Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Test Ulang


__ADS_3

"Apa? Ini palsu, palsuuuuuuu." teriak Maurin yang sedang membaca hasil test DNA yang baru diambil mamanya.


"Ada apa Maurin, kenapa teriak, teriak?" Lastri bergegas menghampiri putrinya.


Maurin menangis histeris, dan Lastri mencoba menenangkan putrinya. Untung suaminya sudah berangkat ke tempat kerja.


"Ini ma, masak hasil test DNA tidak merujuk kalau Axel putranya mas Devan. Kenapa bisa begini ma?" Maurin menangis dan memberikan hasil test DNA pada mamanya.


Lastri mengambil kertas hasil test DNA, dan membacanya. Kepala Lastri langsung pusing membaca hasil test tersebut, kemudian dia memandang dengan muka merah pada putrinya.


"Maurin..., sekarang jawab mama. Kamu melakukan sama Devan atau bukan? Jangan membuat malu keluarga ini Maurin." seru Lastri.


Maurin tambah menangis kencang.


"Sama siapa lagi ma, tanya Tante Rengganis. Kita pasti telah dikerjain oleh keluarga mas Devan ma. Ayo ma, kita lakukan test ulang ma."


Lastri tidak merespon permintaan Maurin, dia sendiri merasa pusing. Dia merasa tidak memiliki muka lagi jika Axel memang bukan putra dari Devan. Dia kemudian duduk di sofa sambil memijat keningnya.


"Awww...," terdengar suara kencang tangisan Axel.


Terlihat baby sitter sedang menggendongnya, tetapi anak itu tetap menangis kencang. Mendengar tangisan kencang putranya, Maurin malah tambah marah-marah dan masuk kamar sambil menutup pintu dengan kencang.


"Bawa sini mbak, Axel nya." Lastri mengambil nafas panjang dan meminta baby sitter untuk mengantar Axel padanya.


"Ihh.., cucu nenek. Diam ya sayang." Lastri mengambil alih Axel dari gendongan baby sitter.


"Siapkan ASI untuk minum Axel ya mbak." dengan penuh keibuan Lastri menghibur cucunya.


"Deg." tiba-tiba jantung Lastri berdegup saat dengan jelas dia melihat mata Axel.


"Matanya biru, padahal Devan dan Maurin tidak memiliki mata biru. Jangan, jangan." Lastri mulai muncul rasa curiga melihat Axel dengan dekat. Kemudian dia mengamati bagian tubuh cucunya yang lain.


"Ah, mungkin karena asupan nutrisi dan gizi waktu Maurin hamil sangat lengkap." akhirnya untuk menenangkan hatinya, Lastri menghibur dirinya sendiri.


Tidak lama baby sitter datang dan mengulurkan botol yang berisi ASI yang sudah dinetralisir pada Lastri. Dengan perhatian, Lastri meminumkan ASI pada Axel, dan dengan lahap Axel meminumnya.


"Ternyata Axel haus mbak, ini anaknya sudah memejamkan mata. Coba kamu gendong lagi, dan kalau sudah tidur langsung ditidurkan di tempat tidurnya." Lastri kembali menyerahkan Axel pada baby sitter.


Kemudian dia mendatangi Maurin yang sedang berada di dalam kamarnya. Terlihat putrinya sedang menangis sambil menutup mukanya dengan bantal.


"Maurin, apakah dengan kamu seperti itu, kemudian masalahmu dapat terpecahkan? Ini saja papamu belum mengetahui hasilnya. Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana juga reaksi papa?"


"Lha terus Maurin harus bagaimana ma? Kemarin yang menyiapkan dokter dan perawat kan dari keluarga kakek Cokro. Bisa kan kalau mereka bekerja sama?"

__ADS_1


Lastri diam sejenak mendengar perkataan putrinya, kemudian dia juga agak berpikir dan sependapat dengan putrinya. Tetapi dia juga berpikir, kalau test ulang ternyata Axel tetap bukan darah daging Devan, maka mereka harus meninggalkan negara ini.


"Sudah sekarang kamu cuci muka, mumpung Axel tidur, sekarang kita ke tempat pak Cokro. Kita minta test DNA ulang di rumah sakit." akhirnya Lastri membulatkan tekadnya untuk melakukan test ulang


"Iya ma." Maurin langsung bangun kemudian melangkah ke kamar mandi.


***********************


Aleta membaca hasil pengujian kecocokan DNA suaminya dengan putra Maurin. Tanpa dia sadari, terbit senyum manis dari bibirnya yang mungil. Melihat respon istrinya, Devan menghampirinya dan mengambil telapak tangannya.


