Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Berita Bahagia


__ADS_3

Setelah tiga hari di Yogyakarta, Devan dan Aleta meninggalkan mobil di rumah Sukoharjo. Menggunakan jet pribadi, mereka kembali ke Bandung untuk membereskan berbagai macam urusan keluarga dengan penerbangan dari kota Solo. Devan tampak bahagia sekali, meskipun berusaha mengajak mama Kinara untuk ikut tinggal di Bandung bersama mereka, beliau tidak bersedia.


Rolland menjemput mereka setelah pulang dari kantor dengan diantar pak Asep. Dari perjalanan keluar dari bandara Husein Sastranegara dia marah-marah terus.


"Kak Devan tolong dibilangi kakak ipar. Semakin hari seenaknya terus. Pergi itu kan pakai rencana, tidak asal pergi meninggalkan tanggung jawab tanpa konfirmasi sebelumnya." kata Devan sambil mengemudi.


Devan santai menanggapi ocehan Rolland, malah memeluk Aleta dan menyandarkan kepalanya di pundaknya.


"Maafkan kami ya Rolland, karena ada urusan keluarga, akhirnya kakak menemani mas Devan ikut meninggalkanmu." kata Aleta yang agak tidak enak. Sedangkan Devan hanya senyum-senyum.


"Ada urusan mendadak apa sih kak di Yogyakarta, dan sepertinya kemarin kalian pergi bawa mobil ya. Sekarang dimana mobilnya." tanya Rolland.


"Iya Rolland, nanti kita cerita ya sekalian pas ada kakek Cokro dan papa Atmaja. Mobilnya ditinggal di rumah Sukoharjo, mas Devan sudah kecapaian mengemudi terus selama empat hari."


"Rolland, kami capai. Biarkan kami istirahat, jangan ganggu kami ya. Asep...., antar kami langsung ke rumah kakek ya." kata Devan.


"Iya Tuan Besar, itu kakak ipar..., si Boss sudah beraksi." sahut Rolland.


"Maaf ya Rolland, kakakmu lagi capai soalnya. Maklum empat hari di perjalanan mengemudi sendiri tanpa bantuan Driver." Aleta tersenyum merespon Rolland.


Setelah Rolland diam, Aleta ikut memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Devan.


*********************


Suasana malam itu di ruang keluarga Cokro sangat menegangkan. Kepergian Devan dan Aleta ke Yogyakarta tanpa pamit, dan tidak mau menghubungi maupun dihubungi membuat kakek Cokro marah. Atmaja yang merasa memberikan alamat Yayuk kepada mereka, juga tidak bisa menjelaskan pada papanya. Rolland yang dari awal tidak ada yang menginformasikan berita kepadanya, hanya diam ikut mencerna semua.

__ADS_1


"Terus apa yang kamu hasilkan dengan perjalanan kamu ke Yogyakarta, apakah kamu tidak berpikir apa yang kamu tinggalkan di Bandung tanpa ada pemberitahuan apapun." kata Cokro dengan mata merah.


Aleta tampak tertunduk, karena baru pertama kali berada dalam situasi seperti itu. Devan menggenggam tangan Aleta, dan setelah terdiam beberapa saat.


"Devan dan Aleta ke Bandung mencari keberadaan mama kakek." tukas Devan yang membuat Rolland terbelalak kaget. Sedangkan Atmaja dan semuanya memandang Devan dan Aleta.


"Bagaimana hasil dari pencarian kalian. Apakah sulitnya sekedar menulis pesan via chat di WhatsApp memberi tahu keberadaan kalian."


"Kakek sampai mengumpulkan beberapa orang kakek untuk mencari kalian berdua, untungnya kalian segera telepon untuk mengirimkan jet pribadi ke Solo. Pikirkan, bahwa dari tindakan sembrono kalian, banyak orang yang kalian rugikan." Kakek Cokro terus memarahi mereka.


"Kakek...., maafkan kami ya kek. Terutama Aleta yang salah, tidak melarang mas Devan tapi malah mengikutinya kemanapun. Tapi kami bersyukur kek, kami mendapatkan banyak informasi baru yang sangat membahagiakan hati mas Devan." kata Aleta membalas perkataan kakek Cokro.


"Kamu tidak salah Aleta, memang tugasmu mendampingi dan menjaga suamimu. Kakek tidak marah padamu nak, tapi hanya mengingatkan kembali pada Devan. Usianya sudah diatas 32 tahun, bukan saatnya lagi seperti anak belasan tahun umurnya." sahut Cokro.


