
Aleta membuka matanya, dan melihat si samping ternyata Devan sudah tidak ada. Dia kemudian melihat ke arah jam tembok yang ditempel di sisi atas tembok di depannya.
"Wow... pantesan sepi ternyata sudah jam delapan pagi." Aleta langsung beranjak dari atas ranjang, kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
Dia kemudian mengguyur tubuhnya dengan menggunakan shower dan memberi shampoo pada rambutnya. 10 menit Aleta habiskan waktu di kamar mandi, kemudian masuk ke walk in Closed untuk mengganti baju. Kemudian dia merias tipis wajahnya, dan segera berangkat keluar dari kamar sambil membawa ponsel..
"Bi...., kok sepi sudah pada berangkat kerja semua ya," tanya Aleta pada Bibi Puji yang sedang membersihkan ruang keluarga.
Bibi Puji tersenyum melihat kedatangan Aleta.
"Iya Non, tadi sudah berangkat dari jam tujuh. Bibi mau bangunkan Non Aleta, tapi tidak dibolehkan sama Tuan Devan, katanya Non kecapaian." sahut Bibi Puji sambil menghentikan kerjaan sebentar.
"Non mau teh panas, biar Bibi buatkan dulu." lanjutnya lagi.
"Tidak perlu Bi. Aleta buat sendiri saja, sekalian mau sarapan. Bibi lanjutkan pekerjaan bersih-bersih rumah saja." ucap Aleta sambil meninggalkan Bibi Puji sendiri.
Aleta melihat di meja makan sudah terhidang nasi goreng dan telur dadar. Setelah membuat satu gelas teh panas, Aleta kemudian menikmati nasi goreng. Dia sarapan sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan terlihat di screen suaminya sedang melakukan panggilan.
"Assalamualaikum, ada apa mas," Aleta menyapa Devan.
"Wa Alaikum salam, sudah bangun. Baru ngapain sekarang." Devan menjawab salam yang Aleta berikan.
"Sudah mas, sudah mandi juga dan ini lagi sarapan sendiri. Kok mas Devan tidak bangunkan Aleta sih. Kan Aleta malu, masak sarapan pagi tidak ada sendiri." protes Aleta pada suaminya.
"Ha..ha..ha.., istriku malu sama siapa sayang? Lha mas saja juga kesiangan, ada janji dengan orang jam tujuh. Jam tujuh, mas lagi berangkat sama Rolland dari rumah." kata Devan sambil tertawa.
"Aleta kan perempuan mas, harusnya bangun pagi-pagi. Masak ini sholat Subuh juga tidak, bangun-bangun terus keluar, ternyata sudah pada berangkat semua. Papa, mama dan kakek bisa punya pikiran aneh-aneh sama Aleta nanti."
"Aleta sayang. Tidak perlu banyak berpikir, mereka juga tahu kalau istriku terlalu capai karena melayani suaminya. Harusnya mereka yang apresiasi dong. Oh ya, btw..., ada acara apa hari ini istriku." Devan bertanya.
"Tidak ada acara mas. Bingung juga, mau jalan sendiri ogah. Kalau hubungi Tata takutnya dia ada kuliah atau kegiatan yang lain. Hubungi Irvan nanti ada yang jealous, ga tahu nantilah." Aleta menjawab sambil lesu.
__ADS_1
Devan terdiam, kemudian mengambil nafas.
"Atau Aleta datang ke perusahaan mas Devan saja. Kan bisa menemani mas disini, siapa tahu jadi mau magang disini."
"Memangnya mas Devan tidak ada acara penting hari ini? Sebenarnya Aleta mau pulang ke apartemen saja, baju-baju disini tidak ganti-ganti. Baju dicuci, setrika terus dipakai lagi. Tapi malesnya, di apartemen juga sepi, sama juga sendirian." Aleta kembali berkeluh kesah.
"Ya sudah nanti malam, kita pulang ke apartemen ya. Sekarang habis sarapan kalau tidak ada acara, minta pak Asep untuk antar ke perusahaan. Mas tunggu sayang." kata Devan.
Setelah menutup panggilan telepon dari suaminya, Aleta kembali melanjutkan sarapan paginya.
*******************
"Pak Asep..., antar Aleta yok ke tempat perusahaan mas Devan." ucap Aleta sama Asep.
"Ya non, mari." pak Asep langsung menyiapkan mobil untuk mengantarkan Aleta menemui Devan.
