
Aleta dan Devan menikmati makan siang di sore hari dalam diam. Devan berusaha menuruti nasehat dari kakek Cokro, dimana dia harus mencoba untuk mengalah menghadapi istrinya yang memiliki usia terpaut cukup jauh. Situasi perjodohan yang diatur oleh kakeknya, menjadi salah satu penyebab gambarnya komunikasi di antara mereka.
"Oh my God... quickie nih..., perasaan tidak ada satu jam kak Devan di kamar kakak ipar, keluar...keluar rambut kakak ipar sudah basah. Uhuyy... tancap gas langsung." tiba-tiba Rolland muncul meledek pasangan pengantin tersebut sambil cengengesan.
Aleta tersipu malu mendengar candaan vulgar dari Rolland.
"Hush anak kecil... pergi sana," ucap Devan mengusir adiknya.
"Aku kesini diminta kakek untuk menanyakan jam berapa mau ke berangkat ke hotel. Mau diantar atau kak Devan bawa mobil sendiri."
Devan tidak menjawab tapi mengarahkan dagunya ke arah Aleta. Rolland memahami isyarat yang ditunjukkan kakaknya.
"Kakak ipar., jam berapa mau ke hotel, berangkat berdua dengan kak Devan atau mau diantar?"
"Hotel, hotel apa kak Rolland." tanya Aleta bingung.
"Kakak ipar.., jangan panggil Rolland dengan panggilan kakak. Ganti adik donk, posisi Aleta sekarang kakak ipar Rolland. Sister in law."
Aleta tersenyum malu. Panggilan kakak ipar masih terasa ganjil dan aneh terdengar di telinga.
"Iya, hotel apa dhik." ucapnya lirih dan kaku.
"Sip, manis," kata Rolland sambil mengacungkan jempolnya.
"Honeymoon kak... honeymoon."
"Siapa yang mau honeymoon, Aleta mau di rumah banyak tugas kuliah." sahut Aleta.
Devan mengamati interaksi adiknya dan Aleta.
"Kenapa dia bisa akrab dengan Rolland, tapi denganku seperti ketakutan." batin Devan.
"Semua sudah disiapkan kak. Kakak ipar dan Kak Devan tinggal berangkat, kuliahnya ditinggal dulu di lemari. Malam ini milik kalian berdua." kata Rolland usil memainkan matanya menggoda mereka.
"Aku pingin sama adik-adik dan ibu disini saja dulu, tidak perlu kemana-mana. Kalau mau ke hotel biar pak Devan saja yang di hotel sendiri"
"Uhuk..." tiba-tiba Devan terbatuk karena tersedak mendengar perkataan Aleta.
Secara reflek Aleta memberikan gelas air putihnya kepada Devan.
__ADS_1
"Pelan-pelan pak makannya, biar tidak tersedak lagi."
"Wuidih..., masak sama suami masih panggil pak. Gak seru kakak ipar, panggil hubby atau sayang gitu lho,"
"Sudah Rolland, kakak iparmu belum terbiasa." jawab Devan.
"Kakak ipar, besok sore kita harus balik ke Bandung. Jadi kebiasaan memanggil kak Devan harus dibiasakan diganti dari sekarang, jadi pas di Bandung kakak jadi terbiasa." kata Rolland menasehati Aleta.
Aleta hanya menunduk.
"Sebelum ke Bandung juga, kakak harus menikmati honeymoon, biar Rolland segera dapat ponakan-ponakan lucu lima orang." kata Rolland sambil menunjukkan lima jari.
"Kamu menyingkir tidak, atau perlu kakak bungkam mulutmu. Lihat tidak, kita baru makan."
"Lha...aku kesini juga karena disuruh sama kakek."
"Sudah sana kasih tahu kakek, malam ini kita tidur di sini."
Aleta memandang Devan, tapi yang dipandang pura-pura tidak melihat. Aleta berpikir kalau mereka berdua tidur disini, apakah mereka akan tinggal dalam satu kamar. Akhirnya Aleta cepat-cepat menghabiskan makannya.
Selesai makan dan mencuci piring, Aleta kembali ke kamar, tapi di dalam kamarnya terlihat Devan sedang duduk bersandar di tempat tidur.
"Kok pak Devan disini, kamarnya kecil dan sempit pak." ucap Aleta pelan.
"Aleta pingin disini saja pak."
"Ya sudah berarti malam ini kita berada dalam kamar ini."
"Pak Devan tidak tidur diluar."
"Aleta, kamu itu polos, bodoh, atau pura-pura tidak tahu, kita baru menikah tadi pagi. Apa ada pengantin baru tidur terpisah di rumah yang sama." kata Devan gemas melihat istrinya.
Aleta diam tidak membalas perkataan Devan, dia bingung membayangkan bagaimana posisi tidur mereka nanti malam.
