
Aleta memandang hamparan sawah yang membentang di depannya, dengan deretan pohon kelapa di pinggir kebun sebagai pembatas areal persawahan dengan pemukiman. Pagar dengan material kayu yang mendominasi, mengelilingi bangunan rumah tinggal. Devan memberikan kejutan padanya dengan membelikan sebuah rumah yang berjarak sekitar 3 km dengan kampus tempat Aleta menempuh studi.
"Apakah kamu suka sayang," tanya Devan yang sudah berdiri di belakangnya.
Sejak tadi dia memperhatikan Aleta dari kejauhan yang terlihat sangat menikmati alam di sekitarnya.
"Sangat suka sekali mas, harusnya mas Devan tidak perlu menghabiskan uang untuk membeli rumah ini. Toh kuliah Aleta tidak sampai satu tahun juga akan selesai." kata Aleta dengan memandang mata suaminya.
"Rumah ini mas beli bukan semata-mata untuk kepentingan penyelesaian studimu, tapi juga sebagai tempat tinggal jika kita ingin mengunjungi kota ini."
"Jadi kita tidak merepotkan Bu Rosna dan adik-adik panti." sahut Devan.
"Terima kasih mas, ternyata mas Devan sangat memahami keinginan Aleta."
"Kakak...., kangen..."
"Kak Aleta....,"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan adik-adik panti yang memanggilnya, sambil berlari mendatangi Aleta. Di belakang mereka terlihat Rolland dengan senyum mengembang, berjalan dengan santai, mengiring lima anak yang sedang berlari.
"Hai... adik-adik, alhamdulilah....., kenapa kalian bisa berada di sini saat ini." teriak Aleta sambil menundukkan badannya dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut mereka.
Kelima anak langsung menubruk Aleta dengan luapan rasa kangen. Satu bulan lebih Aleta meninggalkan panti, dan belum pernah sekalipun menjenguk mereka. Air mata bahagia tanpa sadar mengalir di sudut matanya.
"Hai Koko..., kamu agak gemuk sekarang, bagaimana sekolahnya."
"Hai Siti, Ima, Amir... kakak kangen..,"
"Wow Desi imut kakak...sudah tambah tinggi..,"
Aleta memanggil adiknya satu-satu, kemudian menciumi mereka.Devan dan Rolland saling berpandangan kemudian tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Aleta menjumpai adik-adiknya.
"Sama siapa kalian kemari." tanya Aleta sambil mengajak adik-adik menuju teras halaman belakang.
"Dijemput kak Olland, pakai mobil bagus" sahut Desi polos dengan nada cedal.
Aleta tersenyum dan memandang Rolland.
"Terima kasih Rolland, hari ini kamu membahagiakan hati kakak." ucapnya.
"Mas yang punya ide, Rolland hanya menjalankan. Jadi terima kasihnya dicabut, dikembalikan ke mas," sahut Devan menggoda istrinya.
__ADS_1
"Sudah memiliki, masih saja posesif. Mengalahkan ABG pacaran saja." sahut Rolland sewot.
"Posesif sih boleh saja Rolland, asal jangan Parno saja." celetuk Aleta.
"Parno..., siapa tuh. Tukang kebun sebelah?" tanya Rolland.
" Paranoid, He...he..." sahut Aleta sambil menutup mulutnya.
Mereka kemudian mengajak kelima adik-adik panti duduk di kursi rotan yang ditempatkan di teras belakang.
"Kalian tunggu disini ya dengan kak Devan dan kak Olland." kata Aleta, kemudian masuk ke dapur mencari bi Puji.
"Bi..bibi...," seru Aleta memanggil Bibi Puji.
"Iya non," sahut Bi Puji sambil tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Bongkar dos Snack yang tadi kita bawa ya Bi. Dibawakan ke teras belakang untuk camilan adik-adik, sekalian minta tolong dibuatkan minuman untuk mereka."
"Ya non, minumannya sudah Bibi buat, tinggal dibawa keluar."
"Terima kasih Bibi." kata Aleta kembali ke teras menemui adik-adiknya.
"Ya non, sama-sama."
"Alangkah bahagianya kami, kalau Aleta bisa segera memiliki anak. Dia sudah sangat fasih bagaimana memperlakukan anak kecil." Devan berpikir sendiri, dan tanpa sadar sudut bibirnya tertarik keatas.
Rolland memperhatikan perubahan mimik wajah kakaknya, kemudian muncul ide untuk menggodanya.
