Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Melahirkan


__ADS_3

Setelah menikah, Kinara dan Atmaja diminta Cokro untuk tinggal di rumah keluarga Cokrodirjan, dan tidak diperbolehkan bertempat tinggal di Setiabudi. Akhirnya diperoleh kesepakatan jika hari Senin - Jum.at mereka berada di rumah keluarga, dan jika Sabtu dan Minggu mereka minta waktu untuk berdua.


Sampai dengan kehamilan sembilan bulan, Aleta tidak mengalami kendala apapun. Nilai magang sudah dikeluarkan oleh Solo Techno, dan saat di fokus berada di rumah laporan karya tulis juga sudah dia selesaikan. Untuk mempermudah pengambilan data, dia memang menggunakan perusahaan suaminya yang berada di Sukoharjo. Karena pelaksanaan kegiatan wisuda bersamaan dengan HPL bayi yang dalam kandungannya, Aleta mengajukan permohonan waktu wisuda.


"Aleta..., apakah sudah dipersiapkan perlengkapan untuk dibawa ke rumah sakit?" tanya Devan karena tinggal 3 hari waktu perkiraan lahir.


"Sudah semua mas, Aleta harap mas Devan jangan sering-sering bertanya masalah kelahiran ya. Jujur Aleta takut mas."


Aleta membayangkan ngerinya orang melalui proses melahirkan secara normal. Tetapi saat dia ditanya Devan apakah mau melahirkan secara caesar, dia tidak mantap karena ingin menjadi seorang ibu yang sebenarnya.


"Apa yang kamu takutkan sayang. Kapanpun kamu merasakan gejalanya, mas akan selalu ada di sampingmu. Jangan khawatir, karena banyak kan wanita lain yang juga mengalaminya. Mereka bisa melampauinya dengan sukses, mas Devan juga yakin jika istriku juga bisa melewatinya." sambil mengelus rambut Aleta, Devan berusaha menenangkan istrinya.


"Mas Devan janji ya, akan berada di samping Aleta saat prosesi nanti. Aleta takut ditinggalkan sendiri mas."


"Iya sayang, atau besok Ijonk diminta ke Klaten untuk menjemput Ibu. Nanti jika kamu merasakan gejala pas mas Devan kerja, sementara ada Ibu yang menemani sampai kedatangan mas."


Aleta menggelengkan kepalanya, kemudian Devan memberikan kecupan di kening istrinya.


"Kenapa kok tidak mau, Aleta tidak khawatir jika nanti ada gejala, mas tidak ada di rumah?"


"Mas, ibu tanggung jawabnya banyak. Keadaan yang terjadi di panti Rejeki semua ada di bawah ibu. Jika ibu keseringan disini, kasihan adik-adik panti, yang mengawasi kurang mas. Aleta berani mas, kan ada Ijonk, ada Bibi dan ada pak Karyo juga."


"Iya juga ya. Sayang..., capai tidak saat ini?" tiba-tiba Devan bertanya sambil senyum-senyum Smirk.


"Iih.., ditahan dulu kenapa sih mas. Aleta tahu, mesti pikiran mas Devan larinya kesitu. Kalau kemudian Aleta terus melahirkan gimana, mas Devan mau tanggung jawab."

__ADS_1


Melihat istrinya tinggi, Devan menjadi gemas. Dia kembali memberikan kecupan basah di kening istrinya. Devan sendiri bingung, dia semakin gemas melihat istrinya yang mungil dengan perut yang sudah membesar. Setiap mereka berdekatan, atau kulit mereka bersentuhan, seakan ada rasa kesetrum di tubuhnya.


"Jangan khawatir sayang mas hanya ingin menyentuhmu saja. Masak suami tidak diijinkan menyentuh istrinya." Devan mulai menggoda Aleta.


Aleta mencibirkan bibirnya, dan menjadikan Devan semakin gemas. Dengan perlahan tangan Devan mulai masuk ke leher Aleta dan lambat laun merosot ke bawah.


"Aah.., mas Devan." terlepas suara ******* dari mulut Aleta, yang menjadikan sesuatu di perut bagian bawah suaminya semakin bergolak.


"Sayang.., jangan bersuara seperti itu. Mas Devan jadi tambah horny ini." bisik Devan di telinga Aleta, dan berakhir dengan pukulan tangan Aleta.


