Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Rencana Ekspansi


__ADS_3

Devan merangkul Aleta dan membawanya duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Saat Devan hendak ikut duduk di sofa, Aleta kemudian bicara pada suaminya.


"Selesaikan dulu urusan, Aleta tidak akan mengganggu mas Devan bekerja." ucap Aleta pelan, melihat ada dua orang duduk di depan meja kerjanya.


Aleta membaca majalah Marketing yang ada di atas meja kerjanya, tidak menghiraukan percakapan suaminya dengan anak buahnya. Devan kemudian melanjutkan obrolan dengan kedua orang yang duduk di hadapannya.


Tidak berapa lama kedua orang tadi sudah selesai dengan urusannya, kemudian mereka hendak berbalik ke ruangannya. Mereka melewati depan Aleta.


"Mari mbak," sapa anak buah suaminya yang laki-laki.


"Panggil dia Nyonya Muda dia adalah istriku." ucap Devan mengisi ruangan.


"Maaf Tuan, kami tidak tahu." sahut perempuan.


Aleta tersenyum kemudian melihat ke arah mereka.


"Mas, Aleta masih lebih muda dari mereka. Sudah panggil mbak juga tidak apa-apa, maafkan suamiku ya mas, mbak." kata Aleta.


"Mari Nyonya Muda, maafkan kami yang tidak bisa mengenali," kata karyawan laki-laki sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Karyawan yang perempuan juga terlihat lebih malu karena tadi perjalanan di lift, sempat berbicara judes dengan Aleta.


"Sudahlah, tidak ada yang salah. Kenalkan namaku Aleta." Aleta berdiri dan memberikan tangannya untuk mengajak mereka berjabat tangan.


Kedua karyawan itu kemudian menerima jabat tangan Aleta kemudian tersenyum malu.


"Saya Arman Nyonya Muda," kata karyawan laki-laki.


"Saya Pipit," kata karyawan yang perempuan.


Setelah berjabatan tangan, kedua karyawan itu kemudian meninggalkan ruangan Devan. Devan kemudian memanggil Aleta.

__ADS_1


"Aleta.., sini sayang. Mas kangen, tadi pagi belum mendapatkan bekal."


"Mas, please deh jangan aneh-aneh. Kalau mas Devan aneh-aneh, Aleta pulang sekarang. Sudah mas Devan sekarang kerjakan semua tanggung jawabnya, Aleta mau baca majalah ini." sahut Aleta menolak panggilan Devan.


"Iya, mas akan kembali bekerja. Tapi bekal tadi pagi, tolong dong diberikan sekarang. Mas janji, tidak akan ganggu Aleta lagi kalau bekal berangkat kerja sudah diberi." Devan tetap menuntut haknya.


Dengan agak dongkol, Aleta menghampiri Devan di meja kerjanya. Baru saja Aleta akan memberikan ciuman di bibir suaminya, sebuah lengan sudah menariknya ke dalam pelukan.


"Awww..., mas," teriak Aleta yang langsung dibungkam dengan ciuman bibir Devan.


Tanpa bisa menolak, Aleta terbawa dalam arus ciuman, kemudian Devan menekan tombol di panel rak kayu belakang meja kerjanya, dan panel itu terbuka. Sebuah kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam, seperti sebuah kamar hotel berada di dalam ruangan kerja suaminya. Saat Devan membaringkan tubuh Aleta di atas ranjang, Aleta langsung menolak.


"Mas Devan, no..., Aleta kesini karena di rumah bosen. Aleta bukan minta ini mas, ayo to... stop mas," seru Aleta berusaha menghindar.


"Mas Devan tidak akan minta apa-apa sayang, hanya pingin memelukmu sebentar saja." bisik Devan.


"Tapi masak pelukannya sambil tiduran, ayo mas, kerja lagi. Kalau terus begini, Aleta mau balik saja sekarang." ancam Aleta.


"Tok..., tok..., tok..," tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar.


"Aleta disini saja, tidak usah kemana-mana. Itu di kulkas banyak buah sama Snack, mas mau menemui tamu dulu. Remote TV ini kalau mau lihat," Devan Merapikan dirinya, kemudian kembali keluar ke ruang kerjanya.


