Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Ubud


__ADS_3

Pukul dua sore, jet pribadi yang membawa Devan, Aleta dan Rolland sudah mendarat di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar. Sedangkan Cokro memilih terbang dengan pesawat komersial bareng dengan rombongan yang lain.


Setelah turun dari pesawat mereka langsung menuju pintu keluar lewat **esar lounge executive.


"Kita minum dulu atau langsung menuju Ubud kak." tanya Rolland pada Devan.


"Sayang, kamu capai, atau mau minum dulu." yang ditanya malah kembali menanyakan pada Aleta yang berada di sampingnya.


"Tadi Aleta sudah minum di pesawat, Bagaimana kalau langsung ke Ubud. Aleta pingin segera melihat hamparan sawah di sore hari." kata Aleta.


"Baiklah permaisuri ku. Rolland.. let.s go.


sudahkan kamu hubungi yang menjemput kita." tanya Devan pada adiknya.


"Tadi ditanya tidak menjawab. Sekarang malah balik bertanya. Hadeh.. dasar Bucin Bucin...," gerutu Rolland.


Aleta tertawa melihat ekspresi Rolland.


"Sabar dik..., pokoknya sesuai titah dan sabda sang raja. He..he...," sahut Aleta menghibur Rolland.


Devan hanya tersenyum melihat keakraban adik dan istrinya. Mereka segera menuju pintu keluar, dan di depan lounge sudah ada bapak-bapak yang menjemput mereka.


"Kenalkan nama saya Bli Nyoman, saya yang ditugaskan untuk mengantarkan Bapak dan Ibu ke tujuan."


"Ok, kita langsung menuju villa di Ubud." jawab Rolland.


Nyoman segera memandu mereka menuju parkiran mobil, dan langsung mengemudikan mobil menuju Ubud.


*****


Setelah satu jam setengah perjalanan, mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki halaman villa. Udara segar khas bau tanah basah, dan sejuknya udara langsung menerpa. Aleta membuka kedua lengannya lebar-lebar dan menghirup aroma tanaman padi sambil memejamkan matanya.


Devan dan Rolland saling berpandangan melihat kebahagiaan Aleta.


"Selamat sore.., selamat datang di **jar House," di depan Villa petugas villa sudah menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat sore,' Rolland menjawab sambutan petugas, sedang Devan hanya diam sambil mengamati istrinya.


"Bisa dibantu atas nama siapa."


"Rombongan dari keluarga Cokro." sahut Rolland.


"Oh ya mari saya antar kan. Atas nama siapa tamunya, karena daftar nama sudah dikirim oleh Ibu Jenny, kita tinggal mengikuti instruksinya."

__ADS_1


"Devan dan Rolland." sahut Rolland.


Petugas hotel melihat daftar tamu pada catatan yang dia pegang di tangannya.


"Maaf untuk bapak Devan, beliau di Presidential Suite. Mari bapak saya antar kan. Untuk bapak Rolland, bisa ikuti jalan batu-batu kemudian ambil kiri. Nanti kamarnya ada di paling ujung." kata petugas menjelaskan posisi kamar.


"Lho...kok saya dipisahkan jauh." protes Rolland.


"Mohon maaf Bapak, kami hanya menjalankan instruksi dari Ibu Jenny. Jika bapak ingin pindah kamar, Bu Jenny berpesan agar bapak konfirmasi dengan beliau."


"Awas kamu Jenny, aku yakin kamu sengaja mempermainkan aku." kata Rolland sambil ngedumel.


"Ibu Jenny itu siapa mas," tanya. Aleta pada Devan.


"Itu sekretaris mas, yang dulu kamu pernah ketemu di T**ns Lux***y Hotel." jawab Devan pelan.


"Oh...ya Aleta ingat. Mbak -mbak yang genit, yang dadanya mau tumpah keluar itu ya." seru Aleta.


"Hush..., jangan vulgar bicaranya sayang," kata Devan sambil senyum-senyum.


"UPS, maaf," kata Aleta sambil menutup mulutnya.


"Tapi ada hubungan apa denganmu dik, kok sepertinya ngerjain kamu." tanya Aleta pada Rolland.


"Tapi hati-hati dik, jangan kebangetan bencinya. Ntar tahu-tahu ada kabar jadian. Kalau istilah Jawa "GETHiNG NYANDHING" yang artinya benci akhirnya berdua deh jadinya. He .he..," sahut Aleta sambil tertawa kecil.


