
Dari sudut ruangan rumah keluarga kakek Cokro, dua orang sedang memandang sengit ke arah Aleta dan Devan. Penampilan istri Devan tidak sesuai dengan yang ada di benaknya, tetapi sebaliknya penampilannya melampaui jauh kehadiran Maurin. Tapi dia tetap menolak mengakui, dan dengan memaksakan senyumnya, Rengganis mencoba menghibur Maurin.
"Jangan silau oleh kebahagiaan mereka Maurin. Tante yakin mereka hari ini sedang memainkan drama sandiwara di depan keluarga." kata Rengganis menenangkan Maurin.
"Tidak Tante, masak Maurin bisa kalah dengan gadis kampung itu." jawab Maurin sambil memaksa diri untuk tersenyum.
"Bagi Tante, hanya Maurin satu-satunya yang bisa pantas menjadi istri Devan. Ayuk kita temui mereka, jangan khawatir Tante akan selalu mendukungmu."
Rengganis dan Maurin menghampiri Devan dan istrinya untuk memberinya sambutan. Melihat kedatangan istrinya, Atmaja agak mengkhawatirkan Aleta.
"Aleta, papa jangan dilupakan nak." Atmaja menyapa menantunya dengan ramah.
"Maafkan Aleta pa, Aleta yang tidak tahu diri karena tidak bisa mengenali papa " sahut Aleta sambil mencium tangan mertuanya sambil menundukkan badannya.
"Tegakkan badanmu nak, kamu tidak salah. Suamimu ini yang tidak tahu diri, yang tidak mau mengenalkan papanya padamu." kata Atmaja sambil meraih bahu menantunya kemudian menghadapkan badannya pada Rengganis.
"Ini mamamu nak, Ayuk beri salam."
"Assalamualaikum ma, Aleta mohon maaf baru bisa mengenalkan diri." sapa Aleta sambil berusaha menyalami dan mencium tangan mama mertuanya.
"Wa alaikum salam, huh." jawab Rengganis sambil menarik tangannya cepat-cepat.
Kakek Cokro tampak menahan emosi melihat sikap Rengganis pada Aleta. Rengganis kemudian menarik Maurin untuk berdiri di sampingnya.
"Kenalkan Aleta, ini Maurin yang seharusnya sudah menjadi istri Devan, tapi kamu telah lebih dulu menyerobotnya." ucap Rengganis tanpa mempedulikan pandangan dan perasaan orang-orang di sekitar mereka.
Aleta agak terpukul mendengar perkataan Rengganis saat mengenalkan gadis cantik di depannya. Dia tiba-tiba merasa bersalah dengan Maurin, kemudian dengan muka merah Aleta menyapa Maurin.
"Saya Aleta istri mas Devan. Mohon maaf saya betul-betul tidak tahu kalau mas Devan sudah memiliki calon istri sebelumnya. Tidak ada yang memberi tahu saya." ucap Aleta dengan wajah penuh penyesalan, sambil berusaha menyalami Maurin.
"Baiklah kalau kamu cukup tahu diri," sahut Rengganis ketus.
"Mama ..,apa yang mama katakan barusan. Mama jangan keterlaluan. Tidak pernah ada sedikitpun keinginan Devan untuk menjalin hubungan dengan Maurin." seru Devan tiba-tiba sambil menarik tangan Aleta.
__ADS_1
"Ingat Aleta, jangan pernah sekalipun kamu merendahkan dirimu di hadapan perempuan itu." Kata Devan sambil memeluk Aleta di muka umum tapa mempedulikan pandangan orang-orang.
Atmaja tampak marah dan melihat Rengganis dengan mata merah, tapi Rengganis tidak menghiraukannya Dengan santai Rengganis menggandeng Maurin untuk menjauh dari hadapan mereka.
Kakek Cokro kemudian merangkul Aleta dan Devan, kemudian membawanya ke depan para tamu undangan.
"Mohon perhatiannya sebentar " kata kakek Cokro untuk menyampaikan pemberitahuan. Semua tamu undangan memperhatikan kakek Cokro.
"Assalamualaikum, hari ini aku akan menyampaikan kabar bahagia kepada semua yang hadir di rumah keluarga Cokrodirjan. Hari ini aku mengundang kehadiran kalian untuk mengenalkan cucu menantuku yang sangat kami sayangi."
"Cucuku Devan Atmaja Baskara sudah resmi menikahi Aleta secara agama dan negara. Tidak akan ada selain maut yang akan memisahkan mereka. Devan, Aleta..., beri salam pada mereka." kata Kakek Cokro mengakhiri pemberitahuannya.
