
Pada jam istirahat, Aleta mengirimkan pesan pada Ijonk untuk menjemputnya di lokasi magang pada pukul empat sore. Sebenarnya sebagai karyawan magang, Aleta mendapatkan kelonggaran dari HRD untuk pulang pada pukul dua siang. Tetapi Aleta merasa tidak enak dengan karyawan lain, sehingga dia berencana mentaati ketentuan jam kerja seperti karyawan lainnya.
"Aleta, selesai istirahat masuk ke ruanganku sebentar ya," Raditya mengirimkan pesan whattsapps pada Aleta. Saat ini Aleta masih berada di mushola setelah selesai menjalankan sholah Dhuhur.
"Iya kak, selesai Sholat Aleta langsung ke ruangan kakak," Aleta menjawab pesan dari Raditya.
Setelah selesai melipat mukena dan memasukkan pada pouch, Aleta merapikan rambut dan riasannya.
"Sudah cantik mbak, mbak Aleta itu tanpa make up juga tetap cantik, karena wajah mbak itu innocent," kata karyawan perempuan dari Solo Techno yang cukup mengagetkan dirinya.
"Aduh mbak Ndari, sukses deh mengagetkan Aleta. Barusan sepi tidak ada orang, lha kok tiba-tiba ada suara terdengar," sahut Aleta sambil memegang dadanya yang masih berdebar.
"Maaf mbak....., Ndari latah soalnya. he..he.., kok sepertinya mbak Aleta buru-buru. Jam istirahat kan masih sampai jam satu, ini masih ada waktu 15 menit mbak. Ayok dinikmati, mubadzir." Ndari menyarankan.
"Dipanggil kak Raditya mbak, aku ke ruangan dulu ya," Aleta pamit pada Ndari kemudian meninggalkannya di mushola sendiri.
"Kakak??? Kok berani ya Aleta memanggil pak Raditya dengan sebutan kakak. Hi.." gumam Ndari sambil begidik.
Aleta langsung mengetuk pintu ruangan Raditya begitu dia sampai di meja kerjanya.
"Masuk," terdengar suara Raditya memintanya masuk ke ruangan.
Aleta mendorong pintu Raditya, kemudian menutupnya kembali setelah dia masuk. Terlihat Raditya sedang memainkan ponsel di tangannya, dan saat dia masuk,Raditya meletakkan ponselnya di meja kemudian tersenyum menatap Aleta.
"Ada apa kak Radit memanggil Aleta," tanya Aleta penasaran. Karena saat ini dia tidak melihat sedikitpun kerepotan yang dihadapi Raditya.
"Duduklah disitu, temani aku makan siang. Aku tidak terbiasa makan siang sendiri." dengan tegas Raditya meminta Aleta untuk menemaninya makan siang.
Tanpa membantah, Aleta mengikuti perintah Raditya untuk duduk di sofa. Di atas meja sudah tersedia dua box makan siang. Melihat Aleta sudah duduk di sofa, Raditya kemudian mengikuti duduk dan menempatkan dirinya di depan Aleta. Akhirnya mereka duduk berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja. Sebenarnya Aleta merasa risih karena duduk terlalu dekat dengan Raditya, tetapi karena baru hari pertama dia magang maka Aleta hanya diam menahan rasa risihnya.
Raditya membuka box Aleta terlebih dahulu, kemudian membukakan plastik yang membungkus sayuran kemudian baru membuka box nya sendiri.
"Ayok makan Aleta, plastiknya sudah aku buka." Raditya mengajak Aleta untuk mulai menikmati makanannya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Aleta segera menikmati makan siangnya. Raditya ikut terdiam dan ikut menikmati makan siangnya, sesekali matanya melirik ke arah Aleta. Tetapi yang dilirik, sedikitpun tidak merespon tatapannya. Tiba-tiba tangan Raditya menghapus butir nasi yang menempel di sudut bibir Aleta. Seperti tersengat listrik, Aleta memundurkan badannya berusaha menjauh dari Raditya.
"Maaf kak Radit, Aleta tidak suka dengan laki-laki yang pegang-pegang Aleta." ucap Aleta tegas pada Raditya. Seketika dia kehilangan ***** makan dan menghentikan makannya.
"Aleta.., tolong jangan salah paham sama kakak. Kakak tidak bermaksud kurang ajar padamu, tadi reflek saja kakak karena melihat ada butiran nasi yang menempel di sudut bibirmu. Maafkan Kak Radit ya, ayo habiskan makanannya." dengan rasa bersalah Raditya meminta maaf atas sikapnya barusan pada Aleta.