******
Devan dan Aleta sudah memberi tahu pada kakek Cokro dan Bu Rosna, jika mereka tidak akan menginap di hotel untuk menikmati malam pertama di hari pernikahan mereka. Dengan dalih bahwa besok sore mereka harus pergi ke Bandung, malam ini Aleta ingin menghabiskan waktu bersama adik-adik dan Bu Rosna. Akhirnya mereka diijinkan kakek Cokro untuk menikmati malam pertama di rumah. Agar konspirasi berjalan lancar, Devan memutuskan untuk berada di kamar Aleta, seperti halnya pasangan pengantin.
Selepas menemani Bu Rosna mengobrol dengan kakek Cokro, Aleta kembali ke kamarnya. Namun, baru saja dia membuka pintu terlihat Devan bertelanjang dada tidak mengenakan pakaian atas, dan hanya memakai celana boxer. Muka Aleta memerah dan tersipu, kemudian berjalan menuju kursi dan berusaha mengabaikannya.
__ADS_1
"Kenakan bajumu, jangan telanjang seperti anak kecil." kata Aleta.
"Panas kamarmu, aku masih pakai baju tidak telanjang."
"Kenakan pakaian atasmu, aku tidak pernah melihat laki-laki tidak mengenakan baju di depanku."
Tiba-tiba Devan merasa lucu melihat kepolosan dan keimutan istrinya, sehingga timbul keinginan untuk mengerjainya. Devan berdiri di belakang kursi yang diduduki Aleta.
'Carikan aku selimut atau sarung tipis untuk penutup dadaku." Devan memerintah Aleta.
Tanpa menjawab Aleta berdiri untuk mencari selimut di lemari. Tetapi begitu Aleta berdiri dan membalikkan badan, hidungnya merasa menabrak dinding daging. Aleta berteriak karena kaget, dan melangkah mundur. Tapi dia malah menabrak kursi, dan dengan mata terpejam dia sudah sadar bahwa dirinya akan terjatuh.
Namun ketika Aleta berpikir bahwa dia akan terjatuh dengan kepala membentur meja, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggang untuk menahan tubuhnya. Tangan itu seketika menariknya, dan muka Aleta kembali mendarat di dada Devan.
Aroma khas hormon maskulin laki-laki yang belum pernah dikenalnya tiba-tiba memenuhi hidung Aleta. Seketika jantung Aleta merasa bergetar, linglung, dan ada rasa hangat suhu tubuh Devan menjalar ke badannya. Devan memeluknya. Tiba-tiba, dari arah pintu
"Brak," suara pintu terbuka, dan terlihat Bu Rosna, kakek Cokro dan Rolland terkejut, dan berdiri mematung di depan pintu tidak ada yang mampu berbicara.
Seketika Aleta tersadarkan dan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Devan, tetapi Devan malah menekankan kepala Aleta semakin dalam ke dadanya.
"Hua...Hua ..Hua...," tiba-tiba Rolland tertawa ngakak melihat pemandangan di depannya.
"Sudah dibilangin ke hotel untuk melaksanakan peperangan pertama, malah memaksakan bertahan di kamar kecil, ha..ha..," Rolland semakin seru menggoda mereka.
Aleta tidak berkutik dengan muka merah menahan malu, dia tidak berani mengangkat wajahnya. Wajahnya semakin dia benamkan di dada Devan, sedangkan sang pemilik tempat, matanya berubah redup mencoba mengendalikan sesuatu.
"Ayo pergi dari sini, kita yang tidak tanggap sasmita sama pengantin baru." kata kakek Cokro tiba-tiba mengajak Bu Rosna dan Rolland menyingkir.
"Silakan lanjutkan sepak bolanya kakak ipar, kak Devan," teriak Rolland sambil melangkah pergi.
Sepeninggalan mereka, Aleta mendorong tubuh Devan ke belakang dengan kencang sampai Devan terduduk di ranjang. Dengan satu hentakan tangan, tubuh Aleta ikut terjatuh di atas tubuh Devan dan mereka sudah dalam posisi berbaring di atas ranjang dengan tubuh Aleta di atas tubuh Devan.
"Lepaskan Aleta, pak Devan. Aleta takut."
Dengan senyum smirk, Devan menggoda Aleta, meskipun nafasnya sendiri sudah tak terkendali.
"Panggil aku mas untuk seterusnya, aku akan melepaskanmu," bisik Devan di telinga Aleta yang menjadikan Aleta seperti tersengat aliran listrik.
"Iya mas, Aleta takut." bisik Aleta lirih.
__ADS_1
Tidak mau menakuti Aleta, akhirnya Devan melepaskan Aleta dan segera beranjak masuk ke kamar mandi. Aleta berusaha menghilangkan debar jantungnya, kemudian membungkus dirinya dengan selimut sambil tidur menghadap tembok.
*******