Aleta tersenyum merasa mendapatkan dewa penolong, kemudian dengan tetap berbaring dia melihat acara televisi.


******************


Devan membuka pintu ruangan kerja, dan terlihat Rolland dan kakek Cokro sudah berada di luar ruangannya.


"Kakek, Rolland ada apa? Mau masuk ruangan atau bagaikan?" tanya Devan yang merasa tidak ada agenda bertemu Cokro hari ini.


"Kita ada rapat mendadak siang ini, ayo langsung ke meeting room saja," sahut Cokro.

__ADS_1


"Kak, kemana kakak ipar. Tadi Rolland mengantar sampai di depan pintu ruangan kakak." tanya Rolland sambil menengok dalam ruangan kerja, tetapi Devan langsung menarik ruangan kerjanya.


"Kita saatnya meeting mendadak, nanti malam kita ketemu kakak ipar." sahut Devan yang langsung meninggalkan Rolland.


"Aleta ada disini apa." tanya Cokro.


Devan hanya mengangguk, dan Cokro terdiam. Kemudian mereka segera memasuki meeting room, dan sudah ada enam orang yang berada di dalam. Melihat kedatangan Cokro dan kedua cucunya, enam orang berdiri untuk memberikan salam. Cokro mengangkat lengannya untuk menjawab salam pada mereka.


"Ada yang masih ditunggu saat ini," tanya Rolland.


"Tidak ada mas, karena Pramono sudah menyampaikan sedang cuti ke Thailand, jadi dia ijin rapat kali ini." salah satu orang menjawab pertanyaan Rolland.


"Baiklah, kalau begitu kita akan mulai rapat pada siang hari ini." Cokro kemudian memulai rapat mendadak.


Meskipun Cokro sudah tidak melakukan pekerjaan aktif, tetapi selaku owner dan pemegang saham mayoritas, dia masih memiliki kuasa penuh.


Masing-masing peserta rapat menyampaikan progress report tentang program kerja yang telah mereka canangkan di awal, tahapan pencapaian serta kendala. Hampir semua menyampaikan adanya report kemajuan dari apa yang mereka lakukan.


"Terima kasih, jadi semua program dan rencana kerja yang sudah kalian canangkan semuanya bisa berjalan. Hari ini aku mau minta telaah dari kalian, untuk pembukaan cabang baru di Solo." Cokro menyampaikan tujuan inti dari pertemuan yang mereka adakan saat ini.


Devan dan Rolland serta peserta yang lain, melihat ke arah Cokro.


"Jadi begini, tadi pagi saya mendapat informasi bahwa ada satu perusahaan di daerah Sukoharjo yang hendak dijual, karena mau ada pembagian kepemilikan. Pemiliknya kebetulan teman SMP dulu, dan kita selalu aktif berhubungan. Nanti silakan kalian cek ke lokasi, lakukan observasi terlebih dahulu." kata Cokro lagi.


"Jadi hal yang Tuan Besar sampaikan itu belum keputusan ya. Masih bisa kita tolak, jika hasil observasi dan penyelidik kurang prospektif." kata salah satu peserta.


"Ya, begitulah. Meskipun kami sangat akrab dan dekat. Tapi untuk pekerjaan, profesionalisme tetap saya kedepankan." jawab Cokro.


Informasi yang disampaikan Cokro pada siang hari ini, menjadi topik diskusi yang seru di meeting room. Beberapa ada yang setuju memanfaatkan peluang, tetapi ada pula yang menolak. Akhirnya di akhir rapat diputuskan, jika salah satu dari mereka melakukan observasi dan penyeledikan untuk memantau lokasi perusahaan.


"Baiklah, untuk penyelidikan dan observasi perusahaan di Sukoharjo menjadi tanggung jawab dari Herdi dan Rahman ya. Silakan nanti sore berangkat, karena teman saya butuh waktu yang cepat." Cokro membuat keputusan.

__ADS_1


Setelah dua jam diskusi, akhirnya rapat ditutup dan diputuskan untuk dilakukan observasi dan penyelidikan lebih lanjut. Acara dilanjutkan dengan makan siang di luar perusahaan, tetapi karena ada Aleta, Devan memutuskan tidak ikut membersamai makan siang bersama.


*****************


__ADS_2