Dia sendiri tidak habis pikir, karena biasanya wanita akan merasa bahagia jika diperlakukan seperti tadi olehnya, tapi ternyata tidak berlaku bagi Aleta. Dengan canggung akhirnya Aleta melanjutkan makannya, dan setelah merasa kenyang dia mengakhiri makan siangnya. Raditya membukakan botol air mineral kemudian menyodorkannya pada Aleta. Tanpa pikiran apapun, Aleta mengambil air mineral dari tangan Raditya dan meminumnya secara perlahan. Raditya mengulum senyum karena Aleta sudah bisa menetralisir perlakuannya tadi.
"Bagaimana perasaanmu hari pertama kerja disini." Raditya membuka percakapan dengan Aleta.
"Alhamdulillah suka kak, karyawan disini baik-baik. Dari tadi pagi sejak Aleta datang, mereka sudah ikhlas membantu Aleta tanpa diminta." jawab Aleta normatif.
'Syukurlah kalau begitu. Sebentar lagi jam dua, kamu sudah boleh pulang. Mau aku antar pulang, kebetulan jam 2 aku ada janji dengan orang." Raditya menawarkan Aleta untuk mengantarnya pulang.
"Mohon maaf kak, Aleta sudah minta dijemput jam 4 sore. Aleta mau belajar sama karyawan yang lain, sehingga hari ini pulang jam empat." kata Aleta menolak secara halus tawaran Raditya.
Raditya tersenyum kecut, karena dari tadi dia merasakan penolakan dan penghindaran Aleta terhadapnya.
"Sabar Dit..., masih penjajagan. Sabarkkan dirimu," Raditya berpikir sendiri. Aleta membereskan bekas makan mereka, kemudian dia berpamitan untuk membuang di tempat sampah.
"Okay, makasih Aleta sudah menemaniku makan siang." kata Raditya.
" Waduh malah jadi malu Aleta, harusnya sini yang terima kasih, malah sudah didahului kak Radit." Aleta tersenyum malu, kemudian keluar ruangan untuk membuang sampah dan melanjutkan aktivitasnya.
*************
__ADS_1
Mengetahui jarum jam sudah menunjukkan pukul empat, Aleta segera beranjak dari tempat duduknya. Di belakangnya terlihat Susan juga baru meninggalkan ruangan..
"Aleta...," panggil Susan pada Aleta.
"Iya kak," sahut Aleta sambil menghentikan langkahnya kemudian menunggu Susan.
"Bagaimana dengan hari pertama magangmu, kamu bisa menyesuaikan." tanya Susan sambil mensejajarkan langkahnya, dan bersama-sama mereka melangkah keluar.
"Alhamdulillah bisa kak, teman-teman karyawan disini baik-baik. Mereka sangat responsif sekali dalam membantu Aleta." ucap Aleta tulus.
"Syukurlah kalau begitu."
Mereka berjalan sampai di depan lobby, Aleta menghentikan langkahnya dan dia menengok ke parkiran mencari mobil yang dibawa Ijonk. Melihat Aleta berhenti, Susan menawarinya untuk pulang bersama.
"Mohon maaf kak Susan. Tapi Aleta sudah minta dijemput, kasihan kalau mereka Aleta tinggal." Aleta menolak tawaran Susan.
"Baik kalau begitu, Kakak duluan ya, hati-hati di jalan Aleta," kata Susan.
"Terima kasih kak,"
Tiba-tiba Aleta akan berteriak kencang, karena ada tangan yang melingkari pinggangnya dari belakang. Tetapi untungnya tangan orang yang melingkari menutup mulutnya kemudian memutarkan badan Aleta ke belakang. Aleta melihat suaminya Devan sedang memeluknya, kemudian reflek Aleta mengambil tangannya dan menciumnya. Devan memberikan kecupan lembut di kening Aleta kemudian merangkulnya, dan membawanya menuju mobil yang parkir di sisi bahu jalan.
Dari dalam mobil Susan menutup mulutnya melihat adegan intim Aleta dengan laki-laki yang meskipun tampan, tetapi seperti memiliki perbedaan usia yang jauh dengan Aleta.
"Apa Aleta itu sugar baby ya, dan laki-laki tadi sugar daddynya. Tapi kalau iya, kenapa mereka terang-terangan di depan umum menampilkan keintiman. Apa mereka tidak malu jika ada yang memvideokan kemudian mengunggahnya di media online." pikiran Susan berkecamuk dengan berbagai pertanyaan yang kemudian dijawabnya sendiri. Tapi kemudian dia memutuskan untuk menanyakan langsung pada Aleta besok pada waktu dia magang kerja.
__ADS_1
**************