkan saya Rico, dan ini Ridwan, kami berdua anak asuh pak Broto, dan sekarang kami berdua juga bekerja di perusahaan milik beliau." kata laki-laki yang bernama Rico yang langsung mengulurkan tangan mengajak Devan dan Aleta berjabat tangan.
"Iya, dan ini Aleta istri saya. Saat ini Axel sedang bersama kedua anak saya, juga dengan Om serta Auntienya. Untuk menjaga psikis Axel, kami memutuskan meninggalkan anak itu dengan adik saya. Axel dalam keadaan aman."
"Terima kasih, untuk sementara kami titip Axel dulu Tuan! Karena kami berdua harus fokus mengawasi dan menjaga papa di rumah sakit ini." kata Ridwan.
"Sebenarnya bagaimana keadaan pak Broto? Apakah luka-lukanya cukup parah?"
"Tidak hanya parah Tuan Devan, papa dalam keadaan kritis. Makanya saat Dokter menyarankan operasi, kami berdua tidak berpikir panjang, langsung tanda tangan di form persetujuan keluarga. Karena mbak Maurin, putri kandung papa tidak bisa kami berdua hubungi."
"Momm..., ayo duduk dulu. Nanti kamu kelelahan jika terus berbicara sambil berdiri." Devan mengajak Aleta duduk disamping Rico dan Ridwan.
"Iya, tadi pagi pak Broto juga menceritakan bagaimana keadaan rumah tangganya dengan Bu Lastri dan putrinya Maurin. Mereka berdua sudah resmi bercerai, dan sudah meninggalkan negeri ini. Kasihan Axel, biarlah untuk sementara Axel berada dalam keluarga kami. Akan banyak yang memberikan perhatian untuk anak itu, sampai menunggu kondisi pak Broto membaik."
"Terima kasih Tuan Devan dan Nyonya Aleta, ternyata kalian berdua memang orang yang berhati baik. Harus sabar jika berurusan dengan Bu Lastri dan Mbak Maurin, kami banyak mendengarkan cerita kalian dari papa Broto."
__ADS_1
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas itu lagi. Sekarang kita hanya perlu berdo.a agar pak Broto segera pulih, dan segera kembali bisa berkumpul dengan Axel."
Mereka berempat terdiam dalam keheningan. Setelah 2,5 jam, pintu ruang operasi dibuka. Tampak Dokter Airlangga dan Dokter Tantri keluar dengan muka yang sedikit tegang.
"Dokter Airlangga, bagaimana keadaan pasien Dokt?" tanya Devan yang sebelumnya sudah mengenal kedua dokter tersebut.
"Lho ini Tuan Devan ada disini. Ada hubungan apa Tuan Devan dengan pasien?"
"Rekan kerja saja Dokter."
"Untuk operasi sudah berakhir dengan sukses, tetapi untuk sustainbility selanjutnya tergantung dengan daya juang pasien sendiri. Harus lebih banyak berdo.a saja, nanti sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk pasien. Saya ke ruang istirahat dulu ya."
"Baik Dok, terima kasih."
"Rico, Ridwan.., ini nomor ponsel saya. Silakan hubungi saya, jika ada yang perlu saya bantu. Kami harus segera pulang ke rumah."
"Baik Tuan Devan, terima kasih."
*******************************
Dua hari sesudah terjadi kecelakaan Axel tinggal di rumah keluarga Cokro, dan saat mereka masuk sekolah, tiba-tiba Devan dan Aleta menjemputnya dari sekolah. Devan berpesan pada Rolland untuk menjemput kedua putranya Arend dan Arick, sedangkan mereka membawa Axel langsung menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan mengemudikan mobil, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Devan. Pikirannya diselimuti kekhawatiran, karena barusan tadi Rico melakukan panggilan padanya, dan memberi tahukan untuk segera membawa Axel ke rumah sakit bertemu dengan pak Broto.
Aleta memberikan susu UHT pada Axel, dan dari tadi dia memeluk anak itu seperti putranya sendiri.
"Axel minum ini dulu ya, tadi *auntie *lupa tidak membawa kue untuk Axel." kata Aleta memecah kesunyian.
__ADS_1
"Axel masih full auntie, tadi jam istirahat sudah banyak makan meal. Kita mau kemana auntie, kok Arend dan Arick tidak ikut bersama kita."
"Kita akan ke rumah sakit sayang, ada yang mau ketemu dengan Axel. Arend dan Arick biar menyelesaikan sekolahnya dulu, nanti dia akan menyusul kemari setelah sekolah selesai."
"Really?? Asyik, Axel punya teman bermain lagi." melihat kegembiraan Axel, mata Aleta berkaca-kaca, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke luar mobil.
Setelah 30 menit perjalanan, mobil yang dikemudikan Devan memasuki halaman parkir rumah sakit. Melihat food court di sisi sebelah kanan rumah sakit, Aleta mengajak Axel untuk makan dulu.
"Axel.., auntie ingin makan bakso. Axel mau ya temani auntie makan?" tanya Aleta, yang langsung disambut senyum suaminya.
"Okay auntie, Axel juga suka meat ball."
Devan mengikuti langkah Aleta yang menggandeng Axel menuju food court. Kemudian memberi isyarat pada Aleta untuk duduk, dan laki-laki itu tanpa sungkan langsung memesankan bakso untuk Aleta dan Axel. Tidak lama kemudian, 3 mangkok bakso, sepiring pangsit goreng, dan 3 teh botol sudah diantarakan oleh pelayan hotel.
"Axel makan sendiri atau **auntie **suapin sayang?" tanya Aleta.
"Axel sudah besar auntie. Makan sendiri saja, auntie dan Om kan juga harus makan bersama dengan Axel."
Dengan lahap Axel makan dan segera minum teh botol. Hanya 10 menit waktu mereka untuk menghabiskan bakso, kemudian sambil mengelus kepala anak itu.
"Axel..., nanti Axel harus berjanji sama Om dan Auntie ya! Apapun yang terjadi, nanti Axel pulang bersama ke rumah si twins. Menangis boleh, tetapi Axel kan laki-laki, harus menjadi seorang pejuang, harus kuat ya sayang?"
Axel dengan mantap menganggukkan kepala. Kemudian Devan segera mengajak mereka untuk ke ruang perawatan pak Broto, karena kata Rico ada orang lain yang juga sedang menunggu mereka. Devan mengangkat dan menggendong Axel untuk mempercepat langkahnya, dan anak itu tampak bahagia berada dalam gendongan Devan.
****************************
__ADS_1