"Assalamualaikum, terima kasih kepada saudara semua yang hari ini telah berkenan untuk hadir di rumah keluarga kakek untuk memberikan ucapan dan doa atas pernikahan saya. Saya sangat menyayangi istri saya Aleta dengan tulus, dan saya akan memastikan kebahagiannya. Saya harap, semua yang hadir di sini turut mendoakan untuk kelanggengan pernikahan kami sampai maut memisahkan kami. Terima kasih."
Devan menyampaikan sepatah kata untuk mengenalkan istrinya. Dan tanpa diduga oleh siapapun, Devan menarik dekat Aleta ke tubuhnya dan dengan penuh kasih Devan memberikan ciuman lembut di kening Aleta, dan berlanjut dengan lembut ******* bibir Aleta di depan tamu undangan.
"Plok...plok..plok.., wow so sweet," tamu yang hadir di rumah keluarga memberikan tepuk tangan yang meriah atas tindakan Devan yang impulsif. Aleta merah padam mukanya, dengan lembut dia mendorong tubuh Devan untuk menjauh. Melihat sikap istrinya yang pemalu, Devan malah memeluk tubuh Aleta semakin erat.
Para tamu yang sudah dipersilakan tuan rumah, segera mendatangkan meja-meja Buffett dan gubuk-gubuk makanan.
******
"Kakak ipar, mau makan apa, Rolland siap melayani." tiba-tiba Rolland sudah nongol di samping Aleta untuk menggodanya.
"Aleta masih kenyang dik, tadi mau kesini sempat sarapan dulu sama mas Devan. Nanti kalau Aleta lapar, Aleta bisa cari sendiri." sahut Aleta.
"Selamat ya kak, Rolland tidak menyangka. Dalam waktu singkat kakak sudah bisa menjinakkan harimau kumbang."
"Harimau, harimau apaan dik, kakak kok bingung."
"Itu kak Devan, ha..ha..," sahut Rolland tertawa lebar.
"Rolland ambil minuman dulu ya kak. Kakak minum apa, nanti sekalian Rolland ambilkan." Rolland menawarkan untuk mengambilkan minuman.
__ADS_1
"Kalau ada teh panas saja ya dik. Kakak pusing kalau sehari tidak ketemu teh manis panas, tapi kalau tidak ada, cukup air mineral saja." kata Aleta malu karena belum bisa menghilangkan kebiasaannya di panti.
Sambil melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya sebagai isyarat ok, Rolland meninggalkan Aleta sendirian di kursi pinggir kolam renang. Melihat Aleta duduk sendirian, Rengganis mendekati Aleta.
"Mama," sapa Aleta gugup.
"Tidak perlu basa-basi. Aku tidak akan tertipu dengan penampilanmu yang sok lugu, polos. Padahal aku tahu kalau kamu mengincar harta keluarga ini." jawab Rengganis dengan tatapan permusuhan.
Aleta hanya diam menelan tuduhan keji ibu mertuanya.
"Aku tidak akan pernah berhenti untuk menjadikan Maurin menantuku, jadi kamu jangan berharap banyak dari Devan. Hanya Maurin yang cocok untuk melahirkan keturunan keluarga ini, bukan dari kamu yang tidak jelas bibit, bobot dan bebetnya." Rengganis terus berusaha menekan psikologis Aleta.
Aleta sedikitpun tidak membantah dan menjawab ucapan ibu mertuanya. Dalam hatinya ingin berteriak dan menangis, dan tiba-tiba dia mengingat kebaikan ibu Rosna yang selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Tapi sekuat tenaga, Aleta menahan agar air matanya tidak jatuh, dan dia teringat pesan Devan untuk menunjukkan bahwa dia adalah istri Devan Atmaja Baskara.
Melihat Aleta tidak menjawabnya dan tegar tidak menangis, Rengganis meninggalkan Aleta sendiri.
"Sialan, ternyata dia gadis yang kuat. Aku berpikir dia akan menangis kekanak-kanakan dan meninggalkan tempat ini. Ternyata dia tetap bertahan." gerutu Rengganis.
Sepeninggalan Rengganis, Aleta menghapus air mata yang ada di sudut matanya.
"Aleta ternyata kamu duduk disini sendirian." tiba-tiba Atmaja sudah ada di sampingnya.
"Papa," jawab Aleta gugup.
"Tenanglah ada papa, kakek, dan Rolland yang aka menjagamu. Devan baru keluar sebentar untuk menerima panggilan." kata Atmaja lembut menghibur menantunya.
"Bertahanlah di samping anakku nak, jangan sekalipun kamu lengah untuk mempertahankannya. Papa yakin kamu adalah wanita yang tepat untuk Devan." ucap Atmaja yang menghangatkan hati Aleta.
"Janga hiraukan omongan mamamu, kami semua ada bersamamu." lanjut Atmaja
"Iya pa, terima kasih." jawab Aleta lirih.
*****
__ADS_1