Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Saling Melindungi


__ADS_3

Selesai kuliah Aleta dipaksa Cory untuk tinggal sebentar, dan bergabung dengan teman-teman lainnya merayakan ulang tahun Galih di working space.


"Ayoklah... Aleta, dua bulan kamu pergi tanpa kabar. Masak baru jumpa sebentar, sudah mau pulang saja." rengek Corry, karena belum hilang rasa kangennya pada Aleta.


"Maaf ya Cory... bukannya aku menolak. Tapi aku memang tidak bisa. Laen waktu deh, aku akan luangkan waktu." kata Aleta.


Hari ini dia sudah terlanjur janji sama adik-adik panti, untuk memberikan les tambahan seperti yang pernah dia lakukan sebelum menikah dengan Devan.


"Iya nih Aleta, sekali-sekali bisa ga sih, kamu ada waktu untuk kita-kita. Kita tidak berbuat aneh-aneh, hanya duduk, ngobrol, minum, makan. Sudah deh, terus pulang." sahut Amira.


"Atau kamu ga nyaman kalau kita kumpulnya di working space," ucap Galih yang punya acara.


" Atau tempatnya kamu yang nentukan saja Aleta, jadi kita sama-sama nyaman" sahut Corry.


Aleta sedikit kebingungan, di satu sisi dia ada janji dengan adik-adik, tapi dia juga tidak enak dengan teman-temannya. Akhirnya setelah mengambil nafas panjang, Aleta memberikan pilihan pada teman-temannya.


"Atau gini teman-teman, kita ambil win win solution ya. Kalau kalian setuju berarti ada aku, tapi kalau tidak mohon dimaafkan aku tidak bisa gabung dengan kalian."


"Ok, cepat katakan Aleta. Keburu panas nih," sahut Galih.


"Iya, kalau aku keburu lapar, he...he...," celetuk Imam.


"Bagaimana kalau acaranya diadakan di tempatku, jadi aku bisa memenuhi janjiku, dan juga bisa bergabung dengan kalian semua. Siapa tahu nih, kalian juga tertarik untuk membantuku." ucap Aleta sambil tersenyum.


"Membantu apa," tanya Galih cepat.


"Nanti kalian akan tahu sendiri jawabannya." Aleta menjawab dengan penuh teka-teki.


"Terus dimana tempatnya Aleta, bukannya kamu tinggal di....,. eh ga jadi." tanya Amira canggung, kemudian menutup mulutnya dengan tangan.


Aleta tersenyum melihat kecanggungan Amira.


"Maksudnya di panti ya Mira, ...aku sekarang tinggal di dekat kampus kok. Naik motor ke rumahku, paling tidak sampai 10 menit." Aleta menjelaskan tempat tinggalnya sekarang.


"Iyakah..., kalau begitu teman-teman. Hari ini agenda kita ada dua. Yang satu syukuran ulang tahun Galih, dan satunya lagi adalah acara syukuran rumah baru Aleta." seru Corry.


"Alhamdulillah, rejeki anak Sholeh. Menu kita hari ini pasti istimewa nih, kan gabungan dua acara." celetuk Imam.


"Ha . ha..ha..., dasar tukang makan," seru Galih sambil mengacak-acak rambut temannya itu.


"By the way..., naik apa kita kesananya. Kita kan berempat, terus tambah Aleta. Jadi kita berlima," kata Imam.

__ADS_1


"Aku bawa motor hari ini, jadi aku bisa boncengin Aleta," kata Corry.


"Aku juga bawa, lainnya siapa lagi yang bawa motor," seru Galih.


"Tenanglah, aku juga bawa. Aku bawa Diajeng Amira, Corry bawa Aleta, dan Galih yang ulang tahun, jomblo deh. He..he...," sahut Imam.


"Ok, no problem. Ayuk sekarang ya," kata Galih.


Mereka berlima segera menuju basement untuk mengambil sepeda motor. Setelah mengambil motor, tiba-tiba Dion teman sekelas mereka menghalangi jalan dengan merentangkan kedua tangannya.


"Woi... minggir woi, atau aku tabrak nih " teriak Imam menggoda Dion.


"Pada mau kemana, main tinggal aja," protes Dion pada mereka.


"Halah .., tidak usah banyak tanya. Kalau pingin ikut, Ayuk naik boncenganku. Kalau tidak, menyingkir dari tempatmu." seru Galih.


Tanpa banyak tanya, Dion langsung naik ke boncengan motor Galih, meskipun dia tidak tahu tujuannya. Ketiga sepeda motor itu langsung digas menuju rumah Aleta, dengan Corry dan Aleta sebagai penunjuk jalan.