Devan mengusap kepala istrinya kemudian merangkul dan membawanya meninggalkan Rolland.


"Sudah..sudah.., tidak perlu ngurusi anak jomblo." kata Devan.


"Awas... kalian semua bersekongkol untuk membully aku." kata Rolland sambil bersungut-sungut.


*****"


"Silakan masuk, ini kamarnya. Jika membutuhkan bantuan, silakan hubungi Operator Room Service di nomor panggilan 0. Kami akan segera menuju kesini." kata petugas villa dengan khas keramahannya.


"Cukup, pergilah." jawab Devan kemudian langsung membawa Aleta masuk ke dalam kamar.


"Bagus sekali mas Devan kamarnya. Aleta suka."


Aleta kemudian menuju jendela dan membuka tirai yang menutup.


"Wow...mas, Aleta jadi ingat kampung di Klaten. Hamparan sawahnya mas, sejuk dan segar." seru Aleta mengagumi panorama alam di sekitar kamarnya.

__ADS_1


Dari dalam kamar terlihat hamparan padi yang sedang menguning berpadu dengan sinar matahari yang akan terbenam. Hamparan sawah menjadi seperti hamparan emas dengan semburat kemerahan di ufuk matahari.


Devan menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang. Aleta merasa memiliki firasat buruk dari suaminya.


"Mas, sekali-kali ijinkan Aleta menikmati keindahan ini. Please..., jangan ganggu Aleta dulu ya." Aleta meminta dengan tatapan memohon.


"Iya..iya..., kali ini mas akan melepaskanmu. Tapi untuk nanti malam, mas tidak janji ya." jawab Devan sambil menggoda istrinya.


Devan sangat gemas dan menikmati rona kemerahan di pipi Aleta saat istrinya tersipu malu.


"Kamu capai tidak, kalau tidak mas akan membawamu." tanya Devan lembut.


Aleta menggelengkan kepalanya. Melihat jawaban Aleta, Devan langsung menggandeng tangan istrinya kemudian menariknya keluar kamar. Dengan hati-hati Devan membawa Aleta menyusuri pematang sawah, dan di tengah-tengah pematang, Devan menghentikan langkahnya.


"Mau Selfie dengan mas," Devan menawarkan untuk swa foto dengan istrinya.


"Mau..mau ., kan Aleta belum punya foto berdua dengan mas." seru Aleta.


Kemudian Devan memeluk istrinya dari belakang, dan meletakkan dagunya di pundak Aleta.


"Ayuk...satu, dua, tiga, cheese...," seru Aleta.


Mereka mengambil gambar Selfie beberapa kali ambilan. Terlihat Aleta sangat puas melihat tampilan foto-foto Selfie mereka.


"Aleta mau pasang foto ini sebagai wallpaper." kata Aleta sambil melakukan pengaturan di ponselnya.


"Mas juga mau dipasangkan, kirim ya fotonya ke mas." sahut Devan.Devan sendiri bingung dengan dirinya sendiri.


Dia yang biasanya cuek, saat ini dia menjadi kekanak-kanakan seperti anak usia SMA.


Setelah melakukan pengaturan di ponselnya, Aleta meminjam ponsel Devan, kemudian melakukan hal yang sama di ponsel suaminya. Satu jam mereka habiskan waktu menyusuri hamparan sawah, dan karena menjelang petang, akhirnya Devan mengajak Aleta kembali.


Dari kejauhan, Rengganis dan Maurin tampak geram melihat interaksi Devan dan istrinya. Mereka mengira Devan dan Aleta ikut dalam rombongan pesawat komersial. Mereka sudah menyiapkan jebakan di pesawat, tapi ternyata mereka menggunakan jet pribadi untuk menuju Denpasar.


"Nanti malam jangan sampai kita lengah." kata Rengganis.


"Aku sudah membayar beberapa petugas hotel untuk bekerjasama dengan kita. Saat Devan terpengaruh, kamu harus secepatnya memanfaatkan kesempatan itu." lanjut Rengganis mengarahkan Maurin.


"Iya Tante, Maurin akan fokus perhatian pada mas Devan." sahut Maurin.


Rengganis sangat yakin dengan rencananya dalam menjebak Devan putranya. Bahkan dia sudah membayar petugas hotel untuk mencampurkan bubuk pala pada minuman rempah yang khusus disajikan untuk Aleta menantunya.


*******

__ADS_1


__ADS_2