Setelah pamitan dengan Bu Puji, Aleta segera bergegas masuk ke dalam mobil. Karena mau mengunjungi tempat kerja suaminya, Aleta mengenakan baju semi formal dan sepatu high heels. Dia ingin melindungi suaminya dari pikiran buruk anak buahnya, maka dia berusaha memantaskan dirinya.
"Camilan apa Non, kalau dalam ruangan Tuan Devan dan Tuan Rolland, setahu saya selalu ada Camilan disana. Tapi kalau Non mau cari yang lain, pak Asep antarkan."
"Iyakah, sudah ada ya. Siapa yang suka mencari pak."
"Non Jenny biasanya yang cari Non. Karena dulu pak Asep pernah tiga kali diminta mengantar Non Jenny ke bakery."
"O begitu, ya sudah kita langsung ke perusahaan saja. Kalau Jenny yang cari, Aleta yakin seleranya ok."
"Baik Non." jawab Asep kemudian langsung mengarahkan mobil ke perusahaan.
********************
Aleta langsung diantarkan Asep menuju lift khusus Direksi, dan menekan tombol menuju lantai tujuh. Setelah memberikan arahan pada Aleta, Asep kembali keluar dari pintu lift, dan menunggunya di dalam mobil.
__ADS_1
Sesampainya di lantai tiga, lift berhenti, dan ternyata ada dua orang satu laki-laki dan satu perempuan yang ikut masuk ke dalam. Mereka memandang pada Aleta, kemudian yang laki-laki bertanya pada dirinya.
"Maaf mbak, ini lift khusus Direksi. Mbak mau ketemu siapa."
Aleta hanya tersenyum.
"Saya mau ke lantai tujuh. Memang saya mau ke ruangan Direksi. Lha mas sama mbak ini mau kemana, katanya tadi bilang ini lift khusus Direksi?" Aleta balik bertanya.
"Kok malah mbaknya ganti nanya ke kami. Lift yang satunya penuh, ya sudah kebetulan kami mau ke tempat pak Devan ga ada salahnya dong kami pakai lift ini." dengan judes perempuan itu menjawab pertanyaan Aleta.
Aleta hanya tersenyum tidak menanggapi ucapan perempuan itu. Dan setelah di lantai tujuh, Aleta segera keluar lift. Dia mencari ruang Devan tapi tidak ada yang menggunakan nama. Matanya tiba-tiba menangkap tulisan Director Room, kemudian dia menuju ke ruangan itu. Saat dia mau mengetuk pintu, ternyata pintu ditarik dari dalam ruangan.
"Lho ada kakak ipar, sama siapa kak. Ayo Rolland antarkan ke tempat mas Devan." ternyata Rolland keluar dari ruangan itu.
"Ini ruanganmu Rolland, Aleta pikir tempat mas Devan. Untung saja kamu pas keluar." Aleta tersenyum kecil.
"Dulu ini ruangan mas Devan kak, tapi semenjak kakek tidak mau lagi di perusahaan. Akhirnya mas Devan menempati ruangan kakek terus Rolland ke ruangan mas Devan." Rolland menjelaskan dan beberapa orang yang ketemu menganggukkan kepala.
"Ini kak, ruangan mas Devan. Lebih luas dan lebih lengkap fasilitas di dalamnya. Kakak masuk sendiri saja ya, Rolland sudah terlanjur janji sama Jenny soalnya." kata Rolland sambil tersenyum.
"Okay matur tengkyuuu Rolland, kakak ketuk dulu atau langsung masuk saja." tanya Aleta.
"Langsung masuk saja, lihat bagaimana reaksi kakak," sahut Rolland langsung pergi meninggalkan Aleta.
Aleta mendorong pintu di depannya, dan tatapannya langsung melihat tatapan mata dari belakang meja kerja. Devan tersenyum melihat kehadirannya, sampai mengabaikan dua orang yang sedang menghadap. Dia langsung beranjak dan menghampiri Aleta si depan pintu.
"Tepat dugaan mas, pasti sayang menyusul mas kesini." kata Devan langsung memeluk Aleta, tanpa menghiraukan dua orang karyawan yang ada di ruangannya. Aleta langsung membalas pelukan suaminya, kemudian mencium tangannya.
Laki-laki dan perempuan yang sedang berada di dalam ruangan Devan, langsung terkejut melihat siapa yang dihampiri bosnya.
****************
__ADS_1