********


Tidak berapa lama perjalanan, akhirnya mereka memasuki halaman yang luas dengan banyak tanaman hijau di sekelilingnya. Teman-teman Aleta terpukau dengan view di sekitar rumah tersebut, mereka tidak menyadari bahwa di sekitar kampus masih ada rumah tinggal yang menyerupai cottage.


Mendengar ada suara sepeda motor masuk halaman, Ijonk dan pak Karyo bergegas menuju halaman depan. Tapi melihat majikannya turun dari boncengan motor, mereka kemudian menyambut kedatangan Aleta.


"Tidak apa-apa Jonk, lagian cuman dekat. Adik-adik sudah kamu jemput belum," tanya Aleta


"Sudah non, mereka baru bermain di halaman belakang." jawab Ijonk sambil merapikan motor.


"Ok, terima kasih ya."


"Ya non sama-sama, itu kan memang merupakan tugas saya " sahut Ijonk malu.


Aleta kemudian mengajak teman-temannya naik ke teras rumah, karena dari tadi mereka hanya berdiri mengagumi keindahan lingkungan rumah tersebut.


"Ayok masuk semua.., kok malah bengong." kata Aleta mempersilakan mereka masuk rumah.


"Aleta..., ini rumah tinggalmu ya, kalau begitu kita tidak perlu menyewa working space kalau kumpul diskusi." sahut Imam.


"Iya benar, kita tinggal bawa camilan saja kesininya." celetuk Amira.


"Hadeh Mir, dalam pikiranmu yang ada cuman camilan dan makanan." sahut Corry sambil menjentik kening Amira.

__ADS_1


Keenam orang itu tertawa bersama, kemudian mengikuti Aleta masuk ke dalam rumah. Aleta langsung membawa mereka ke teras belakang. Tempat itu memang spot favorit Aleta untuk menghabiskan waktu, karena dari situ, bisa melihat hamparan sawah dengan pohon nyiur di pinggirnya.


"Wow.. instagramable sekali disini. Aku pingin ambil foto disini" teriak Amira.


Aleta hanya tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya. Kemudian dia mencari Tini ke dapur.


"Tin...Tini." panggil Aleta.


"Iya non." jawab Tini berjalan cepat dari dari kamar mandi.


"Tin..., ada bahan mentah apa di kulkas. Kalau sempat, masak ya yang banyak. Temanku lima orang, sama 6 adik panti biar sekalian makan disini." kata Aleta memerintahkan Tini untuk masak.


"Iya non, adik-adik juga sudah Tini buatkan minum tadi. Tini masak dulu ya non," pamit Tini.


"Oh iya Tin, si Ijonk suruh ke Pizza *** ya. Minta dia beli yang menu paket panjang. Uangnya pakai uang belanja dulu." kata Aleta.


"Iya non." jawab Tini kemudian keluar mencari Ijonk.


Aleta kembali ke teras belakang, dan terlihat teman-temannya sudah bergabung dengan adik-adik panti mengambil foto di pinggir sawah. Aleta berjalan menghampiri mereka.


"Katanya panas, kok malahan pada foto-foto disini." kata Aleta mengagetkan mereka.


"Kakak....," keenam adik-adik menghambur ke pelukan Aleta begitu mendengar suaranya.


"Iya.., kalau sudah puas mainnya.. sekarang pada cuci tangan dan kaki. Kita mulai belajarnya." kata Aleta.


"Baik kak, kita cuci tangan dan kaki dulu." jawab adik-adik kemudian segera berlari menuju kamar mandi.


Teman-teman Aleta terpana melihat keakraban dan kesabaran Aleta dengan adik-adiknya. Mereka kemudian menghentikan aktivitasnya, dan menghampiri tempat Aleta berdiri.


Aleta tersenyum melihat mereka saling berpandangan.


"Teman-teman, mereka adalah alasanku mengapa aku jarang bisa memiliki waktu untuk bermain bersama kalian semua." kata Aleta lirih sambil tersenyum.


"Mereka bernasib sama sepertiku, yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk, dicium oleh ayah dan ibunya. Jadi, aku ingin selalu melindungi dan menyayangi mereka."


Corry dan Amira kemudian memeluk Aleta dengan berlinang air mata.


"Aleta, maafkan kami." kata mereka.


"Sudah,. sudah.. kalian tidak salah." ucap Aleta sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Akhirnya acara ulang tahun Galih dihabiskan dengan bermain dan mengajari adik-adik panti belajar. Bahkan kelima teman Aleta berjanji untuk menjadi volunteer di panti asuhan Rejeki.


******


__ADS_2