Devan hanya senyum-senyum mendengar kemarahan kakeknya, kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tasnya. Untungnya saat di Sukoharjo, dia sempat print out beberapa lembar foto. Melihat foto-foto tersebut, Atmaja dengan tangan gemetar mengambil satu. Dia melihat gambar pada kertas tersebut, dan memandang putranya.


"Gambar siapa ini Devan, Aleta." tanya Cokro tegas.


"Dia gambar mama Kinara kakek, mama kandung mas Devan. Alhamdulillah berkat informasi dari Tante Yayuk, kami berhasil menemui mama dan keluarga di Yogyakarta. Maafkan kami kek, baru sekarang memberi tahu." ucap Aleta tertunduk.


"Sebentar, sebentar..., tolong jelaskan apa yang terjadi di keluarga kita ini pada Rolland. Mama Kinara, mama kandung, siapa itu semua." tanya Rolland tiba-tiba. karena dari tadi merasa tidak tahu informasi itu sendiri.


"Tenanglah Rolland, nanti papa ceritakan semua yang terjadi pada keluarga kita saat ini." kata Atmaja berusaha menenangkan putra keduanya.


Akhirnya Devan dan Aleta menceritakan semua, apa yang mendorong mereka nekat melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Satu persatu mereka ceritakan bergantian, tentang keberadaan mama Kinara yang masih hidup, kakek Hapsoro dan keluarga Tante Kinanti. Bahkan Maman Kinara yang sampai sekarang tidak mau menikah lagi, juga ikut disampaikan semua.

__ADS_1


Mendengar cerita itu, Atmaja berkaca-kaca matanya dan melamun. Dia masih membayangkan tatkala Kinanti membawa bayi Devan, dan mengantarkannya ke rumah mereka yang sekarang sedang ditempati oleh Rengganis. Karena saat itu, mereka sudah akan berangkat ke Singapura untuk melanjutkan studinya, maka mereka membawa Devan kesana.


Sepulangnya dari Singapura, dia juga mendatangi Yayuk untuk mendapatkan alamat makam dari Kinara, tetapi Yayuk selalu mengatakan bahwa dia sendiri juga tidak tahu. Sekarang, putra dan menantunya membawa foto dan kabar bahwa istri pertamanya masih hidup. Dia seperti merasakan mimpi saat itu, berkali-kali dia memukul pipinya.


"Devan, Aleta ..., kakek tidak tahu cerita apa-apa dari semua ini. Atmaja, cuma kamu putraku satu-satunya yang dapat menjawab dan menjelaskan semua." seru Cokro.


"Papa...., berarti siapa mama Rengganis," tanya Rolland.


Setelah beberapa saat, Atmaja tampak menghapus air mata yang sempat mengalir di pipinya.


"Papa...., maafkan Atmaja papa. Di foto yang dibawa Devan itu adalah foto Kinara istri Atma sebelum menikah dengan mama Rolland, Rengganis."


"Tapi Kinanti adik Kinara, saat Atma mau berangkat ke Singapura telah mengantarkan bayi Devan ke rumah di Cileungsi. Dia mengatakan jika kakaknya Kinara sudah tiada. Atma berusaha mencarinya informasi, tetapi tidak ada kabar berita tentang Kinara dan keluarganya pa." akhirnya Atmaja menceritakan kejadian tiga puluh tahunan yang lalu.


"Devan...., maafkan papa nak. Papa terlalu cengeng saat itu untuk mengambil sebuah keputusan. Papa mengikuti keinginan kakek."


Suasana malam itu semakin hening, Cokro berkali-kali memijat keningnya. Sedangkan wajah Rolland masih tampak bingung, dan Atmaja masih terkejut dengan kenyataan bahwa Kinara masih ada di dunia ini.


Menyadari usia kakek Cokro yang sudah tua, Aleta kemudian mengambil teh panas dan menyerahkan pada kakek Cokro.


"Kakek minum dulu ya, maafkan kami ya kek. Aleta yakin, di balik ini semua pasti aka ada hikmah yang bisa kita ambil kek."


Cokro memandang wajah Aleta sebentar, kemudian meminum seteguk air tersebut.


"Kakek istirahat saja dulu ya, yang penting kami semua sudah berkumpul lagi di rumah ini kek. Semoga hari ini dapat menjadi awal yang lebih baik, untuk keluarga kita ke depan ya kek." ucap Aleta.

__ADS_1


"Aleta, antar kakek ke kamar ya. Kakek mau istirahat dulu, dan kamu Atma.., jelaskan semuanya pada kedua putramu." kata Cokro, yang kemudian Aleta menuntun kakek Cokro dan membawanya istirahat di kamar.


************************


__ADS_2