"Bagaimana sayang, sudah percaya sama suamimu ini. Percayalah, setelah memutuskan untuk menikah, aku tidak pernah main-main dengan perempuan manapun sayang. Istriku terlalu cantik untuk aku tinggalkan." ucap Devan sambil memberikan kecupan di telapak tangan Aleta.


"Maafkan Aleta ya mas, sudah terlalu mencurigai mas Devan." kata Aleta sambil memeluk erat tubuh suaminya.


"Iya, sama-sama sayang." Devan balas memeluk istrinya.


"Berarti satu masalah kita sudah terselesaikan. Kapan kita kembali ke Solo ya mas."


"Apa kamu pikir keluarga Maurin akan begitu saja menerima hasil ini? Mas yakin sayang, sebentar lagi mereka akan datang kesini. Yah, mungkin mereka akan meminta test ulang. Mas harap, kamu jangan tinggalkan aku ya." kata Devan sambil mengajak istrinya duduk di sofa.


"Yah, Aleta janji mas. Nanti kalau keluarga Maurin datang kesini, Aleta akan menemani mas untuk menemui mereka."


"Nha ini namanya baru istri mas yang taat." ucap Devan sambil menjentik hidung Aleta.


******************


Setelah mendapat panggilan dari Lastri, Cokro dengan diantar Asep langsung pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Cokro juga meminta Atmaja untuk segera pulang ke rumah.


"Mau mampir dulu atau langsung pulang Tuan." tanya Asep.


"Pulang, karena Lastri dan putrinya mau datang ke rumah."


"Iya Tuan."


Setelah beberapa saat, mobil yang dikemudikan Asep sudah memasuki halaman rumah. Asep melihat dari kaca depan, dan melihat jika Tuan Besar sedang tertidur.


"Tuan..., sudah sampai rumah Tuan." memberanikan diri Asep membangunkan Cokro.


"Oh ya."


Asep langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Tuan Besarnya. Cokro langsung keluar dan tanpa menengok kemanapun langsung masuk ke dalam rumah.


Tidak berapa lama, mobil Atmaja juga datang memasuki halaman rumah keluarga Cokrodirjan.

__ADS_1


"Tuan Besar sudah pulang," tanya Bi Puji sambil menerima tas Cokro dari Asep.


"Iya, sepertinya keluarga Non Maurin mau datang kesini lagi."


"O gitu, ya sudah Sep. Tak buatkan camilan dulu nanti untuk suguhan."


"Iya, Bi ., mbok aku minta tolong. Dibuatkan kopi panas satu ya." ucap Asep sambil cengar-cengir.


"Iya, tapi kamu Duduk di ruang makan. Malas kalau harus mengantarkan ke depan."


******************


"Oh begitu ya hasilnya Bu Lastri. Saya malah belum melihat hasilnya." kata Cokro sabar meladeni Lastri dan Maurin.


"Jadi maksud kami datang kemari pak. Agar hasil lebih bisa dipertanggungjawabkan, bagaimana kalau kita lakukan test ulang. Kalau kemarin kan yang mencari dokter dari keluarga sini, lha untuk test yang akan datang, lebih baik kami yang mencarinya." kata Lastri.


"Tidak masalah Bu Lastri, tapi bagaimana dengan kamu Devan. Kapan kalian akan kembali ke Solo?"


"Yah, rencana nanti malam kita mau balik ke Solo kek. Kalau mau test, ya dipercepat saja. Devan tidak masalah kek."


"Tapi tunggu sebentar Bu Lastri. Puji....," tiba-tiba kakek Cokro memanggil Puji.


"Iya Tuan. Maaf ini sekalian membawa minuman." sahut Puji.


"Ambilkan tas kresek putih kecil di atas meja kamarku."


"Baik Tuan."


Tidak lama kemudian, Puji sudah memberikan kresek putih kecil pada Cokro.


"Bu Lastri, ini ada flashdisk. Silakan nanti pas sampai di rumah, dilihat isi dari flashdisk ini. Silakan kapan mau dilihatnya, habis test DNA atau sebelum juga tidak apa-apa."


Cokro menyerahkan flashdisk pada Lastri.


"Isinya apa pak Cokro."


"Sudah nanti kalian lihat sendiri saja. Bagaimana Bu Lastri, apakah sudah dicari mau test DNA dimana. Ingat juga, Devan punya tanggung jawab pada perusahaan di Solo. Jadi saya minta Bu Lastri dan Maurin bisa mengatur."


"Baik Tuan, kalau begitu kami pulang dulu. Sambil menghubungi pihak RS."


"Iya, silakan."


********************

__ADS_1


__ADS_2