Tetapi dengan sigap, Devan menangkap tangan Aleta, kemudian dengan lembut dia beri kecupan basah. Aleta semakin menjadi tidak berdaya untuk menolak kemauan suaminya. Lambat laun pasangan suami istri saling memadukan dirinya, dan berakhir dengan sebuah pelepasan bersama.


**********************************************


"Mas Devan...., mas.., bangun mas." lirih Aleta berusaha membangunkan suaminya.


"Ada apa sayang, apakah sudah akan keluar bayinya?"


"Aleta tidak tahu mas, sudah satu jam Aleta terbangun. Perut rasanya tegang, kemudian muncul rasa nyeri, tapi terus hilang, muncul lagi, hilang lagi mas."


"Kalau begitu kita panggil dokter datang ke rumah, atau kita ke rumah sakit saja."


"Ke rumah sakit saja mas. Tapi tidak perlu membangunkan Ijonk. Karena sekarang sudah lewat tengah malam. Mas Devan saja ya, yang mengemudikan mobil ke rumah sakit."


"Tapi nanti yang memegangi kamu siapa Aleta, kalau di jalan perutmu kesakitan."

__ADS_1


"Tidak mas, ayo kita segera berangkat mas. Pelan-pelan saja ya, mas Devan mengemudi mobilnya.'


Devan mengikuti kemauan Aleta, dia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan untuk perlengkapan bayi dan istrinya. Sambil memegangi istrinya, tangan kirinya menarik trolly bag. Seperti yang dikatakan Aleta, malam itu baru pukul 1.30, mereka membuka kunci pintu dan langsung masuk ke mobil yang memang sudah disiapkan akan dibawa. Mendengar mesin mobil dinyalakan, pak Karyo berlari mendatangi mobil, dan begitu melihat Devan dan Aleta yang berada di dalam mobil, kembali berlari untuk membukakan pintu gerbang.


Tanpa pamit pada pak Karyo, Devan langsung menjalankan mobil menuju rumah sakit bersalin ***mina di sekitar Solo Baru. Devan menghentikan mobil langsung di depan pintu masuk RS, dan melihat ada mobil berhenti security langsung siaga membuka pintu mobil.


"Kursi roda," seru Devan pada security rumah sakit.


Seorang security langsung mengantar kursi roda di depan pintu Aleta. Devan menyerahkan kunci mobilnya pada security, kemudian pelan-pelan membantu istrinya duduk di atas kursi roda. Devan langsung mendorong ke dalam rumah sakit, dan seorang perawat langsung menyambut mereka ke pintu masuk. Untungnya perawat jaga malam itu, adalah perawat yang biasa melayani dokter kandungan tempat mereka melakukan konsultasi masa kehamilan.


Tanpa melalui pemeriksaan administrasi, perawat langsung menempatkan Aleta di ruang VVIP.


"Silakan tunggu sebentar Pak Devan dan Bu Aleta, saya akan hubungi dokter yang memeriksa Ibu Aleta." perawat ijin untuk menghubungi dokter kandungan, setelah membantu Aleta melakukan pengecekan awal.


"Tapi istri saya ditinggal tidak apa-apa Bu?" tanya Devan khawatir.


Dari tadi dia tidak tega saat istrinya mengeluarkan suara desisan dari mulutnya, mungkin menahan rasa nyeri yang timbul.


"Tidak pak, Bu Aleta masih bukaan 4, semoga dokter bisa saya hubungi secepatnya."


Perawat itu meninggalkan kamar perawatan Aleta, kemudian kembali ke ruang jaga untuk menghubungi dokter kandungan Aleta, yaitu Dokter Annisa. Devan mengambil kursi kemudian duduk di samping ranjang Aleta. Dia memegangi tangan istrinya, sambil memandang wajahnya dengan penuh kekhawatiran.


"Bagaimana sayang, masih kuat?" tanya Devan saat melihat istrinya kembali merintih dan dengan kencang memegang tangannya.


Dengan lemah Aleta menganggukkan kepalanya. Perawat tiba-tiba mendatangi mereka.

__ADS_1


"Pak Devan, kira-kira Bapak kuat tidak menemani Ibu Aleta melahirkan. Jika tidak, dokter Annisa berpesan agar Bapak menunggu di luar kamar saja."


Devan tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya saja.


__ADS_2