"Ehmm... dari tadi senyum-senyum sendiri sambil lihatin sang istri, ada apakah sang pujaan hati."
"Awww..," teriak Rolland pura-pura kesakitan karena dipukul lengannya oleh Devan.
"Kenapa, ada nyamuk ya di lengannya, kan sudah kakak bantu tabokin." sahut Devan tanpa rasa bersalah.
Aleta dan adik-adik menengok ke arah mereka berdua.
"Ya Allah..., ini berdua ya. Bercandanya kelewatan, ga malu apa dilihat adik-adik." kata Aleta sambil geleng-geleng melihat suami dan adik iparnya seperti anak kecil.
"Ha...ha..ha.., rasain..rasain." ledek Rolland sambil tertawa ngakak.
Devan sendiri juga heran dengan tingkahnya sendiri, apa karena menikah dengan pasangan yang jauh lebih muda, sehingga menjadikannya akhir-akhir ini sering ikut kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Rolland... tadi kenapa Ibu tidak sekalian dibawa kesini." Aleta menyatakan Bu Rosna.
"Ibu nanti sore kesininya. Sekaligus mendampingi ustadz, karena kita akan mengadakan do.a bersama. Mas ingin agar rumah ini diberkahi, dan bisa menjadi rumah yang nyaman." kata Devan.
"Aamiin..," ucap mereka bersama-sama.
"Jam berapa mas, acara doa bersamanya. Kalo gitu kita harus buat persiapan dulu," kata Aleta.
"Tenanglah, semua sudah diatur. Kita tinggal duduk-duduk saja." sahut Devan.
Aleta hampir melupakan siapa keluarga suaminya. Dia kembali mengingat, persiapan pernikahan mereka yang hanya satu hari, tetapi semua persiapan pesta tersedia dengan sangat baik.
*******
"Ibu....Aleta kangen ibu." seru Aleta begitu melihat Bu Rosna turun dari mobil. Dia langsung berlari dan memeluk Bu Rosna dengan erat. Bu Rosna balas memeluk Aleta kemudian menciumi pipi dan kening Aleta.
"Bagaimana kabarmu nak, ibu juga kangen." tanya Bu Rosna dengan penuh kasih.
"Alhamdulillah baik ibu,"
"Syukurlah, sudah pelukannya dilepaskan dulu. Kamu tidak malu apa dilihat sama Ustadz Ramli." kata Bu Rosna tersenyum.
Aleta baru tersadar kalau Bu Rosna datang sore karena mendampingi ustadz yang akan memimpin do.a bersama. Dia kemudian baru melihat ada tiga bapak-bapak yang berdiri di belakang Bu Rosna. Dengan tersipu Aleta mengucapkan salam pada ketiga ustadz tersebut.
"Assalamu alaikum bapak-bapak, selamat datang di gubuk kami. Mohon dimaafkan ya, karena saya terlalu emosional melihat ibu ,sampai tidak memperhatikan kehadiran bapak-bapak disini." kata Aleta sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Wa Alaikum salam nak Aleta, kami maklum nak. Tidak ada yang perlu untuk dimaafkan." jawab ustadz Ramli dengan senyum arifnya.
"Ibu dan pak ustadz sudah datang ya, mari pak, Bu .. masuk ke dalam dulu." seru Devan sambil menghampiri ke halaman. Devan menjabat tangan ketiga ustadz dan mencium tangan Bu Rosna.
"Ibu sehat," tanya Devan.
"Alhamdulillah nak Devan, seperti yang kamu lihat. Ibu Inshaa Allah selalu sehat." jawab Bu Rosna.
Bu Rosna terlihat sangat bahagia menyaksikan Aleta dan Devan nampak memiliki kehidupan yang rukun dan bahagia. Mengingat pernikahan mereka terjadi dikarenakan melalui perjodohan yang diinisiasi kakek Cokro.
"Dimana adik-adikmu." tanya Bu Rosna.
"Mereka ada di dalam Bu, sedang melihat TV. Kok adik-adik tidak diajak kesini semua sih Bu. Aleta kan kangen." Aleta.menanyakan adik-adik panti lainnya.
"Lha kalau semua ikut kesini, siapa yang jaga panti. Rumah harus tetap ada yang menjaga nak. Lagian besok kalau kamu sudah cukup istirahat, kamu bisa menengok mereka di panti kan." Bu Rosna menjelaskan.
__ADS_1
Mereka semua segera masuk ke dalam rumah.
******